Peneliti LSI Denny JA Dewi Arum (kiri) dan Adrian Sopa (kanan) memberikan pemaparan hasil survey di Rawamangun, Jakarta, Rabu (18/5/2016). Sebanyak 64,5 % responden menyatakan Golkar perlu branding baru dengan program dan tokoh nasional yang menjanjikan. Sebanyak 1200 responden dipilih dalam survei ini dengan metode multi stage random sampling. Dalam survei ini juga dihasilkan apabila dilakukan pemilu tahun ini PDI P meraih peringkat pertama dengan suara 21,5 %.


Jakarta, Aktual.com – Lingkaran Survei Indoensia (LSI) Denny Januar Ali (JA) telah merampungkan penelitiannya tentang Pilkada DKI Jakarta. Hasilnya, sentimen masyarakat yang menginginkan gubernur baru memimpin Ibu Kota semakin meningkat.

Survei terbaru LSI Denny JA ini digelar pada 3-8 Desember 2016 di Jakarta. Survei dilakukan secara tatap muka terhadap 440 responden, yang dipilih dengan menggunakan metode ‘multistage random sampling’. Dimana, Margin of Error survei ini kurang lebih 4,8 persen.

“Saat ini, masyarakat yang menginginkan DKI memiliki gubernur baru sebesar 60,3 persen. Semantara itu, masyarakat yang ingin Jakarta dipimpinan kembali oleh gubernur lama sebesar 22,1 persen, sisanya sebesar 17,6 persen tidak bersuara,” demikian tertuang dalam rilis hasil survei LSI Denny JA, Sabtu (17/12).

Dalam rilisnya, LSI Denny JA juga memaparkan bahwa, mereka yang inginkan gubernur baru meningkat jika dibandingkan survei pada periode sebelumnya. Pada November 2016, mereka yang inginkan gubernur baru sebesar 52,6 persen. Oktober 2016, mereka yang ingin DKI punya gubernur baru sebesar 48,6 persen.

“Pada Juli dan Maret yang inginkan gubernur baru masih minoritas. Yaitu sebesar 31,5 persen pada Juli 2016 dan 24,7 persen pada Maret 2016. Jika dibandingkan dari Maret 2016 hingga Desember 2016, maka mereka yang inginkan gubernur baru naik sebesar 35,6 persen.”

Ada 3 alasan mengapa masyarakat Jakarta menginginkan gubernur baru. Pertama, rapor merah atas empat aspek, meliputi politik, ekonomi, keamanan dan penegakan hukum. Ironinya, kondisi kehidupan persepsi publik terhadap empat aspek kehidupan ini cenderung negatif.

“Aspek politik dinilai sangat baik atau baik hanya sebesar 45,3 persen, aspek ekonomi 45,7 persen, aspek keamanan 46,4 persen, dan aspek penegakan hukum 45 persen.”

Alasan kedua yakni mayoritas publik tak nyaman dengan pro kontra kasus Ahok. Sebesar 68,5 persen publik menyatakan bahwa kehidupan mereka terganggu atau tak nyaman dengan berbagai pro kontra yang diwujudkan dalam bentuk aksi mendukung atau menolak.

“Mereka ingin perubahan, termasuk
perubahan personil gubernurnya.”

Ketiga, mayoritas publik sebesar 65 persen tak bersedia dipimpin oleh gubernur dengan status tersangka. Ahok saat ini telah ditetapkan sebagai tersangka. Terlebih, Ahok sekarang telah berstatus sebagai terdakwa kasus dugaan penistaan agama.

“Namun sudah menjadi memori publik bahwa Ahok saat ini bersalah atas dugaan
penistaan agama. Status Ahok sebagai tersangka menjadi hambatan psikologis publik untuk memilihnya kembali.”

Hasil survei LSI juga merujuk pada besaran persentase yang memang menginginkan Ahok tak lagi memimpin Ibu Kota. Persentasenya, 60,3 persen mayoritas memang tidak mendukung kembali Ahok sebagai gubernur.

“Rinciannya, dari 60,3 persen yang ingin gubernur baru, sebesar 47,6 persen mendukung Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni, dan 34,8 persen mendukung Anies Rasyid Baswedan-Sandi Salahuddin Uno.”

Survei ini dibiayai dengan dana sendiri, dan dilengkapi pula dengan kualitatif riset baik itu Focus Group Discussion, media analisis maupun wawancara mendalam.[M Zhacky Kusumo]

By: Andy Abdul Hamid/aktual.com/Desember 17, 2016

(nahimunkar.com)