Masjid Mau Dijadikan Sarana Bisnis Oleh Dewan Masjid?

Kepentingan Yahudi kah?

Ada berita baru. Fenomenanya, masjid akan dijadikan sarana bisnis, bahkan pemrakarsanya Dewan Masjid Indonesia Pusat (DMI).

Bagaimana ceritanya, ketika selama ini lembaga itu jarang terdengar kiprahnya yang menguntungkan Islam (malahan pernah terdengar akan dijadikan sarana untuk kebulatan tekad di zaman Soeharto namun digagalkan Menteri Agama, lalu ketua umumnya sakit berlama-lama kemudaian wafat), tahu-tahu kini akan menjadikan masjid-masjid sebagai lahan bisnis. Padahal Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memperingatkan dengan sabdanya:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا رَأَيْتُمْ مَنْ يَبِيعُ أَوْ يَبْتَاعُ فِي الْمَسْجِدِ فَقُولُوا لَا أَرْبَحَ اللَّهُ تِجَارَتَكَ وَإِذَا رَأَيْتُمْ مَنْ يَنْشُدُ فِيهِ ضَالَّةً فَقُولُوا لَا رَدَّ اللَّهُ عَلَيْكَ قَالَ أَبُو عِيسَى حَدِيثُ أَبِي هُرَيْرَةَ حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ

Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jika kalian melihat orang menjual atau membeli di dalam masjid, maka katakanlah; Semoga Allah tidak memberi keuntungan kepada barang daganganmu. Jika kalian melihat orang yang mengumumkan sesuatu yang hilang di dalamnya maka katakanlah; Semoga Allah tidak mengembalikannya kepadamu.” Abu Isa berkata; Hadits Abu Hurairah adalah hadits hasan gharib. (HR At-Tirmidzi – 1242).

عَنْ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ مَوْلَى شَدَّادِ بْنِ الْهَادِ أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا هُرَيْرَةَ يَقُولُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ سَمِعَ رَجُلًا يَنْشُدُ ضَالَّةً فِي الْمَسْجِدِ فَلْيَقُلْ لَا رَدَّ اللَّهُ عَلَيْكَ فَإِنَّ الْمَسَاجِدَ لَمْ تُبْنَ لِهَذَا

Dari Abu Abdullah mantan budak Syaddad Ibnul Had, bahwasanya ia mendengar Abu Hurairah berkata; Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa mendengar seseorang mengumumkan barang hilang di masjid, maka hendaklah ia mengatakan; ‘Semoga Allah tidak mengembalikannya kepadamu, ‘ sebab masjid tidak dibangun untuk ini .” (HR Ibnu Majah – 759)

Dalam hal membisniskan Masjid, kasus ini memang “belum” sampai ke ruang masjid, baru menaranya, mau untuk menara transceiver station atau menara telekomunikasi telepon seluler. Namun bagaimanapun itu sudah dapat disebut membisniskan masjid, yang kemungkinan akan merambah ke ruang masjid. Sedang dibangunnya Masjid, tidak untuk itu, menurut Nabi Muhammad shallahu ‘alaihi wa sallam, Di samping itu, belum lagi masalah radiasi dan masalah-masalah lainnya yang ditimbulkan. Apalagi khabarnya kan Yahudi telah masuk ke jaringan bisnis itu. Siapa tahu itu akal bulus Yahudi pula demi kepentingan anti Islamnya? Maka penolakan Walikota Bogor terhadap akan dijadikannya menara masjid sebagai menara telekomunikasi, itu langkah yang insya Allah tepat. Perlu diikuti oleh yang lain.

Inilah beritanya:

Tak Sesuai Dakwah, Walikota Bogor Tolak Menara Masjid Jadi BTS

Bogor (voa-islam.com) – Dinilai sarat dengan bisnis dan tak selaras dengan dakwah Islamiyah, Wali Kota Bogor, Diani Budiarto menyatakan menolak program yang akan digulirkan Dewan Masjid Indonesia Pusat yakni menjadikan menara masjid sebagai menara transceiver station atau menara telekomunikasi.

Menurut Diani, program pemberdayaan umat dengan menjadikan menara masjid sebagai BTS tidaklah tepat, karena masjid adalah tempat ibadah bukan tempat untuk berbisnis.

…Mainstreamnya saat ini bagaimana kita mengajak masyarakat untuk ramai-ramai mendatangi masjid untuk beribadah. Kalau mau berbisnis jangan di masjid,” kata Wali Kota….

“Jangan masjid dibebani dengan hal-hal yang signifikan. Mainstreamnya saat ini bagaimana kita mengajak masyarakat untuk ramai-ramai mendatangi masjid untuk beribadah. Kalau mau berbisnis jangan di masjid,” kata Wali Kota saat ditemui usai pelepasan calon jemaah haji, Senin (11/10/2010).

Wali Kota menegaskan, masjid adalah tempat mengurus ibadah, kalau ada penambahan program pengembangan masjid hendaknya bukan dengan menjadikan menara sebagai BTS, tapi dengan membentuk ekonomi syariah.

“Saat ini kita sedang melakukan maratul masjid, bagaimana mengajak umat untuk meramaikan masjid. Jika dijadikan tempat bisnis tidak sesuai dengan norma. Kalau masjid sudah penuh dengan jemaah baru kita berbicara bisnis lain,” kata walikota.

Wali Kota menyebutkan, program menjadikan menara masjid sebagai BTS sebagai salah satu bisnis.

Penolakan telah dilakukan jauh-jauh hari saat DMI mengajukan program tersebut di Kota Bogor, beberapa penawaran pengajuan izin dari perusahaan telekomunikasi juga sudah ditolak Pemkot Bogor.

“Yang terpenting mesjid adalah tempat ibadah, tugas DMI masih banyak tidak hanya mengurus bisnis. Bagaimana mengajak masyarakat memakmurkan masjid, umat mau beribadah itu yang harus dilakukan,” ujar Diani.

Program pengembangan menara masjid sebagai BTS merupakan program DMI Pusat, secara otonomi Wali Kota Bogor menolak program tersebut karena dinilai tidak efektif untuk memakmurkan masjid.

Menurut wali kota, keuntungan yang akan diperoleh dari mengubah menara mesjid sebagai BTS tidak sebanding dengan mengubah masjid sebagai lahan bisnis, karena memakmurkan masjid bukan dengan cara bisnis. Ia pun dengan tegas siap membangun sejumlah menara di masjid yang belum memiliki menara tanpa dijadikan sebagai BTS. “Berapa dana membangun menara masjid, saya bantu,” ucapnya.

Program pengembangan menara masjid sebagai menara BTS yang digulirkan DMI Pusat betujuan sebagai pintu masuk dalam meningkatkan fungsi masjid untuk pemberdayaan ekonomi umat.

Pengelolaan menara masjid untuk tower BTS tersebut akan menganut sistem bagi hasil yang dikelola secara langsung oleh takmir masjid setempat.

Pendapatan yang diperoleh takmir masjid dengan menyewakan lahannya kepada provider telepon selular dan dananya akan diputar oleh takmir masjid yang bersangkutan untuk pendirian BPR Syariah.

Setiap bulan, DKM-DKM Masjid akan memperoleh bagi hasil sekitar Rp 4 juta. Marbot masjid atau orang yang setiap hari mengurus masjid juga akan dilibatkan dalam mengurus BTS.

Pembangunan menara BTS melalui menara masjid sudah dilakukan di 10 masjid yang ada di Indonesia, antara lain di Bandung, Jakarta, Depok, Jogjakarta, dan di Jawa Timur.

Rencananya, pencanangan menara masjid berfungsi sebagai BTS akan dilakukan Presiden Susilo Bambang Yudhyono. (LieM/trb)

Voaislam, Selasa, 12 Oct 2010

Bagaimana ini?

Berjamaah shalat ke masjid tiap waktu belum tentu mau, malah mau merekayasa masjid sebagai tempat bisnis. Apa nggak salah ini kang?

(nahimunkar.com)