Maksiat Dibiarkan, Orang pun Nekad

Maksiat seharusnya diberantas. Tetapi tampaknya dibiarkan, bahkan kemungkinan dipiara, bahkan kemungkinan dibisniskan untuk dipungut pajaknya atau apanya lah. Akibatnya, yang tidak punya modal untuk bermaksiat, berani nekad.

Inilah contoh kasusnya. Seharusnya para pejabat atau yang berwenang merasa tertampar mukanya. Ini baru contoh kasus saja:

Sang Pembakar Kereta Akhirnya Buka Mulut

Liputan 6 – Minggu, 24 Oktober

Liputan6.com, Lebak: Tersangka pembakar kereta Hery alias Saeful sudah mulai tenang saat ditemui wartawan di sela-sela pemeriksaan penyidik Kepolisian Resor Lebak, Banten, Sabtu (23/10). Hery yang kejiwaannya dikenal labil, bahkan menjawab sejumlah pertanyaan wartawan. Termasuk, awal mula pembakaran 24 gerbong kereta api di Stasiun Rangkasbitung, 11 Oktober silam [baca: Polisi Tetapkan Tersangka Pembakar Kereta].

Dalam penjelasannya, Hery mengaku pembakaran kereta dilakukannya antara sengaja dan tidak sengaja. Sekitar jam 11 malam, tukang sapu gerbong kereta ini berusaha merayu Nur, pelacur yang biasa mangkal di gerbong stasiun. Namun karena Hery hanya menjanjikan bayaran Rp 5.000, pekerja seks komersial itu menolak ajakannya. Warga Kabupaten Serang, Banten, ini marah lalu membeli bensin, yang awalnya akan digunakan untuk membuat Nur mabuk. Tapi, lagi-lagi Nur menolak.

Saat berusaha memaksanya meminum bensin itulah sebagian bahan bakar minyak itu dalam kantong plastik tercecer di gerbong tiga, empat, dan lima. Sadar bahwa usahanya gagal, Hery kemudian menumpahkan bensin tersebut di luar gerbong, kemudian membakarnya. Saat itulah, api langsung menyambar ruang dalam gerbong lima dan menjalar ke gerbong lainnya.

Sejauh ini polisi masih belum dapat memastikan motif lain. Namun berdasarkan penyelidikan lanjutan terhadap lebih dari 60 saksi, polisi menduga ada pelaku lain selain Hery. Namun polisi belum mau membuka identitas orang tersebut, yang saat kejadian ada bersama Hery dan berprofesi sebagai preman di Stasiun Rangkasbitung.

Pihak kepolisian menjerat Hery dengan Pasal 187 Kitab Undang-undang Hukum Pidana tentang pembakaran dengan ancaman hukuman di atas lima tahun. Bangkai 24 gerbong kereta yang terbakar hingga kini masih tersimpan di Stasiun Rangkasbitung, menunggu proses penyelidikan tuntas.(MRQ/ANS)id.news.yahoo.com

Astaghfirullah… kalau begitu, gerbong-gerbong kereta yang taip siangnya berjubel penuh manusia itu, malam harinya dijadikan tempat zina ya??

Akhirnya terbakar, ya sudah…

(nahimunkar.com)