Kyai Kok Berjuang untuk Rokok

 

Ada-ada saja. Kyai kok berjuang untuk rokok. Pantesnya, kalau kyai itu berjuang untuk mendandani atau memperbaiki ummat agar agama mereka jadi benar, keimanan mereka pun benar, terjauh dari segala kemusyrikan, bid’ah, dan aneka kemaksiatan. Itu baru kyai yang insya Allah mendapatkan ridho dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Lha kalau kyai kok malah berjuang untuk rokok, itu ya diguyu pitik (ditertawakan ayam) alias aneh.

     Kyai kok ngrokok kuwi wae jane nek dipikir wis saru. Lha kok malah nekad arep mbelani rokok. (Kyai kok merokok itu saja kalau dipikir sebenarnya sudah norak. Lha kok malah nekad mau membela rokok). Ada apa sebenarnya?

     Jawaban mengenai ada apa sebenarnya, tidak begitu penting. Tetapi adanya kyai kok berjuang untuk rokok ini yang perlu dicermati. Bagaimana sebenarnya. Berita berikut ini mari kita cermati:

 

[ Minggu, 18 Januari 2009 ]

MUI Kudus Menolak Fatwa Rokok Haram

Ketua MUI Kudus: Banyak Kiai Perokok

KUDUS – Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Kudus menolak fatwa rokok haram. Mereka berusaha membawa masalah itu ke MUI Pusat yang akan membahas fatwa tersebut di Padang Panjang, Sumatera Barat, 24 Januari 2009 mendatang. ”Kami tetap memberi hukum mubah (diperbolehkan) untuk merokok,” tegas Ketua MUI Kudus KH Syafiq Nashan dalam jumpa pers di aula DPRD Kabupaten Kudus kemarin (17/1).

MUI Kudus, menurut Syafiq, akan berjuang untuk menghapus fatwa tersebut dari agenda pertemuan MUI di Padang Panjang itu. Jika tetap akan dibahas, MUI Kudus akan memperjuangkan maksimal fatwa adalah mubah.

Menurut dia, fatwa pengharaman rokok justru akan menimbulkan masalah baru, khususnya bagi daerah industri rokok seperti Kudus. Sebab, lebih dari 120 ribu warga Kudus bergantung kepada perusahaan rokok. “Aspek kemudaratan baru bagi masyarakat akan timbul. Sebab, jika rokok haram, mulai petani, pengusaha, karyawan, sampai pengonsumsi rokok akan dirugikan,” tambahnya.

Selain pertimbangan sosial, Syafiq menjelaskan masih adanya perbedaan pendapat soal hukum rokok di kalangan para ulama. “Para kiai itu sebagian besar perokok juga. Jadi, di tataran para kiai juga masih ada perbedaan,” urainya.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua DPC KSPSI Kudus H Moch As’ad menerangkan bahwa fatwa haram rokok merupakan ancaman serius bagi perusahaan rokok dan perekonomian. Sebab, dari hasil bea cukai, perusahaan rokok menjadi salah satu penyumbang terbesar devisa negara.

“Untuk tahun 2009, hasil cukai rokok mencapai Rp 50 triliun. Jumlah itu akan disokong pula oleh Kabupaten Kudus yang menjadi salah satu sentral usaha rokok. Karena itu, jangan sampai rokok haram,” paparnya.

Dia mengharapkan MUI membatalkan rencana fatwa tersebut seiring dengan banyaknya desakan dari berbagai kalangan. Sebab, fatwa haram rokok itu bisa menimbulkan hukum ikutan. Yaitu, proses produksi dan penjualan rokok menjadi haram. (cw2/jpnn/ruk) jawa pos.

 

Tidak hanya menyuara di Kudus

Rupanya tidak cukup disuarakan di Kudus Jawa Tengah, masalah tekad untuk berjuang untuk menghapus agenda pemfatwaan rokok itu. Pagi-pagi ketika nahimunkar.com mengontak kepala secretariat MUI Pusat di Jakarta, Selasa 20 Januari 2008, dia kemukakan bahwa jam sepuluh nanti akan ada tamu rombongan dari MUI Kudus dan DPRD dari sana.

     Bagaimana kalau mereka itu nantinya di Padang Panjang Sumatera Barat berupaya seperti yang telah mereka katakana bahwa akan berjuang untuk menghapus fatwa tersebut dari agenda pertemuan MUI di Padang Panjang itu?

     Seorang anggota Komisi Fatwa MUI Pusat dengan senyum-senyum mengatakan, mereka tidak akan datang ke Padang Panjang.

     Kenapa?

     Karena mereka tidak diundang, lantaran yang diundang hanya MUI tingkat provinsi, sedang mereka tingkat kabupaten; kecuali kalau MUI Provinsi Jawa Tengah menugaskan mereka.

     Dengan senyum-senyum pula, seorang anggota Komisi Fatwa yang juga dari Jawa Tengah itu mengatakan, biasanya yang begitu-begitu ada sponsor di belakangnya… ha.. ha.. haa…

    Anggota Komisi Fatwa MUI ini juga mengatakan, di Kudus Jawa Tengah itu memang ada pabrik-pabrik rokok.

    

     Kenapa MUI Kudus sampai ngluruk (datang dari jauh-jauh) ke MUI Pusat di Jakarta?

      Berita berikut ini jawabannya:

Seperti diberitakan, Majelis Ulama Indonesia segera menetapkan keputusan mengharamkan bagi perokok di tempat umum. Keputusan itu juga akan diberikan kepada perokok yang masih berusia anak-anak.

Bagi MUI, rokok merupakan barang yang jelas bahayanya terutama bagi kesehatan. Namun, MUI menyadari, bila mengharamkan secara keseluruhan tentunya akan  menimbulkan permasalahan yang lebih besar.

Ketua Komnas Anak Seto Mulyadi meminta MUI untuk mengharamkan rokok. Sebab, dari segi kesehatan, rokok sangat membahayakan bagi tubuh manusia. Selain itu, hampir sebagian besar pengguna rokok adalah anak-anak. Asap rokok sendiri mengandung 4.000 bahan kimia, 43 diantaranya karsinogenik dan racun syarafnya sangat adiktif tiga kali lebih toksik dari arsenik. • VIVAnews http://nasional.vivanews.com/news/read/11558-desember__mui_putuskan_fatwa_soal_rokok

 

Berita akan difatwakannya hukum tentang merokok oleh MUI itulah yang rupanya menjadikan pihak-pihak tertentu (sayangnya ada Kyai yang bahkan ketua MUI daerah) tampaknya meradang, hingga mengadakan konferensi pers menyatakan “kebulatan tekad” untuk “membela” rokok, masih pula ngluruk ke MUI Pusat. Namun bagi Kyai yang memang menjaga agamanya dan kekyaiannya, sangat berbalikan dengan kyai yang telah diberitakan tersebut. Berikut ini beritanya:

 

 [ Senin, 19 Januari 2009 ]

Ketua MUI Haramkan Merokok

BONDOWOSO – Rencana Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat mengeluarkan fatwa haram merokok disambut positif oleh jajaran pengurus MUI Bondowoso. Bahkan, jauh-jauh hari MUI Bondowoso sudah mengkaji dari berbagai dalil tentang keharaman merokok itu. Sehingga, jika benar MUI pusat mengeluarkan fatwa larangan merokok itu, MUI Kota Tape itu dipastikan tidak akan menolak.

Demikian ditegaskan Ketua MUI Bondowoso KH Abdul Muis Turmudzi terkait makin banyaknya pertanyaan masyarakat seputar fatwa haram merokok itu. “Alasan medis yang jauh lebih banyak mudaratnya dan bahaya besar merokok, menjadi penguat untuk diharamkannya merokok itu,” ujar Gus Muis.

Pengasuh Ponpes Sayyid Al Maliki Koncer Bataan Tenggarang itu menegaskan, tentang keharaman merokok itu jauh-jauh hari sudah diterapkan secara internal di kalangan santrinya. “Selain kiainya tidak merokok, santri juga tidak boleh merokok. Sudah puluhan tahun lalu kami melarang para santri merokok. Dan di antaranya mereka malah ada yang berjanji agar seumur hidup untuk tidak merokok. Harapannya, agar mereka sehat dan bebas dari penyakit,” tegasnya.

Gus Muis tak menampik jika fatwa haram merokok itu akan menimbulkan kontraproduktif di bawah. Hanya saja, sebagai institusi yang terdiri dari pakar hukum Islam, maka MUI juga berhak memberikan seruan terkait dengan kemaslahatan umat. “Kalau tidak merokok itu lebih menyehatkan ketimbang merokok, maka alternatif yang terbaik itulah yang mestinya diambil oleh umat. Apalagi, kalau seseorang sampai tergantung kepada merokok dan bisa membahayakan aktivitas ibadah yang lain, itu tidak boleh terjadi,” ujarnya.

Untuk itu, larangan merokok yang dikeluarkan MUI Pusat, kiai Muis sangat setuju sekali. Sehingga, MUI Bondowoso pun akan mengeluarkan larangan serupa. “Tentunya, kami mendukung fatwa haram merokok itu. Tentunya, ini untuk kebaikan umat juga. Kalau memang lebih baik untuk kesehatan, kenapa tidak menghindari rokok,” katanya.

Selain dalil-dalil yang mengajak manusia untuk tidak boros, membahayakan diri sendiri, dan menjauhi mudarat, argumentasi medis menjadi pendukung terhadap kuatut dalil (kekuatan alasan hukum, Red) diharamkannya merokok itu. Sejumlah literatur ilmiah yang pernah dibacanya, menemukan korelasi kuat tentang bahaya rokok. “Memang mudaratnya sangat besar. Bisa mengakibatkan kanker paru-paru dan segala penyakit berbahaya. Oleh sebab itu, saya mengeluarkan fatwa haram merokok,” katanya.

Bahkan, menurut sejumlah pengalaman perokok, aktivitas bisa dihentikan dengan beragam tips yang bisa diikuti para smoker (perokok, Red). Bahkan, kata dia, bagi para pecandu rokok, ada tips dari kiai Muis. “Misalkan, dengan mengunyah permen. Lama-lama bisa juga untuk tidak merokok,” katanya.

Apalagi, biaya untuk beli rokok sangat besar maka itu mestinya bisa menjadi pembanding itu tidak melakukan pilihan yang berbahaya. “Kenapa uang hanya untuk dibakar atau sesuatu yang sia-sia. Kenapa tidak digunakan untuk yang lain yang bermanfaat,” katanya. (eko)   (Radar Jember).

 

Kemungkinan akan ramainya tanggapan orang-orang yang sudah punya “dendam” terhadap MUI, sudah dapat diperkirakan. Tetapi tidak usah kaget. Di Indonesia ini sering aneh. Orang-orang tertentu suka ribut mengenai hal-hal yang sebenarnya tidak perlu diributkan. Mereka membela sesuatu yang sebenarnya tidak perlu dibela. Sebaliknya, mereka diam dalam hal-hal yang justru mestinya mereka bela. Bahkan dalam kasus yang sama pun tampaknya cara menyikapi berbeda. Misalnya, ada nabi palsu tapi miskin, lalu diglandang ke pengadilan dan dihukum, mereka diam saja. Tetapi ketika ada nabi palsu yang kaya, mereka ramai-ramai membela. Ada apa?

     Demikian pula, misalnya tukang-tukang becak di Jakarta dihabisi becak-becaknya, dan becaknya dibuang ke laut oleh petugas. Mereka diam saja. Tetapi ketika mereka dengar kira-kira akan ada fatwa MUI yang dianggap akan mengusik masalah rokok, sebelum difatwakan pun mereka sudah beraksi.

     Ada apa sebenarnya Pak Kyai? Kyai Kok Berjuang untuk Rokok. Kyai yang lain sedang berjuang dengan berbagai cara untuk membela ummat Islam di Palestina yang dibantai secara membabi buta oleh Yahudi, lha kok malah ada gerombolan Kyai yang berjuang untuk membela rokok. Opo tumon? (Apa wajar?).  (haji).