Masalah Ahmadinejad Menghina Dua Sahabat Rasul

Tulisan berjudul Innalillahi, Ahmadinejad Menghina Dua Sahabat Rasul! Yang dimuat nahimunkar.com 6:32 am mendapat perhatian dari para pembaca, dan di antaranya ada yang mempersoalkannya.

Kalimat yang dipersoalkan adalah berita yang dikutip dari eramuslim.com berikut ini:

Dalam acara itu, Ahmadinejad dengan lugas mengatakan bahwa Talhah dan Zubair adalah dua orang pengkhianat. “Talhah dan Zubair adalah dua orang sahabat Rasul, tapi setelah kepergian Rasul, mereka berdua kembali kepada ajaran sebelumnya dan mengikuti Muawiyah!”

Padahal dalam sejarah, Talhah dan Zubair, dua orang sahabat Rasul itu, tak pernah bertempur dengan Muawiyah, karena keduanya meninggal lama sebelum peperangan Jamal di tahun ke-36 kekhalifahan Islam di mana Muawiyah menjadi rajanya.

Pernyataan Ahmadinejad ini sudah jelas kemana arahnya, yaitu membuat sebuah perbandingan atas sahabat Rasul dulu dengan kejadian politik saat ini di Iran—berkaitan dengan rivalnya Mousavi. Sebelumnya, Ahmadinejad sudah sangat sering menghina sekitar 15 juta penganut Sunni di Iran. Bahkan, pendahulu Ahmadinejad, Rafidi menghina dan menganggap remeh alias menyepelekan 90% Muslim seluruh dunia. Sumber: http://www.eramuslim.com/berita/dunia/innalillahi-ahmadinejad-menghina-dua-sahabat-rasul.htm

Dikutip https://www.nahimunkar.com/innalillahi-ahmadinejad-menghina-dua-sahabat-rasul/

Untuk mendudukkan masalahnya, mari kita lihat teks yang jadi sumber eramuslim itu bunyinya:

Talhah and Zubayr, the two noble companions of the Prophet (saws) never fought with Muawiyah for they died long time before in the battle of Jamal in the Islamic year of 36 whereas Muawiyah became King in 41, thus Talhah and Zubayr never joined Muawiyah for they were already dead! (https://www.sunni-news.com/?p=3352)

(Talhah dan Zubair, dua orang sahabat Rasul itu, tak pernah bertempur dengan Muawiyah, karena mereka telah meninggal lama sebelumnya dalam peperangan Jamal di tahun Islam ke-36 di mana Muawiyah menjadi Raja pada tahun 41, jadi Talhah dan Zubair tidak pernah ikut Muawiyah karena mereka telah meninggal).

Setelah kita ketahui sumbernya, dapat kita simpulkan, persoalannya adalah: Thalhah dan Zubeir tidak pernah bertempur ikut Muawiyah. Yakni kalimat: Talhah and Zubayr, the two noble companions of the Prophet (saws) never fought with Muawiyah. Talhah dan Zubair, dua orang sahabat Rasul itu, tak pernah bertempur dengan Muawiyah.

(lafal: tak pernah bertempur dengan Muawiyah, maksudnya tak pernah bertempur mengikuti Mu’awiyah sebagaimana dituduhkan Ahmadinejad).

Duduk persoalannya seperti itu, namun Ahmadinejad mengatakan: ‘Talhah and Zubayr were of the Prophets companions, yet after his demise they became corrupted (turned their backs) and followes Muawiyah’

Talhah dan Zubair adalah dua orang pengkhianat. “Talhah dan Zubair adalah dua orang sahabat Rasul, tapi setelah kepergian Rasul, mereka berdua kembali kepada ajaran sebelumnya dan mengikuti Muawiyah!”

Itu jelas tuduhan dusta dan sangat berat, karena di samping dusta masih pula menuduh dua sahabat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang telah Nabi jamin termasuk 10 orang yang masuk surga itu murtad.

Seandainya tidak ada jaminan masuk surga dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam saja, untuk menuduh, apalagi menuduh mereka berdua kembali kepada ajaran sebelumnya alias murtad itu adalah tuduhan sangat besar dan wajib mengemukakan bukti-bukti yang kuat.

Ketika tanpa bukti, maka betapa dusta dan beratnya tuduhan itu.

Bahkan seandainya Thalhah dan Zubeir itu benar mengikuti Mu’awiyah seperti yang dituduhkan Amadinejad (namun sebenarnya tidak, jadi berarti Ahmadinejad telah dusta dan memfitnah sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam) itupun tidak dapat disebut sebagai pengkhianat, apalagi kembali kepada ajaran sebelumnya alias murtad.

Hal itu cukup jelas, seperti diuraikan Imam Al-Qurthubi dalam menafsiri Surat Al-Hujurat/ 49 ayat 9:

9. Dan kalau ada dua golongan dari mereka yang beriman itu berperang hendaklah kamu damaikan antara keduanya! tapi kalau yang satu melanggar perjanjian terhadap yang lain, hendaklah yang melanggar perjanjian itu kamu perangi sampai surut kembali pada perintah Allah. kalau dia Telah surut, damaikanlah antara keduanya menurut keadilan, dan hendaklah kamu berlaku adil; Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil (QS Al-Hujurat/ 49:9)

العاشرة : لا يجوز أن ينسب إلى أحد من الصحابة خطأ مقطوع به إذ كانوا كلهم اجتهدوا فيما فعلوه وأرادوا الله عز و جل وهم كلهم لنا أئمة وقد تعبدنا بالكف عما شجر بنيهم وألا نذكرهم إلا بأحسن الذكر لحرمة الصحبة ولنهي النبي صلى الله عليه و سلم عن سبهم وأن الله غفر لهم وأخبر بالرضا عنهم هذا مع ما قد ورد من الأخبار من طرق مختلفه عن النبي صلى الله عليه و سلم : [ أن طلحة شهيد يمشي على وجه الأرض ] فلو كان ما خرج إليه من الحرب عصيانا لم يكن بالقتل فيه شهيدا وكذلك لو كان ما خرج إليه خطأ في التأويل وتقصيرا في الواجب عليه لأن الشهادة لا تكون إلا بقتل في طاعة فوجب حمل أمرهم على ما بيناه ومما يدل على ذلك ما قد صح وانتشر من أخبار علي بأن قاتل الزبير في النار وقوله : سمعت رسول الله صلى الله عليه و سلم يقول : [ بشر قاتل ابن صفية بالنار ] وإذا كان كذلك فقد ثبت أن طلحة والزبير غير عاصيين ولا آثمين بالقتال لأن ذلك لو كان كذلك لم يقل النبي صلى الله عليه و سلم في طلحة شهيد ولم يخبر أن قاتل الزبير في النار وكذلك من قعد غير مخطئ في التأويل بل صواب أراهم الله الاجتهاد وإذا كان كذلك لم يوجب ذلك لعنهم والبراءة منهم وتفسيقهم وإبطال فضائلهم وجهادهم وعظيم غنائهم في الدين رضي الله عنهم( تفسير القرطبي – (16 / 267)

Imam Al-Qurthubi berkata dalam kitab Tafsir Surat Al-Hujurat yang redaksinya sebagai berikut: “Tidak pantas untuk menisbatkan kesalahan kepada salah seorang sahabat secara pasti karena mereka semua berijtihad dalam tindakan mereka dan mereka sepenuhnya mengharap ridha Allah.” Apalagi disebutkan dalam beberapa hadits melalui beberapa sanad dari Nabi saw bahwa Thalhah adal seorang syahid yang berjalan di atas bumi. Andaikan dia keluar untuk berperang itu merupakan kemaksiatan, maka tidak mungkin dia terbunuh sebagai syahid. Salah satu dalilnya ialah berita yang shahih dan masyhur dari Ali bahwa pembunuh Zubair ada di neraka. Dan perkataan Ali: “Saya mendengar Rasulullah saw bersabda: beritakan bahwa pembunuh Ibnu Shafiyah ada di dalam neraka.” Kalau demikian halnya berarti Thalhah dan Zubair berperang tidak dalam rangka maksiat dan tidak berdosa, yakni keduanya dimaafkan akibat ijtihadnya. Karena jika memang mereka itu maksiat ataupun berdosa, tidak mungkin Nabi saw mengatakan bahwa Thalhah adalah syahid, dan tidak mungkin pula beliau mengabarkan bahwa pembunuh Zubair ada di dalam neraka. Berdasarkan itu semua, maka tidak pantas kalau kita melaknat mereka dan melepaskan diri dari mereka, menganggap mereka fasik atau menghapuskan keutamaan mereka, jihad mereka, dan kebesaran mereka dalam berkorban untuk kepentingan agama. Semoga Allah meridhoi mereka. (Al-Quthubi, Al-Jami’ li Ahkam Al-Qur’an, juz 16 halaman 267).

Apalagi ada hadits shahih tentang 10 sahabat yang masuk surga, di antaranya Thalhah dan Zubair:

سنن الترمذى – (ج 13 / ص 360)

4114 – حَدَّثَنَا صَالِحُ بْنُ مِسْمَارٍ الْمَرْوَزِىُّ حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِى فُدَيْكٍ عَنْ مُوسَى بْنِ يَعْقُوبَ عَنْ عُمَرَ بْنِ سَعِيدٍ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ حُمَيْدٍ عَنْ أَبِيهِ أَنَّ سَعِيدَ بْنَ زَيْدٍ حَدَّثَهُ فِى نَفَرٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « عَشَرَةٌ فِى الْجَنَّةِ أَبُو بَكْرٍ فِى الْجَنَّةِ وَعُمَرُ فِى الْجَنَّةِ وَعُثْمَانُ وَعَلِىٌّ وَالزُّبَيْرُ وَطَلْحَةُ وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ وَأَبُو عُبَيْدَةَ وَسَعْدُ بْنُ أَبِى وَقَّاصٍ ». قَالَ فَعَدَّ هَؤُلاَءِ التِّسْعَةَ وَسَكَتَ عَنِ الْعَاشِرِ فَقَالَ الْقَوْمُ نَنْشُدُكَ اللَّهَ يَا أَبَا الأَعْوَرِ مَنِ الْعَاشِرُ قَالَ نَشَدْتُمُونِى بِاللَّهِ أَبُو الأَعْوَرِ فِى الْجَنَّةِ. قَالَ أَبُو عِيسَى أَبُو الأَعْوَرِ هُوَ سَعِيدُ بْنُ زَيْدِ بْنِ عَمْرِو بْنِ نُفَيْلٍ. وَسَمِعْتُ مُحَمَّدًا يَقُولُ هُوَ أَصَحُّ مِنَ الْحَدِيثِ الأَوَّلِ. قال الشيخ الألباني : صحيح

Dari Umar bin Said dari Abdul Rahman bin Humaid dari bapaknya bahwa Said bin Zaid menceritakan kepadanya mengenai (keadaan) sekelompok orang bahwa Rasulullah saw bersabda: “Sepuluh (orang) dalam surga: Abu Bakar di dalam surga, Umar di dalam surga, ‘Utsman di dalam surga, Ali, Zubair, Thalhah, Abdul Rahman (bin Auf), Abu Ubaidah, dan Sa’ad bin Abi Waqas.” Ia berkata maka mereka menghitung sembilan dan dia diam dari yang ke sepuluh, maka kaum berkata, kami mintakan engkau kepada Allah wahai Abu A’war ke dalam surga. Abu Isa (At-Tirmidzi) berkata Abu A’war yaitu Said bin Zaid bin Amr bin Nufail. Dan aku (At-Tirmidzi) mendengar Muhammad (Bukhari) bekrata hadits ini lebih shahih dari hadits pertama (riwayat Abdurrahman bin Auf). Syaikh Al-Albani berkata: Shahih. Hadits Said bin Zaid ini dikeluarkan juga oleh Ahmad dari beberapa jalan, dan Ibnu Majah, Ad-Daraquthni dan Dhiya’ (Tuhfatul Ahwadzi 9/ 162).

Hadits Said bin Zaid ini dikeluarkan juga oleh Ahmad dari beberapa jalan, dan Ibnu Majah, Ad-Daraquthni dan Dhiya’ (Tuhfatul Ahwadzi 9/ 162).

Di samping itu Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam melarang Ummat Islam mencaci sahabat:

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الخدري قال: َقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” لَا تَسُبُّوا أَحَدًا مِنْ أَصْحَابِي فَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَوْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا أَدْرَكَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلَا نَصِيفَهُ”.


Dari Abu Sa’id ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Jangan kalian mencela seorang-pun dari sahabatku. Sungguh jika salah seorang diantara kalian berinfaq sebesar gunung uhud emas, maka itu belum menyamai segenggam (dari infaq) mereka dan tidak pula setengahnya”. (HR. al-Bukhari, no: 3673, Muslim, no: 2541).
Ibnu Umar radhiallahu anhuma berkata: “Jangan kalian memaki sahabat-sahabat  Muhammad shallallahu alaihi wasallam, sungguh keberadaan mereka sesaat (di sisi Nabi shallallahu alaihi wasallam) lebih baik dari pada amal ibadah kalian selama empat puluh tahun”. Riwayat Ahmad dalam Fadhailus Shahabah, I/57, Ibnu Majah no: 158, Ibnu Abi Ashim, II/484.