Masalah Pemurtadan terhadap Korban Gempa Sumbar

وَلَن تَرْضَى عَنكَ الْيَهُودُ وَلاَ النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ قُلْ إِنَّ هُدَى اللّهِ هُوَ الْهُدَى وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءهُم بَعْدَ الَّذِي جَاءكَ مِنَ الْعِلْمِ مَا لَكَ مِنَ اللّهِ مِن وَلِيٍّ وَلاَ نَصِيرٍ ﴿١٢٠﴾

120. Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu. (QS Al-Baqarah/ 2: 120).

masalah-pemurtadan-korban-gempa[muslimdaily.net]

“Harga Islam bukanlah sebungkus mie instan. Lebih baik masyarakat makan tanah dan berlindung di bawah langit dari pada aqidah berubah,” kata Mantan Ketua Dewan Dakwah Islamiah Indonesia (DDII) Provinsi Sumatra Barat (Sumbar), Buya H. Mas`oed Abidin mengingatkan masyarakat.

Dugaan kasus pemurtadan di kawasan Patamuan, Padang Alai, Kabupaten Padang Pariaman, tercium pihak Polresta Pariaman sehingga berhasil menyita 24 buah Injil.

Selain itu, juga selebaran dan komik anak-anak dengan judul “Si Bodoh” dan “Bagaimana Caranya jadi Kaya” yang diduga komik itu disebarkan ke sekolah-sekolah.

Selanjutnya, ketiga pelaku pemurtadan itu juga datang dalam rangka memberikan bantuan uang, yakni bagi orang dewasa Rp10 ribu/orang, anak-anak Rp5.000/orang.

Kasat Reskrim Polresta Pariaman, AKP Hendri Yahya, menyebutkan ada tiga orang pelaku, St dan RG asal California, AS didampingi penerjemah mereka Doni dari Jakarta.

Inilah peringatan terhadap masyarakat Sumbar:

Masyarakat Sumbar Jangan Berubah Aqidah Karena Bantuan

Antara – Jumat, Oktober 30

Masyarakat Sumbar Jangan Berubah Aqidah Karena Bantuan

Padang (ANTARA) – Mantan Ketua Dewan Dakwah Islamiah Indonesia (DDII) Provinsi Sumatra Barat (Sumbar), Buya H. Mas`oed Abidin mengingatkan masyarakat daerah itu, terutama yang terkena bencana gempa bumi 30 September 2009 jangan sampai berubah aqidah karena berharap bantuan.

Buya Mas`oed Abidin menyatakan itu, ketika diminta tanggapannya adanya penyitaan 24 buah Injil, selebaran dan komik anak-anak oleh Polresta Padang Pariaman, Kamis.

Dia sangat menyayangkan adanya relawan yang berkedok menyalurkan bantuan kemanusiaan untuk memurtadkan (mengkafirkan) masyarakat yang memeluk Islam.

“Betul sejumlah masyarakat Sumbar pascagempa tengah berada dalam keadaan susah, lapar dan rumah rusak tetapi bukan berharap bantuan untuk mengubah aqidah (agama) mereka,” kata buya menyesalkan ulah oknum tak bertanggung jawab tersebut.

Jadi, relawan yang ingin merusak aqidah masyarakat Minang, agar kembali sadar dan sebaiknya kembali bawa misi tersebut jauh-jauh.

“Masyarakat korban benar berharap bantuan tetapi yang disalurkan dengan ikhlas tanpa ada iming-imingnya mengkafirkan,” katanya dan menambahkan, kalau ada “udang dibalik batu” sebaiknya tak disalurkan bantuan.

Justru itu, masyarakat Sumbar yang berada di daerah terkena bencana gempa beberapa waktu lalu, diminta tak terpengaruh dengan bantuan yang sampai merubah aqidah.

“Harga Islam bukanlah sebungkus mie instan. Lebih baik masyarakat makan tanah dan berlindung di bawah langit dari pada aqidah berubah,” katanya mengingatkan masyarakat.

Dugaan kasus pemurtadan di kawasan Patamuan, Padang Alai, Kabupaten Padang Pariaman, tercium pihak Polresta Pariaman sehingga berhasil menyita 24 buah Injil.

Selain itu, juga selebaran dan komik anak-anak dengan judul “Si Bodoh” dan “Bagaimana Caranya jadi Kaya” yang diduga komik itu disebarkan ke sekolah-sekolah.

Selanjutnya, ketiga pelaku pemurtadan itu juga datang dalam rangka memberikan bantuan uang, yakni bagi orang dewasa Rp10 ribu/orang, anak-anak Rp5.000/orang.

Kasat Reskrim Polresta Pariaman, AKP Hendri Yahya, menyebutkan ada tiga orang pelaku, St dan RG asal California, AS didampingi penerjemah mereka Doni dari Jakarta.

“Kita sudah mengopi paspor dan identitasnya mereka, kini tengah dilacak organisasi mereka,” katanya dan menambahkan, pihaknya belum bisa menetapkan tindakan atas kasus tersebut. Bila sudah, Mabes Polri yang akan menangani.

Data dihimpun tercium tindak misionaris itu, beredarnya video hasil rekaman ponsel berisi ajakan murtad berdurasi 48 detik di Kabupaten Padang Pariaman.

http://id.news.yahoo.com/antr/20091030/tpl-masyarakat-sumbar-jangan-berubah-aqi-cc08abe.html

Inilah berita praktek pemurtadan:

Upaya Pemurtadan Atas Korban Gempa Sumbar Bukan Isapan Jempol

http://www.muslimdaily.net/berita/lokal/4351/upaya-pemurtadan-atas-korban-gempa-sumbar-bukan-isapan-jempol

Diposting pada Senin, 26-10-2009 | 10:41:10 WIB

Lagi-lagi upaya pendangkalan akidah dan pemurtadan terjadi kepada korban dalam musibah gempa. Seperti kejadian-kejadian gempa dan musibah sebelumnya, pemurtadan kali ini terjadi di daerah Korong Koto Tinggi, Kenagarian Gunung Padang Alai, Kecamatan Koto Timur, Padang Pariaman, Sumatera Barat.

Menurut keterangan warga setempat, kejadian itu tidak berlangsung serta merta namun berjalan pelan dan pasti. Upaya pemurtadan ini dilakukan oleh sebuah LSM bernama Samaritan yang mendapat bantuan dari luar negeri (AS-red). Modus pemurtadan dengan mengajarkan anak-anak setempat pengenalan pada tuhan agama tertentu.

“Siapa tuhan mu?” begitu ucap sang relawan saat mendidik anak-anak di pengungsian, ditirukan oleh warga setempat saat menerangkan modus-modus pendangkalan akidah.

“Alloh SWT” jawab anak-anak itu.

“Bukan Alloh SWT (pengucapan dengan O atau akses Arab), tetapi Allah (pengucapan dengan huruf A)” kata sang relawan.

“Kalian tahu Isa? Siapakah beliau?” tanya sang relawan lagi.

“Isa adalah seorang Nabi dan Rasul yang harus diimani.” demikian kurang lebih jawaban anak-anak.

“Bukan, Isa adalah seorang anak Allah yang suci” jawab sang relawan.

Demikian pengajaran yang disampaikan kepada anak-anak di kamp pengungsian sebagai terapi mental. Padahal, anak-anak yang diajarkan itu adalah para pemeluk Islam.

Modus lain yang dipakai adalah janji tawaran bantuan yang diberikan oleh LSM kepada warga setempat. Oleh LSM itu, warga sekampung dijanjikan akan selalu dipasok dengan bantuan logistik selama tiga tahun penuh dengan kehadiran 5 helikopter setiap hari non stop, minimal 2 helikopter.

Daerah Koto Tinggi terletak di kawasan pegunungan dan perbukitan yang cukup berat diakses dari darat mengingat lalu lintas jalan terputus total. Bangunan-bangunan yang ada hampir semua rubuh dan rusak parah.

Sebuah tawaran yang sangat menggiurkan warga setempat di tengah badai musibah gempa. Namun, proposal bantuan menggiurkan itu oleh warga ditolak dengan alasan keimanan.

Oleh warga, dikatakan bahwa jika memang bantuan itu diberikan secara cuma-cuma tanpa ada embel-embel harus berpindah agama keluar dari Islam mereka akan menerima dengan tangan terbuka.

Sayangnya, kata warga, persyaratan yang diajukan oleh LSM itu sangat berat. Warga diminta berganti agama secara benar-benar dan harus selalu menghadiri acara-acara siraman rohani agama barunya itu dan sudah tidak boleh lagi pergi ke masjid dan menghadiri acara-acara keislaman.

Serentak, sekitar 100 warga sepakat menandatangani nota bersama untuk mengusir dengan terpaksa LSM itu karena dianggap memaksakan kehendaknya untuk berganti keyakinan dan melanggar hukum.

Pengaruh yang diperoleh warga kampung setempat, mereka harus rela berpuasa terlebih dahulu menunggu kiriman bantuan yang ditempuh dari jalur darat, mengingat kecilnya kemampuan para relawan dalam negeri dalam fasilitas.

Hingga saat ini, kiriman bantuan yang mereka peroleh baru berasal dari lembaga Majelis Mujahidin dan Mer-C. Demikian keterangan dari M. Shiddieq, ketua tim relawan Korp Majelis Mujahidin Sumatera Barat.

Atas kejadian ini, Shiddieq menghimbau agar pemerintah dan lembaga-lembaga bantuan Islambisa segera mengirimkan bantuan ke daerah …. atau daerah lain yang juga terpencil dan sulit diakses bantuan.

“Saya yakin masih ada daerah lain yang seperti ini.” ujarnya.

Daerah-daerah lain yang mau menerima proposal LSM Samaritan dan yang semisalnya, memang secara tampak luar memperoleh bantuan yang lebih layak dan lancar dibanding dengan daerah yang menolak. Kehidupan mereka tampak lebih makmur.

“Kami berharap, para relawan muslim dan relawan lain yag ikhlas membantu, bisa segera datang ke desa Korong Koto Tinggi untuk membantu daerah ini.” demikian harap Shidieq kepada Muslimdaily. [muslimdaily.net]

http://www.muslimdaily.net/berita/lokal/4351/upaya-pemurtadan-atas-korban-gempa-sumbar-bukan-isapan-jempol

(Redaksi nahimunkar.com)