Masalah Ayat dan Adzan Dijadikan Ringtone


Ayat-ayat Al-Qur’an adalah Kalamullah, firman Allah. Sedang adzan adalah panggilan atau tanda masuk waktu shalat untuk berjamaa’ah. Namun ayat dan adzan itu kadang dijadikan nada panggil atau ringtone hp (handphone).

Masalah itu telah agak lama jadi pembicaraan masyarakat ramai, sampai kini pun masih di bicarakan pula. Sebenarnya sudah ada keputusan larangan penggunaan ayat Al-Qur’an sebagai ringtone yang difatwakan oleh Mujamma’ Al-Fiqh Al-Islami yang menginduk pada Rabithah Alam Islami (Liga Dunia Islam) di Makkah, November 2007. Demikian pula khabarnya sekarang akan dicetuskan fatwa larangan yang sama di sebuah lembaga Islam di India. Beritanya sebagai berikut:

Fatwa Larangan Al-Quran Jadi Ringtone Dicetuskan

Kamis, 16/04/2009 08:12 WIB

Santi Dwi Jayanti – detikinet

Jakarta – Sebuah komunitas Islam bernama Jamia Ashraf-ul-Madaris di Kanpur, India, tengah menyiapkan fatwa pelarangan penggunaan ayat suci Al-Quran sebagai nada dering (ringtone).

Berikut alasan yang menjadi latar belakang komunitas itu. Katakanlah ada seorang pengguna ponsel yang memasang ayat Al-Quran sebagai ringtone, kemudian ada panggilan di ponselnya dan ia menjawabnya. Maka yang terjadi di sini adalah ayat tersebut akan terpenggal isinya.

Nah, kejadian seperti inilah yang ingin dihindari. Yaitu, memotong ayat Al-Quran di tengah jalan, karena dikhawatirkan dapat mengubah arti sebenarnya dari ayat tersebut.

Bahkan diklaim, mereka yang mendengarkan ayat ini secara setengah-setengah adalah anti Islam. Demikian dikatakan oleh Ghyasuddin, salah satu tetua di kelompok Jamia Ashraf-ul-Madaris, seperti dikutip detikINET dari Channel4, Kamis (16/4/2009).

Tak hanya itu, sebuah kritikan pedas juga ditujukan pada mereka yang menggunakan ponsel di toilet selagi masih memasang ringtone ayat Al-Quran. Sebuah dosa jika ayat suci ini terdengar terlantun di area toilet, masih menurut kelompok tersebut.

Selain itu, kelompok Jamia Ashraf-ul-Madaris juga melarang fungsi vibrate (getaran) diaktifkan saat sholat. Meski tak mengeluarkan suara, namun hal ini tetap dianggap dapat mengganggu kekhusyukan ibadah sang pemilik. ( ash / ash )

http://www.detikinet.com/read/2009/04/16/081225/1116215/398/fatwa-larangan-al-quran-jadi-ringtone-dicetuskan

Sebelum itu, di Arab Saudi sudah ada keputusan larangan menggunakan ayat Al-Qur’an sebagai ringtone. Berikut ini beritanya:

Saudi Resmi Larang Penggunaan Ringtone Al-Quran

November 11, 2007 – Abdullah Hadrami

Pusat Kajian Fiqh Islam yang berpusat di Arab Saudi akhirnya memberlakukan fatwa pelarangan penggunaan ayat Al-Quran untuk nada panggil alias ringtonse

Al Mujamma’ Fiqh Al Islami (Pusat Kajian Fiqh Islam), yang menginduk kepada Rabithah ‘Alam Islami yang berpusat di Saudi akhirnya memfatwakan larangan penggunaan ayat Al-Quran untuk nada panggil. Alasannya, perbuatan itu secara tidak langsung merendahkan Al-Quran serta memutuskan bacaannya. Apalagi, terkadang juga bacaan nada panggil itu bisa berbunyi di mana saja, termasuk di tempat-tempat yang tidak layak Al-Quran dibacakan.

Fatwa itu dikeluarkan pada hari Rabu (7/11) kemarin, di saat Al Mujamma’ mengakhiri muktamar ke 19 nya di Mekah. Penggunaan ringtone Al-Quran termasuk tergolong perbuatan yang merendahkan Al-Quran. Atas dasar itulah mereka mengeluarkan fatwa haram.

Ada pun merekam Al-Quran di hand phone dengan bertujuan agar yang bersangkutan bisa mendengarkan tilawah Al-Quran, itu tidak dipermasalahkan, bahkan dianjurkan, karena hal itu termasuk wasilah untuk belajar.

Tidak hanya itu, Mujamma’ juga mengeluarkan fatwa atas bolehnya menjual hiasan-hiasan kaligrafi, dengan beberapa syarat, antara lain yang bersangkutan bisa menjaga benda-benda itu dari perbuatan-perbuatan yang merendahkannya, serta bahan-bahan yang digunakan bukan benda-benda yang najis.

Mujamma’ juga memperingatkan agar ayat-ayat Al-Quran ditulis dengan jelas, tanpa memotong huruf atau memasukkan kalimat satu dengan kalimat yang lain, sehingga tulisan kaligrafi itu sulit untuk dibaca.

Sebagaimana dilarang juga membentuk tulisan ayat-ayat Al-Quran menyerupai makhluk hidup, seperti manusia, burung atau yang lain. Juga dilarang menggunakan tulisan-tulisan itu untuk hal-hal yang bisa merendahkan nilai ayat-ayat itu, seperti menggunakannya sebagai salah satu alat promosi dalam kegiatan jual beli.[alby/thoriq] hidayatullah.com

(http:[email protected]/msg08093.html)

Pembahasan tentang hokum menggunakan ayat Al-Qur’an dan adzan sebagai ringtone telah dikemukakan sebagian penulis di Indonesia, di antaranya yang telah tersebar sebagai berikut:

Ringtone Ayat Qur’an, Gimana Ya Hukumnya?

Oct 23, ’08 8:45 AM for everyone

Hukum Memakai Ayat Al-Qur’an dan Lafadz Adzan Sebagai Ring Tone Hand Phone

Telah berkembang luas akhir-akhir ini, pada sebagian umat Islam fenomena menjadikan ayat-ayat Al-Qur’an dan lafadz adzan sebagai ring tone di telepon dan ponsel mereka. Dengan tujuan menjauhi ringtone musik yang diharamkan. Akan tetapi, betapa banyak orang yang menginginkan kebaikan tapi dia tidak mendapatkannya.

Ayat Al-Qur’an dan lafadz adzan, sesungguhnya adalah lafadz-lafadz yang digunakan dalam beribadah. Allah subhanahu wa ta’ala sudah menjadikannya terkait dengan hukum-hukum syari’at, baik qira’ah Al-Qur’an atau sebagai panggilan untuk shalat. Sebagaimana telah terjelaskan dalam hadits yang menerangkan tentang itu.

Dari Malik bin Al-Khuairits radhiallahu ‘anhu ia berkata, Bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

Jika telah datang waktu shalat, maka hendaklah salah seorang di antara kalian adzan.1

Demikian juga hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma dan ‘Aisyah radhiallahu ‘anha,

Sesungguhnya Bilal menyerukan adzan pada malam hari, maka makan dan minumlah hingga Ibnu Ummi Maktum menyeru (adzan).

Maka prinsip dasar kita dalam beragama adalah ittiba’ (mengikuti sunnah) bukan ibtida’ (menambah atau mengurangi sunnah). Andaikan agama ini berdasarkan pendapat dan hawa nafsu, maka adzan yang lebih utama tentu untuk shalat ‘Ied atau khusuf (shalat gerhana) daripada shalat lima waktu.

Maka karena dasar agama ini adalah mengikuti sunnah (Rasulullah), sehingga yang lebih utama adalah menjadikan lafadz adzan untuk perkara-perkara dunia, baik untuk ring-tone HP ataupun alarm pada jam beker dan semacamnya, selain adzan yang digunakan untuk penanda masuknya waktu shalat.

Maka menjadikan ayat Al-Qur’an dan lafadz adzan untuk ring-tone HP dan sejenisnya adalah sudah termasuk mempermainkannya dan termasuk hal yang sia-sia. Adapun pelakunya telah masuk dalam firman Allah,

Dan berkata rasul, “Wahai Rabb sesungguhnya kaumku telah menjadikan Al-Qur’an ini sebagai yang disia-siakan.” (QS. Al-Furqon: 30).

Hendaknya setiap kita mengetahui, bahwasanya dzikir kepada Allah akan dinilai sebagai ibadah jika dilakukan dalam bentuk yang disyariatkan bukan dengan perkara yang diada-adakan. Sesungguhnya syarat suatu amalan adalah ittiba’2 dan ikhlas.

Tidaklah masuk akal, Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan Al-Qur’an untuk dijadikan ring-tone untuk menandai adanya penelpon. Dan barangsiapa yang merasa melakukan demikian itu karena senang mendengarkan Al-Qur’an, maka kami katakan,

Sesungguhnya mendengarkan Al-Qur’an ada beberapa jalan. Di antaranya adalah melalui kaset dan radio. Maka orang yang meletakkan kaset dalam tape recorder pasti dia berniat untuk mendengarkannya. Akan tetapi siapa yang menggunakannya sebagai ring-tone HP, justru mempunyai tujuan lain, yaitu sebagai tanda adanya penelpon, dan inilah yang dilarang.

Andaikan saja seseorang ingin mendengarkan Al-Qur’an sedang dia berada di tempat yang najis, maka kita katakan bahwa perbuatan ini tidak pantas bagi Al-Qur’an sehingga dia tidak boleh mendengarkannya.

Jika dia membantah dengan alasan ingin mendengarkan Al-Qur’an, hal ini pun tidak dapat dibenarkan karena tidak diperdengarkan dengan cara yang benar. Kenyataannya, begitu ayat berbunyi langsung dimatikan karena memang tujuannya bukan mendengarkan ayat.

Musibah yang ditimbulkan dari perbuatan ini tidak terhenti pada hal ini saja tetapi akan berimbas pada yang lain. Lihat saja ketika datang telepon dari seseorang, sangat mungkin HP yang sedang memperdengarkan ayat-ayat Al-Qur’an dan lafadz adzan itu akan segera dimatikan. Bahkan dia (penerima) menggerutu dan kesal setiap kali ring-tone itu berbunyi3, padahal ring-tone-nya adalah bacaan ayat-ayat Al-Qur’an dan lafadz adzan.

Seandainya ada yang membela diri bahwa dia matikan HP dan menggerutu karena adanya penelpon yang tidak disukainya, bukan karena ayat-ayat Al-Qur’an dan lafadz adzan tadi, maka kami katakan,

Akan tetapi perbuatan yang anda lakukan ini terjadi pada ayat-ayat Al-Qur’an dan lafadz adzan yang anda jadikan sebagai ring tone, maka mengapa anda jadikan ayat-ayat Al-Qur’an dan lafadz-lafadz adzan sebagai sasaran? Apakah ini termasuk memuliakan ayat-ayat Al-Qur’an dan lafadz adzan?

Allah berfirman,

Dan barangsiapa yang mengagungkan syiar-syiar Allah maka dia termasuk dari ketakwaan hati. (QS. Al-Haj: 32).

Oleh karenanya dalam hal ini, lebih utama bagi seseorang untuk mengganti ring-tone-nya dengan suara-suara yang lain, yang tidak berbau agama juga bukan pula musik atau nyanyian4. Inilah jalan yang lebih selamat bagi semuanya.

Catatan Kaki

…1 HR. Bukhari dan Muslim.

…2 Ittiba’ adalah mengikuti petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam melakukan suatu amal. -red. vbaitullah.or.id

…3 Hal ini sangat lumrah terjadi ketika pemilik HP tidak ingin menerima seorang penelpon karena sebab tertentu. -red. vbaitullah

…4 Hal ini karena musik atau nyanyian secara umum, hukumnya haram. Silahkan

baca keterangannya di situs kami. -red. vbaitullah.

sumber: dari vbaitullah

http://thetrueideas.multiply.com/journal/item/1489/Ringtone_Ayat_Quran_Gimana_Ya_Hukumnya

Selain itu, Majalah Qiblati di Malang Jawa Timur (yang juga beredar di luar negeri dengan bahasa Indonesia di antaranya di Timur Tengah) juga sudah membahasnya, dan bisa dihubungi di situsnya, www.qiblati.com atau telepon +62 341 63 55543. (haji).