Lia Eden Memerintahkan Penghapusan Islam

 

Pada 15 Desember 2008 lalu, Lia Eden kembali ditangkap terkait dengan selebaran yang memerintahkan penghapusan agama Islam dan agama-agama lainnya. Lia Eden dan 27 pengikutnya ditangkap pada pukul 05.30 WIB, sepuluh orang di antaranya masih anak-anak.

 

Memerintahkan penghapusan agama Islam itu adalah satu bentuk upaya yang sangat  kelewat batas. Karena, kepemilikan agama Islam bagi Ummat Islam sedunia, itu lebih harus dijaga ketimbang kepemilikan apapun, termasuk kepemilikan harta. Sedangkan kepemilikan harta bagi seseorang saja dijamin, dan tidak boleh dihapus oleh siapapun, kecuali ada sebab-sebab yang membolehkan disitanya. Apalagi kepemilikan agama Islam, maka lebih dijamin ketimbang kepemilikan harta, maka tidak boleh ada yang menghapusnya sama sekali, tanpa kecuali. Oleh karena itu, perintah Lia Eden untuk menghapus agama Islam itu jelas-jelas melawan hukum secara amat sangat nyata.

 

Menurut Kepala Divisi Humas Mabes Polri Irjen Polisi Abubakar Nataprawira, Lia Eden (61) dan Wahyu Andito Putro Wibisono (46) ditetapkan sebagai tersangka dan dikenakan pasal 156 ayat a subsider pasal 156 KUH Pidana tentang penodaan dan penistaan suatu agama.

 

Wahyu Andito Putro Wibisono berperan mengirimkan satu paket selebaran yang diatasnamakan ‘wahyu tuhan’ kepada pejabat negara, ormas Islam yang ada di wilayah RI, Gubernur seluruh Indonesia, dan Kapolda di seluruh Indonesia. Paket tersebut, terdiri dari lembar pertama untuk Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, satu surat berisi enam lembar untuk Kepolisian RI, satu surat berisi 10 lembar untuk pemerintah Indonesia, dan satu surat berisi 19 lembar untuk bangsa Indonesia.

 

Isi ‘wahyu tuhan’ untuk Presiden SBY yang turun tanggal 23 November 2008 antara menyatakan:Inilah Surat-Ku yang berisi fatwa penghapusan kedaulatanmu sebagai pemimpin negara Indonesia. Aku takkan memberimu peluang untuk terpilih kembali, dan pemerintahanmu ini berakhir chaos, dan negaramu kubuat tak berdaya, karena aku menundukkanmu, dan aku mendirikan kerajaan-Ku dengan segala cara!”

 

Sebelumnya, 14 November 2008, ‘wahyu tuhan’ untuk kepolisian telah lebih dulu turun. Isinya, ‘Tuhan’ merasa kecewa terhadap sikap Kapolri yang tidak membela kerajaan Eden tetapi justru menangkap Lia Eden. Pada mulanya ‘Tuhan’ menganggap Polri sebagai garda depan yang wajib mengamankan Kerajaan Eden. Namun, kemudian ‘Tuhan’ kecewa karena institusi kepolisian ternyata sependapat dengan para ulama yang telah terbukti sering berlaku tercela dan terbukti sebagai golongan yang tak dibela dan dimurkai.

 

Ancaman juga mewarnai ‘wahyu tuhan’ yang ditujukan kepada institusi kepolisian, yaitu: “Kalau Polda Metro Jaya tak mau menaati-Ku, niscaya mereka tak berhati nurani dan tak tanggap pada kebenaran yang tersaji dari-Ku. Dan yang lebih jauh ialah Kuanggap mereka bersedia berlawanan langsung dengan-Ku.”

 

Orang UIN membela Lia

 

BUKAN cuma Abd Moqsith Ghazali yang membela Lia Eden dan komunitasnya, ada juga Rumadi seorang dosen Fakultas Syari’ah dan Hukum di UIN (Universitas Islam Negeri, dahulu IAIN) Syarif Hidayatullah Jakarta. Keduanya doctor di lingkungan UIN Jakarta.

 

Ketika Lia dan komunitasnya diamankan dan dievakuasi aparat kepolisian pada 18 Desember 2005 lalu, Abd Moqsith Ghazali menyuarakan pembelaannya melalui sebuah artikel berjudul Kriminalisasi Komunitas Eden, yang dipublikasikan Koran Tempo edisi Senin 2 Januari 2006. (lihat tulisan berjudul Lakon Buruk Anggota AKKBB Pendukung Porno-pornoan dan Kesesatan, nahimunkar.com July 17, 2008 1:48 am).

 

Sedangkan Rumadi, pembelaannya kepada Lia Eden dan komunitasnya dituangkan dalam sebuah tulisan berjudul Penodaan Agama untuk Lia Eden yang dipublikasikan di situs wahidinstitute.org tanggal 10 Mei 2006. Rumadi dan Moqsith tampaknya memang tenaga di lembaga yang berkaitan dengan Gus Dur dan puterinya, yang biasanya justru “berangkulan” dengan orang-orang kafir atau bahkan yang terbukti menodai Islam seperti Lia Eden.

 

Rumadi antara lain mengatakan, “…Sebagian orang Islam mengatakan bahwa ajaran Lia Eden telah menodai agama Islam. Lia Eden bilang dia adalah Jibril yang mendapat wahyu dari Tuhan, seorang anggotanya dikatakan reinkarnasi Nabi Muhammad, dan sebagainya. Sampai di sini saya belum merasa ada penodaan terhadap Islam, meskipun orang mungkin mengatakan bahwa membawa-bawa nama Jibril dan Nabi Muhammad tidak dalam posisi ‘sewajarnya’ adalah bentuk penodaan terhadap Islam.”

Itulah bentuk pembelaan yang telah tampak cara berfikirnya saja saling bertabrakan antara perkataan yang satu dengan lainnya.

 

Lia Eden menjalani sidang pertamanya pada tanggal 19 April 2006, dengan dakwaan telah melakukan penodaan agama, menyiarkan permusuhan atau kebencian terhadap golongan tertentu, dan melakukan perbuatan tak menyenangkan. Ketika itu, Lia Eden antara lain dijerat dengan pasal 156 a Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) mengenai penodaan agama juncto pasal 156 KUHP.

 

Sekitar dua bulan kemudian, tepatnya pada tanggal 26 Juni 2006, Lia Eden  divonis 2 tahun penjara oleh PN Jakarta Pusat. Vonis tersebut lebih ringan tiga tahun dari tuntutan JPU (Jaksa Penuntut Umum) yakni 5 tahun penjara. Sejak saat itu, Lia Eden mulai mendekam di Rutan Pondok Bambu, Jakarta. Pada 30 Oktober 2007, sekitar satu tahun lima bulan sejak penahanannya, Lia menghirup udara bebas.

 

Hukuman yang ringan dan banyaknya pembelaan dari berbagai pihak yang sehari-harinya membela kesesatan, kemungkinan membuat Lia dan komunitasnya menjadi mangkak dan ngelunjak. Boro-boro bertobat atau menyadari kesesatannya, ia malah menyebarkan fatwa penghapusan semua agama. Presiden dan Kapolri seolah-olah aparat bawahannya yang harus mau melaksanakan fatwa yang dibuatnya dengan mengaku-aku sebagai ‘wahyu’ dari ‘tuhan’.

 

Kalau ada yang mengatakan bahwa keyakinan Lia Aminuddin tidak bisa dikenai pasal penodaan agama, secara hukum boleh jadi benar. Lia Aminuddin dan komunitasnya bebas menganut keyakinan tertentu. Namun, ketika keyakinannya itu sudah disosialisasikan kepada publik, dan publik atau perwakilannya menganggap itu sebuah hasutan atau penodaan terhadap keyakinannya, maka upaya melaporkan Lia Eden dan komunitasnya juga merupakan bagian dari kebebasan beragama, kebebasan berekepresi, bagian dari hak asasi.

 

Apalagi, upaya penyebarluasan keyakinannya itu disertai dengan ‘ancaman’ berupa akan terjadi gempa dan sebagainya. Bahkan, kini Lia Eden berani mengancam institusi kepolisian, berani ‘mengancam’ presiden, juga memfatwakan agar agama-agama yang ada dihapuskan.

 

Presiden dipilih langsung oleh rakyat Indonesia, bukan untuk mengikuti fatwa Lia Eden. Begitu juga dengan Kapolri yang dicalonkan Presiden dan disetujui DPR RI, bukan untuk menjalankan fatwa Lia Eden, atau melindungi kerajaan halusinasi milik Lia Eden.

 

Anehnya, sejumlah orang antara lain Hendardi justru mempermasalahkan sikap aparat kepolisian yang membawa Lia Eden dan pengikutnya ke kantor polisi untuk diinterogasi. Menurut Hendardi yang menjabat sebagai Ketua Dewan Pengurus Setara Institute ini, penangkapan terhadap Lia Eden dan komunitasnya merupakan tindakan yang berlebihan. “Polisi sibuk mencari pekerjaan. Apa tidak ada pekerjaan yang lain?” Demikian pernyataan Hendardi kepada INILAH.COM.

 

Sikap seperti itu jelas merupakan sebuah pelecehan terhadap institusi kepolisian. Seolah-olah setiap peristiwa hanya layak diukur dari hukum pidana semata. Masih banyak parameter lain yang menjadi dasar aparat kepolisian menangkap Lia Eden dan komunitasnya. Itulah bentuk arogansi dan ketidak dewasaan orang-orang yang bergerak di bidang hukum. Apalagi, mereka sama sekali nggak ngerti agama.

 

Lia Eden pernah menyatakan tidak punya  agama, namun tetap percaya kepada tuhan. Apakah hanya karena dia tidak punya agama, lantas boleh membuat fatwa agar agama-agama yang ada dihapuskan saja? Sikap Lia Eden jelas melanggar hak asasi orang-orang yang punya agama.

 

Iblis juga mengakui keberadaan Tuhan, kemudian menjerumuskan manusia dengan aneka tipuannya. Lia Eden mengaku percaya kepada Tuhan, tetapi ingin menjerumuskan manusia dengan aneka caranya pula. Kalau Hendardi, Abd Moqsith Ghazali, Rumadi dan sebagainya membela Lia Eden yang jelas sesat bagai iblis, maka kita bisa menilai siapa mereka sesungguhnya.

 

Lagi pula, kalau benar Lia Eden itu Jibril atau bahkan Tuhan itu sendiri, maka ia tidak perlu mengeluarkan fatwa penghapusan agama. Seharusnya ia menggunakan kekuasaannya untuk menghapuskan agama-agama yang ada di muka bumi ini, dan tidak perlu minta tolong Presiden SBY atau minta perlindungan Kapolri, lha wong Kapolri dan Presiden tidak lebih berkuasa dari Tuhan Yang Maha Kuasa.

 

Sujud kepada manusia bahkan kepada rumah

Pada salah satu situs komunitas Lia Eden, pernah ditampilkan sebuah pertanyaan yang berasal dari kimiq ([email protected]). Kimiq mempertanyakan soal firman tuhan (versi komunitas Lia Eden) yang berbunyi: “sembahlah Ratu Syah Syamsuriati Lia Eden untuk-Ku”. Selengkapnya sebagai berikut:

 

Pada bagian tahta suci, tertulis pula “sembahlah Ratu Syah Syamsuriati Lia Eden untuk-Ku” jika ini benar merupakan firman Tuhan, bukankah aneh jika Tuhan memerintahkan menyembah kepada makhluk sebagai perantaraan penyembahan kepada-Nya. Jika memang demikian, apa bedanya dengan pemikiran para kaum pagan dan penyembah berhala dahulu. Mereka mengira sulit untuk dapat berkomunikasi atau melakukan pernyembahan kepada Tuhan secara langsung, sehingga perlu ada media lain yang dapat menjadi perantara penyembahan mereka kepada Tuhan. Media2 tersebut dapat berupa patung, pokok kayu, api, matahari, bintang dan benda2 lainnya. Kalau diambil dalil penyembahan kepada manusia sebagai penyembahan kepada Tuhan berdasarkan pemahaman kaum kristen, maka dalam kitab suci mereka pernyataan Yesus adalah Tuhan dan penyembahan kepadanya sama dengan penyembahan kepada Bapa, pernyataan itu tidak keluar dari mulut Yesus, tetapi keluar pertama kali dari Paulus yang notabene bukan termasuk dari 12 murid Yesus (Hawariyin).

 

Saya rasa untuk awal demikian dahulu pertanyaan saya, kalau bisa saya ingin perbincangan ini berkembang menjadi sebuah diskusi yang sehat dan berdasar satu sama lain. Terima kasih atas perhatian dan kerjasamanya dan mohon maaf jika dalam penulisan dan penyampaiannya terdapat kata2 yang kurang berkenan

 

Salam

kimiq ([email protected])

 

Pertanyaan tersebut mendapat jawaban dari redaksi (webmaster) pengelola situs http://www.mahoni30.org/index.php?option=com_content&task=view&id=1109&Itemid=95 sebagai berikut:

 

Atas Nama Tuhan Yang Maha Esa

Salam Keselamatan dari Tuhan

 

Berikut ini jawaban atas pertanyaan Anda selanjutnya.

 

Mengenai ungkapan “sembahlah Ratu Syah Syamsuriati Lia Eden untuk-Ku”, adalah benar bahwa ungkapan ini adalah wahyu Tuhan. Bila Anda menganggap hal ini sebuah keanehan, kami pun memakluminya. Namun kesimpulan Anda bahwa hal itu sebagai “perantaraan penyembahan kepada-Nya” adalah kesimpulan yang keliru. Apalagi bila Anda menyamakannya dengan penyembahan kaum pagan, terlalu jauh kesimpulan itu. Kami tak pernah menganggap Tuhan berada di tempat yang jauh, suci tak terjangkau, sebagaimana kaum pagan sehingga membutuhkan perantara. Justru kami merasa sangat dekat karena Tuhan hadir dalam kehidupan kami sehari-hari.

 

Secara prinsip, Ruhul Kudus mengajarkan kepada kami untuk menyembah Tuhan Yang Maha Esa. Kami tak menggunakan perantara, wasilah, di dalam penyembahan kami kepada Tuhan. Kami tak menggunakan benda-benda, Bunda Lia, Ruhul Kudus, para nabi dan orang-orang suci sebagai perantara di dalam penyembahan kami kepada Tuhan. Kami menyembah dan memohon langsung kepada Tuhan Yang Maha Esa. Bahkan, Ruhul Kudus memerintahkan kepada kami untuk mendatangi makam-makam walisongo dan menyampaikan peringatan Tuhan agar umat Islam tidak menggunakan perantara (melakukan tawasul) di dalam permohonan doanya kepada Tuhan.

 

Adapun ketaatan kami atas perintah bersembah kepada Bunda itu adalah dalam konteks ketaatan kami pada perintah Tuhan, bukan menyembah Bunda dalam pengertian hakikat sebagaimana kami menyembah Tuhan. Ingatkah Anda, Tuhan pun pernah memerintahkan kepada para malaikat untuk bersujud kepada Adam? Para malaikat melakukannya sebagai ketaatan kepada Tuhan, sementara iblis menolak perintah itu?

 

“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam,” maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan para pengingkar” (QS Al Baqarah 2:34)

 

Anda mungkin belum tahu, bahwa komunitas Eden adalah sekelompok orang yang gemar bersujud. Sesama komunitas Eden, kami saling mensujudi. Misalnya, bila ada seorang di antara komunitas Eden yang berhasil melewati ujian imannya, dan berhasil meraih kesuciannya, kami pun mensujudinya, dalam arti yang sebenarnya. Bila kami merasa sangat bersalah kepada sahabat kami di kalangan komunitas Eden, kami pun mensujudinya. Bila kami berterima kasih atas kebaikan dari salah seorang kaum Eden, kami pun mensujudinya. Kami tak jarang bersujud kepada Bunda Lia, demikian pula kepada Malaikat Jibril. Demikian pula sebaliknya. Bunda Lia, dan Malaikat Jibril pun juga bersujud kepada kami, murid-muridnya ini. Nah, semoga Anda tidak bertambah bingung! Jangankan kepada orang atau malaikat, kepada rumah Tuhan, di jalan Mahoni 30 itu, kami juga sering bersujud sebelum memasukinya..

 

Melalui penggambaran kebiasaan bersujud yang biasa kami lakukan, kami ingin menunjukkan sebuah realitas di mana sebuah sembah sujud kami kepada salah seorang di antara kami, tidak membuat hal itu menjadi sebuah pengkultusan ataupun pengagungan yang menyamai pengagungan kami kepada Tuhan Sang Maha Pencipta. Tak sebagaimana kaum pagan yang membutuhkan perantara agar doanya sampai kepada Tuhan, sebaliknya, Ruh Tuhan meliputi segala aktivitas keseharian kami, sehingga tak terasa sebuah doa kudus seringkali terngiang-ngiang di pikiran dan terucap tanpa kami bersujud kepada-Nya. Penyembahan komunitas Eden kepada Tuhan, tak lagi berbentuk ritual apa pun.

 

Menghaturkan doa sambil menengadah ke langit, atau pun bersujud mencium bumi, adalah body language sekaligus simbol untuk mengungkapkan kedalaman spiritualitas manusia. Namun komunitas Eden tidak menjadikan hal itu sebagai rutinitas yang bersifat ritual, melainkan mengembalikannya kepada makna generiknya sebagai simbol yang penuh makna untuk mengungkapkan spiritualitas yang mendalam.

 

Itulah model spiritualitas kami, sebuah pengajaran Tuhan kepada kami agar berendah hati dan tak meninggikan diri. Melalui kebiasaan bersujud itu, kami diajarkan untuk berendah hati terhadap apapun dan siapapun karena itu spiritualitas dasar yang dapat dijadikan pondasi untuk memupus kesombongan dan kekerasan beragama sebagaimana yang menjadi penyakit masyarakat pada saat ini.

 

Sekali lagi, kami memanjatkan doa kami hanya kepada Tuhan Yang Maha Esa, melalui hati kami, pikiran kami, mulut kami dan aktifitas keseharian kami.

 

Salam,

Redaksi

 

Jadi, ada yang mereka sebut sebagai firman tuhan, berisikan perintah agar komunitas Eden menyembah Ratu Syah Syamsuriati Lia Eden untuk Tuhan. Kalau komunitas Eden selain Lia diperintahkan menyembah Lia dalam rangka menyembah tuhan, maka kepada siapa Lia menyembah?

 

Meski sudah jelas musyrik, namun komunitas Eden tetap menolak dituduh paganis. Sebab, menurut mereka, yang mereka sembah adalah tuhan dengan cara menyembah Lia.

 

Allah SWT memang pernah memerintahkan bangsa malaikat dan bangsa jin untuk bersujud kepada Adam, namun bukan berarti menyembah Adam. Sementara itu, ‘tuhan’ komunitas Eden berfirman untuk menyembah Lia, bukan sekedar bersujud kepada Lia. Nyatanya, selain menyembah Lia mereka juga bersujud kepada Lia bahkan kepada sesama mereka. Walaupun tidak ada firman yang memerintahkan mereka untuk saling bersujud satu sama lain, namun hal itu mereka lakukan juga. Jadi, perintah siapa yang mereka ikuti dalam hal ini?

 

Komunitas Eden adalah kumpulan orang-orang yang bingung dan membutuhkan pertolongan. Membiarkan mereka tetap dalam kondisinya, itu bukanlah pertolongan. Membela mereka atas nama hak asasi dan hukum, juga bukanlah pertolongan yang seharusnya diberikan keada mereka. Pertolongan yang sesungguhnya dibutuhkan mereka adalah mengeluarkan mereka dari kondisi yang bingung tadi. Hukuman yang ringan dan argumentasi hukum yang bersifat membela, adalah sebuah upaya jahat, sebuah upaya pembiaran agar mereka tetap bingung dan tersesat.

 

Wacana hukum mati bagi Lia Eden

Lia Eden dan komunitasnya harus dihukum kalau tidak mau bertobat. Abu Bakar Baasyir berpendapat, hukmannya hukuman mati. Beritanya sebagai berikut:

detikNews » Berita Rabu, 17/12/2008 12:27 WIB

Baasyir Minta Lia Eden Dihukum Mati

*Didit Tri Kertapati* – detikNews * * *Jakarta* –

Pengasuh pesantren Ngruki, Abubakar Baasyir ikut bicara soal penangkapan Lia Eden oleh Polda Metro Jaya atas ajarannya yang minta semua agama dihapuskan. Menurut Baasyir, omongan Lia Eden tidak perlu dipercaya karena sudah tidak waras. “Lia Eden orang edan itu. Nggak perlu dianut karena minta agama dihapus. Kurang ajar itu,” ujar Abubakar Ba’asyir usai menjenguk Habib Rizieq dan Munarman di Polda Metro Jaya, Jl Jenderal Sudirman, Jakarta, Rabu (17/12/2008). Menurut Baasyir, Lia Eden hendaknya dihukum seberat-beratnya karena telah melakukan penghinaan terhadap agama. Hukuman mati dianggap yang paling setimpal bagi Lia. “Dihukum mati saja menurut pendapat saya. Kalau masih pada pendiriannya untuk menghapus semua agama, hukumannya mati, tidak ada jalan lain,” ujar pria yang selalu memakai jubah dan sorban warna putih ini. Sementara itu, sekitar pukul 11.30 WIB tadi, Lia Eden dan pengikutnya yang menjadi tersangka, Wahyu, kembali menjalani pemeriksaan di Direskrimum Polda Metro Jaya. Beberapa pengikut Lia juga tampak mendampingi pemeriksaan wanita yang mengaku sebagai Malaikat Jibril ini.*(anw/iy)

 

Pendapat Abu Bakar Baasyir itu dapat dirujuk pula dalam sejarah Islam, kasus berikut ini:

Ja’d bin Dirham guru Jahm bin Shofwan pemimpin aliran Jahmiyah. Ja’d bin Dirham itu percaya Qur’an, percaya Hadits, hanya saja tidak percaya bahwa Nabi Ibrahim itu khalilullah (kekasih Allah) dan Nabi Musa itu Kalimullah (orang yang pernah diajak bicara Allah).

Padahal Alloh Swt berfirman:

وَاتَّخَذَ اللَّهُ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلًا

Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayanganNya. (QS An-Nisaa’: 125).

وَرُسُلًا قَدْ قَصَصْنَاهُمْ عَلَيْكَ مِنْ قَبْلُ وَرُسُلًا لَمْ نَقْصُصْهُمْ عَلَيْكَ وَكَلَّمَ اللَّهُ مُوسَى تَكْلِيمًا(164)

Dan (kami telah mengutus) rasul-rasul yang sungguh telah Kami kisahkan tentang mereka kepadamu dahulu, dan rasul-rasul yang tidak Kami kisahkan tentang mereka kepadamu. Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung. (QS An-Nisaa’: 164).

 Karena tidak percaya itulah maka kemudian Gubernur  Kholid bin Abdullah Al-Qasri berkhutbah di Wasith (wilayah Iraq) pada Hari Raya Adha, dia (Gubernur) berkata:

ارجعوا فضحوا تقبل الله ضحاياكم فإني مضح بالجعد   بن درهم   فإنه زعم أن الله لم يكلم موسى تكليما ولم يتخذ إبراهيم خليلا تعالى الله عما يقول الجعد علوا كبيرا ثم نزل فذبحه

 “Pulanglah kamu sekalian lalu sembelihlah qurban, semoga Allah menerima qurban-qurban kalian. Maka sesungguhnya aku akan menyembelih Ja’d bin Dirham, karena dia menyangka bahwa Allah tidak berbicara kepada Musa dan tidak menjadikan Ibrahim itu khalil (kekasih). Maha Tinggi Allah dari apa yang dikatakan Ja’d  yang menyombongkan diri dengan kesombongan yang besar.”  Kemudian Gubernur Kholid turun (dari mimbar) dan menyembelih Ja’d bin Dirham.[1] )As-Showa’iqul Mursalah, juz 4, halaman 1396(

 

Itulah Ja’d bin Dirham, yang manafikan (meniadakan ) sifat Alloh. Peniadaan sifat Alloh itu biasanya disebut ta’thil (pembatalan –sifat-sifat Alloh). Ja’d bin Dirham itu adalah guru dari Jahm bin Shofwan pemimpin Jahmiyah. Firqah Jahmiyah yakni para pengikut Jahm bin Shafwan Abi Mahras As-Sa­markandi At-Turmudzi yang dihukum bunuh pada tahun 128 H. Jahm bin Shafwan be­lajar kepada Ja’d bin Dirham. Ja’d belajar kepada Thalut. Thalut belajar kepada Labib bin Al- ‘Asham, seorang Yahudi, maka jadilah mereka semua murid-murid Yahudi. Kare­na itu, perhatikanlah dari siapa seseorang itu mengambil ilmu. Maka perlu diperhatikan nasihat Muhammad Ibnu Sirin:

عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ سِيرِينَ قَالَ إِنَّ هَذَا الْعِلْمَ دِينٌ فَانْظُرُوا عَمَّنْ تَأْخُذُونَ دِينَكُمْ. صحيح مسلم – (ج 1 / ص 11(

Sesungguhnya ilmu ini adalah agama, maka waspadalah dari siapa kalian mengambil agamamu itu. (Shahih Muslim juz 1/ halaman11)

 

Kembali ke kasus Lia Eden, itu adalah kasus yang sudah pernah ditangani dengan ditangkap, diadili, kemudian dihukum penjara. Namun tampaknya mereka tidak kapok, bahkan bertingkah lagi, maka ditangkap lagi, ditahan, dan akan diproses secara hukum.

Lia Eden beserta pengikutnya walaupun hanya sedikit namun tidak kapok-kapoknya itu perlu diteliti, kenapa mereka tidak jera. Di samping itu, Lia Eden dan anggotanya itu tampaknya hanya salah satu produk, sehingga perlu ditelusuri produsernya. Pabriknya itulah yang mesti dilacak pula. Kalau dilihat dari nabi palsunya atau imam besarnya, yakni Abdul Rahman, yang di komunitas Lia Eden sebagai imam besar dan bahkan dianggap sebagai reinkarnasi Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa salam; dia itu adalah alumni IAIN (kini UIN) Jakarta. Sementara itu, pembela utamanya di antaranya adalah orang-orang IAIN/ UIN Jakarta juga, seperti di awal tulisan ini, Rumadi dan Moqsith. Bahkan Lia Eden sendiri hubungannya dekat juga dengan rector UIN, Komaruddin Hidayat, sampai ada wahyu khusus untuk Komaruddin Hidayat segala, wahyu tentang ajakan makan siang. (lihat buku Hartono Ahmad Jaiz, Nabi-nabi Palsu dan Para Penyesat Umat, Pustaka Al-Kautsar, Jakarta, 2008).

 

Kalau Lia Eden dan anggota-anggotanya itu ibarat asap, maka apinya sudah jelas, ya yang memproduk, membela, dan erat hubungannya itu. Maka aparat perlu meningkatkan kerjanya yang telah berhasil menggelandang Lia Eden dan anggotanya itu, ke tingkat yang lebih strategis lagi yaitu membidik pabriknya. Orang-orangnya ya sudah ketahuan kok. Tidak usah sungkan-sungkan. Masyarakat ini juga sudah resah dengan mereka. Tinggal selangkah lagi, insya Allah …. Semoga!   (haji/ tede).

 



 

[1] As-Showa’iqul Mursalah, juz 4, halaman 1396

  الصواعق المرسلة ج: 4 ص: 1396

 وذكر عن خالد بن عبدالله القسري أنه خطبهم بواسط في يوم أضحى وقال ارجعوا فضحوا تقبل الله ضحاياكم فإني مضح بالجعد   بن درهم   فإنه زعم أن الله لم يكلم موسى تكليما ولم يتخذ إبراهيم خليلا تعالى الله عما يقول الجعد علوا كبيرا ثم نزل فذبحه