Lahn Qaul Ahmad Syafii Maarif


Betapa dalamnya isi firman Allah Subhanahu wa Ta’ala berikut ini:

أَمْ حَسِبَ الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ أَنْ لَنْ يُخْرِجَ اللَّهُ أَضْغَانَهُمْ(29)

وَلَوْ نَشَاءُ لَأَرَيْنَاكَهُمْ فَلَعَرَفْتَهُمْ بِسِيمَاهُمْ وَلَتَعْرِفَنَّهُمْ فِي لَحْنِ الْقَوْلِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ أَعْمَالَكُمْ(30)

Atau apakah orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya mengira bahwa Allah tidak akan menampakkan kedengkian mereka? (QS Muhammad: 29).

Dan kalau Kami menghendaki, niscaya Kami tunjukkan mereka kepadamu sehingga kamu benar-benar dapat mengenal mereka dengan tanda-tandanya. Dan kamu benar-benar akan mengenal mereka dari kiasan-kiasan perkataan mereka dan Allah mengetahui perbuatan-perbuatan kamu. (QS Muhammad: 30).

Imam Ibnu Katsir memaknakan lahnul qaul adalah apa-apa yang muncul dari pembicaraan mereka yang menunjukkan atas maksud-maksud mereka, (di mana) pembicara difahami dari kelompok mana dia dengan makna-makna dan maksud pembicaraannya. Itulah yang dimaksud dengan lahnul qaul. (Tafsir Ibnu Katsir QS Muhammad ayat 30).

Pembaca yang kami hormati, setiap membaca tulisan Ahmad Syafii Maarif di Harian Republika, saya merasa sedih: mengapa orang seusia beliau belum juga mendapat hidayah dari Allah? Setiap membaca tulisannya yang berbau agama (Islam) ada saja yang berorientasi kepada membela kekafiran, sepilis (sekularisme, pluralisme agama dan liberalisme) yang merupakan casing baru untuk isi yang sama yaitu enggan terhadap perintah agama, bahkan anti agama. Bagi sebagian orang, sepilis adalah bentuk baru dari komunisme atau bisa disebut dengan istilah neo-komunisme.

Bila komunisme pada masa sebelumnya bersikap frontal terhadap agama (Islam), kini para neo-komunis itu tidak terlalu berani frontal tetapi justru berbaju Islam. Meski berbaju Islam, namun orientasinya berbeda: ketika berbicara tentang Islam, yang mereka tawarkan justru keragu-raguan, membingungkan dan melecehkan atas nama pembaharuan pemikiran Islam serta anti kejumudan.

Salah satu pelakonnya adalah tokoh sepuh kita yaitu Ahmad Syafii Maarif, kelahiran Sumpurkudus (Sumatera Barat) tanggal 31 Mei 1935, yang pernah meraih gelar Doktor di Universitas Chicago, Amerika Serikat, tahun 1982.

Tiga tahun lalu, ketika Ahmad Syafii Maarif berusia 70 tahun, ia mempopulerkan istilah preman berjubah yang ditujukannya kepada sekelompok Ummat Islam. Istilah itu digunakan sebagai judul tulisan pada kolom Resonansi pada harian Republika (Agustus 2005). Setahun kemudian (Mei 2006) istilah itu diluncurkannya kembali ketika diwawancarai sebuah stasiun televisi yang mengangkat tema Sewindu Reformasi.

Istilah preman berjubah itu kemudian digunakan juga oleh para penganut neo-komunis muda seperti Rieke Dyah Pitaloka dan Taufiq dari Aliansi Masyarakat Anti Kekerasan (AMAK) –meski menggunakan label anti kekerasan, ternyata mereka menggunakan kata-kata kasar untuk menyerang lawan bicaranya. Hal itu terjadi ketika di Metro TV (Mei 2006) mereka menjadi salah satu peserta dialog berkenaan dengan kasus Pengusiran_ Gus Dur oleh anggota salah satu ormas Islam di Purwakarta Jawa Barat.

Saat itu (Selasa 23 Mei 2006) berlangsung dialog bertema Dialog Lintas Agama dan Etnis, Merajut Cinta yang Terserak_ di Gedung PKK Jalan RE Martadinata Purwakarta. Gus Dur sebagai keynote speaker, menegaskan kembali penolakannya terhadap RUU Anti Pornografi dan Pornoaksi. Selain itu, Gus Dur juga menuding aksi sejuta Ummat yang berlangsung dua hari sebelumnya di Jakarta, dibiayai oleh pihak ketiga dan hanya dihadiri oleh kurang dari 100.000 orang (bukan sejuta orang).

Seusai Gus Dur berbicara, Asep Hamdani (koordinator FPI Purwakarta) meminta izin kepada panitia untuk melakukan klarifikasi atas tuduhan Gus Dur. Asep Hamdani menyatakan, kesertaan ormas Islam dalam aksi sejuta Ummat adalah murni untuk perjuangan Islam sekaligus mewakili masyarakat. Dalam kesempatan itu dia juga dengan tegas meminta agar Gus Dur meminta maaf atas tuduhan itu. Bila tidak, Asep Hamdani menyilakan Gus Dur meninggalkan Purwakarta.

Kalau toh Gus Dur akhirnya meninggalkan forum, itu semata-mata karena peranannya sebagai keynote speaker sudah ditunaikan, dan GUS DUR bergegas menghadiri acara lain di tempat berbeda. Namun, yang beredar di luaran adalah fitnah yang menjelek-jelekkan Islam. Yaitu, Gus Dur diusir oleh penjahat berjubah Islam._ Fitnah itu bersumber dari aktivis AMAK yang kemudian diteruskan tanpa tabayyun oleh Drs H. Agung Nurhalim (Ketua Korwil Garda Bangsa Jawa Barat). Dari Agung, informasi itu kemudian disebarluaskan oleh harian Surya (edisi 24 Mei 2006) dan harian Pikiran Rakyat (edisi 24 Mei 2006), juga RCTI (Seputar Indonesia, edisi 24 Mei 2006).

Watak anti Islam

Begitulah watak para neo-komunis, meski secara formal beragama Islam, namun begitu ada kesempatan untuk menjelek-jelekkan Islam, mereka langsung tancap gas. Istilah penjahat berjubah pun berganti menjadi preman berjubah. Dan Ahmad Syafii Maarif sangat ‘berjasa’ memberikan inspirasi dan dorongan kepada para neo-komunis muda seperti Rieke Dyah Pitaloka dan Taufiq (AMAK).

Tudingan kasar seperti preman berjubah hanyalah salah satu saja dari kosa kata yang pernah dilontarkan Ahmad Syafii Maarif, selainnya adalah ejekan vulgar: tak sederhana, kedunguan, kebahlulan, pernah ia gunakan untuk menjuluki orang Islam yang dianggapnya tidak lebih pintar dari dirinya.

Ada sikap keberagamaan Ahmad Syafii Maarif yang konsisten dan sejalan dengan kaum sepilis, yaitu bahwa meski seseorang itu tidak beriman kepada Allah, namun berkat amal salehnya ia akan mendapat ganjaran setimpal. Sikap keberagamaan seperti ini sering diulang-ulang oleh Ahmad Syafii Maarif antara lain ketika ia membahas soal tafsir buya HAMKA terhadap surat Al-Baqarah ayat 62 dan surat Al-Maidah ayat 69 (harian Republika, rubrik Resonansi, Selasa, 21 Nopember 2006), yang oleh Irena Handono dikatakan sebagai pemahaman yang berkabut bahkan menelikung pemikiran buya HAMKA.

Ahmad SyafiI Maarif mantan ketua Muhammadiyah itu menulis di rubrik resonansi Republika berjudul Hamka tentang Ayat 62 Al-Baqarah dan Ayat 69 Al-Maidah. (Republika, Selasa 21 November 2006/ 29 Syawal 1427H, halaman 12). Isinya untuk mendukung faham pluralisme agama, menyamakan semua agama, masuk surga semua.

Itu menjadikan Hamka sebagai tameng. Padahal Hamka dalam Tafsirnya, Al-Azhar, juz 6 halaman 325, Hamka menegaskan, yang iman itu yang terbuka hatinya menerima wahyu yang dibawa oleh sekalian Nabi, sampai kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Entah apa yang mempengaruhi mekanisme ruhani dan benak orang-orang seperti Ahmad Syafii Maarif dan sebagainya yang lebih menonjol ghirah pembelaannya terhadap non Muslim, seraya mengolok-olok saudaranya seiman dengan sebutan yang aneh-aneh. Entah peradaban apa yang hendak dibangun beliau, yang terkesan asysyida-u ‘alal muslimin ruhama-u bainal kuffar (bersikap keras terhadap Muslimin dan saling kasih sayang di antara para kafirin).

Mereka bersusah-payah mengajak kaum muslimin untuk bersikap seperti mereka, yaitu mengikuti sikap keberagamaan yang menyatakan bahwa semua agama itu sama, hanya caranya saja berbeda-beda. Koq sampai sebegitu repotnya? Padahal, orang-orang kafir sendiri tidak mau disamakan dengan orang Islam. Bahkan orang Protestan tidak mau disama-samakan dengan Katholik meski sama-sama bersikap musyrik yaitu mempertuhankan Nabi Isa ‘alaihissalam sebagai Tuhan anak yang mendampingi Tuhan Bapak.

Jemaat Gereja Bethel tidak mau disamakan dengan jemaat Gereja Nehemia. Begitu seterusnya. Bahkan sebagian besar sekte Kristen mengkafirkan penganut Kristen dari sekte Saksi Jehovah yang hanya_ memposisikan Yesus sebagai nabi semata. Seperti Ahmadiyah Qadiyan yang menganggap sesat Ahmadiyah Lahore karena menjadikan Mirza Ghulam Ahmad hanya_ sebagai mujaddid.

Dalam tulisannya di harian Republika (rubrik Resonansi 27 Mei 2008), Ahmad Syafii Maarif menunjukkan ghirahnya membela kaum atheis. Padahal, kaum atheis belum tentu membutuhkan dukungan Ahmad Syafii Maarif. Bahkan belum tentu kaum atheis merasa senang dengan pemahaman Ahmad Syafii Maarif yang berpendirian bahwa kaum anti agama itu bisa masuk surga juga karena amal salehnya. Pada tulisannya berjudul Kaum Ateis Pun Berhak Hidup di Muka Bumi itu, Maarif memahami firman Allah pada surat Yunus ayat 99; Al-Baqarah ayat 256 dan Al-Isra ayat 107 sebagai hak yang Allah berikan kepada manusia berupa kebebasan untuk beriman atau tidak beriman.

Jadi, karena beriman atau tidak merupakan hak manusia, maka apapun pilihannya meski manusia itu memilih tidak beriman, tidak akan ada sanksi apa-apa. Dan, akan semakin banyaklah orang-orang yang memilih turut ke dalam barisan tidak beriman dalam rangka memenuhi haknya yang telah diberikan oleh Allah subhanahu wa ta’ala.

Begitu tingginya apreasiasi Ahmad Syafii Maarif kepada kalangan non Islam (termasuk kalangan atheis), sampai-sampai kita tidak pernah mendengar pembelaan beliau terhadap orang kecil yang dilarang berjilbab hanya untuk menjadi cleaning service atau office girl di sebuah perkantoran. Atau, barangkali Ahmad Syafii Maarif belum pernah tahu tentang adanya kebijakan di sejumlah perusahaan yang melarang eksekutifnya memelihara jenggot.

Kalau hak-hak orang atheis saja sampai menjadi sorot perhatian beliau, seharusnya hak menjalankan Islam bagi kayawan dan karyawati yang diabaikan oleh majikannya justru lebih dahulu bisa masuk ke dalam sorot perhatian Ahmad Syafii Maarif. Sayangnya, justru sebaliknya.

Semoga virus berbahaya berupa ghirah kafiriyah yang disebarkan Ahmad Syafii Maarif itu hanya terpulang kepadanya. Tidak berbekas sama sekali. Cukuplah petunjuk Allah subhanahu wa ta’ala yang sangat indah yang berisi agar Allah hilangkan kedengkian di hati kita terhadap orang-orang yang beriman.

وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالإِيمَانِ وَلاَ تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلاًّ لِلَّذِينَ ءَامَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ(10)

Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa: “Ya Tuhan kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang”. (QS Al-Hasyr: 10). (haji/tede)