Lebih 40 Ribu Korban Gempa Akan Berlebaran di Tenda Darurat

lebaran-ditenda-01

Jangan Menangis Ibu (aynkecik.wordpress.com)


عَنِ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيرٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِى تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى ».

Dari An-Nu’man bin Basyir, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Perumpamaan orang-orang Mukminin dalam hal saling berkasih sayang, saling cinta mencintai, dan tolong menolong adalah seperti satu tubuh apabila salah satu anggota mengaduh kesakitan maka seluruh anggota tubuh yang lain turut merasa sakit.” (HR Al-Bukhari dan Muslim).

Ny Dedeh menuturkan, saat ingat lebaran yang tinggal beberapa hari lagi, rasa duka semakin bertambah dalam. Sebab, lebaran kali ini, ia harus rayakan tanpa anak dan di tenda penampungan.

Ny Dedeh, kini bersama 168 pengungsi lainnya menempati satu lokasi pengungsian.

Menurut data yang ada di bagian Satuan Koordinasi Pelaksana Penanggulangan Bencana Kab. Tasikmalaya, ada 41,724 warga yang dipastikan merayakan lebaran di pengungsian. Mereka tersebar di setiap kecamatan.

Berita-beritanya sebagai berikut:

Jelang Lebaran, Pengungsi Gempa Kian Bingung

September 13, 2009 – 18:42

CIANJUR (Pos Kota) – Dua belas hari berada di tenda pengungsian, korban selamat gempa bumi Tasikmalaya berkekuatan 7,3 skala richter kini mulai merenung keluarga mereka yang masih hilang. Tidak hanya itu, rumah mereka yang porak porandakan akibat tertimbun reruntuhan batu dan tanah, membuat mereka semakin binggung akan hari depan mereka.

Korban pengungsi di Kampung Babakan Caringin, Desa Cikangkareng, Kecamatan Cibinong, mengaku, sangat sulit melupakan sanak-saudara dan kerabatnya yang tewas tertimbun tanah longsor dengan nasib yang tidak jelas. “Harta hilang ngga apalah, tapi anak hilang dan belum ditemukan, rasanya sangat sakit. Apalagi sebentar mau lebaran. Walau kami sudah diberi pengertian untuk ikhlas, namun bathin ini rasanya belum menerima,” ujar Dedeh, warga Cikangkareng yang kedua anak serta suaminya hilang dan belum ditemukan.

Ny Dedeh menuturkan, saat ingat lebaran yang tinggal beberapa hari lagi, rasa duka semakin bertambah dalam. Sebab, lebaran kali ini, ia harus rayakan tanpa anak dan di tenda penampungan.

“Awalnya saya berharap, bisa ditemukan jasad suami dan anak waktu pemerintah memperpanjang waktu pencarian. Begitu habis dan tidak ditemukan, rasanya sakit, walau saya harus ikhlas. Ini duka yang teramat berat untuk dipikul,” katanya dengan mata berkaca-kaca.

Ny Dedeh, kini bersama 168 pengungsi lainnya menempati satu lokasi pengungsian.

Wakil Bupati Cianjur Dadang Sufianto, M.M terlihat berkeliling guna menghibur lebih dari 600 pengungsi. Menjelang lebaran, para korban gempa juga akan diberi kekuatan iman dengan mendatangkan ulama ke lokasi pengungsi.

“Warga sekitar benar-benar trauma. Mereka begitu ketakutan akan terjadi gelombang tsunami, sehingga lebih memilih bermalam di tenda pengungsian ketimbang di rumahnya masing-masing,” jelas Kepala Kantor Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Cianjur Drs. H. Moh. Darojat.

Seluruh Camat Dikumpulkan khusus untuk program rehab atau pembangunan kembali fasilitas dan rumah milik warga yang turut menjadi korban gempa, Kepala BPBD Kabupaten Cianjur Drs. H. Moh. Darojat mengumpulkan seluruh camat se Kabupaten Cianjur.

“Seluruh camat kami kumpulkan karena dampak gempa terjadi di seluruh kecamatan,” jelas Darojat sambil menambahkan, dalam rapat nanti, pihaknya akan memberikan arahan teknis dalam hal penanggulangan kembali lokasi gempa.

(yopi/sir)

Sumber: http://www.poskota.co.id/berita-terkini/2009/09/13/jelang-lebaran-pengungsi-gempa-kian-bingung

Harapan Korban Gempa di Tasik Saat Lebaran Tiba
Oleh : Redi Mulyadi | 11-Sep-2009, 21:15:35 WIB

KabarIndonesiaWalau bagaimana pun, tinggal di tenda-tenda penampungan pengungsi, tentu saja tidak nyaman dirasakan warga korban gempa 2 September lalu terutama di Kabupaten Tasikmalaya. Apalagi perayaan ‘Lebaran’ Idul Fitri yang tinggal beberapa hari lagi.

“Pada saat Lebaran nanti, kami sangat berharap bisa merayakannya di rumah sendiri, kumpul bersama keluarga. Namun entahlah, karena kondisi rumah kami masih rusak berat, dan belum tentu akan segera diperbaiki,” ungkap Mahfudin (50) dan warga Desa Jayapura Kecamatan Cigalontang lainnya.

Hal senada diungkapkan Oman (60) korban gempa warga Kecamatan Sodonghilir. Dia mengaku, merasa tidak nyaman bila harus merayakan Idhul Fitri di penampungan pengungsi berupa tenda darurat. Namun, Oman dan pengungsi lain tidak bisa berbuat banyak, karena rumah miliknya termasuk yang mengalami rusak berat dan khawatir bila tiba-tiba ambruk.

“Ya, mau bagaimana lagi. Saya bersama keluarga dan warga lain harus merayakan Lebaran di tenda-tenda darurat sebagai penampungan kami yang disediakan pemerintah. Rasanya sedih juga,” tutur Oman.

Para pengungsi yang rumahnya hancur dan rusak berat mengaku tidak memiliki biaya untuk segera membangun kembali rumahnya. “Kalau rumah saya hancur begitu, entah berapa banyak uang yang harus saya keluarkan. Sementara itu, saya tidak punya uang karena tidak bekerja, dan untuk makan saja hanya berharap dari bantuan,” kata Parman.

Ketika diminta komentarnya tentang komitmen pemerintah pusat yang disampaikan Meneg Perencanaan Pembangunan Nasional (Meneg PPM) Drs. H. Paskah Suzetta MBA saat meninjau lokasi pengungsian korban gempa di desa Jayapura, kecamatan Cigalontang, Kabupaten Tasikmalaya yang akan memperbaiki sarana dan prasarana termasuk rumah penduduk yang rusak akibat gempa yakni awal tahun 2010 mendatang, para pengungsi mengaku bahwa itu terlalu lama.

“Wah…itu terlalu lama. Artinya, kami harus tinggal di tempat pengungsian selama 4 bulan bila harus menunggu bantuan yang akan dikucurkan awal 2010 mah. Padahal, kami ingin bisa Lebaran di rumah sendiri bersama keluarga,” ujar mereka.(*)

Sumber: http://www.kabarindonesia.com/berita.php?pil=26&jd=Harapan+Korban+Gempa+di+Tasik+Saat+Lebaran+Tiba&dn=20090911210305

Minggu, 13/09/2009 16:29 WIB

Korban Gempa Cianjur Terpaksa Berlebaran di Pengungsian
Pradipta Nugrahanto
– detikBandung

lebaran-ditenda-02

ilustrasi/dok.detikbandung

Bandung – Korban gempa Cianjur sepertinya tidak akan merasakan kebahagiaan lebaran yang dirasakan sebagian besar umat muslim. Tahun ini, mereka harus rela ber-lebaran di pengungsian dengan segala keterbatasan.

Seperti dituturkan oleh Camat Cibinong Kabupaten Cianjur Wodi Efyana saat dihubungi detikbandung, Minggu (13/9/2009).

“Rencana kami akan menggelar shalat ied di pengungsian. Terlebih banyak warga yang belum memungkinkan untuk kembali ke rumah masing-masing,” tutur Wodi.

Meski begitu, Wodi menambahkan, sejumlah bantuan untuk memenuhi kebutuhan lebaran warga terus berdatangan.

“Ini yang kami syukuri. Bantuan terus mengalir, termasuk kebutuhan lebaran seperti pakaian baru dan bahan makanan untuk berlebaran nanti,” tutup Wodi.

(dip/ema)

http://bandung.detik.com/read/2009/09/13/162938/1202644/486/korban-gempa-cianjur-terpaksa-berlebaran-di-pengungsian

Ribuan Warga Bakal Rayakan Lebaran di Tenda

Written by A. Latief  |  Friday, 11 September 2009

SIAPA yang ingin terus tinggal di tenda pengungsian, apalagi mendekati lebaran?

Tentu tidak!!!

Tinggal di tenda pengungsian cukup menyakitkan. Tetapi apa boleh buat, jika tidak di tenda, mau tinggal dimana lagi sebab kondisi rumah rusak parah akibat diguncang gempa dengan kekuatan 7,3 SR pada Rabu pekan lalu.

eskipun banyak yang mengalami kerusakan tidak parah, namun rumah mereka tidak layak untuk ditinggali. Ada yang dindingnya belah, atapnya roboh dan sebagainya. Jalan satu-satunya, rumah tersebut harus dirobohkan dan diganti dengan yang baru.

alah satu keluarga yang kini tinggal di tenda adalah keluarga Ipin (30), korban gempa warga Kp. Ranto, Desa Pakemitan, Kec. Cikatomas, Kab. Tasikmalaya. Rumah Ipin rusak berat sehingga keluarganya bersama keluarga kakaknya, Suharna (35) juga ibunya, Imi (80) kini  tinggal dalam satu tenda.

Dalam tenda tersebut terdapat dua buah tempat tidur yang posisinya berhadapan, di sampingnya terdapat perabotan dapur dan juga lemari kecil tempat menyimpan pakaian. Tenda tersebut hanya digunakan keluarga Ipin dan Suharna untuk sekedar tidur pada malam hari saja dan menyimpan pakaian. Sementara pada siang hari mereka tetap beraktifitas sebagai petani.

“Bingung kedah kamana deui ngalih, da teu gaduh wargi nu caket, bumi raka oge sami reksak, nya kapaksa calik dina tenda sami sareng batur, da geuning sanes abdi wungkul anu kapapatenan teh,” ungkapnya.

Ia pun memprediksi tahun ini ia dan keluarganya dipastikan bakal merayakan lebaran di lokasi pengungsian bersama 16 keluarga lainya yang ada di Kampung Ranto. Kenyataan yang dialami Ipin tersebut dialami pula oleh ribuan korban gempa lainnya yang  tinggal di tenda pengungsian. Meskipun sudah merasa jenuh terus hidup dalam tenda, namun apa daya sebab tidak ada lagi tempat yang aman untuk dijadikan tempat berlindung.

Ade Tarya (40) warga Kp. Sukananjung, Desa Sukasetia, Kec. Cisayong yang rumahnya rata dengan tanah mengaku tidak pernah menyangka jika tahun ini akan merayakan lebaran di sebuah tenda yang dibangun di bekas reruntuhan rumahnya.

Ia pun mengaku kebingungan harus dengan apa membangun kembali rumahnya yang hancur tersebut terlebih saat ini kondisi usahanya sedang tidak mujur. “Entah bagaimana saya bisa membangun rumah kembali, saya sampai saat ini masih kebingungan,” ungkapnya.

Menurut data yang ada di bagian Satuan Koordinasi Pelaksana Penanggulangan Bencana Kab. Tasikmalaya, ada 41,724 warga yang dipastikan merayakan lebaran di pengungsian. Mereka tersebar di setiap kecamatan.

Misalnya di Desa Cikeas dan Cipanas Kec Cipatujah, setidaknya ada 79 KK yang bakal berlebaran di tenda pengungsian, 17 diantaranya di Desa Cikeas. Sementara warga korban gempa lainnya sudah dititipkan kepada keluarga dan tetangganya yang kondisi rumahnya utuh.

Camat Cipatujah Nazmudin Aziz mengatakan, beberapa korban gempa yang memiliki keluarga dititipkan ke keluarganya agar mereka bisa lebih nyaman ketimbang tinggal di tenda. “Meskipun ada yang masih tinggal di tenda, tetapi sebagian besar kami titipkan kepada  keluarganya juga tetangganya,” kata Aziz.

Sumber:  http://prianganonline.com/index.php?option=com_content&task=view&id=143&Itemid=37

(redaksi nahimunkar.com)