Logo Baru UIN

Tanpa Tulisan Arab Al-Qur’anul Kariem

 

SEBUAH logo tidak sekedar menampilkan keindahan seni grafis, tetapi justru untuk memancarkan makna filosofis di baliknya. Perubahan logo UIN (Universitas Islam Negeri, dahulu IAIN- Institut Agama Islam Negeri) Jakarta nampaknya mempertegas kecurigaan Ummat  Islam selama ini, bahwa di sana ada kencenderungan membawa mahasiswanya ke arah yang justru bertolak-belakang dengan ajaran Islam.

Selama ini, Ummat Islam mencurigai di UIN atau IAIN selain ada pemurtadan, juga menjadi pabrik sepilis (sekularisme, pluralisme agama, dan liberalisme) yang telah diharamkan oleh MUI (Majelis Ulama Indonesia) secara nasional dalam Munas (Musyawarah Nasional) Ulama, Juli 2005. Dan ada gejala, sepilis merupakan cara yang ditempuh petinggi UIN untuk menyelundupkan ajaran komunisme dan atheisme di UIN. (lihat artikel berjudul Gejala Bahaya Laten Neo Komunisme di UIN, November 2, 2008 9:44 pm; juga artikel berjudul Membenci Islam, Menjajakan Sekulerisme Bermuara Komunisme dan Atheisme, November 7, 2008 4:50 am).

Menurut penjelasan Prof Dr Komaruddin Hidayat, Rektor UIN Jakarta, logo baru UIN Jakarta terdiri dari empat elemen, yakni bola dunia, partikel atom, kitab suci, dan tulisan “UIN”. Gambar bola dunia yang berwarna biru, mewakili makna filosofis UIN Jakarta yang ber-wawasan universal dan juga misi Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin.

Sedangkan partikel atom berwarna emas, menggambarkan keilmuan dan dinamika serta keajegan hukum alam (sunnatullah) yang diperintahkan Allah untuk selalu dibaca dan diteliti demi kesejahteraan ummat manusia. Partikel itu juga dapat dilihat sebagai bunga lotus atau sidrah (sidrah al-muntaha), yakni lambang cita-cita setiap mukmin untuk menggapai pengetahuan kebenaran tertinggi (ma’rifah al-haq).

Untuk gambar kitab suci dipilih warna putih dengan garis tepi berwarna kehijauan, melambangkan sumber inspirasi dan kaidah hukum serta moral bagi pengembangan UIN Jakarta. Sementara tulisan “UIN” berwarna biru melambangkan kedalaman ilmu, kedamaian, dan kepulauan nusantara yang berada di antara dua lautan besar, yakni sebuah wilayah yang mempertemukan berbagai peradaban dunia. Selain itu, menurut Komar, terdapat juga garis putih horizontal yang membelah tulisan “UIN”. Garis ini merupakah pengikat UIN Jakarta sebagai universitas yang kuat (sirah al-mustaqim).

Namun, bagi sebagian mahasiswa UIN, logo baru tadi justru dianggap kian jauh dari nilai dan identitas UIN sebagai kampus Islam. Apalagi, partikel atom yang berwarna emas jelas-jelas merupakan lambang Yahudi. Mahasiswa UIN ini juga menilai, jelas sekali bahwa sambungan partikel atom itu membentuk sebuah lambang bintang david, apalagi dilatari oleh gambar bulat berwarna biru, dimana bintang david mempunyai warna dasar biru.

Begitu juga dengan gambar buku berwarna putih dengan garis hijau yang diklaim sebagai filosofi kitab suci (Al-Qur’an?), menurut sang mahasiswa, sangat jauh sekali dari makna dimaksud. “Bahkan bisa saja saya atau orang lain mengatakan itu adalah buku biasa, koran, Kitab Taurat, Injil, atau kitab Yahudi (Talmud).” Begitu pendapat sang mahasiswa yang kecewa dengan logo baru kampusnya itu.

 

UIN sering melahirkan aneka kejanggalan

Dari Universitas Islam Negeri (UIN) sering lahir beraneka kejanggalan. Perubahan logo yang menghapuskan tulisan Arab “Al-Quran al-Kariem” kemudian diganti dengan tulisan “UIN” merupakan salah satu contoh kejanggalan itu. Sekaligus, mempertegas dugaan adanya orientasi petinggi UIN yang justru akan membawa mahasiswanya meninggalkan Al-Qur’an menuju sekularisme, pluralisme agama, dan liberalsime, hingga mencapai ke atheisme (komunisme).

Novi, salah seorang mahasiswi S-1 UIN Jakarta, pernah curhat (mencurahkan isi hati) kepada seniornya, tentang situasi di kampusnya yang gedungnya megah dan tak kalah dari gedung kampus Al-Azhar di Mesir itu. Menurut mahasiswi ini, kawasan kampus UIN telah menjadi zona yang paling memungkinkan (kondusif?) bagi sebagian mahasiswa dan mahasiswi untuk mendekati perzinaan (berkhalwat). Lihat http://www.e-samarinda.com/forum/Horor-Di-Uin-Jakarta-t4668.html

Beberapa titik yang potensial menjadi zona mendekati zina, antara lain di lantai ketujuh gedung UIN. Biasanya, selepas maghrib atau menjelang waktu malam, di zona ini akan ditemukan banyak pasangan berbeda kelamin yang berkhalwat dalam gelap. Bahkan di tempat terang, seperti perpustakaan yang seharusnya menjadi tempat yang nyaman untuk membaca dan belajar, oleh sebagian mahasiswa-mahasiswi dijadikan tempat yang nyaman pula untuk mendekati zina: mengekspresikan kasih sayang mereka dengan cara yang bathil.

Pada Maret 2008 lalu, pernah muncul kehebohan tentang adanya video mesum yang salah satu pelakunya (diduga) mahasiswi Fakultas Ekonomi UIN Jakarta. Bagi sebagian besar orang, video mesum itu dianggap sebagai fitnah terhadap UIN Jakarta. Namun bila kita simak penjelasan Novi tadi, jangan-jangan keberadaan video mesum tadi benar adanya. Lihat http://hidayatullah.co.id/index.php?option=com_content&task=view&id=6560&Itemid =65

Di belakang bangunan kampus UIN banyak bertebaran rumah pondokan yang dimanfaatkan (dihuni) oleh mahasiswa-mahasiswi UIN Jakarta. Menurut Novi dan teman-temannya, dari tempat itu pernah digelar pesta shabu-shabu dalam rangka merayakan Valentine’s Day. Ujungnya, terjadi perkosaan yang dilakukan oleh mahasiswa UIN terhadap mahasiswi UIN. Bahkan, dari tempat tersebut kerap terjadi kasus-kasus pidana.

“… di UIN itu, mau ngadain apa aja bebas, pokoknya bebas, nggak ada yang ngelarang…” Demikian gambaran Novi. Saking bebasnya, setiap malam panjang (malam Sabtu atau malam Ahad atau malam libur lainnya) selalu ada permainan musik yang berlangsung hingga larut malam. Permainan musik di kampus Islam, apalagi dilaksanakan secara berkelanjutan setiap malam libur panjang dan hingga larut malam, jelas-jelas merupakan upaya melecehkan Islam.

Faktanya, UIN telah menjadi kampus Islam yang sangat tidak menghormati ajaran Islam. Contoh lainnya, mengabaikan waktu shalat. Misalnya, ketika adzan magrib berkumandang dan waktu shalat dimulai, mahasiswa yang sedang bermain Futsal, Volley Ball dan olah raga lainnya, tidak segera menghentikan kegiatannya untuk bergegas menjalankan shalat maghrib. Mereka tetap meneruskan kegiatannya, meski sarana olahraga tadi terletak persis di depan pintu masuk masjid kampus.

Selain adanya kecenderungan tidak menghormati ajaran Islam, di kampus Islam ini geliat dakwah kampus sangat dipersulit dan diwarnai intimidasi, baik oleh para dosen maupun mahasiswa berhaluan kiri. Di antara alasannya, UIN bukan lembaga dakwah tetapi akademis. Sampai-sampai, mahasiswa diuji dalam munaqasyah (ujian secara berhadapan langsung) untuk mempertahankan karya tulisnya, ada dosen yang bertanya, Anda menulis ini dari Al-Qur’an, di sini ada motivasi dakwahnya? Kalau dijawab ya, maka akan dikilahi oleh sang dosen, bahwa di sini bukan lembaga dakwah, tetapi akademis. Weleh weleh

Di UIN meski berlabel Islam, kenyataannya mahasiswa-mahasiswi yang menempuh pendidikan di tempat ini berasal dari berbagai haluan. Demikian pula para dosennya. Ada pengikut NII, aliran sesat Syi’ah, bahkan Fakultas Dakwah IAIN (dahulu sebelum jadi UIN) yang dipimpin Dr Yunan Yusuf pernah bekerjasama dengan aliran sesat LDII alias Islam Jama’ah yang telah difatwakan sesat oleh MUI (Majelis Ulama Indonesia) dan dilarang oleh Kejaksaan Agung 1971. Kerjasama resmi dengan aliran sesat itu tentu saja membuat gerah bagi dosen yang masih ada ghirah Islamiyahnya dan faham akan sesatnya LDII alias Islam Jamaah. Selain itu, ada yang berpaham atheis, ada yang meyakini shalat bukan kewajiban bagi Ummat Islam. Ada dosen yang “tukang” menikahkan wanita Muslimah dengan lelaki kafir. Ada juga produk IAIN Jakarta yang jadi nabi palsu, yakni Abdurrahman di komunitas aliran sesat Lia Eden. Ada produk IAIN yang menghalalkan homoseks berdalih ayat Qur’an, yakni Dr Musdah Mulia. Bahkan, ada kelompok mahasiswa yang melakukan unjuk rasa dengan tema Menentang Penggunaan Jilbab di Kampus UIN.

            Ada juga yang suka mengumpat dan mencaci orang Muslim bahkan di tempat umum, bahkan di dalam masjid, padahal mahasiswi UIN. Perkara mencaci ini kan memang ada contohnya dari dosen IAIN/ UIN. (baca artikel Intelektual Tapi Dusta dan Mencaci Oleh Hartono Ahmad Jaiz, 10:25 pm) . Berikut ini tulisan mahasiswi yang mencurahkan keadaan yang dia lakoni ketika menyaksikan bedah buku Ada Pemurtadan di IAIN yang berlangsung di UIN Jakarta, Sabtu 16 April 2005 bertepatan dengan tanggal 7 Rabi’ul Awwal 1426 Hijriah. Dari pihak liberal tampil Ulil Abshar Abdalla kordinator JIL (Jaringan Islam Liberal) dan Abdul Muqsith Ghazali MA dari UIN Jakarta. Sedang yang anti liberal adalah penulis buku itu, Hartono Ahmad Jaiz, dan seorang da’i dari Purwakarta Jawa Barat, Muhammad At-Tamimi. Bedah buku itu berlangsung seru di Masjid UIN Jakarta, dihadiri banyak pengunjung dan mahasiswa-mahasiswi UIN Jakarta. Ternyata di tengah-tengah berlangsungnya bedah buku yang cukup seru itu ada cacian-cacian dan sumpah serapah yang ditumpahkan dari mulut mahasiswi UIN Jakarta sebagaimana dia sendiri menuliskannya di satu milis dengan curhat kepada temannya sebagai berikut:

 

novi kamalia

Mon, 31 Oct 2005 06:28:48 -0800

mam, emang hartono tuh “hebat” banget. gara gara dia

tuh, sekarang di UIN khususnya fakultas usuluddin

sedikit yang daftar, jumlah keseluruhannya tidak

sampai 200-an orang, apalagi jurusan aqidah-filsafat

hanya 20 orang, bayangkan ????? dasar !!!!

 

padahal waktu kemarin mau “dihakimi” karyanya oleh

kawan-kawan ushuluddin, malah bawa sporter. awalnya

mas ulil gak mau hadir, cuma dipaksa hadir oleh mas

muqsith , habis sih, bawa sporter banyak banget, emang

lapangan sepak bola? bayangkan sporternya sampe’

bermobil-mobil plus ngundang ibu-ibu majlis ta’lim,

aduhhh jadi bukan bedah buku jadinya, kayak mau demo

gitu, sambil memekikan kalimat “Allahu akbar” setiap

mas uli atau mas muqsith ngomong…..kita aja yang

dari ushuluddin udah ngeluarin sumpah serapah dengan

kalimat “anjrit”, habis gak fer sih, ngomongnya banyak

mengadung hujatan dan ejekan gitu sama mas ulil dan

mas muqsith, apalagi kita gak boleh nanya…dan

gara-gara kalimat “anjrit” itu, aku diusir dari masjid

sama ibu-ibu majlis ta’lim, terpaksa aku pindah ke

bawah yang akhirnya ketemu sama muslim dan adam….. (Re: [IKBAL Al-Amien] Re: ::: numesir ::: Kader JIL Mesir – Counter Liberalisme_VCD Diskusi Publik).

 

Itulah keadaannya. Mahasiswi UIN, menganjing-anjingkan orang Muslim, di masjid lagi, dan hanya karena membela Ulil dan Muqsith yang saat itu diantaranya membela orang yang melecehkan Islam, yaitu mengajak dzikir dengan lafal bukan Allahu Akbar tetapi anjing hu akbar, yang peristiwa itu terjadi di UIN Bandung.

Dari sini tampak jelas, yang dibela oleh mahasiswa/i UIN itu justru para pembela kebatilan yang melecehkan Islam. Sedang cara membelanya adalah dengan memuntahkan sumpah serapah dan cacian. Maka pantaslah ibu-ibu yang mendengarnya lalu mengusirnya dari lantai atas di Masjid UIN, hingga mahasiswi yang mulutnya trocoh itu pindah ke bawah.

         Redaksi nahimunkar.com menelusuri kejadian itu, ternyata yang tidak tahan dengan sumpah serapah dan cacian mahasiswi UIN di lantai atas di Masjid UIN Jakarta itu adalah ibu-ibu dari Mekar Sari Jakarta Timur. “Saya sangat benci terhadap kelakuan mereka. Masa’ di dalam masjid mereka berteriak-teriak ‘anjiing!’. Kenapa mahasiswi UIN seperti itu ya? Kalau itu anak-anak saya, maka sudah saya pites!” ucap ibu-ibu itu kepada nahimunkar.com.

Dalam hadits diingatkan dengan keras:

 عَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : { سِبَابُ الْمُسْلِمِ فُسُوقٌ ، وَقِتَالُهُ كُفْرٌ } مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ .

 Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Mencaci dan memaki orang-orang Islam adalah fasik (keluar dari ketaatan kepada Allah) dan memerangi mereka adalah kafir . (Hadits Muttafaq ‘alaih).

Lebih jauh, ada juga sejumlah mahasiswa UIN yang cenderung kepada kemusyrikan. Untuk merebut kursi Presiden BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa), konstituen salah satu kandidat tidak sungkan-sungkan menempuh cara-cara mistis. Sehingga, pada saat pencoblosan, di bilik suara banyak ditemukan paku payung berserakan, dan di dalam kotak-kotak suara terdapat jarum-jarum dan beras kuning.

Di UIN Alauddin Makassar, bahkan ada yang membela aliran dan paham sesat Ahmadiyah. Sebagaimana diberitakan Liputan6 SCTV edisi 23 April 2008: “Sejumlah mahasiswa Universitas Islam Negeri Makassar Sulawesi Selatan mengecam fatwa Majelis Ulama Indonesia tentang Ahmadiyah. Para mahasiswa juga menolak rekomendasi oleh Badan Koordinasi Pengawas Aliran Kepercayaan Masyarakat (Bakor Pakem) Kejaksaan Agung untuk membubarkan aliran Ahmadiyah. Demonstran meminta supaya intimidasi serta kekerasan terhadap kelompok Ahmadiyah segera dihentikan. Tindakan kekerasan terhadap kebebasan beragama adalah sebuah pelanggaran.”

Sebelumnya, di tempat yang sama pernah terjadi tindak pidana: Farid Abu Huraerah (21 tahun, mahasiswa semester empat Fakultas Syariah jurusan Ilmu Hukum), tewas akibat dipanah seniornya. Dada kanan Farid tertancap anak panah yang dilepas seniornya (Sym) yang juga mahasiswa Fakultas Syariah jurusan Hukum Pidana dan Tata Kenegaraan. Peristiwa itu terjadi seusai mengikuti perkuliahan di depan ruangan Auditorium Kampus UIN.

Begitulah gambaran UIN kini. Perubahan logo UIN yang baru –yang membuang tulisan Arab berbunyi Al-Qur’anul Kariem–  membawa pesan yang jelas, dan pantas diduga bahwa para pengelolanya hendak membawa mahasiswa UIN meninggalkan Al-Qur’an, menuju sekularisme, dan bermuara ke atheisme dan komunisme. (haji/tede)