Lebaran dan Sepenggal Jalan Hidupku

Oleh Abu Uyun

 

Antara ayahku di desa yang sudah sangat tua, dan isteriku di Ibukota yang hamil tua hampir melahirkan, menjadi pilihan yang sulit untuk ditentukan mana yang harus didahulukan. Sedangkan menjelang lebaran, aku senantiasa diharapkan berada di sisi orang tua di desa. Ayah mengharapkanku untuk mendampinginya, dan aku diharap-harap setiap tahun untuk berkhutbah Iedul Fithri di masyarakat desa yang ayahku menjadi imam masjid mereka di sana.. Tetapi  menjelang lebaran tahun ini (maksudnya 1423H/ 2002M) isteri saya sedang hamil tua, hampir melahirkan anak yang ketujuh.

Yang jadi masalah, isteri itu sehat, namun ketika dalam keadaan mau melahirkan anak yang ketujuh, dia agak was-was. Pasalnya, di tempat-tempat melahirkan biasanya para petugasnya bersikap sangar-sangar terhadap wanita yang beranak banyak. Mereka pasang muka serem terhadap wanita yang akan melahirkan anak dalam bilangan kesekian alias lebih dari dua, apalagi lebih dari lima. Bahkan sebelumnya, pernah isteri saya itu diteror ramai-ramai oleh belasan dokter di Rumah Sakit Umum Pusat, Cipto Mangunkusumo Jakarta, pas setelah melahirkan, dalam keadaan lemah. Belasan dokter dipimpin kepala kebidanan yang bertitel doctor menghujat isteri saya karena beranak banyak. Para petugas kesehatan ini sama sekali tidak punya akhlaq. Wanita baru saja melahirkan, badannya masih sangat lemah, perasaannya pun belum tentu menentu, tetapi malah ramai-ramai dihujat. Bayangkan! Dasar mereka sama sekali tidak menggubris agama! Tetapi pertolongan Allah pun datang. Isteri saya cukup membantah mereka dengan suara lantang: Bahwa semua ini kehendak Allah. Yang memberi rizqi itu Allah. Bahkan semua anak-anak saya, sehat-sehat, alhamdulillah. Yang terkecil sudah hafal juz ‘amma sampai surat ke sekian. Kakaknya sudah lebih banyak lagi hafalan Al-Qur’annya.. Mereka insya Allah berbakti kepada Allah dan kepada kami. Kami menyayangi mereka dan mereka menyayangi kami. Kenapa saya dipersalahkan untuk melahirkan anak lagi? Sedangkan umur, rizqi, nasib dan sebagainya di tangan Allah? Alhamdulillah saya melahirkan yang keenam ini juga sehat. Darah saya normal. Ada apa masalahnya, hingga para dokter ini mengeroyok saya?

Belasan dokter yang mengerumuni dan menghujat isteri saya dengan dipimpin oleh kepala kebidanan rumah sakit umum pusat bertitel doctor itu tampak kecut muka mereka. Tidak disangka, keadaan justru berbalik. Kepala kebidanan yang bertitel doctor itu justru mengatakan kepada belasan dokter (mereka kumpul karena masih bertemu antara yang tugas malam dengan yang baru datang untuk tugas siang) bahwa baru hari ini kita mendapatkan pelajaran sangat berharga dari ibu ini. Ini pelajaran yang sangat berharga. Kita harus menghargai kegigihan ibu ini, yang bahkan kita semua kalah. Saya yang hanya punya dua anak saja belum bisa mengurusnya sebaik ibu ini. Jadi ini pelajaran sangat berharga bagi kita semua. Maka mari sekarang kita lanjutkan kerja kita dengan lebih baik lagi.

Peristiwa itu hanyalah salah satu titik dari kampanye untuk menteror Ummat Islam agar takut beranak banyak. Kampanye-kampanye dalam aneka bentuk yang menakut-nakuti  beranak banyak berseliweran di masyarakat. Baik lewat media massa maupun lewat lembaga-lembaga kesehatan sampai di kampung-kampung. Mereka telah menjadi budak orang-orang kafir dalam program mencegah bertambahnya jumlah Muslimin di dunia ini. Hal itu sudah diteriakkan oleh orang kafir, di antaranya John Paul dari German tahun 1935 (10 tahun sebelum Indonesia merdeka 1945), dalam bukunya, Masa Depan Muslimin di Dunia Esok. John Paul memperingatkan kepada sesama kafirin, bahwa pertumbuhan penduduk Muslim sangat cepat. Sedangkan kita (maksudnya orang-orang kafir) pikirannya hanya memfokuskan hal-hal yang sifatnya keuntungan pribadi belaka.

Misalnya, pemborong pembangunan jalan hanya memikirkan penambahan lekak-lekuk jalan, agar tambah panjang.

Keprihatinan orang kafir yang sudah diteriakkan sejak zaman penjajahan itu kini lebih menonjol lagi, sampai ada yang membakar diri, guna memperingatkan sesama orang kafir agar faham bahwa pertumbuhan Islam sangat cepat. (baca Kegelisahan Yahudi, Nasrani, dan Orang Munafik Terhadap Masa Depan Islam, nahimunkar.com 2:08 am).

Kembali ke masalah isteri saya yang akan melahirkan anak ketujuh, dengan peristiwa kelahiran anak yang keenam yang telah kami sebutkan itu, maka saya perlu mendampinginya ketika dia akan melahirkan, sedang waktunya menjelang lebaran.. Sementara itu, ayah saya di desa sedang menunggu dengan aneka harapan. Di samping untuk mendampingi beliau, saya diharapkan berkhutbah Iedul Fithri sebagaimana biasanya. Tambahan lagi, perlu membicarakan adik saya yang kedelapan (terakhir) yang akan dinikahkan. Seolah ada isyarat, agar ayah dapat melihat anaknya yang terakhir telah dinikahkan sebelum ayah wafat. Karena saya anak tertua, maka meskipun sudah ada tujuh adik saya di sisi ayah, namun bila tanpa saya, beliau masih kurang puas.

Dalam keadaan yang sulit untuk saya pilih, apakah pulang ke desa memenuhi harapan ayah, atau menunggu isteri yang akan melahirkan, adalah pilihan yang tak mudah. Istri sebenarnya mempersilakan aku pulang ke desa memenuhi harapan ayah. Tetapi pertimbangan saya, setelah anak ketujuh itu lahir, insya Allah saya segera pulang ke desa. Inilah yang saya pilih, karena ayah telah didampingi tujuh adik saya.

Setelah anak lahir, barulah saya pulang ke desa. Lebaran sudah usai beberapa hari. Ayah senang saya pulang. Seakan tidak ada masalah walaupun di hari raya saya tidak dapat pulang. Akupun senang. Di samping ongkos kendaraan sudah normal[1], perjumpaan juga terlaksana, sedang kelahiran anak pun telah beres pula. Alhamdulillah.

 Kemudian saya pun kembali lagi ke Jakarta. Tidak berapa lama, ayah mengirim pesan, walau sifatnya hanya mustahab (disukai), kami diharapkan pulang ke desa bersama-sama. Maka kami berempat pun pulang. Sampai di sisi ayah, dia tampak sehat. Tidak begitu ada masalah. Tidak ada hal-hal mendesak yang harus dia katakan kepadaku dan adik-adikku. Setelah tiga hari tidak ada apa-apa, maka kami pun kembali lagi ke Jakarta. Setelah itu kami pulang ke desa bergantian, satu persatu.

Di saat kami berempat ada di Jakarta, dan ada satu yang biasa di Jakarta sedang giliran pulang, tiba-tiba adik yang satu ini menelepon bahwa ayah baru saja wafat. Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raji’uun.

Mendengar berita itu, perasaanku tidak keruan. Ada penyesalan yang menggumpal dan terngiang-ngiang pada jiwaku. Kenapa harapan terakhir ayah, yakni saya diharapkan berada di sisinya di hari raya Iedul Fithri, dan dia harapkan aku berkhutbah di hadapannya untuk terakhir kalinya, tidak dapat saya laksanakan?

Dalam keadaan merasa bersalah karena kurang memenuhi harapan orang tua seperti itu, tiba-tiba di desa itu ada peristiwa lagi. Keluarga calon isteri adik saya yang ragil (bungsu) datang bertakziyah dan menginap karena tinggalnya di kota lain. Calon isteri adik saya tentu saja ikut menginap, ya tentu saja bersama orang tuanya dia tidur. Hal-hal semacam ini termasuk sensitive pula, sedangkan saya adalah tuan rumah, selaku anak tertua. Dalam keadaan yang lagi berduka itu, kami shalat maghrib di depan rumah yang biasa diimami oleh ayah. Saya lihat jama’ah sangat banyak, masjid hampir penuh. Keluarga calon mertua adik saya pun ada di masjid ini, ikut berjama’ah semua, lelaki dan perempuan, termasuk calon isteri adik saya. Tiba-tiba seorang tokoh di situ berdiri di mimbar, mengucapkan salam, kemudian berpidato. Mula-mula dia ceritakan awal mula didirikannya masjid. Dia bercerita panjang lebar mengenai dakwah Islam di desa itu dari bibit sekawitnya (asal mulanya). Kisah dakwah itu rupanya bukan sekadar kisah. Tetapi hanyalah sebagai landasan untuk menghujat keluarga saya yang tadi malam tidak menyelenggarakan upacara tahlilan niga hari (telung ndinanan, hari ketiga dari kematian). Dianggapnya dengan tidak menyelenggarakan tahlilan itu sama dengan merusak seluruh dakwah yang sudah dilaksanakan sejak bibit sekawit.

Betapa hancur hati ini. Sudah kena musibah kematian ayah, sedang saya dalam keadaan menyesal kenapa tidak dapat memenuhi harapan ayah yang terakhir untuk hari raya Iedul Fithri yang terakhir baginya, tahu-tahu malah ada yang menuduh langsung di depan jama’ah satu masjid hampir penuh –bahkan disaksikan keluarga calon besan dari luar kota– bahwa saya telah merusak dan menghancurkan seluruh dakwah yang telah dilangsungkan selama ini.

Peristiwa itu kini telah berlalu. Masalah tahlilan alias upacara selamatan kematian pun dimana-mana aku katakan bahwa itu bukan dari Islam.Bahkan kasus semacam yang aku alami itu saya sebut sebagai contoh nyata. Dan ternyata tidak apa-apa. Tuduhan bahwa aku telah merusak segala dakwah yang telah berlangsung pun bagai angin lalu. Tuduhan itu tidak berdampak apa-apa. Kami tenang-tenang saja. Sekarang kami hidup damai tidak ada apa-apa. Setelah peristiwa itu dan sampai lebaran 1429H/ 2008M yang baru saja berlalu pun senantiasa saya diminta hadir oleh semuanya. Bahkan yang menghujat itupun kemudian mempersilakan kami berkhutbah di depan jama’ah. Alhamdulillah, dakwah masih berlangsung pula, tanpa rusak. Sesama kami pun saling maaf memaafkan. Sesama kami pun mengucapkan ungkapan doa: Taqobballallohu minna wa minkum. Semoga Allah menerima (ibadah) kami dan (ibadah) kalian. Amien. 

 

                                 Jakarta, Selasa 7 Syawal 1429H/ 7 Oktober 2008M



 

[1] Ongkos kendaraan saya sebut normal, karena ketika menjelang dan setelah lebaran, ongkosnya naik sampai hampir 100 persen bahkan lebih. Itu tidak normal. Karena secara perhitungan, sebenarnya dengan penuhnya penumpang, itu sudah menguntungkan bagi penyelenggara angkutan umum. Tetapi justru di Indonesia diadakan “pemerasan” secara umum, yaitu harganya dinaikkan drastic.. Sampai kereta api pun yang tadinya tiket eksekutif 185 ribu rupiah dari Jakarta ke Solo jadi 400 ribu rupiah. Itu naiknya lebih dari 100 persen. Padahal penyelenggaraannya itu di bawah pemerintahan. Ini namanya pemerasan, tetapi dilegalkan. Harganya menjadi tidak normal, karena para pengaturnya tidak berfikiran normal. Kalau berfikiran normal, maka angkutan umum bermuatan penumpang penuh, itu sudah untung, alhamdulillah. Itu yang normal. Tetapi karena mereka berfikiran tidak normal, maka justru dinaikkan harganya secara lipat ganda. Di sini tampak benar, hikmah disyari’atkannya Islam, berhaji itu lokasinya tidak di Indonesia. Karena kemungkinan bisa-bisa orang sedunia diperlakukan secara tidak normal. Atau sebaliknya, rakyatnya diperlakukan secara tidak normal, demi orang lain, seperti dalam hal menjual asset-asset selama ini, yang sangat menguntungkan pihak luar –dan pihak tertentu (?)–, dan tentu saja membikin buntung rakyat sendiri. Dasar tidak normal, masih pula banyak yang percaya kepada paranormal alias dukun rekanan syetan. Allah saja tidak mau memaafkan model beginian, bila mereka tidak bertaubat dengan sebenar-benar taubat, taubatan nashuha, dan tidak mengulanginya. Maka komplitlah, kepada manusia, kerjanya memeras, kepada Tuhan, mereka berbuat kemusyrikan dengan mempercayai para dukun atau malah isi kubur berupa mayat. Meminta-minta dengan komat-kamit kepada mayat di dalam kubur, agar naik derajat, enteng jodoh, lancar rejeki dan sebagainya. Mereka menyembah isi kubur, dengan memintainya seperti itu. Padahal jelas-jelas mayat-mayat dalam kubur itu untuk mempertanggung jawabkan amalnya saja tidak dapat lagi untuk menambalnya, kok malah dimintai oleh orang yang masih hidup, hanya karena mayat-mayat itu dianggap sebagai wali atau keramat.  Memang tidak normal, baik perilakunya maupun keyakinannya. Tetapi ini bukan untuk pukul rata. Masih banyak juga yang normal, hanya saja kemungkinan besar jadi korban dari orang-orang yang tidak normal akhlaq maupun aqidahnya. Lebih buruk lagi bila kebijakan tidak normal itu ada maksud-maksud tertentu, misalnya menguras kekayaan Ummat Islam sambil memperlemahkannya sekaligus meraup keuntungan sebesar-besanya. Itulah kedhaliman yang seksama.