Maraknya Yoga Dianggap Pertanda

Kebangkitan Hindu di Indonesia

Dikumpulkan oleh Hartono Ahmad Jaiz

 

     Orang Hindu mengakui, Yoga dari Hindu, bahkan menjamurnya praktek senam yoga dianggap sebagai pertanda kebangkitan Hindu di Indonesia.

     Berikut ini petikan artikel tentang Yoga, ditulis oleh guru yoga, dari Majalah Hindu, Raditya, yang beredar di Bali. (Kami petik bagian-bagian yang kami anggap penting sebagi berikut):

 

Yoga Menjamur Pertanda Kebangkitan Hindu di Nusantara?

Mohan MS

 

Banyak yang percaya bahkan sangat yakin, bahwasannya suatu hari nanti Hindu Dharma akan kembali hadir dan berjaya di Nusantara ini. Hal tersebut diramalkan di ramalan Ronggowarsito Jayabaya secara tersirat. Perihal yang sama juga dipercaya oleh mereka-mereka penganut aliran Kejawen dan sebagian umat Hindu dan Islam di tanah air ini.

 

Saya ingin mengajukan fenomena yang disebut yoga (hatha yoga dan meditasi) yang makin hari semakin menyebar dengan luas di negara kita ini. Perhatikan tiada hari di Indonesia ini tanpa berita-berita akan praktik-praktik, ajaran-ajaran dan berbagai manfaat yoga ini di berbagai mass media seperti majalah, koran, radio dan TV.

 

Bentuk-benluk yoga ini selain yang berasal dari India, maka hadir juga yang dari daratan China seperti Tai-Chi, dari Jepang plus prana dari Filipina, (Reiki), dan sebagainya. Di mana-mana kursus-kursus yoga menjamur bahkan telah menjadi konsumsi elit di hotel-hotel mewah bagi kaum yang punya dan para selebriti. Yang lebih menarik lagi, hadir juga yoga Islam dan yoga Kristen, dan sebagainya. Fenomena ini merupakan bentuk pengakuan akan yoga asal Hindu, tetapi dikemas dengan agama masing-masing, agar umatnya tidak pindah ke agama Hindu-Buddha (Dharma).

 

Saya pribadi pernah mengajar yoga dan meditasi kepada beberapa dokter asing dan lokal sampai kini, bahkan ajaran-ajaran yoga kami yang disebut Shanti Hatha Yoga ini sudah dipraktikkan di Indonesia, Australia, Jerman dan USA

 

Sebagian umat dari berbagai agama, kepercayaan lalu mulai berpaling ke yoga dan meditasi. Mungkin Anda ingin lebih tahu apa makna dan praktik-praktik yoga yang sebenarnya ini?

 

Di Indonesia saat ini mereka-mereka yang tertarik kepada yoga pada umumnya terdiri dari orang-orang yang memang gemar pada kesehatan dan hal-hal yang bersifat spiritual

 

Saat ini boom yoga membuat sementara orang latah ikut-ikutan yoga bahkan mengaku dirinya guru yoga, karena tidak seperti di Eropah, USA, Australia dan Canada, di sini tidak ada peraturan dan proteksi dari pemerintah maupun departemen kesehatan yang terkait.

 

Dalam Bahasa Sanskerta kata yoga berasal dari kata Yuj (union, penyatuan). Sewaktu kita berlatih fisik dan mental secara seksama dan penuh disiplin, maka lambat laun akan hadir rasa keseimbangan penyatuan dengan Sang Jiwa Yang Maha Agung

 

Ada ribuan aliran yoga saat ini, namun prinsipnya dasar-dasar yoga ada 8 tahap: (1). Yama, yaitu dilarang melakukan kekerasan (himsa), berbohong, mencuri, seks bebas, rakus, iri hati. (2). Niyama, yaitu anjuran menjaga kebersihan lahir batin, lingkungan, kesederhanaan, bersyukur selalu untuk apa adanya, rajin belajar dan setia pada pasangan hidup, guru, orang tua, negara, dan seterusnya. (3). Asana, yaitu pelatihan atau posisi posisi hatha-yoga menyeluruh yang meliputi gerakan-gerakan sambil berdiri, duduk, berbaring dan juga secara akrobatis demi menjaga otot-otot persendian, organ-organ bagian dalam dan luar tubuh. (4). Pranayama: Pernafasan yang dilatih secara sistematis, baik secara individual maupun berkelompok. (5). Pratihara: memusatkan pikiran dan perhatian ke dalam diri, membatasi diri dari berbagai rangsangan-rangsangan duniawi yang mengikat dan negatif melalui berbagai panca indra kita. (6). Dharana: memusatkan perhatian pada suatu hal dalam kehidupan ini, 6-7-8 harus dibawah guru spritual yang handal dan non pamrih. (7) Dhyana: meditasi ke arah ketenangan. (8). Samadi: pencerahan spritual akan hakekat diri manusia itu sendiri dan hubungannya dengan Sang Pencipta.

 

(Sumber: Majalah Hindu RADITYA edisi 133 Agustus 2008 hal. 60-61, dipetik bagian-bagian yang kami anggap penting).

 

   Tidak dapat diragukan lagi, yoga memang dari Hindu, dengan tujuan menyatu dengan tuhan mereka. Dan itu ditempuh dengan 8 prinsip dasar yoga.

Kentalnya yoga dengan kepercayaan kemusyrikan itu sudah dari asal mulanya, karena memang dari lafal yoga itu sendiri artinya adalah menyatukan diri dengan Tuhannya orang Hindu. Dan itu dilaksanakan dengan 8 prinsip dasar yoga, yang salah satunya adalah samadi (semedi, Jawa) yang jelas-jelas berhubungan dengan hal ghaib yang hal itu dalam Islam dilarang, kecuali kalau ada nash (teks yang jelas) dari Al-Qur’an dan As-Sunnah. Orang Islam sendiri pun dilarang mengada-adakan hubungan dengan hal ghaib, apalagi meniru-niru agama kemusyrikan.

    Bahwa asal kata yoga itu sendiri berarti menyatukan diri dengan Tuhan, suatu keyakinan kemusyrikan yang merupakan dosa tertinggi tak diampuni dalam Islam. Kutipan tulisan seorang doctor dan guru Yoga di Majalah Hindu berikut ini satu bukti nyata:

YOGA berasal dan akar kata Sansekerta ‘yuj’ yang artinya menyatukan diri dengan Tuhan. Pengertian lain dari yoga adalah penyatuan, yaitu penyatuan antara jiwa individual dengan jiwa universal. Dikatakan pula bahwa yoga adalah pembatasan pikiran-pikiran yang selalu bergerak. Yoga juga terdapat dalam bahasa Yunani ‘zygon’dan kata lainnya adalah ‘jugum’. Sedangkan dalam Rgveda, yoga disimbolkan dengan ‘tapas’ yang lebih fokus terhadap pengendalian indriya. (Dr. Somvir, Guru Yoga, Tinggal di Bali, PATANJALI YOGA, Media Hindu, Edisi 53 Juli 2008).

     Lebih jelas lagi, keterangan berikut ini, berupa keterangan bentuk gerakan senam yoga yang memang berkaitan dengan keyakinan penyembahan matahari, suatu kemusyrikan yang jelas. Inilah ungkapan yang dikirim oleh seorang teman dari Bali yang mendapatkan keterangan dari guru yoga:

“Salah satu Gerakan yoga yang populer adalah Soorya Namaskara (karena berhubungan dengan siklus matahari, yang menurut HINDU di “kelola” oleh DEWA SURYA)  (“sumber Pak Ari, salah satu Guru Yoga ) dengan dilampiri gambar bentuk-bentuk gerakan yoga.

Dari keterangan itu, maka tidak dapat diragukan lagi relevennya fatwa Syaikh Dr Abdullah Faqih seperti yang telah dimuat nahimunkar.com, Fatwa Haramnya Yoga bagi Ummat Islam, 10:01 pm Fatwa

Yoga penyembahan berhalaisme kepada matahari

Syaikh Dr Abdullah Al-Faqih dalam fatwanya yang berjudul Yoga itu penyembahan berhalaisme kepada matahari tertanggal 17 Nyharram 1422H/ 11 April 2001 menegaskan haramnya yoga.

Dia menegaskan:

إن اليوجا ليست رياضة، وإنما هي نوع من العبادة الوثنية التي لا يجوز للمسلم أن يقدم عليها بحال.

Sesungguhnya yoga bukanlah olahraga, tetapi dia hanyalah jenis dari peribadahan berhalaisme (paganisme) yang tidak boleh bagi orang Muslim untuk mendatanginya sama sekali.

Dia menegaskan, yoga itu bukan murni olahraga badani, tetapi itu hanyalah penyembahan yang ditujukan oleh pelakunya kepada matahari selain Allah. Yoga itu tersebar luas di India sejak zaman dulu.

Nama aslinya berbahasa sanskerta, sastanaga surya nama sekar, artinya sujud kepada matahari dengan delapan anggota badan.

Olahraga ini bertumpu pada 10 anggota badan tertentu, di antaranya lima anggota badan yang terhampar di tanah dengan melebar dengan menyentuh tanah yaitu: dua tangan, hidung, dada, dua dengkul, dan jari-jari dua telapak kaki . Dengan ini maka terwujudlah sujud terhadap matahari dengan delapan anggota badan.

Latihan-latihan yoga itu dimulai dengan kondisi pertama yang menggambarkan penghormatan kepada yang disembah yaitu matahari. Latihan-latihan ini mesti disertai kata-kata yang menjelaskan penyembahan matahari dan mengarah kepadanya. Kata-kata itulah yang disebut mantra. Itu diulang-ulang dengan suara keras dan dengan cara tata letak yang teratur. Potongan-potongan mantra itu mengandung sebutan nama-nama matahari dua belas.

Oleh karena itu Mufti ini setelah menjelaskan bunyi mantra-mantra dan maksudnya, kemudian mengatakan:  Sesungguhnya yoga bukanlah olahraga, tetapi dia hanyalah jenis dari peribadahan berhalaisme (paganisme) yang tidak boleh bagi orang Muslim untuk mendatanginya sama sekali.

Demikian fatwa dari Markaz Fatwa yang dibimbing oleh Dr Abdullah Al-Faqih, yang dikeluarkan 17 محرم 1422 / 11-04-2001, kemudian disiarkan lewat as-syabakah al-Islamiyah, dan sudah dikumpulkan dalam Al-Maktabah As-Syamilah oleh multaqa ahl hadith.