Masalah Banser Ansor Akan Jadi Penjaga Natalan

Awas, wala’ terhadap kafirin dapat mengeluarkan dari Islam

Banser Ansor (organisasi pemuda di lingkungan NU – Nahdlatul Ulama) belum lama ini di barisan depan dalam membela orang murtad yakni Ahmadiyah di Kuningan Jawa Barat. Kini sebagai mana tahun-tahun yang lalu Banser Ansor akan bertandang di kancah natalan orang Nasrani. Padahal di dalam Islam sudah jelas ada batasan tegas mengenai keyakinan, sedang keyakinan selain Islam itu batil. Sedangkan kepada kebatilan, Ummat Islam dilarang tolong menolong dengannya.

Lebih dari itu, wala’ (loyal, setia, cinta) terhadap kafirin itu dapat mengeluarkan dari Islam. Karena contoh yang dipuji oleh Allah Ta’ala adalah asyidda’u ‘alal kuffari ruhamaau bainahum.

مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ [الفتح : 29]

Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. (QS Al-Fath/ 48: 29).

Tuntunan dari Al-Qur’an sudah jelas, namun barisan di kalangan NU tampaknya beralinan dengan yang ditunjukkan oleh Allah Ta’ala itu, dan mereka memilih jalan sesuai selera nafsu mereka. Contohnya apa yang diberitakan situs voaislam ini:

BANSER ANSOR AKAN AMANKAN NATAL BERSAMA POLISI

SURABAYA (voa-islam.com) – Kesigapan Banser Ansor (organisasi pemuda di kalangan NU – Nahdlatul Ulama) membela non Muslim dan sekte non Islam memang tak perlu diragukan lagi. Tapi sikap yang sangat “baik hati” itu menjadi ironis bila kita lihat sederetan konflik mereka dengan sesama Muslim.

Kepolisian Resor (Polres) Pelabuhan Tanjung Perak melibatkan Barisan Ansor Serbaguna (Banser) untuk mengamankan perayaan Natal dan Tahun Baru di kawasan Tanjung Perak Surabaya.

Selain melibatkan instansi swasta dan pemerintahan, pengamanan kawasan Tanjung Perak ini juga melibatkan ormas Banser. “Banser ini dilibatkan untuk menjalin kerjasama dan kerukunan umat beragama,” terang Kapolres Pelabuhan Tanjung Perak AKBP Yuda Gustawan, Jumat (17/12/2010).

Dia menyebutkan, TNI yang dilibatkan dalam Pengamanan Natal dan Tahun Baru ini antara lain dari Kodim 0830, Kolinamil, Koterm, dan Polairud. Sedangkan dari instansi yang ada di kawasan Tanjung Perak, antara lain KPLP, Port Security, Dishub, Pertamina, PLTU, Bogasari, Organda, RS PHC, PMK, Pramuka, Orari, dan Banser.

Untuk PAM Natal dan Tahun Baru ini disiagakan 257 personel gabungan dari sejumlah kesatuan dan instansi. Mereka akan disebar di 12 titik lokasi peribadatan dan sejumlah keramaian yang banyak dikunjungi warga. Pengamanan yang diberi nama Operasi Lilin Semeru ini, akan dilakukan sejak tanggal 24 Desember 2010 hingga 1 Januari 2011.

Kesigapan Banser Ansor membela non Muslim dan sekte non Islam memang tak perlu diragukan lagi.

….Ketika umat Islam berhadapan dengan sekte sesat Ahmadiyah, Banser Ansor tampil terdepan memagari Ahmadiyah….

Akhir Juli lalu, ketika umat Islam berhadapan dengan sekte sesat Ahmadiyah, Banser Ansor tampil terdepan memagari Ahmadiyah dengan “ancaman” pengerahan 200 ribu pasukan paramiliter. Padahal bentrokan itu diprovokasi terlebih dahulu oleh kelompok Ahmadiyah. Sekte ini dimusuhi umat Islam karena dianggap melecehkan Islam dengan doktrin adanya nabi dan kitab suci baru selain Nabi Muhammad dan Al-Qur’an. (baca: Astagfirullah!! 200 Ribu Banser Ansor Justru Lindungi Ahmadiyah).

Ketua GP Ansor kabupaten Kuningan Muplihudin menyatakan siap menjaga keamanan jemaah Ahmadiyah dengan 200 ribu pasukan. Ia tak peduli akan berhadapan dengan umat Islam yang menginginkan pembubaran Ahmadiyah berdasarkan fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI). Banser juga tak gentar meski langkah umat Islam untuk menyegel masjid sekte Ahmadiyah didukung oleh Bupati Kuningan Aang Hamid Suganda dan Kapolres Kuningan AKBP Yoyoh.

“Jika jumlah 50 ribu personil Banser masih kurang, ada 150 ribu cadangan siap turun membantu untuk memberikan perlindungan kepada Jema‘at Ahmadiyah sambil menunggu perintah Kyai-Kyai Nahdlatul Ulama,” katanya di Kuningan, Jum’at (30/7/2010).

Sikap Banser Ansor yang sangat “baik hati” kepada non Muslim dan sekte non Islam itu menjadi ironis bila kita lihat sederetan konflik mereka dengan sesama Muslim.

Insiden memalukan terjadi di Surabaya, Kamis (11/2/2010), ketika massa anggota Banser bentrok dengan siswa SMA Ta’miriyah Surabaya. Bentrokan sesama warga nahdliyin (NU) ini membuat Saifullah Yusuf, Wakil Gubernur Jawa Timur geram. Mantan Ketua DPP Ansor yang akrab disapa Gus Ipul ini menyayangkan anggota Banser ikut larut dalam konflik lembaga pendidikan itu.

….Banser itu posisinya di tengah-tengah. Mereka tidak boleh terlibat dalam konflik. Tugasnya hanya membentengi Ulama, bukan jadi preman….

“Seharusnya Banser itu posisinya di tengah-tengah. Mereka tidak boleh terlibat dalam konflik. Tugasnya hanya membentengi Ulama, bukan jadi preman, apalagi menyerang sekolah. Ini sangat disayangkan,” kata Gus Ipul geram.

Menurut dia, ini ironis. Sebuah lembaga pendidikan dan organisasi massa yang punya nilai religius malah terjebak dalam aksi dukung mendukung, bahkan sampai berujung bentrok. Ia minta semua pihak menahan diri dan mengikuti jalur hukum untuk menyelesaikan masalah.

Masih dalam suasana tahun baru Hijriyah 1432. Semoga saudara-saudara kita Banser Ansor bisa merealisasikan spirit hijrah untuk lebih cermat mengenali siapa kawan dan siapa lawan.  [m abdul gani/voa-islam.com] .voaislam, Sabtu, 18 Dec 2010

Mestinya bersikap keras terhadap orang murtad seperti Ahmadiyah, namun Ansor juga bersikap lain. Inilah beritanya:

Astagfirullah! 200 Ribu Banser GP Ansor Lindungi Sekte Sesat Ahmadiyah

Kuningan (voa-islam.com) -Bukannya membantu membubarkan Jemaah Ahmadiyah, Gerakan Pemuda Ansor buru-buru memberikan dukungan. Sekitar 150 ribu Barisan Ansor Serbaguna (Banser) justru siap diterjunkan melindungi jemaah Ahmadiyah dari penyerangan ormas.

Hal ini ditegaskan Ketua GP Ansor kabupaten Kuningan Muplihudin kepada wartawan di Kuningan, Juma`at (30/7). GP Ansor siap bahu-membahu dengan jemaah Ahmadiyah untuk melawan kesewenang-wenangan.

…Jika jumlah 50 ribu personil Banser masih kurang ada 150 ribu cadangan siap turun membantu untuk memberikan perlindungan kepada Jema`at Ahmadiyah” katanya…

“Jika jumlah 50 ribu personil Banser masih kurang, ada 150 ribu cadangan siap turun membantu untuk memberikan perlindungan kepada Jema`at Ahmadiyah sambil menunggu perintah Kyai-Kyai Nahdatul Ulama,” katanya. (Voaislam, Sabtu, 31 Jul 2010)

Wala’ terhadap Kafirin dapat mengeluarkan dari Islam

Syaikh Sholeh bin Fauzan Bin Abdillah Al-Fauzan mengungkap 10 gejala wala’ (loyal atau setia) kepada orang kafir dalam kitabnya Al-Irsyad. Di antara gejala itu ada yang dapat mengeluarkan pelakunya dari Islam menjadi murtad.

Untuk lebih jelasnya, kami kutip dua poin (4 dan 5) dari 10 gejala wala’ terhadap orang kafir sebagai berikut:


SEBAGIAN FENOMENA YANG TAMPAK DARI SIKAP WALA’ (LOYAL) KEPADA ORANG KAFIR

4. Membantu kaum kafir dan menolong mereka dalam usaha melawan kaum muslimin, mengirim bantuan dan melindungi mereka.

Ini termasuk hal yang membatalkan keislaman dan menyebabkan seseorang menjadi murtad. Kita berlindung kepada Allah dari hal yang demikian itu.

5. Meminta bantuan kepada kaum kafir, mempercayakan urusan kepada mereka, memberikan kekuasaan kepada mereka agar menduduki jabatan yang di dalamnya ada banyak perkara yang menyangkut urusan kaum muslimin, serta menjadikan mereka sebagai kawan terdekat dan teman dalam bermusyawarah.

Allah Ta’ala berfirman:

{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تَتَّخِذُواْ بِطَانَةً مِّن دُونِكُمْ لاَ يَأْلُونَكُمْ خَبَالاً وَدُّواْ مَا عَنِتُّمْ قَدْ بَدَتِ الْبَغْضَاء مِنْ أَفْوَاهِهِمْ وَمَا تُخْفِي صُدُورُهُمْ أَكْبَرُ قَدْ بَيَّنَّا لَكُمُ الآيَاتِ إِن كُنتُمْ تَعْقِلُونَ.هَاأَنتُمْ أُوْلاء تُحِبُّونَهُمْ وَلاَ يُحِبُّونَكُمْ وَتُؤْمِنُونَ بِالْكِتَابِ كُلِّهِ وَإِذَا لَقُوكُمْ قَالُواْ آمَنَّا وَإِذَا خَلَوْاْ عَضُّواْ عَلَيْكُمُ الأَنَامِلَ مِنَ الْغَيْظِ قُلْ مُوتُواْ بِغَيْظِكُمْ إِنَّ اللّهَ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ.إِن تَمْسَسْكُمْ حَسَنَةٌ تَسُؤْهُمْ وَإِن تُصِبْكُمْ سَيِّئَةٌ يَفْرَحُواْ بِهَا… } (118-120) سورة آل عمران.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang diluar kalangan kamu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu, telah nyata kebencian dari mulut mereka dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka lebih besar lagi, sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat Kami jika kamu memahaminya. Baginilah kamu, kamu menyukai mereka, padahal mereka tidak menyukai kamu dan kamu beriman kepada kitab-kitab semuanya, apabila mereka menjumpai kamu mereka berkata:’Kami beriman’, dan apabila mereka menyendiri mereka menggigit ujung jari lantaran marah bercampur benci terhadap kamu. Katakanlah kepada mereka:’Matilah kamu karena kemarahanmu itu’. Sesungguhnya Allah mengetahui segala isi hati. Jika kamu memperoleh kebaikan, niscaya mereka bersedih hati, tapi jika kamu mendapat bencana mereka bergembira karenanya..” (QS. Al-Imron: 118-120).

Ayat-ayat yang mulia ini mengungkapkan hakekat kaum kafir dan apa yang mereka sembunyikan dari kaum muslimin yang berupa kebencian dan siasat untuk melawan kaum muslimin seperti tipu daya dan penghianatan. Dan ayat ini juga mengungkapkan tentang kesenangan mereka bila kaum muslimin mendapat musibah. Dengan berbagai cara mengganggu ummat Islam. Bahkan kaum kuffar tersebut memanfaatkan kepercayaan ummat Islam kepada mereka dengan menyusun rencana untuk mendiskreditkan dan membahayakan ummat Islam.

Imam Ahmad telah meriwayatkan dari Abu Musa Al-Asy’ari radhiallahu anhu, dia berkata kepada ‘Umar radhiallahu anhu:’Saya memiliki sekretaris yang beragama Nashrani’. ‘Umar berkata:’Mengapa kamu berbuat demikian? Celakalah engkau. Tidakkah engkau mendengar Allah Ta’ala berfirman:

{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تَتَّخِذُواْ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاء بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاء بَعْضٍ …} (51) سورة المائدة.

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nashrani menjadi pemimpin-pemimpinmu, sebagian mereka adalah pemimpin bagi sebagian yang lain…” (QS. Al-Ma’idah: 51).

Kenapa tidak engkau ambil seorang muslim sebagai sekretarismu? Abu Musa menjawab:’Wahai amirul mukminin, saya butuhkan tulisannya dan urusan agama terserah dia’. Umar berkata:’Saya tidak akan memuliakan mereka karena Allah telah menghinakan mereka, saya tidak akan mengangkat derajat mereka karena Allah telah merendahkan mereka dan saya tidak akan mendekati mereka karena Allah telah menjauhkan mereka’.

Imam Ahmad dan Muslim meriwayatkan bahwasannya Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam keluar menuju Badar. Tiba-tiba seseorang dari kaum musyrikin menguntitnya dan berhasil menyusul beliau ketika sampai di Heart, lalu dia berkata:’Sesungguhnya aku ingin mengikuti kamu dan aku rela berkorban untuk kamu’. Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda:”Berimankah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya?”, dia berkata:’Tidak’. Beliau bersabda:”Kembalilah, karena saya tidak akan meminta pertolongan kepada orang musyrik”.

Dari nash-nash tersebut di atas, jelas bagi kita tentang haramnya mengangkat kaum kafir untuk menduduki jabatan pekerjaan kaum muslimin yang mereka nanti akan mengokohkan kedudukannya dengan sarana yang ada padanya untuk mengetahui keadaan kaum muslimin dan membuka rahasia-rahasia mereka atau menipu dan menjerumuskan ummat Islam kedalam kerugian dan kebinasaan. Namun sayang hal ini banyak terjadi pula di negeri kaum muslimin, negeri Haramain syarifain (Saudi Arabiyah) yang menjadikan kaum kuffar sebagai pekerja-pekerja, sopir-sopir, pelayan-pelayan, guru-guru di rumah-rumah yang bergaul bersama mereka keluarga muslim atau membaur dengan kaum muslimin di negerinya. (AL-WALA’ WAL BARA’ DALAM PANDANGAN ISLAM Oleh: Syaikh Sholeh bin Fauzan Bin Abdillah Al-Fauzan : http://ibnusarijan.blogspot.com/2008/06/al-wala-wal-baro-dalam-pandangan-islam_21.html)

Inilah teks tulisan Syaikh Al-Fauzan:

مظاهر موالاة الكفار

4- ومن مظاهر موالاة الكفار إعانتهم ومناصرتهم على المسلمين، ومدحهم والذب عنهم، وهذا من نواقض الإسلام وأسباب الردة؛ نعوذ بالله من ذلك .

الإرشاد إلى صحيح الاعتقاد والرد على أهل الشرك والإلحاد – (1 / 289)

5- ومن مظاهر موالاة الكفار الاستعانة بهم (1) والثقة بهم وتوليتهم المناصب التي فيها أسرار المسلمين واتخاذهم بطانة ومستشارين :

قال الله تعالى : { يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا بِطَانَةً مِنْ دُونِكُمْ لَا يَأْلُونَكُمْ خَبَالًا وَدُّوا مَا عَنِتُّمْ قَدْ بَدَتْ الْبَغْضَاءُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ وَمَا تُخْفِي صُدُورُهُمْ أَكْبَرُ قَدْ بَيَّنَّا لَكُمُ الْآيَاتِ إِنْ كُنْتُمْ تَعْقِلُونَ هَا أَنْتُمْ أُولَاءِ تُحِبُّونَهُمْ وَلَا يُحِبُّونَكُمْ وَتُؤْمِنُونَ بِالْكِتَابِ كُلِّهِ وَإِذَا لَقُوكُمْ قَالُوا آمَنَّا وَإِذَا خَلَوْا عَضُّوا عَلَيْكُمُ الْأَنَامِلَ مِنَ الْغَيْظِ قُلْ مُوتُوا بِغَيْظِكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ إِنَّ تَمْسَسْكُمْ حَسَنَةٌ تَسُؤْهُمْ وَإِنْ تُصِبْكُمْ سَيِّئَةٌ يَفْرَحُوا بِهَا }

فهذه الآيات الكريمة تشرح دخائل الكفار، وما يكنونه نحو المسلمين من بغض، وما يدبرونه ضدهم من مكر وخيانة، وما يحبونه من مضرة المسلمين وإيصال الأذى إليهم بكل وسيلة، وأنهم يستغلون ثقة المسلمين بهم فيخططون للإضرار بهم والنيل منهم .

روى الإمام أحمد عن أبي موسى الأشعري رضي الله عنه؛ قال : قلت لعمر رضي الله عنه : لي كاتب نصراني ! قال : ما لك قاتلك الله ؟ أما سمعت الله يقول : { يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ } ألا اتخذت حنيفا ؟ قال : قلت : يا أمير المؤمنين ! لي كتابته، وله دينه . قال : لا أكرمهم إذ أهانهم الله، ولا أعزهم إذ أذلهم الله، ولا أدنيهم إذ أقصاهم الله .

وروى الإمام أحمد ومسلم : ( أن النبي صلى الله عليه وسلم خرج إلى بدر، فتبعه رجل من المشركين، فلحقه عند الحرة، فقال إني أردت أن أتبعك وأصيب معك قال تؤمن بالله ورسوله ؟ قال لا قال ارجع؛ فلن أستعين بمشرك ) (2) .

الإرشاد إلى صحيح الاعتقاد والرد على أهل الشرك والإلحاد – (1 / 290)

ومن هذه النصوص يتبين لنا تحريم تولية الكفار أعمال المسلمين التي يتمكنون بواسطتها من الاطلاع على أحوال المسلمين وأسرارهم ويكيدون لهم بإلحاق الضرر بهم .

ومن هذا ما وقع في هذا الزمان من استقدام الكفار إلى بلاد المسلمين -بلاد الحرمين الشريفين- وجعلهم عمالا وسائقين ومستخدمين ومربين في البيوت، وخلطهم مع العوائل أو خلطهم مع المسلمين في بلادهم .

) الكتاب :الإرشاد إلى صحيح الاعتقاد والرد على أهل الشرك والإلحاد (1 / 287)

تأليف : فضيلة الشيخ صالح بن فوزان بن عبد الله آل فوزان)

(nahimunkar.com)