Mark Duggan/ Sky News


Penjarah di London/ dailymail


dailymail

London – Empat hari berjalan dan kerusuhan di London, Inggris, tidak ada tanda-tanda mereda. Penembakan seorang warga blasteran kulit hitam di Tottenham bernama Mark Duggan (29), disebut sebagai sumber semua kekacauan ini.

Mark Duggan mungkin bukan siapa-siapa di tengah masyarakat kota London. Pria yang akrab disapa ‘Starrish Mark’ ini memiliki tunangan bernama Semone Wilson, namun Mark sudah memiliki empat orang anak.

Namun, Kamis 4 Agustus 2011 menjadi hari yang naas untuk semua pihak, baik polisi maupun warga. Saat itu polisi sedang menggelar apa yang mereka sebut sebagai Operasi Trident. Ini adalah operasi untuk menekan penggunaan senjata api untuk kriminal pada masyarakat kulit hitam di London.

Seperti diberitakan Sky News edisi 4 Agustus, tepatnya di jalan Ferry Lane, Tottenham, pada petang hari, polisi menghentikan sebuah mobil untuk memeriksa pengemudinya. Mark berada di dalam mobil itu.

Belum ada yang menjelaskan bagaimana proses pemeriksaan itu berlangsung. Namun kemudian diketahui Mark membawa pistol dan dor! Baku tembak terjadi pukul 18.15 waktu setempat. Peluru dari Mark hanya mengenai radio komunikasi milik polisi, namun tidak demikian dengan Mark. Dia meregang nyawa karena peluru polisi menembus tubuhnya.

Siapakah yang menembak duluan? Semua pihak punya versi masing-masing. Namun yang jelas, pihak keluarga menyalahkan polisi.

“Ada yang salah dan mereka mencoba menutupinya. Kalau Mark pegang senjata, kenapa tidak ditembak tangannya saja? Saya coba bertanya, polisi diam saja. Polisi juga tidak memberi tahu orangtuanya,” kata Semone Wilson kepada The Sun, Selasa (9/8/2011).

Semone membela Mark. Menurut dia, pacarnya selama 13 tahun itu membawa senjata hanya untuk jaga-jaga saja, karena sepupunya ditikam hingga tewas di sebuah klub malam pada Maret 2011.

Tewasnya Mark lantas memicu kemarahan warga kulit hitam lainnya di Tottenham. 300-an Orang turun ke jalan dalam aksi yang awalnya damai-damai saja pada Sabtu (6/8) malam. Namun aksi berubah menjadi kerusuhan dan penjarahan. Kerusuhan satu berujung pada kerusuhan lain.

Ketika kerusuhan menyebar ke berbagai sudut kota London, pelaku bukan lagi hanya orang kulit hitam, namun juga kulit putih dan warga lain dari berbagai latar belakang ikut terlibat.

Media-media Inggris tampak berhati-hati untuk tidak menyebut kerusuhan di London ini bernada rasial. Namun berbagai tayangan di televisi memang sulit untuk menutupi dugaan itu.

Kerusuhan kali ini langsung mengingatkan warga London dengan kerusuhan serupa pada dekade 1980-an. Hubungan warga kulit hitam dengan polisi sama saja buruknya dengan masa itu. Kantong-kantong kerusuhan pun persis sama yang merupakan daerah warga kulit hitam mulai dari Tottenham, Birmingham sampai Liverpool.

(fay/nrl)

Fitraya Ramadhanny – detikNews, Selasa, 09/08/2011 17:47 WIB

 

***

 

Kerusuhan London Terburuk Sejak Perang Dunia II


Kebakaran di Tottenham akibat ulah perusuh

LONDON – Kerusuhan di London berlanjut di hari ketiga dan mulai menyebar ke luar kota. Kekerasan meletus Sabtu setelah seorang pria tewas oleh polisi di Tottenham, sebuah daerah di bagian utara kota, pada hari Kamis. Menurut pengamat, kerusuhan telah meningkat menjadi bentrokan terburuk di negara itu sejak Perang Dunia II.

Lebih dari 200 orang telah ditangkap dan setidaknya satu orang dinyatakan tewas. “Sangat kecewa dengan sebagian kecil dari masyarakat,” satu warga Inggris menulis di Twitter.

Kekerasan menyebarkan dengan cepat ke utara London ke kota Birmingham, di mana geng-geng perusuh muda memecahkan jendela toko dan menjarah bisnis lokal, BBCmelaporkan.

Pihak berwenang mengirim polisi tambahan untuk memadamkan kerusuhan.

“Kami tidak akan mentolerir kekerasan tak berperi kemanusiaan dan kerusakan di mana saja di West Midlands, dan bekerja untuk memastikan bahwa pelaku diidentifikasi dan ditangkap secepatnya,” kata Asisten Kepala Polisi Birmingham Sharon Rowe.

Kerusuhan juga menyebar ke bagian lain dari London pada Senin malam, dengan seluruh blok terbakar di sekitar Croydon, menurut laporan Twitter.

Di jalanan London, warga diminta untuk tetap tenang ketika para perusuh melempari jendela, membakar mobil, dan merusak rambu-rambu lalu lintas.

Seorang wanita setengah baya menjerit ketika penjarah menghancurkan jendela sebuah toko atletik, The London Telegraph melaporkan. “Hentikan kegilaan ini!” teriaknya. “Kami telah tinggal di sini begitu lama, dan sekarang Anda merusak komunitas kami Anda harus menghentikan perang ini atau semua orang akan terbunuh! Pikirkan anak-anak yang hidupnya Anda menghancurkan.”

The National Rail menutup sejumlah stasiun karena kerusuhan sipil, Neal Mann, seorang jurnalis lepas untuk Sky News menuliskan tweet-nya.

Redaktur: Siwi Tri Puji B

Sumber: Reuters

REPUBLIKA.CO.ID, Selasa, 09 Agustus 2011 06:30 WIB

(nahimunkar.com)