Macam-macam Bunuh Diri dan Penyebabnya

Kasus Bank Century tidak hanya menghasilkan stress berat bagi nasabah yang dananya tidak bisa cair, tetapi lebih jauh dari itu menghasilkan kasus bunuh diri. Salah satu korbannya adalah Prof. Dibyo Prabowo, Guru Besar Ekonomi Universitas Gadjah Mada Jogjakarta yang juga senior Boediono (mantan Gubernur BI yang kemudian menjadi Wakil Presiden mendampingi SBY).

Dibyo Prabowo mengakhiri hidupnya karena kehilangan Rp 18 miliar di Bank Century. Kasus ini diungkapkan oleh Siput salah satu nasabah Bank Century dalam Rapat Dengar Pendapat di Komisi III DPR yang berlangsung pada hari Selasa tanggal 24 November 2009.

Menurut Siput, sebelum meninggal Profesor Dibyo Prabowo menjabat sebagai Rektor Universitas Atmajaya Yogyakarta. Beliau meninggal di bulan Ramadhan 1430H/ 2009 lalu. Bahkan, Boediono ikut menghadiri persemayaman terakhir Dibyo di rumahnya yang terletak di Sawitsari, Sleman, berdekatan dengan rumah Boediono. Profesor Dibyo bukan satu-satunya korban Century yang berakhir dengan bunuh diri. Masih terdapat tiga korban lainnya, salah satunya adalah Sayuti, pejabat Bank Century yang berdomisili di Jambi.

Ketidak mampuan mengatasi masalah keluarga juga dapat menjadi faktor pendorong tindakan bunuh diri. Sebagaimana terjadi pada diri Winarto (47 tahun), anggota TNI AD yang bertugas di Koramil Kedungwaru, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur. Winarto yang berpangkat Pembantu Letnan Dua (Pelda) ini pada hari Selasa tanggal 1 Desember 2009, melakukan upaya bunuh diri dengan cara melindaskan tubuhnya di kolong bus, sehingga tubuh dan anggota badan lainnya terlindas busdi pintu terminal Tulungagung.

***

Beberapa waktu belakangan ini, peristiwa bunuh diri meramaikan pemberitaan berbagai media massa. Bahkan, di Jakarta, pada akhir November hingga awal Desember 2009 pernah terjadi tiga kasus bunuh diri dalam sepekan. Sebagaimana terjadi pada Ice Juniar, Reno Fadillah Hakim, dan Richard Kurniawan.

Kasus bunuh diri Ice Juniar (24 tahun) terjadi pada Senin sore pukul 16:10 wib, tanggal 30 November 2009 di West Mall Grand Indonesia, Jakarta Pusat. Menurut Teges P. Soraya (Senior Marketing Communications Manager Grand Indonesia Shopping Town), saat itu warga Palembang ini bersama keluarganya tengah berjalan-jalan dengan orang tua dan tantenya di mall tersebut. Saat kejadian, Ice terpisah dari keluarga sejauh 1 meter. Ia menjatuhkan diri dari pembatas lantai 5 mall mewah tersebut.

Sekitar empat jam kemudian, terjadi kasus bunuh diri yang dilakukan oleh Reno Fadillah Hakim (25 tahun). Peristiwa itu berlangsung pada Senin malam pukul 20:20 WIB, tanggal 30 November 2009 di Senayan City, Jakarta Pusat. Reno warga Patal Senayan, Jakarta Pusat ini loncat dari lantai 5 mall Senayan City dan jatuh tepat di atas karpet hitam yang ada di lantai satu. Tidak langsung meningggal. Reno mengehembuskan napas terakhir di rumahsakit (RS Pelni).

Empat hari kemudian, terjadi kasus bunuh diri yang dilakukan Richard Kurniawan (37 tahun). Kasus ini terjadi pada hari Jum’at dinihari sekitar pukul 03:30 wib, tanggal 4 Desember 2009, di Manggadua Square, Jakarta Pusat. Richard tercatat sebagai warga Kerang Lima, Jakarta Pusat, dan pengunjung karaoke di pusat perbelanjaan tersebut.

Dalam pandangan Islam, bunuh diri merupakan perbuatan yang dilarang agama, tergolong dosa besar, dan termasuk perbuatan keji.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan harta di antara kamu dengan cara yang bathil, kecuali perniagaan yang terjadi dengan suka sama suka di antara kamu, dan janganlah kamu membunuh dirimu sendiri, sesungguhnya Allah Maha Penyayang kepadamu.” (Al-Qur’an Surat An-Nisaa’ [4] ayat 29).

Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah saw bersabda: “Siapa yang bunuh diri dengan senjata tajam, maka senjata itu akan ditusuk-tusukannya sendiri dengan tangannya ke perutnya di neraka untuk selama-lamanya; dan siapa yang bunuh diri dengan racun, maka dia akan meminumnya pula sedikit demi sedikit nanti di neraka, untuk selama-lamanya; dan siapa yang bunuh diri dengan menjatuhkan diri dari gunung, maka dia akan menjatuhkan dirinya pula nanti (berulang-ulang) ke neraka, untuk selama-lamanya.” (Shahih Muslim)

Dalam perspektif sosiologi, bunuh diri (suicide) yang terjadi di masyarakat dikategorikan ke dalam tiga hal. Pertama, egoistic suicide yaitu bunuh diri karena urusan pribadi. Kedua, altruistic suicide yaitu bunuh diri untuk memperjuangkan orang lain. Ketiga, anomic suicide yaitu bunuh diri karena masyarakat dalam kondisi kebingungan. Pada berbagai kasus bunuh diri yang terjadi pada masyarakat Indonesia, hampir seluruhnya tergolong egostic suicide, dengan berbagai latar belakang seperti tekanan ekonomi atau kemiskinan, putus asa, depresi, gangguan jiwa, dan sebagainya. Bahkan, bunuh diri dapat dilakukan seseorang dengan latar belakang yang ada kaitannya dengan keinginan munggah haji (naik haji).

Bunuh Diri dan Munggah Haji

Tindakan bunuh diri yang berkaitan dengan keinginan munggah haji terjadi pada Srining (46 tahun), warga Dusun Recoputhul, Desa Gayam, Kecamatan Gurah, Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Menurut keterangan yang diperoleh polisi, Srining melakukan bunuh diri (10 Juni 2009) karena depresi, sebagai akibat dari sikap keluarganya yang tidak segera mengizinkan Srining munggah haji. Bahkan, seminggu sebelum peristiwa tragis itu terjadi, Srining pernah mencoba terjun dari tebing sungai setinggi tiga meter. Upaya bunuh diri kala itu sempat digagalkan warga.

Namun, tekad Srining untuk bunuh diri sudah bulat, ‘hanya’ karena keinginannya munggah haji tertunda-tunda padahal sudah setor ONH sebesar Rp 24 juta. Sekitar jam 05:30 WIB pagi, tubuh Srining ditemukan mbah Sugianto (70 tahun), tetangganya. Sugianto menemukan tubuh Srining tewas bergelantung di atas pohon sawo di pekarangan belakang rumahnya sendiri. Maka, Sugianto pun memberitahu temuannya itu kepada Salbi (50 tahun), suami Srining.

Menurut Syaiful Bahri (Kepala Dusun Recoputhul), kenekatan Srining bunuh diri dipicu oleh sikap suaminya (Salbi) yang tidak mendukung keinginan Srining untuk munggah haji, meski keinginan itu sudah disampaikan sejak setahun lalu. Pihak keluarga Srining, dalam rangka meringankan tekanan batin Srining akhirnya mendaftarkan Srining untuk menjadi calon jamaah haji, namun untuk dua atau tiga tahun berikutnya karena kuota tahun ini dan dua tahun berikutnya sudah terpenuhi.

Karena tidak sabar menunggu waktu yang terlalu lama untuk naik haji, Srining pun memilih mengakhiri hidupnya dengan gantung diri.

Peristiwa Srining yang ingin munggah haji tapi bunuh diri karena depresi dan tidak sabar menuggu giliran, merupakan fenomena yang menarik untuk ditelaah. Bagaimana mungkin hal positif (keinginan munggah haji) datang bersamaan dengan keinginan bunuh diri.

Ada lagi fenonema yang lebih unik, bunuh diri dilakukan oleh jemaah haji di Tanah Suci. Sebagaimana terjadi pada seorang jamaah haji dari kloter 33 Solo (SOC) berusia 71 tahun, di tahun 2005. Jenazah korban ditemukan di SOC 28. Menurut pengamatan Kepolisian Arab Saudi dan Tim Sansur, korban melompat dari jendela setelah sebelumnya menjadikan tong sampah sebagai pijakan. Di kamar tersebut juga ditemukan barang-barang milik korban.

Menurut keterangan jamaah haji SOC 28, korban sekitar pukul 01.00 waktu Arab Saudi ditemukan di jalanan, karena tersesat. Selanjutnya oleh penghuni SOC 28, korban diajak menginap di pemondokan tersebut. Menjelang subuh, penghuni mengajak S untuk pergi ke masjid. Akan tetapi, korban tidak menjawab apa-apa, hanya terdiam. Tanpa berkata-kata apa-apa, saat itu korban langsung menuju kamar mandi. Sementara jamaah haji SOC 28 segera pergi ke masjid untuk shalat subuh dan meninggalkan korban sendirian di pemondokan. Setelah jamaah haji SOC 28 pulang dari Masjid Nabawi seusai salat subuh, korban ditemukan telah meninggal di halaman pemondokan. Jamaah kemudian melaporkan kejadian ini kepada petugas.

Dua tahun kemudian, tepatnya tanggal 12 Januari 2007, seorang jamaah haji asal Tangerang bernama Nata Rahmadi bin Miska (56 tahun) meninggal di Aziziah, Jamarat, Mina, dengan cara menggantung diri. Nata yang tergabung dalam kloter JKG 29 ditemukan tergantung pada sebuah pohon di Aziziah oleh kepolisian setempat.

Sekitar tiga minggu sebelum kejadian, dokter kloter Ethika Radiantina pernah dipanggil teman sekamar Nata seraya melaporkan keadaan Nata yang terlihat murung, mengomel, dan mengancam akan bunuh diri. Maka Nata pun ditangani oleh Balai Pengobatan Haji Indonesia (BPHI) Mekah. Setelah ditangani, Nata pun diperbolehkan pulang namun tetap di bawah pengawasan ketat dokter kloter dan ketua rombongan.

Himpitan Ekonomi

Bunuh diri juga dapat terjadi akibat himpitan ekonomi. Misalnya, sebagaimana terjadi pada Lian Tjian (39 tahun) warga Jalan Jelambar Barat 2 A RT 2 RW 12, Tambora, Jakarta Barat. Ia ditemukan tewas tergantung di dalam rumahnya, pada hari Jumat tanggal 15 Agustus 2008). Diduga, Lian Tjian nekat mengakhiri hidupnya dengan menggunakan tali plastik karena faktor himpitan ekonomi, usahanya bangkrut. Menurut Wati (29 tahun), isteri Lian Tjian, saat ditemukan, korban dalam kondisi hidup. Namun, akhirnya meninggal dunia dalam perjalanan menuju RS Sumber Waras, Jakarta Barat.

Di Slawi, gara-gara terlilit hutang, Kasidah (55 tahun) nekat bunuh diri dengan cara gantung diri, melilitkan kain ke kusen pintu kamar rumah anaknya untuk menjerat lehernya sendiri. Peristiwa itu terjadi pada hari Rabu pagi, tangal 21 Oktober 2009. Sebelumnya, Kasidah pernah melakukan percobaan bunuh diri sebanyak empat kali, korban mencoba bunuh diri, namun tidak berhasil karena aksi nekatnya itu selalu diketahui anggota keluarga. Kali ini ia berhasil melakukan hal yang sama saat kondisi rumah anaknya sepi. Menurut dugaan aparat keamanan, Kasidah nekat bunuh diri akibat persoalan hutang-piutang. Menurut catatan, Kasidah pernah melakukan pinjaman kepada lembaga keuangan untuk keperluan nikah salah seorang anaknya. Ia merasa tertekan karena tidak mampu memenuhi kewajiban membayar utang. Suaminya, Wadi (60 tahun) berprofesi sebagai tukang becak.

Di Kediri, kasus bunuh diri dilakukan oleh Sutar yang saat itu berusia 61 Tahun. Ia mengakhiri hidupnya dengan cara gantung diri di ruang tamu dengan leher terikat tali plastik berwarna biru. Peristiwa ini terjadi pada tanggal 29 September 2008. Sutar warga Kelurahan Tinalan, Kecamatan Pesantren, Kediri ini diduga stres karena tidak bisa merayakan Lebaran seperti umumnya keluarga lain. Selain itu, kenekatannya gantung diri diduga terkait dengan penyakit kencing manis yang dideritanya selama 6 tahun belakangan.

Tindakan bunuh diri juga bisa terjadi ‘hanya’ karena sebab sepele, seperti tidak dipedulikan pacar, sebagaimana terjadi pada Jhon France Saragih (23 tahun) yang tewas gantung diri di sebuah rumah sekaligus sebagai kantor Koperasi Setia, Jalan Pasar IX Tembung, Medan. Jhon merupakan warga Negeri Dolok, Medan, yang nekat bunuh diri setelah bertengkar dengan pacarnya. Jasad Jhon pertama kali ditemukan oleh Ros Sidabutar, juru masak untuk para pegawai kantor koperasi tersebut pada hari Rabu tanggal 21 Oktober 2009, pukul 05.00 WIB.

Dua hari kemudian, di Semarang, seorang pria paruh baya bernama Oeij Kong Siek alias Rizki (50 tahun) ditemukan tewas gantung diri di rumahnya, jalan Gajah Birowo nomor 34, Perumahan Tlogosari, Pedurungan, pada hari Jumat pagi tanggal 23 Oktober 2009. Rizki gantung diri dengan seutas tali, posisi kedua kaki melipat di atas sebuah meja. Selama ini ia dikenal sebagai sosok pendiam yang tidak pernah punya masalah keluarga atau mengidap suatu penyakit. Istri, anak, dan kerabat korban mengaku tidak tahu menahu penyebab kematian Rizki.

Dua pekan kemudian, di Surabaya terjadi kasus pembunuhan dan percobaan bunuh diri yang tergolong sadis. Seorang ibu bernama Anita melemparkan anaknya sendiri dari lantai 4 Darmo Trade Center (DTC) di kawasan Wonokromo Surabaya. Peristiwa tersebut terjadi pada hari Rabu tanggal 4 November 2009.

Setelah melempar anak kandungnya dari lantai 4, Anita yang merupakan warga Jalan Pumpungan III Surabaya ini melakukan percobaan bunuh diri dengan cara terjun bebas dari lantai yang sama, namun tidak tewas. Sedangkan sang anak bernama Andika (3 tahun) tewas di tempat.

Putus Asa

Berputus asa dari rahmat Allah bukanlah sikap yang Islami. Namun demikian tidak semua orang bisa terus bersikap positif meski didera penyakit menahun. Sebagian orang tak kuat menanggung derita, putus asa, lalu bunuh diri. Misalnya, sebagaimana terjadi pada Semi Hartono. Nenek berusia 60 tahun warga Dusun Klisat, Desa Caturharjo, Kecamatan Pandak, Bantul, DIY ini, pada hari Kamis tanggal 5 November 2009, nekat bunuh diri dengan menceburkan diri ke dalam sumur akibat sakitnya yang tak kunjung sembuh.

Di Medan, seorang santri berusia 15 tahun nekat gantung diri di toilet asrama Pesantren Al-Manar, Jalan Karya Bhakti Medan Johor. Peristiwa nahas itu terjadi pada hari Jumat tanggal 13 November 2009 siang. Siswa Tsanawiyah (setara SMP) ini nekat bunuh diri karena dikeluarkan dari asrama sebagai akibat dari perbuatannya yang melanggar disiplin seperti merokok, ngelem (menghirup lem) dan keluar asrama tanpa izin.

Di Bandung, kasus bunuh diri yang dilakukan pelajar SMP terjadi tiga hari berselang setelah kasus serupa yang terjadi di Medan. Kali ini terjadi pada Hadi Purnomo (14 tahun) siswa kelas 1 SMP YPU, Bandung. Hadi ditemukan dalam keadaan tergantung di kuda-kuda kamarnya oleh adik perempuannya, Ayu Lestari (10 tahun), sebelum maghrib. Kematian Hadi dengan cara gantung diri ini terjadi bertepatan dengan hari ulang tahunnya ke-14 yang jatuh pada tanggal 16 November 2009.

Stress dan Bank Century

Kasus Bank Century tidak hanya menghasilkan stress berat bagi nasabah yang dananya tidak bisa cair, tetapi lebih jauh dari itu menghasilkan kasus bunuh diri. Salah satu korbannya adalah Prof. Dibyo Prabowo, Guru Besar Ekonomi Universitas Gadjah Mada yang juga senior Boediono (mantan Gubernur BI yang kemudian menjadi Wakil Presiden mendampingi SBY).

Dibyo Prabowo mengakhiri hidupnya karena kehilangan Rp 18 miliar di Bank Century. Kasus ini diungkapkan oleh Siput salah satu nasabah Bank Century dalam Rapat Dengar Pendapat di Komisi III DPR yang berlangsung pada hari Selasa tanggal 24 November 2009.

Menurut Siput, sebelum meninggal Profesor Dibyo Prabowo menjabat sebagai Rektor Universitas Atmajaya Yogyakarta. Beliau meninggal di bulan Ramadhan lalu. Bahkan, Boediono ikut menghadiri persemayaman terakhir Dibyo di rumahnya yang terletak di Sawitsari, Sleman, berdekatan dengan rumah Boediono. Profesor Dibyo bukan satu-satunya korban Century yang berakhir dengan bunuh diri. Masih terdapat tiga korban lainnya, salah satunya adalah Sayuti, pejabat Bank Century yang berdomisili di Jambi.

Stress yang berlanjut kepada tindakan bunuh diri juga dapat terjadi pada mahasiswa. Misalnya, sebagaimana terjadi pada Luluk Uljana Putri Utami (22 tahun), warga Desa Jelbudan, Kecamatan Dasuk, Pamekasan, Madura. Luluk ditemukan gantung diri menggunakan kain berwarna putih-biru di dalam rumahnya, Sabtu pagi 28 November 2009. Diduga, Luluk mengalami stress, karena orangtuanya bercerai sejak beberapa waktu lalu.

Salah satu ciri pelaku bunuh diri, biasanya berwatak tertutup dan pendiam. Ciri-ciri ini bisa ditemui pada sosok Darto Albinus Dartolius, yang berkali-kali melakukan percobaan bunuh diri, dan baru berhasil pada Sabtu 28 November 2009. Darto warga RT 017 RW 4 Kelurahan Nangameting, Kecamatan Alok Timur, Kabupaten Sikka, tewas setelah gantung diri menggunakan tali berwarna biru di kamar keluarganya.

Aksi nekat bunuh diri yang dilakukan Darto kali itu, bukan kali pertama yang dilakukannya. Darto sudah berulang kali melakukan aksi percobaan bunuh diri dengan meminum obat serangga dan menelan obat-obatan dosis tinggi. Namun, saat itu masih bisa diselamatkan oleh warga sekitar dan keluarganya. Menurut beberapa warga, Darto adalah seorang yang pendiam dan jarang mengungkapkan isi hatinya kepada mereka.

Salah satu faktor pemicu tindakan bunuh diri, antara lain kasus asmara, seperti ditinggal pacar. Pacaran tergolong perbuatan mendekati zina, bahkan zina itu sendiri. Kalau tindakan bunuh diri disebabkan oleh hal ini, boleh jadi dosanya dobel.

Di Karang Anyar, Jawa Tengah, ada seorang pria bernama Purwanto alias Tambat (25 tahun) warga Dusun Duwet RT 03 RW 02, Desa Brujul, Kecamatan Jaten memilih mengakhiri hidupnya dengan cara menggantung diri di sebuah pohon di tengah sawah, karena akan ditinggal pacar.

Tubuh Tambat pertama kali ditemukan seorang petani dalam keadaaan sudah kaku dengan leher terikat sebuah tali plastik, sekitar pukul 06.00 pagi, (Senin 30 November 2009). Dari hasil visum, diperkirakan, pria yang berstatus duda beranak satu ini meninggal sekitar pukul 03.00. WIB. Tidak ada tanda-tanda penganiayaan di tubuhnya, sehingga disimpulkan Purwanto tewas karena bunuh diri. Kemungkinan Tambat kecewa karena akan ditinggal pacarnya ke Malaysia.

Ketidak mampuan mengatasi masalah keluarga juga dapat menjadi faktor pendorong tindakan bunuh diri. Sebagaimana terjadi pada diri Winarto (47 tahun), anggota TNI AD yang bertugas di Koramil Kedungwaru, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur. Winarto yang berpangkat Pembantu Letnan Dua (Pelda) ini pada hari Selasa tanggal 1 Desember 2009, melakukan upaya bunuh diri dengan cara melindaskan tubuhnya di kolong bus.

Menurut saksi mata, Winarto datang dari arah timur dengan mengendarai sepeda motor dinas. Saat sampai di depan pintu terminal Tulungagung, ia berhenti lalu memarkir kendaraannya dan bergegas mendekati bus yang saat itu hendak keluar dari terminal dan merangkak masuk ke dalam kolong bus Harapan Jaya dengan Nomor Polisi AG 7678 UR jurusan Tulungagung-Jakarta yang akan berangkat, sehingga tubuh dan anggota badan lainnya terlindas bus.

Dari beberapa data di atas, terlihat bahwa kasus bunuh diri dapat dilakukan oleh kelompok usia mulai remaja hingga orang dewasa bahkan lansia. Pencetusnya bukan saja masalah himpitan ekonomi, stress, putus asa dan sebagainya tetapi juga disebabkan oleh hal-hal sepele. Kasus bunuh diri tidak saja terjadi di perkotaan tetapi juga di kawasan yang relatif jauh dari pusat kota.

Sepanjang tahun 2009, di bulan November banyak ditemukan kasus bunuh diri dengan berbagai motif, dan dari berbagai daerah. Data-data ini sudah sepatutnya dijadikan masukan bagi kita semua, tetutama para ulama, untuk memberikan pencerahan kepada masyarakat tentang kedudukan upaya bunuh diri di dalam Islam, yaitu sebagai perbuatan keji dan dilarang agama.

Ancaman terhadap pelaku bunuh diri

Allah Ta’ala mengancam pelaku bunuh diri:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تَأْكُلُواْ أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلاَّ أَن تَكُونَ تِجَارَةً عَن تَرَاضٍ مِّنكُمْ وَلاَ تَقْتُلُواْ أَنفُسَكُمْ إِنَّ اللّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيماً ﴿٢٩﴾ وَمَن يَفْعَلْ ذَلِكَ عُدْوَاناً وَظُلْماً فَسَوْفَ نُصْلِيهِ نَاراً وَكَانَ ذَلِكَ عَلَى اللّهِ يَسِيراً ﴿٣٠﴾

029. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.030. Dan barangsiapa berbuat demikian dengan melanggar hak dan aniaya, maka Kami kelak akan memasukkannya ke dalam neraka. Yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (QS An-Nisaa’: 29-30).

Ancaman siksa di neraka bagi pelaku bunuh diri:

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ – رضى الله عنه – عَنِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ « مَنْ تَرَدَّى مِنْ جَبَلٍ فَقَتَلَ نَفْسَهُ ، فَهْوَ فِى نَارِ جَهَنَّمَ ، يَتَرَدَّى فِيهِ خَالِدًا مُخَلَّدًا فِيهَا أَبَدًا ، وَمَنْ تَحَسَّى سَمًّا فَقَتَلَ نَفْسَهُ ، فَسَمُّهُ فِى يَدِهِ ، يَتَحَسَّاهُ فِى نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدًا مُخَلَّدًا فِيهَا أَبَدًا ، وَمَنْ قَتَلَ نَفْسَهُ بِحَدِيدَةٍ ، فَحَدِيدَتُهُ فِى يَدِهِ ، يَجَأُ بِهَا فِى بَطْنِهِ فِى نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدًا مُخَلَّدًا فِيهَا أَبَدًا » . (رَوَاهُ الْبُخَارِىُّ وَمُسْلِمٌ)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa menjatuhkan diri dari gunung lalu ia (bertujuan) membunuh dirinya maka dia di dalam neraka jahannam dalam keadaan menjatuhkan diri di dalamnya selama-lamanya abadi di dalamnya (bagi orang yang menghalalkan membunuh dirinya). Dan barangsiapa minum (makan) racun lalu (bertujuan) membunuh dirinya maka racunnya di tangannya ia meminumnya di neraka jahannam selama-lamanya abadi di dalamnya (bagi orang yang menghalalkan membunuh dirinya). Dan barangsiapa membunuh dirinya dengan besi maka besinya di tangannya, ia menikam (dan memukul) dengan besinya itu ke perutnya di dalam neraka jahannam selama-lamanya abadi di dalamnya (bagi orang yang menghalalkan membunuh dirinya). (HR Al-Bukhari dan Muslim).

(haji/tede) (nahimunkar.com)