Masya Allah, Terungkap di Pengadilan, Petinggi Polri Merekayasa Kasus Antasari

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا فِي كُلِّ قَرْيَةٍ أَكَابِرَ مُجَرِمِيهَا لِيَمْكُرُواْ فِيهَا وَمَا يَمْكُرُونَ إِلاَّ بِأَنفُسِهِمْ وَمَا يَشْعُرُونَ ﴿١٢٣﴾

123. Dan demikianlah Kami adakan pada tiap-tiap negeri penjahat-penjahat yang terbesar agar mereka melakukan tipu daya dalam negeri itu. Dan mereka tidak memperdayakan melainkan dirinya sendiri, sedang mereka tidak menyadarinya. (QS Al-An’am/ 6: 123).

مَن كَانَ يُرِيدُ الْعِزَّةَ فَلِلَّهِ الْعِزَّةُ جَمِيعاً إِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ يَرْفَعُهُ وَالَّذِينَ يَمْكُرُونَ السَّيِّئَاتِ لَهُمْ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَكْرُ أُوْلَئِكَ هُوَ يَبُورُ ﴿١٠﴾

010. Barangsiapa yang menghendaki kemuliaan, maka bagi Allah-lah kemuliaan itu semuanya. Kepada-Nyalah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang saleh dinaikkan-Nya. Dan orang-orang yang merencanakan kejahatan, bagi mereka azab yang keras, dan rencana jahat mereka akan hancur. (QS Fathir/ 35: 10).

***

Menurut WW, para petinggi polri itu memintanya membuat BAP yang harus menjerat Antasari sebagai pelaku utama pembunuhan Nasrudin. Lalu BAP WW disamakan dengan BAP Sigid Haryo Wibisono. Sebelum menandatangani BAP rekayasa itu, WW mendapat jaminan bahwa ia hanya akan mendapat sanksi indisipliner saja. Karena jaminan itu, WW pun bersedia menandatangani BAP yang sudah dibuat penyidik.

Lain janji lain kenyataan. Pagi harinya, WW justru ditetapkan sebagai salah satu tersangka kasus pembunuhan Nasrudin. Maka, WW pun melayangkan protes. Usai protes itulah WW dijemput Brigjen (Pol) Irawan Dahlan dan langsung dibawa ke kantor Inspektur Jenderal Hadiatmoko. Selanjutnya ditahan.

***

Pengakuan fakta mengejutkan

Belum reda keterkejutan publik terhadap adanya dugaan rekayasa terhadap sejumlah petinggi KPK, atau bisa disebut dengan kriminalisasi KPK, kini muncul lagi sebuah kejutan dari persidangan kasus pembunuhan Direktur PT Putra Rajawali Banjaran Nasrudin Zulkarnaen, Selasa, 10 November 2009, bertepatan dengan Hari Pahlawan, sepekan setelah Mahkamah Konstitusi (MK) memperdengarkan rekaman hasil sadapan KPK terhadap nomor telepon Anggodo.

Pada persidangan kala itu yang mendudukkan Antasari Azhar sebagai tersangka, dihadirkan salah seorang saksi kunci yang juga tersangka, Williardi Wizard (WW), perwira menengah Polri berpangkat Komisaris Besar (Kombes) dengan jabatan terakhir sebagai Kapolres Jakarta Selatan. Di persidangan WW mengungkapkan fakta mengejutkan bahwa kasus Antasari merupakan skenario polisi.

“Jadi waktu itu saya dikondisikan oleh direktur, wadir, kabag, kasat, semuanya hadir di situ. Mereka menyebutkan kalau sasaran kita hanya Antasari. Saya diperlihatkan BAP-nya Sigid dibacakan kepada saya minta disamakan saja.” Demikian ungkap WW sebagaimana dikutip berbagai media massa.

Sebagaimana diketahui, WW bersama Antasari Azhar dan Sigid Haryo Wibisono didakwa melakukan pembunuhan berencana terhadap Nasrudin. Ketiganya terancam hukuman mati. Nasrudin Zulkarnaen ditembak mati pada 14 Maret 2009 di Padang Golf Modernland, Kota Tangerang, Provinsi Banten. Nasrudin tewas akibat dua butir peluru menembus kepalanya.

Sehubungan dengan dugaan atau sangkaan keterlibatannya itu, WW sudah menandatangani BAP (Berita Acara Pemeriksaan) pada tanggal 29 April 2009. Namun, pada suatu hari sekitar pukul 00:30 wib, WW dijemput dari rumahnya ke kantor polisi. Di kantor polisi WW diperiksa oleh Inspektur Jenderal Hadiatmoko yang saat itu menjabat sebagai Wakil Kepala Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri (kini staf ahli Kapolri), juga oleh Komisaris Besar Mohammad Iriawan yang saat itu menjabat sebagai Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya (kini Wakil Direktur Keamanan dan Kejahatan Transnasional Bareskrim Polri). Selain kedua petinggi tadi, saat itu hadir pula tiga orang kepala satuan (kasat).

Menurut WW, para petinggi polri itu memintanya membuat BAP yang harus menjerat Antasari sebagai pelaku utama pembunuhan Nasrudin. Lalu BAP WW disamakan dengan BAP Sigid Haryo Wibisono. Sebelum menandatangani BAP rekayasa itu, WW mendapat jaminan bahwa ia hanya akan mendapat sanksi indisipliner saja. Karena jaminan itu, WW pun bersedia menandatangani BAP yang sudah dibuat penyidik.

Lain janji lain kenyataan. Pagi harinya, WW justru ditetapkan sebagai salah satu tersangka kasus pembunuhan Nasrudin. Maka, WW pun melayangkan protes. Usai protes itulah WW dijemput Brigjen (Pol) Irawan Dahlan dan langsung dibawa ke kantor Inspektur Jenderal Hadiatmoko. Selanjutnya ditahan.

Di hadapan majelis hakim, WW membantah tuduhan bahwa dirinya menugaskan dan memerintahkan para eksekutor untuk membunuh Nasrudin Zulkarnaen. Rencana aksi pembunuhan ini dikoordinasi oleh Sigit Haryo Wibisono, dan keterlibatan WW di sini karena merupakan tugas negara yang diinstruksikan petinggi kepolisian. Sebelum pembunuhan itu terjadi, ketika itu WW bertemu Sigit yang sedang melakukan sambungan telepon dengan Sekretaris Pribadi Kapolri bernama Arif. WW mendengar percakapan antara Sigit dengan Arif bahwa Kapolri telah menugaskan kepada mantan Kapolres Jakarta Selatan Komisaris Besar Chairul Anwar sebagai ketua tim untuk melakukan tugas negara, dan mengantarkan amplop coklat itu kepada Sigit.

Menurut WW, dalam tugas negara itu dibentuklah empat tim. WW ditugaskan Sigit merekrut beberapa orang di luar kepolisian dan TNI untuk melakukan tugas negara. Sehubungan dengan hal ini, WW Jerry Hermawan Lo untuk merekrut eksekutor yang bisa menghabisi Nasruddin. Akhirnya, Jerry berhasil merekrut Edo (Eduardus Ndopo Mbete) dan beberapa temannya untuk melaksanakan tugas negara itu. WW pun dipertemukan dengan Edo oleh Jerry.

Pengakuan mengejutkan WW dibenarkan oleh isterinya, Nova, sebagaimana bisa disimak di berbagai siaran teve swasta. Menurut Nova, apa yang dikatakan suaminya di persidangan adalah hal yang sebenar-benarnya.

Sehari kemudian, polri mengelar jumpa pers untuk meng-counter pengakuan WW. Pada jumpa pers yang dipimpin oleh Kadiv Humas Polri, Irjenpol Nanan Sukarna, ada di perlihatkan cuplikan rekaman yang menggambarkan suasana ketika WW dan Antasari Azhar sedang disidik.

Selain itu, juga ditayangkan cuplikan pernyataan Antasari Azhar yang dalam balutan busana khas tahanan, yang menurut polri mengarah kepada kriminalisasi KPK. Polri balik menuduh, justru Antasari-lah yang bermaksud mengkriminalisasikan KPK. Sehari kemudian, Kamis 12 November 2009, pernyataan polri itu diluruskan oleh salah seorang kuasa hukum Antasari, bahwa pernyataan kliennya itu selengkapnya adalah bila kejaksaan dan kepolisian sudah berjalan baik di dalam memberantas korupsi maka KPK tidak diperlukan lagi. Pernyataan Antasari serupa itu juga pernah diungkapkan oleh Irjenpol (purn) Taufiqurrahman Ruki, yang juga mantan Ketua KPK. (lihat artikel nahimunkar.com berjudul Kotornya Permainan antara Cukong, Koruptor, dan Pejabat di Indonesia edisi November 6, 2009 9:44 pm).

Kapolri diantaranya membantah, bahwa tidak mungkin WW mengalami tekanan sebab aparat yang memeriksanya rata-rata berpangkat lebih rendah. Sementara itu, Kadiv Humas Mabes Polri Inspektur Jenderal Nanan Soekarna menegaskan, penyidik tidak memerlukan kesaksian WW untuk membuktikan Antasari terlibat dalam pembunuhan Nasrudin. Selain itu, Nanan Soekarna juga menegaskan, polisi tidak pernah memaksa Antasari membuat testimoni, tetapi Antasari sendiri yang menunjukkan file testimoni di dalam laptopnya.

Sekeras apapun polri membantah, nampaknya masyarakat tidak beranjak dari pendiriannya bahwa memang telah terjadi kriminaliasai terhadap KPK. Polri sudah seharusnya lebih mendalam di dalam memahami psikologi massa dan komunikasi massa. Sehingga, bantahannya tidak justru semakin membuat masyakat kian tak beranjak dari pemahamannya. Masyarakat sudah bisa membedakan antara bantahan yang tulus, jujur, dan faktual dengan bantahan yang merupakan hasil rekayasa.

Menyiksa dan Merubah BAP

Menurut Neta S. Pane (Ketua Presidium Indonesia Police Watch), sudah menjadi rahasia umum kalau polisi biasa dengan mudahnya mengutak-atik atau menggeser-geser BAP. Anatar lain, menurut Neta, sebagaimana terjadi pada para eksekutor Nasrudin yang disiksa untuk mendapatkan BAP yang diarahkan.

(http://megapolitan.kompas.com/read/xml/2009/11/11/11462057/Periksa.Tiga.Petinggi.Polri.Dalam.Kesaksian.Wiliardi.)

Salah satunya, Daniel Daen Sabon. Ia ditangkap di pelabuhan, dan langsung dibawa masuk ke dalam mobil dalam keadaan tertutup lalu dipukuli. Selain dipukuli, Daniel juga mengaku mendapat siksaan lagi ketika dibawa ke sebuah hotel untuk diinterogasi. “Di hotel kaki saya diborgol. Lalu dibalik, kaki saya di atas kepala saya di bawah…”

(http://www.detiknews.com/read/2009/11/09/140450/1238153/10/daniel-disiksa-dalam-keadaan-kaki-di-atas-kepala-di-bawah). Keesokan harinya barulah dibuat BAP. Di hadapan hakim, Daniel mencabut BAP-nya. Daniel juga mengaku mendapat ancaman akan dibunuh, namun ia takut menyebutkan siapa pengancamnya.

Daniel mengaku penyiksaan seperti itu dia alami sejak sekitar pukul 21.00 WIB hingga pagi. Akibat penyiksaan yang dialaminya, Daniel mengaku sempat tidak bisa berjalan. Sekujur tubuhnya sakit karena dipukuli dan digantung terbalik. Daniel tidak ingat siapa-siapa yang menyiksa dia di hotel. Dalam kasus ini, Daniel berperan sebagai eksekutor yang menembakkan peluru ke kepala Nasrudin. Saat menjalankan aksinya, Daniel dibonceng oleh terdakwa lainnya yaitu Heri Santoso.

Bila benar pengakuan WW bahwa ada rekayasa terhadap kasus Antasari ini, maka betapa menyeramkannya institusi kepolisian ini. Perwira menengah yang masih aktif saja bisa direkayasa, begitu juga dengan seniornya (Irjenpol Purn. Bibit S. Rianto), bagaimana pula dengan rakyat biasa? Tentu tak dapat dibayangkan. (haji/tede)