Lakon Wanita-wanita Mulia dan Wanita-wanita Terpedaya

SELAIN ada wanita-wanita perkasa, ada juga wanita-wanita mulia di antara kita. Namun sayangnya, di sekitar kita masih ada wanita-wanita terpedaya oleh keelokan dunia sembari merendahkan harga dirinya.

Sekedar mengingatkan, sosok wanita-wanita perkasa antara lain dapat disimak melalui sebuah tulisan di nahimunkar.com edisi May 3, 2010.

Wanita-wanita Mulia

Bila wanita diibaratkan tiang negara, maka cukup pantas bila ketiga wanita percontohan berikut ini dinobatkan sebagai wanita mulia yang berjasa menegakkan akhlaq mulia dari keruntuhan moral. Mereka adalah Nisma (71 tahun) dari Medan, Sumatera Utara, Nafisah Ahmad Zen Shahab (63 tahun) dari Palembang, Sumatera Selatan, kini menetap di kawasan Cibubur, Jawa Barat, dan Mulia Kuruseng (67 tahun) dari Pare-pare, Sulawesi Selatan.

Sekitar setengah abad lalu, Nisma menikah dengan Ramli Rangkuti yang bekerja sebagai karyawan di perkebunan karet di Sumatera Utara. Dalam rentang waktu sekitar 17 tahun perkawinannya dengan Ramli, Nisma sudah membuahkan tujuh anak laki-laki dan perempuan buah cinta mereka berdua. Artinya, setiap 2 atau 3 tahun ia hamil dan melahirkan anak.

Ketika si bungsu baru berusia 18 bulan, Nisma mendapat ujian yang amat berat. Suaminya, Ramli Rangkuti meninggal dunia dalam sebuah kecelakaan lalu lintas di tahun 1978. Ketika itu, usia Nisma sudah mencapai 38 tahun, dan anak sulungnya masih berusia 17 tahun.

Nisma yang hanya lulusan SMP (Sekolah Menengah Pertama) dan selama ini hanya berperan sebagai ibu rumah tangga biasa, semula merasa tertekan dan hampir putus asa menghadapi kenyataan yang berubah begitu cepat dan tentu saja tak terduga. Namun qadarullah (ketentuan Allah) ia masih punya seorang paman yang menopangnya dengan nasihat agamis yang menguatkan jiwanya.

Nisma pun tak larut dalam kemalangan. Ia terus bangkit. Karena almarhum Ramli Rangkuti tidak mewarisi rumah, Nisma memutuskan untuk pulang ke kampung mertuanya di Siantar, Sumatera Utara. Dari sinilah Nisma mulai merancang masa depan untuk dirinya dan ketujuh anak-anaknya.

Nisma masih beruntung, karena perusahaan tempat bekerja almarhum suaminya memberikan uang pesangon sebesar Rp 4,5 juta (setara dengan 90 hingga 100 juta rupiah uang sekarang). Uang sebanyak itu cepat atau lambat tentu akan habis dimakan waktu. Karena, hidup terus bergerak dan membutuhkan biaya.

Dengan perhitungan seperti itu maka Nisma pun mencoba berjualan keliling menjajakan kain batik. Modal utamanya adalah kepercayaan. Kepercayaan itu diperoleh Nisma dari seorang pedagang batik di Medan. Selama puluhan tahun Nisma berkeliling dari pintu ke pintu, menjajakan dagangan yang dijualnya secara tunai dan kredit. Meski begitu, Nisma tak lupa untuk selalu mengingatkan anak-anaknya agar rajin belajar. Nisma bertekad agar ketujuh anak-anaknya bisa mengenyam pendidikan yang lebih tinggi dari dirinya yang hanya tamat SMP.

Bila ada di antara anak-anakya yang bertekad melanjutkan pendidikan hingga Perguruan Tinggi, meski terasa kurang mampu, namun Nisma menyemangatinya dengan menyodorkan satu pintu harapan. Yaitu, mereka harus diterima perguruan tinggi negeri yang saat itu selain berkualitas juga terjangkau dari segi biaya.

Bahkan boleh dibilang, menjadikan sekolah negeri sebagai pilihan satu-satunya, ibarat syarat wajib yang harus dipenuhi ketujuh anak Nisma dalam rangka meraih pendidikan dari SD (Sekolah Dasar) hingga perguruan tinggi.

Strategi dan tekad Nisma ternyata berhasil. Setidaknya, lima dari tujuh anaknya berhasil lulus sebagai sarjana dengan nilai baik. Dua lainnya lulus sekolah kejuruan yang membuat mereka mempunyai keahlian di dalam mengarungi hidup.

Kini, Nisma boleh jadi merupakan salah satu wanita sepuh yang bahagia dengan tingkat kesejahteraan yang memadai. Meski tidak punya uang pensiun dan harta berlimpah, Nisma punya tujuh anak yang sudah mapan. Ibarat pohon, ketujuh anak Nisma adalah tujuh batang pohon rimbun yang berbuah ranum. Dan di usianya yang senja, Nisma menikmati buah ranum itu.

Bila Nisma punya tujuh orang anak, maka Nafisah Ahmad Zen Shahab (kelahiran Palembang, 1 Agustus 1946) punya 12 orang anak laki-laki dan perempuan. Sebagaimana Nisma, Nafisah semula juga hanya seorang ibu rumah tangga biasa. Namun, ketika suaminya Alwi Idrus Shahab meninggal dunia (1996), Nafisah langsung putar haluan menjadi saudagar melanjutkan usaha suaminya yang pedagang kain dan batik di Palembang, Sumatera Selatan.

Ternyata, Nafisah tidak hanya sukses melanjutkan usaha suaminya, ia juga sukses menjadikan anak-anaknya sebagai sarjana berguna. Sepuluh dari dua belas anaknya bahkan berprofesi sebagai dokter. Sehingga, keluarga Nafisah dinobatkan oleh MURI (Museum Rekor Dunia Indonesia) dengan gelar Profesi Dokter Terbanyak dalam Satu Keluarga.

Untuk meraih sukses seperti itu, Nafisah antara lain menerapkan disiplin yang ketat. Misalnya, ia memberlakukan aturan bahwa seluruh anak-anaknya harus pulang setiap menjelang Maghrib. Setelah shalat Maghrib, anak-anak Nafisah dibiasakan membaca Al-Qur’an dan dilanjutkan dengan membaca buku pelajaran. Selain itu, untuk membiayai pendidikan anak-anaknya Nafisah tak sungkan untuk menjual tanah dan aset almarhum suaminya.

Kini, Nafisah tidak hanya dikaruniai 30 orang cucu dari kedua belas anaknya, ia juga dikaruniai pohon rimbun yang menyejukkan, yaitu anak-anak saleh dan salihah –insya Allah– yang nyaman dipandang serta mampu membawanya bersyukur kepada Allah dalam rengkuhan kebahagiaan yang menyejahterakan.

Sejak beberapa tahun lalu, Nafisah pindah ke pulau Jawa mengikuti anak-anaknya yang telah lebih dulu mukim di kawasan Cibubur, Depok, Jawa Barat. Kini saat ada waktu luang, anak dan cucunya mengajak Nafisah pelesir ke luar negeri. Bahkan Nafisah sampai lupa sudah berapa negara yang ia pernah kunjungi.

Bila Nafisah Ahmad Zen Shahab punya 12 anak, maka Mulia Kuruseng dari Pare-pare ini punya 15 anak laki-laki dan perempuan. Semuanya berpendidikan tinggi. Lima di antaranya menjadi dokter, tujuh lainnya bergelar Insinyur. Anak Mulia Kuruseng lainnya ada yang menyandang gelar Sarjana Ekonomi (dua orang) dan putra bungsunya lulusan Akademi Angkatan Laut (Letda Kurnia Gunadi). Ini sebuah prestasi luar biasa dari seorang wanita mulia yang secara formal tidak tamat SMP.

Ketika menikah dengan As’ad Kamaludin, Mulia masih duduk di kelas dua Mualimin (Sekolah Guru Agama Islam, setingkat SMP sampai SMA). Sedangkan As’ad yang tamatan SMA ini pada waktu itu adalah pedagang sukses dengan omset mencapai Rp 100 juta per bulan. Selain berjualan pakaian jadi, As’ad juga berjualan kain dan sarung Bugis.

Namun, pada Oktober 1985, sang suami tercinta harus meninggalkan Mulia untuk selama-lamanya. As’ad menderita hipertensi (tekanan darah tinggi) dan gangguan jantung. Ketika As’ad meninggal dunia, putra bungsu mereka masih berusia 3 tahun. Maka Mulia Kuruseng pun putar haluan menjadi pedagang. Mulia berusaha melanjutkan usaha suaminya.

Meski berat, Mulia Kuruseng pantang mengeluh. Ia tetap ikhlas menerima ketentuan Allah Yang Maha Berkehendak. Dalam hal mendidik anak-anaknya, Mulia menerapkan tiga prinsip. Yaitu, ikhlas, jujur, dan sabar. Kejujuran ia tanamkan sejak anak-anaknya masih kecil. “… ini turunan dari kakeknya. Kami dulu dididik untuk senantiasa jujur. Jika ada makanan di meja, tidak ada yang langsung mau makan, harus dibagi dulu. Jika ada uang di meja, mereka berteriak mencari siapa yang punya. Jadi, di rumah ini tidak pernah terjadi kehilangan uang…”

Kesabaran Mulia Kuruseng mendidik anak-anaknya diekspresikan dengan tutur kata yang santun. Mulia tidak pernah membentak atau memukul anak-anaknya. Jika ada yang berbuat salah, Mulia menegur sang buah hatinya di saat yang tepat, yaitu ketika sang anak sedang sendiri, di saat adik atau kakaknya yang lain tidak ada bersamanya.

“Jika ada yang mau saya tegur, saya carikan waktu khusus. Karena jika anak nakal satu, bisa jadi nakal semua. Saya selalu ingatkan dengan bahasa sopan. Anak-anak ini semua tidak ada yang pernah kena cambuk. Kalau marah sama mereka, saya pergi wudhu kemudian shalat sunnah. Nanti setelah tenang baru saya nasihati mereka.”

Dalam hal beribadah (shalat), Mulia Kuruseng memulainya dengan memberi contoh. “Saya tidak pernah menyuruh mereka untuk shalat, tetapi saya harus mencontohkannya. Saya dulu yang kerjakan, baru kemudian saya suruh mereka. Kita tidak bisa suruh anak-anak sebelum kita mencontohkannya.”

Kini, Mulia Kuruseng tidak hanya dilimpahi kasih sayang dari kelima belas anak-anaknya, tetapi juga dari 24 cucu-cucunya. Ia bagaikan Ratu Mulia yang duduk di atas sampan emas. Dan sampan emas itu adalah buah kerja keras dan keikhlasannya di masa lalu. Dengan sampan emasnya Mulia Kuruseng berkeliling mengunjungi satu per satu anak-anaknya yang terbilang sukses dan mapan. Ia boleh jadi telah menjadi salah satu wanita paling bahagia di muka bumi ini.

Wanita-wanita Terpedaya

Di balik contoh yang baik itu, sayangnya dalam kenyataan di negeri ini, dari sejumlah wanita yang ada di sekitar kita, ada sebagian yang tergolong wanita malang, wanita yang terpedaya. Mereka terpedaya oleh hawa nafsunya sendiri. Untuk memberikan peringatan agar kita tidak terjerumus, maka perlu di sini ditampilkan seluk beluk yang tak pantas ditiru karena terseret nafsu. Dan ditampilkannya ini bukan karena mengorek keadaan orang, namun mereka sendiri sudah tampil sedemikian rupa. Mereka antara lain Sabrina R. Bonita, Ima Risma, Richa Novisha. Dua diantaranya pernah menjadi istri Gary Iskak, seorang pemain film dan sinetron, yang oleh sebagian khalayaknya dijuluki sebagai mesin penyemprot sperma.

Di atas kertas, Sabrina R. Bonita merupakan isteri pertama Gary Iskak. Sabrina dinikahi Gary pada tanggal 26 April 1999. Sekitar empat bulan kemudian, 31 Agustus 1999 dari rahim Sabrina lahir seorang anak laki-laki yang kemudian diberi nama Muhammad Azriel Gamitza Iskak. Bisa dimaknai, mereka menikah pada saat sang mempelai wanita dalam keadaan hamil lima bulan. Wanita yang mau melakukan hubungan seks dengan lelaki di luar nikah, adalah wanita terpedaya.

Terbukti, Gary di tahun 2007 tertangkap mata sedang menjalin hubungan mesra dengan seorang wanita bernama Kartika, yang tak lain teman dekat Sabrina. Dari fakta ini kita bisa memaknai, bahwa para wanita hedonis ini selain mudah terpedaya oleh keelokan dunia juga begitu tega menyakiti hati sesama kaum wanita.

Kartika adalah sahabat Sabrina. Sebagai sahabat, tentu ia tahu Gary adalah suami Sabrina. Namun, demi kepuasan sesaat, ia tega menyakiti sahabatnya sendiri. Ia rela merendahkan martabatnya sebagai wanita.

Gary tidak hanya dikenal sebagai lelaki yang gemar menjalin hubungan intim dengan berbagai wanita. Namun, ia juga dikenal suka menggunakan narkoba. Ia tipikal lelaki yang selain suka madon (main perempuan) juga suka madat (minum minuman atau bahan haram). Terbukti, Gary ditangkap polisi pada hari Jumat tanggal 21 September 2007 di bawah flyover Lebak Bulus karena kedapatan membawa 0,3 gram sabu-sabu. Gary pun masuk penjara.

Meski demikian, pesona Gary tidak pudar. Masih ada saja wanita bodoh yang terpedaya. Salah satunya Ima Risma. Meski sudah tahu Gary doyan madon dan madat, Ima Risma tetap terpikat. Bahkan, ia rela berzina bersama sang lelaki penyemprot sperma ini, hingga hamil. Begitu hamil, Gary meninggalkannya begitu saja.

Hingga kini, Ima Risma tidak dinikahi Gary. Bahkan, anak perempuan hasil hubungan zina mereka (Rabiya Putrisyah), tidak diakui Gary sebagai anaknya. Sehingga Ima Risma pun menuntut keadilan. Gary tidak sekedar menolak Rabiya, ia juga sama sekali tidak menafkahi sang anak.

Sebelum akhirnya menikah secara siri dengan perempuan lain lagi yakni Richa Novisha, Gary diberitakan berhubungan intim dengan wanita lainnya lagi yakni Poppy Gisela. Belakangan Poppy Gisela diberitakan menggugurkan kandungan hasil perzinaannya dengan Gary, karena sang mesin penyemprot sperma ini memilih menikah dengan Richa Novisha.

(http://artis.inilah.com/news/read/2010/04/20/475981/gary-pilih-rischa-poppy-gicella-gugurkan-kandungan/)

Pada Agustus 2009, Gary menikahi Richa secara siri di Bogor. Richa gadis kelahiran Bogor 6 November 1985 ini adalah pemain film dan sinetron, yang mengawali karier sebagai Semifinalis GADIS Sampul 2002. Pada tanggal 20 April 2010, Richa Novisha melahirkan anak lelaki yang diberi nama Muhammad Adilla Rafisya Iskak.

Beberapa bulan sebelum melahirkan, Richa Novisha digugat cerai oleh Gary Iskak. Sang suami menuduh Richa berselingkuh, dan sempat tidak mengakui jabang bayi di kandungan Richa sebagai anaknya. Bahkan Richa tidak diperlakukan sebagai istri dan tak dinafkahi oleh Gary.

Begitulah nasib dan sepak terjang para penghamba dunia. Mereka terpesona oleh fatamorgana yang menyesatkan. Sejumlah wanita terpedaya oleh sebuah mesin penyemprot sperma. Padahal, dari segi fisik, mereka adalah wanita menarik yang bisa menggaet hati pria baik-baik. Namun, karena kecerobohan dan kebodohannya mereka terpedaya. Mereka lebih memilih bangkai yang terlihat indah dalam kemasan.

Semoga Allah menjadikan anak keturunan kita sebagai anak-anak yang baik, lelaki dan wanita yang perkasa serta mulia di tatapan-Nya. Terhindar dari tingkah polah yang memburu syahwat yang menjatuhkan martabat dan menjerumuskan ke neraka. (haji/tede)