Lakon Buruk Oknum Polisi Memperburuk Citra Kepolisian

Target yang dicanangkan Kepolisia tahun 2009-2010: dicintai dan tidak ditakuti masyarakat, tetapi tingkah laku polisi yang buruk sama sekali tak mendukungnya. Hingga pihak kepolisian pun mengakui, Pelanggaran Oknum Polisi Naik 97%

Tahun 2009 ada laporan, Amnesty International menyatakan polisi Indonesia masih sering terlibat kekerasan dan penyiksaan para tersangka.

Wakil Direktur Amnesty International Asia Pasifik Donna Guest seperti dikutip kantor berita Reuters mengatakan, “Dalam beberapa kasus, pelanggaran itu terkait langsung dengan upaya polisi menerima suap dari tersangka.”

Juru bicara Kepolisian Indonesia Abubakar Nataprawira membela kinerja 371.000 personil kepolisian.

“Pada tahun 2010 kami menargetkan sebagai lembaga yang disenangi bukan ditakuti masyarakat,” katanya seperti dikutip Reuters.

Citra buruk kepolisian tampaknya masih sulit untuk dihapus, laporan-laporan tentang tingkah buruk lakon oknum-oknum polisi pun sangat meningkat. Itu saja baru yang dilaporkan oleh pihak polisi sendiri.

Inilah berita-beritanya:

Pelanggaran Oknum Polisi Kian Banyak di Tahun 2009

detikcom – Rabu, 30 Desember

Bagaimana tindak-tanduk perilaku anggota Polda Metro Jaya di tahun ini? Polda Metro Jaya merilis terjadi peningkatan penyimpangan atau pelanggaran yang dilakukan oleh oknum kepolisian.

“Personel Polda Metro Jaya sendiri yang terjaring dalam operasi Bersih terjadi peningkatan dari 9 orang tahun 2008 menjadi 59 orang pada tahun 2009,” ujar Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Wahyono di kantornya, Jakarta, Selasa (29/12/2009).

Personel Polda Metro yang melakukan pelanggaran juga meningkat, meski hanya sedikit. Kapolda mencatat ada 1.082 polisi yang melakukan pelanggaran, meningkat dari 1.013 di tahun lalu.

Namun untuk pelanggaran disiplin, ada sedikit penurunan. Di tahun 2008, jumlah pelanggar mencapai 205, namun angka tersebut turun menjadi 192.

http://id.news.yahoo.com/dtik/20091229/tpl-pelanggaran-oknum-polisi-kian-banyak-51911aa.html

Kapolda: Pelanggaran Oknum Polisi Naik 97%

Tahun 2009, sebanyak 37 oknum polisi diberhentikan dengan tidak hormat.

Selasa, 29 Desember 2009, 17:22 WIB

Elin Yunita Kristanti, Sandy Adam Mahaputra

VIVAnews – Kepala Kepolisian Daerah Metro Jaya, Inspektur Jenderal Wahyono, dalam keterangan pers akhir tahun di Markas Polda Metro Jaya, Jakarta, Selasa, 29 Desember 2009 mengungkap jumlah pelanggaran oleh personel Polri di tahun 2009.

Menurut dia, ada peningkatan personel yang diajukan ke sidang komisi kode etik profesi.

“Dari 40 orang pada tahun 2008, menjadi 79 orang pada tahun 2009, atau naik sebanyak 39 orang atau sebesar 97 persen,” kata dia.

Pada 2008, yang diajukan ke sidang terdiri dari satu perwira menengah, 4 orang perwira pertama, 32 orang Bintara, dan 3 orang tamtama. Sementara pada 2009 terdiri dari lima perwira menengah, dan 74 bintara.

Putusan sidang komisi kode etik profesi Polri tahun 2009 yakni, 37 orang pemberhentian dengan cara tidak hormat, 6 orang pemberhentian dengan hormat, 7 orang tercela, 6 orang minta maaf, 10 orang pendidikan ulang, 4 dimutasi jabatan, 5 dimutasi wilayah dan 6 personel dinyatakan tidak terbukti.

Kapolda juga menyebut pelanggaran pungli alias pungutan liar oleh personel polisi meningkat. Dari yang jumlahnya dari 13 orang pada tahun 2008 menjadi 20 orang pada tahun 2009.

“Atau naik sebanyak 7 orang atau sebesar 53,84 persen,” kata Wahyono.

Peningkatan juga terjadi pada personel yang terbukti menggunakan narkoba. Dari 18 orang pada tahun 2008, menjadi 19 orang pada tahun 2009. “Atau naik sebanyak 1 orang (5,55 persen),” kata dia.

Kategori lain adalah penyalahgunaan senjata api. Untuk pelanggaran jenis ini mengalami penurunan, dari tujuh orang pada tahun lalu, menjadi lima orang pada tahun ini. Atau turun sebanyak 2 orang sekitar 28,5 persen.

Angka penurunan juga terjadi pada pelanggaran penganiayaan dan pengeroyokan. Dari 9 orang pada tahun 2008 menjadi 7 orang pada tahun 2009 atau turun sebanyak 2 orang (22,22 persen).

http://metro.vivanews.com/news/read/117014-kapolda__pelanggaran_oknum_polisi_naik_97_

Wednesday, 09 December 2009 20:53




Komnas HAM: Pelanggaran polisi terbanyak

Warta Nasional & Politik

WASPADA ONLINE

JAKARTA – Selama 2009 ini, polisi dinilai Komnas HAM paling banyak melanggar HAM. Karena itu disarankan agar kejadian serupa tidak terulang saat bertindak represif terhadap masyarakat.

“Kami mencatat masih adanya tindakan yang mengarah pada police abusive, seperti dalam operasi pemberantasan terorisme, aparat kepolisian kurang memperhatikan HAM pada tersangka dan anggota keluarganya,” kata Ketua Komnas HAM, Ifdhal Kasim dalam sampaian Catatan Akhir Tahun 2009 Komnas HAM di Jakarta, Rabu (9/12).

Pelanggaran HAM itu dapat dilihat dari laporan pengaduan masyarakat seperti hak untuk memperoleh keadilan sebanyak 1.845 laporan atau di atas laporan pengaduan soal hak atas kesejahteraan yang berjumlah 1.652 laporan. Banyak laporan pengaduan hak memperoleh keadilan yang berkaitan dengan sikap kepolisian.

Dia beranggapan, pelanggaran HAM dimanifestasikan melalui kekerasan atau pelanggaran hak atas hidup terhadap para tersangka. “Begitu dalam menghadapi petty crime (kejahatan ringan), juga sering terjadi salah tangkap dan penggunaan kekerasan di luar keperluan,” terangnya.

Ifdhal pun mencontohkan beberapa praktik-praktik kekerasan dan penganiayaan yang dilakukan oleh aparat penegak hukum. Seperti penembakkan terhadap para petani di Palembang, penembakan para tersangka tkriminal, dan kekerasan dalam kasus penggusuran.

(dat05/inilah) http://www.waspada.co.id/index.php?option=com_content&view=article&id=72777:komnas-ham-pelanggaran-polisi-terbanyak&catid=17:nasional&Itemid=30

Anak 15 Tahun Ditembak Polisi

Terungkap Tiga Pelanggaran Polisi

Timah panas dibiarkan bersarang selama tiga bulan di betis kanan Rifki.

Kamis, 17 Desember 2009, 12:49 WIB

Siswanto

VIVAnews – Dalam sidang disipliner terhadap tiga anggota Kepolisian Sektor Koja, Jakarta Utara, terungkap adanya tiga bentuk pelanggaran yang mereka lakukan ketika melakukan penangkapan yang berujung penembakan terhadap Muhammad Rifki.

Pelanggaran pertama yakni nama Brigadir Satu Riswanto Hari yang kini menjadi terdakwa kasus ini ternyata tidak tercantum dalam surat perintah untuk menangkap Muhammad Rifki.

Pelanggaran kedua terungkap setelah Riswanto mengakui penembakan ke betis korban yang dia lakukan tidak terlebih dulu melalui tahapan tembakan peringatan.

Pelanggaran ketiga yakni tentang keberadaan proyektil peluru. Dalam persidangan terungkap timah panas tetap dibiarkan bersarang cukup lama di betis kanan Rifki, yakni selama tiga bulan.

Kasus penembakan terhadap remaja putus sekolah ini terjadi tiga bulan lalu di kawasan Sunter Podomoro, Jakarta Utara. Latar belakangnya ialah karena dia terlibat perkelahian di Jalan Yos Sudarso, Jakarta utara.

• VIVAnews

http://metro.vivanews.com/news/read/114640-terungkap_tiga_pelanggaran_polisi

Laporan Amensty Internasional mengenai Penyiksaan dan pelanggaran Polisi terhadap Tahanan 2

sawung

Jumat, 26 Jun ’09 10:37

Dua hari lalu Amnesty Internasional mengumumkan penelitian mereka tentang penyiksaan tahanan oleh polisi. Amnesty mewancara para tahanan dan eks tahanan. Penyiksaan ini bentuk bisa macem-macam, dari mulai dipukul biasa sampe pemerkosaan belum lagi pemerasan. Kebiasaan tersebut mendapat impunitas dari kalangan polisi sendiri.

Polisi seperti biasa membantah melalui juru bicaranya ABN. Polisi beralasan posisi narapidana yang mempunyai sakit hati dengan polisi membuat mereka menjelekkan polisi ketika diwawancara. ABN juga beralasan tujuan polisi sampai 2010 adalah dicintai tidak ditakuti.

Penyiksaan oleh polisi ini sudah lama diketahui oleh umum. Dan tampaknya memang perlu waktu yang lama untuk merubahnya. Maklum saja kultur yang mendarah daging di era orde baru sulit untuk dihilangkan dalam waktu sekejap. Ditambah lagi perwira-perwira dengan kultur dan paradigma masa lalu masih bercokol. Jubir polri misalnya, dikepala saya masih teringat yang bersangkutan memimpin pasukan polisi pada pristiwa 27 juli. Apakah polisi tidak sensitif terhadap isu kekerasan yang melibatkan perwiranya dimasa lalu ketika memilih perwira untuk jabatan strategis.Saya kira pihak TNI lebih bijak mengenai pemilihan perwira, kolonel Ch yang terlibat penculikan ditempatkan di posisi yang lebih tidak terlihat.

***

link berita dari bbc

http://news.bbc.co.uk/2/hi/asia-pacific/8116340.stm

http://politikana.com/baca/2009/06/26/laporan-amensty-internasional-mengenai-penyiksaan-dan-pelanggaran-polisi-terhadap-tahanan.html

Polisi Indonesia sering menyiksa tersangka yang tak bisa bayar uang suap (menurut laporan Amnesty International)

Posted on 24 Juni 2009.

Amnesty: polisi terlibat kekerasan

bbc.co.uk 24 Juni, 2009 – Published 05:55 GMT

Amnesty International menyatakan polisi Indonesia masih sering terlibat kekerasan dan penyiksaan para tersangka.

Laporan Amnesty International yang disiarkan hari Rabu ini juga menyebutkan para pelakunya jarang diadili.

Kelompok pegiat hak asasi manusia yang berkantor di London ini seperti dikutip kantor berita Reuters, mengakui berbagai upaya dalam satu dasa warsa ini untuk membuat polisi lebih profesional dan akuntabel.

Namun langkah ini dikatakannya, gagal menghilangkan masalah yang sudah banyak dilakukan.

Wakil Direktur Amnesty International Asia Pasifik Donna Guest seperti dikutip kantor berita Reuters mengatakan, “Dalam beberapa kasus, pelanggaran itu terkait langsung dengan upaya polisi menerima suap dari tersangka.”

Disebutkan pula, mereka yang tidak bisa membayar uang suap akan diperlaukan lebih buruk.

Menurut Guest, meskipun para pejabat tinggi di pemerintahan dan polisi telah membuat komitmen untuk mengadakan perubahan namun tidak sampai kepada kebanyakan polisi.

Kelompok rawan

Laporan itu menemukan, pengguna narkoba, pelanggar hukum yang berulangkali, wanita termasuk pekerja seks komersial rawan terhadap pelanggaran itu.

Amnesty mengatakan telah berbicara kepada korban pelanggaran, pejabat polisi, pengacara dan kelompok pegiat HAM dalam dua tahun terakhir saat menyusun laporan ini.

Disebutkan, mekanisme disiplin di dalam kepolisian tidak mampu secara efektif menangani pengaduan atas perilaku polisi sedangkan para korban sering tidak tahu kemana mereka mengajukan laporan.

Amnesty mendesak pemerintah mengumumkan pelanggaran yang sudah sering terjadi itu dan melakukan penyelidikan yang tidak memihak dan efektif terhadap setiap tuduhan.

Juru bicara Kepolisian Indonesia Abubakar Nataprawira membela kinerja 371.000 personil kepolisian.

“Pada tahun 2010 kami menargetkan sebagai lembaga yang disenangi bukan ditakuti masyarakat,” katanya seperti dikutip Reuters seraya menambahkan restrukturisasi di kepolisian masih terus berlanjut.

Mekanisme sanksi juga telah diberlakukan untuk menghukum polisi yang menerima uang suap. http://muhshodiq.wordpress.com/2009/06/24/polisi-indonesia-sering-menyiksa-tersangka-