Kampung Bugis, Denpasar, usai penggusuran (David Saut/detikcom)


Jakarta – Sebanyak 36 keluarga yang menjadi korban penggusuran di Kampung Bugis, Serangan, Denpasar, Bali, masih bertahan di sekitar kampung. Total ada sekitar 250 jiwa yang kini melanjutkan hidup dengan pikiran ‘mau tinggal di mana sekarang’.

Pantauan detikcom di lokasi, Rabu (4/1/2017) pukul 16.00 Wita, kampung bersejarah ini memiliki tiga cagar budaya, yakni Masjid As-Syuhada, rumah panggung suku Bugis, dan makam tua. Warga korban penggusuran oleh Siti Maisarah itu bertahan di masjid dan rumah panggung tua tersebut.

Lahan yang masih diwarnai puing-puing bekas rumah warga dipasangi pagar dari seng kecuali rumah panggung dan masjid. Warga pun pasrah dan berlalu-lalang di gang selebar 3 meter dengan pemandangan tembok seng.

Foto: David Saut/detikcom
Kampung Bugis, Denpasar, usai penggusuran

Walau demikian, anak-anak dan muda-mudi Kampung Bugis tetap beraktivitas belajar mengaji dan membaca Alquran di masjid bersejarah tersebut. Ternak-ternak warga, seperti ayam, kambing, dan sapi, dibiarkan berkeliaran di jalanan dan sekitar lapangan kosong yang kini menjadi pusat bantuan.

Bantuan yang datang adalah 9 unit tenda besar untuk menampung warga beristirahat, menempatkan barang-barang mereka, dapur umum, dan keperluan warga lainnya. Satu unit truk MCK, dua unit truk air bersih, dan satu unit tower air diparkir di dekat tenda-tenda tersebut.

Foto: David Saut/detikcom
Kampung Bugis, Denpasar, usai penggusuran

Di sekitar masjid, warga juga membangun dapur umum secara mandiri. Mereka juga mendapatkan bantuan dari Bendesa Adat Serangan, Pemkot Denpasar, dan Pemprov Bali serta PMI bersama BPBD Bali.

“Sebanyak 36 KK itu sekitar 250 jiwa karena 1 KK itu ada yang 6 orang dan 5 orang. Total di kampung ini ada 98 KK yang seluruhnya keturunan Bugis, karena sudah aturan adat kampung ini. Kita bahasa sehari-hari di sini bahasa Bugis,” kata Kepala Lingkungan Kampung Bugis, Mohadi, saat ditemui di lokasi.

Foto: David Saut/detikcom
Kampung Bugis, Denpasar, usai penggusuran

Ketika ditanya perihal rencana tempat tinggal selanjutnya, Mohadi hanya bisa pasrah dengan mengatakan solusi akan dicari bersama antara warga Kampung Bugis, korban penggusuran, desa adat, dan pemerintah setempat. Namun ia tak berharap banyak selain papan yang bisa membuatnya berkata, ‘ayo mampir ke rumah saya’.

“Saya mau bilang, ayo ke rumah saya, tapi saya nggak bisa lagi karena tak punya rumah. Untuk sementara, warga tinggal di masjid dan ada juga yang di rumah saudaranya, juga sumbangan tenda. Ya, itu saja yang kita manfaatkan sementara ini,” kata Mohadi.

“Sekarang ini masalah kemanusiaan saja, soal kelangsungan hidup kita. Ya kita harapkan Pemprov Bali sebagai ujung tombak (membantu), kalau ada ya kita siap akan menerima,” tambahnya.

Foto: David Saut/detikcom
Kampung Bugis, Denpasar, usai penggusuran

Mohadi sempat menyinggung pula masalah kesehatan dan psikologi anak-anak yang menjadi korban penggusuran tersebut. Memang, sejumlah anak-anak di lokasi penggusuran nekat menerobos pagar seng hanya untuk mengambil buku-buku pelajaran mereka dari balik puing-puing bekas istana orang tuanya.

Seperti yang diketahui, penggusuran ini terjadi pada Selasa (3/1) kemarin. Penggusuran sempat diwarnai kericuhan antara warga Kampung Bugis dan polisi ketika 7 backhoe memasuki area kampung mereka.

Seorang perwira dari Brimob Polda Bali terkena anak panah dalam kerusuhan tersebut. Polisi juga sempat mengamankan ratusan anak panah dan 10 pria akibat dari kericuhan itu.

Eksekusi lahan seluas 94 are ini sesuai dengan putusan Mahkamah Agung yang menyatakan tanah milik Siti Maisarah, yang bekas warga Kampung Bugis tersebut. Namun warga melawan putusan itu dengan berpendapat bahwa tanah Kampung Bugis adalah pemberian Kerajaan Pemecutan kepada pelaut Bugis yang terdampar pada ratusan tahun lalu.
(vid/idh)

Sumber: news.detik.com

(nahimunkar.com)