Memalukan, Jatim Paling Banyak Pesantrennya tapi Ada Pusat Pelacurannya

Kiai NU merasa malu, Jawa Timur paling banyak pesantrennya, tetapi ada pusat pelacurannya bahkan paling besar. Maka penutupan pusat pelacuran Dolly hendaknya benar-benar dilaksanakan, bukan sekadar wacana. Muhammadiyah pun mendesak untuk ditutupnya pusat maksiat yang dimurkai Allah Ta’ala dan diancam adzab itu. Dan hendaknya sebagaimana Pemda DKI Jakarta yang mampu mengubah tempat maksiat Kramat Tunggak menjadi Islamic Center, di Surabaya pun demikian.

Desakan dua Ormas Islam terbesar di Indonesia agar ditutupnya pusat pelacuran Dolly itu beritanya sebagai berikut:

NU dan Muhammadiyah Jatim Dukung Penutupan Lokalisasi Dolly

Tuesday, 09 November 2010 07:44 NASIONAL

Alasan penolakan karena tak ingin di Surabaya berdiri lokalisasi, yang merupakan simbol kemaksiatan

idayatullah.com — Dukungan terhadap penutupan lokalisasi Dolly terus mengalir. Kali ini, dukungan datang dari dua ormas Islam terbesar di Indonesia, Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU) Jatim.

Sebelumnya, Ketua Pimpinan Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jatim KH Mutawakkil Alallah meminta penutupan Dolly jangan hanya sekedar wacana, tapi harus dibuktikan secara konkrit di lapangan.

“Sudah lama kami sebenarnya menginginkan lokalisasi Dolly ditutup. Mumpung Gubernur mewacanakan penutupan Dolly. Kalau bisa jangan wacana saja, sebab kami setuju,” katanya dikutip Republika, Kiai Mutawakkil mengungkapkan bahwa dirinya malu jika Jatim, khususnya Surabaya memiliki lokalisasi terbesar dari segi penghuni. Pasalnya, kata dial, Jatim tercatat sebagai provinsi yang paling banyak memiliki pesantren. Dari sekitar 14 ribu pesantren di Indonesia, 60 persen berada di Jatim.

“Fakta itu membuat saya malu. Hampir setiap pertemuan baik skala nasional maupun internasional, ulama asal Jatim selalu ditanya soal Dolly,” ungkapnya.

Secara terpisah, Wakil Ketua Pimpinan Wilayah (PW) Muhammadiyah Jatim, Nurcholis Huda, akan mendorong Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini untuk menutup lokalisasi Dolly.

Dengan begitu, kata dia, otomatis pihaknya akan membantu niatan mulai Soekarwo yang berencana menutup Dolly.

“Muhammadiyah secara prinsip setuju Dolly ditutup. Kami pasti mendukung,” ujarnya via telepon seluler.

Ia melanjutkan, alasan penolakan Muhammadiyah adalah tak ingin di Surabaya berdiri lokalisasi, yang merupakan simbol kemaksiatan. Maka itu, Nur Cholis mengapresiasi jika penutupan Dolly meniru sistem di Kramat Tunggak, Jakarta, dengan mengantinya menjadi kawasan Islamic Center.

“Pelacuran harus ditutup. Jika tak bisa, harus dipindahkan dari Surabaya,” jelas mantan sekretaris PW Muhammadiyah Jatim tersebut.

Menurut Nur Cholis, perbedaan sikap antara Wali Kota Surabaya dengan Gubernur Jatim hanya berbeda pada cara menyelesaikan masalah terkait keberadaan tempat prostitusi tersebut. Ia yakin jika sebenarnya kedua orang tersebut sama-sama setuju jika Dolly ditutup.

“Mungkin cara pendekatan dan penanganannya yang berbeda antara Wali Kota dengan Gubernur. Tapi, kita terus dorong agar upaya penutupan bisa dilakukan,”

katanya.[nu/ai/hidayatullah.com]

Sumber: hidayatullah.com

(nahimunkar.com)