Lailatul Qadr, Jibril, dan Lia Eden

 Di bulan Ramadhan ada malam yang disebut Lailatul Qadr, dan saat itu para malaikat turun beserta Malaikat Jibril. Tetapi di Indonesia, Malaikat Jibril itu telah diaku oleh Lia Aminuddin (Lia Eden) sebagai pendampingnya.. Bagaimana sebenarnya, mari kita simak berikut ini.

   

Tentang adanya malam qadr/ lailatul qadr setiap Ramadhan pada malam ganjil di puluhan akhir itu jelas ada keterangannya.

Makna lailatul qadr, menurut Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin:

والصحيح: أنه شامل للمعنيين، فليلة القدر لا شك أنها ذات قدر عظيم وشرف كبير، وأنه يقدر فيها ما يكون في تلك السنة من الإحياء والإماتة والأرزاق وغير ذلك.

Yang benar adalah bahwa itu mencakup dua makna; (pertama) lailatul qadr tidak diragukan bahwa memiliki kemuliaan yang agung dan kemuliaan yang besar, dan (makna yang kedua) bahwasanya ditentukan pada malam qadr itu apa yang akan terjadi pada tahun itu berupa kehidupan, kematian, rizqi, dan hal lainnya. (لقاءات الباب المفتوح – الشيخ محمد بن صالح العثيمين (ج 85 / ص 3)

 

Malam qadr itu lebih baik daripada seribu bulan. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin mengatakan:

والمراد بالخيرية هنا: ثواب العمل فيها، وما ينزل الله تعالى فيه من الخير والبركة على هذه الأمة، ثم ذكر ما يحدث في تلك الليلة.

Yang dimaksud kebaikan di sini adalah pahala perbuatan pada malam qadr itu, dan apa yang Allah Ta’ala turunkan pada malam itu berupa kebaikan dan keberkahan atas Ummat ini, kemudian menyebutkan apa yang terjadi pada malam itu. (لقاءات الباب المفتوح – الشيخ محمد بن صالح العثيمين (ج 85 / ص 3)

 

Di dalam Surat Al-Qadr disebutkan, para malaikat turun, dan juga Ar-Ruuh, yaitu Malaikat Jibril.

 

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ(1).

وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ(2).

لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ(3)

تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ(4).

سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ(5)

Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur’an) pada malam kemuliaan.

Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?

Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.

Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan.

Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar. (QS Al-Qadr/ 97: 1, 2, 3, 4,5).

 

 حَدِيثُ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا : أَنَّ رِجَالًا مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُرُوا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْمَنَامِ فِي السَّبْعِ الْأَوَاخِرِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَرَى رُؤْيَاكُمْ قَدْ تَوَاطَأَتْ فِي السَّبْعِ الْأَوَاخِرِ فَمَنْ كَانَ مُتَحَرِّيَهَا فَلْيَتَحَرَّهَا فِي السَّبْعِ الْأَوَاخِرِ  

664 Diriwayatkan dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu ia berkata: Terdapat beberapa orang dari kalangan Sahabat Rasulullah s.a.w telah bermimpi melihat Lailatul qadr pada tujuh hari yang terakhir. Rasulullah s.a.w bersabda: Menurut Pandanganku, mimpi kamu bertepatan dengan tujuh hari yang terakhir. Oleh karena itu barangsiapa yang ingin mencarinya hendaklah mencarinya pada tujuh hari yang terakhir tersebut (Muttafaq ‘alaih).

666 حَدِيثُ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ  

666 Diriwayatkan dari Aisyah r.a, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Carilah Lailatul qadr pada sepuluh hari yang terakir di bulan Ramadan (Muttafaq ‘alaih).

عن أَبي هريرة – رضي الله عنه – ، عن النبيِّ – صلى الله عليه وسلم – ، قَالَ : (( مَنْ قَامَ لَيْلَةَ القَدْرِ إيمَاناً وَاحْتِسَاباً غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ )) متفقٌ عَلَيْهِ .

Dari Abi Hurairah rhadhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam, bersabda: Barangsiapa bangun pada malam qadr karena iman dan ikhlas, nisacaya akan diampuni dosanya yang telah lalu. (Muttafaq ‘alaih).

 

Tanda-tanda lailatul qadr:

فَصْلٌ : فَأَمَّا عَلَامَتُهَا , فَالْمَشْهُورُ فِيهَا مَا ذَكَرَهُ أُبَيّ بْنُ كَعْبٍ , عَنْ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم أَنَّ ( الشَّمْسَ تَطْلُعُ مِنْ صَبِيحَتِهَا بَيْضَاءَ لَا شُعَاعَ لَهَا ) . وَفِي بَعْضِ الْأَحَادِيثِ : ( بَيْضَاءَ مِثْلَ الطَّسْتِ ) . وَرُوِيَ عَنْ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم { أَنَّهُ قَالَ : بَلْجَةٌ سَمْحَةٌ , لَا حَارَّةٌ وَلَا بَارِدَةٌ , تَطْلُعُ الشَّمْسُ صَبِيحَتَهَا لَا شُعَاعَ لَهَا . } ( 2146 )

Adapun tanda-tanda lailatul qadr, maka yang masyhur padanya apa yang disebutkan Ubai bin Ka’b, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa:

( الشَّمْسَ تَطْلُعُ مِنْ صَبِيحَتِهَا بَيْضَاءَ لَا شُعَاعَ لَهَا )

Matahari terbit dari paginya tidak ada sinar baginya.

Dalam sebagian hadits: Putih seperti  at-thast, baskom.

Dan diriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda: Cuaca cerah leluasa, tidak panas dan tidak dingin, matahari terbit paginya tidak ada sinar padanya.

 

Do’a pada malam lailatul qadr

فَصْلٌ : وَيُسْتَحَبُّ أَنْ يَجْتَهِدَ فِيهَا فِي الدُّعَاءِ , وَيَدْعُوَ فِيهَا بِمَا رُوِيَ عَنْ عَائِشَةَ , أَنَّهَا قَالَتْ : يَا رَسُولَ اللَّهِ , إنْ وَافَقْتَهَا بِمَ أَدْعُو ؟ قَالَ : قُولِي { : اللَّهُمَّ إنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ , فَاعْفُ عَنِّي } .

 

Disukai untuk bersungguh-sungguh pada malam lailatul qadr dengan do’a, dan berdoa padanya dengan apa yang diriwayatkan dari Aisyah, bahwa ia berkata: Ya Rasulallah, jika aku bertepatan dengan malam qadr, dengan apa aku berdoa? Beliau berkata: ucapkanlah:

{ : اللَّهُمَّ إنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ , فَاعْفُ عَنِّي } .

Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha pengampun, mencintai ampunan, maka ampunailah aku. (المغني ابن قدامة ج 3: , Ibnu Qudamah, Al-Mughni, juz 3).

 Malaikat Jibril diklaim Lia Eden

Bagaimana penilaian Islam terhadap orang yang mengaku didampingi atau didatangi malaikat Jibril?

Kasus ini adalah menyangkut Lia Aminuddin (Lia Eden) dan Ajarannya, Agama Salamullah, belakangan berganti nama menjadi Lia Eden, karena sudah cerai dengan Aminuddin, dan mengaku memiliki kerajaan Tuhan bernama Eden, dan tidak percaya adanya akherat. Kemudian Lia Eden itu dipenjara selama 2 tahun, karena telah memutar balikkan ajaran Islam, sampai daging babi pun dihalalkan. Lia baru bebas dari penjara akhir Oktober 2007. Bulan berikutnya, nabi palsu dari kelompok Lia Eden ini, Abdul Rahman alumni IAIN Jakarta 1997, dimasukkan ke penjara atas vonis Mahkamah Agung, tiga tahun penjara, karena telah menodai agama (Islam).

Lia Eden tinggal di  Jl. Mahoni 30, Jakarta Pusat 10260. Sebelum dia meningkat jadi orang yang memilik kerajaan Tuhan di rumahnya dan tidak percaya akherat, ketika masih bernama Lia Aminuddin ia mendirikan agama baru bernama Salamullah. Di antara ajarannya dan pengakuannya adalah:

1.        Malaikat Jibril akan turun lagi ke bumi dan bersemayam di dalam diri Lia Aminuddin, oleh sebab itu di mana pun Lia berada selalu bersama Jibril as.

2.        Lia Aminuddin mengaku menjadi juru bicara Jibril as, dan mengaku sebagai Nabi & Rasul.

3.        Lia Aminuddin mengaku mendapatkan wahyu.

4.        Lia Aminuddin mengaku mendapatkan mukjizat.

5.        Agama yang dibawa oleh Lia Aminuddin bernama Salamullah / agama perenialisme yang menghimpun seluruh agama.

6.        Lia Aminuddin mengaku sebagai Imam Mahdi.

7.        Ahmad Mukti (puteranya) dianggap sebagai Nabi Isa.

8.        Abdul Rahman diyakini sebagai Wakil/Imam Besar Ajaran Salamullah.

9.        Air sumur Salamullah berhasiat dapat menyembuhkan penyakit.

10.      Mencukur semua jenis rambut yang ada dalam tubuh -mulai dari rambut kepala, ketiak dllnya- lalu membakarnya, hal itu dianggap sebagai bentuk ibadah yang diperintahkan “Jibril” melalui Lia Aminuddin. Barangsiapa yang telah melakukan itu sama dengan bayi yang baru dilahirkan.

 

Terhadap masalah Lia Aminuddin itu sudah ada Fatwa MUI, di antaranya sebagai berikut:

Menurut ajaran Islam (Al Qur’an), malaikat adalah makhluk gaib dan termasuk kedalam  hal (alam) yang gaib. Mengenai hal yang gaib, Allah berfirman:

عَالِمُ الْغَيْبِ فَلَا يُظْهِرُ عَلَى غَيْبِهِ أَحَدًا(26)إِلَّا مَنِ ارْتَضَى مِنْ رَسُولٍ فَإِنَّهُ يَسْلُكُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ رَصَدًا(27) .(الجن:26-27).

(Dia adalah Tuhan) Yang mengetahui yang gaib; maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorang pun tentang yang gaib itu, kecuali kepada rasul yang diridai-Nya; maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan dibelakangnya”. (QS. Al Jin (72):26-27).

 

    MUI Memutuskan, Memfatwakan:

a.        Keyakinan atau akidah tentang malaikat, termasuk Malaikat Jibril, baik mengenai sifat maupun tugasnya harus didasarkan pada keterangan atau penjelasan dari wahyu (Al Qur’an dan Hadits).

b.       Tidak ada satu pun ayat maupun hadits yang menyatakan bahwa Malaikat Jibril masih diberi tugas oleh Allah untuk menurunkan ajaran kepada umat manusia, baik ajaran baru maupun ajaran yang bersifat penjelasan terhadap ajaran agama yang telah ada. Hal ini karena ajaran Allah telah sempurna.

c.        Pengakuan seseorang bahwa dirinya didampingi dan mendapat ajaran keagamaan dari Malaikat Jibril bertentangan dengan Al Qur’an. Oleh karena itu, pengakuan tersebut dipandang sesat dan menyesatkan.

 

Demikian Fatwa MUI yang dikeluarkan di Jakarta 22 Desember 1997, ditandatangani oleh Ketua Komisi Fatwa- Prof. K.H. Ibrahim Hosen, LML,  Ketua Umum, dan  Sekretaris: KH. Hasan Basri dan   Drs. HA. Nazri Adlani.

    MUI juga mengimbau kepada: Ibu Lia Aminuddin (dan jama’ahnya), dan orang lain yang memiliki keyakinan serupa, yakni keyakinan bahwa dirinya mendapat ajaran agama dari Malikat Jibril, agar kembali dan mendalami ajaran Islam, terutama dalam bidang akidah, dengan memahami dan mempelajari Al Qur’an dan Hadits kepada ulama, dan menurut kaidah-kaidah yang telah dirumuskan dan diakui kebenarannya oleh para ulama sebagai pedoman dalam mempelajari Al Qur’an dan Hadits.

   Masyarakat, umat Islam, agar berhati-hati dan tidak mengikuti akidah yang bertentangan dengan Al Qur’an dan Hadits. Demikian fatwa dan imbauan MUI.  (lihat buku Hartono Ahmad Jaiz , Aliran dan Paham Sesat di Indonesia,  dan buku Nabi-nabi Palsu dan Para Penyesat Umat, Pustaka Al-Kautsar, Jakarta, 2008). #