8. Dari Abdullah bin Amr bin Al ‘Ash radhiyallahu anhuma, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda:

(( يُقَالُ لِصَاحِبِ القُرْآنِ: اقْرَأْ وَارْتَقِ وَرَتِّلْ كَمَا كُنْتَ تُرَتِّلُ فِيْ الدُّنْيَا، فَإِنَّ مَنْزِلَتَكَ عِنْدَ آخِرِ آيَةٍ تَقْرَأُهَا )) رواه أبو داود والترمذي، وقال: حديث حسن صحيح.

“Dikatakan kepada pembaca Al-Qur’an: “Bacalah, naiklah dan bacalah dengan tartil sebagaimana yang telah kamu lakukan di dunia, karena kedudukanmu adalah pada akhir ayat yang kamu baca.” (HR. Abu Daud dan At Tirmidzi dengan mengatakan: hadits hasan shahih).

9. Dari Aisyah radhiyallahu anha, ia berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda:

(( الَّذِيْ يَقْرَأُ القُرْآنَ وَهُوَ مَاهِرٌ بِهِ مَعَ السَّفَرَةِ الكِرَامِ البَرَرَةِ، وَالَّذِيْ يَقْرَأُ القُرْآنَ وَيَتَتَعْتَعُ فِيْهِ وَهُوَ عَلَيْهِ شَاقٌّ لَهُ أَجْرَانِ )) متفق عليه.

“Orang yang membaca Al-Qur’an dengan mahir adalah bersama para malaikat yang mulia lagi ta’at, sedangkan orang yang membaca Al-Qur’an dengan tergagap dan susah membacanya baginya dua pahala.” (Hadits Muttafaq alaih).

Dua pahala, yakni, pahala membaca dan pahala susah payahnya.

10. Dari Ibnu Umar radhiyallahu anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda:

(( لاَ حَسَدَ إِلاَّ فِيْ اثْنَيْنِ: رَجُلٌ آتَاهُ الله القُرْآنَ فَهُوَ يَقُوْمُ بِهِ آنَاءَ اللَّيْلِ وَآنَاءَ النَّهَارِ، وَرَجُلٌ آتَاهُ الله مَالاً فَهُوَ يُنْفِقُهُ آنَاءَ اللَّيْلِ وَآنَاءَ النَّهَارِ )) متفق عليه.

“Tidak boleh dengki kecuali dalam dua perkara, yaitu: orang yang dikaruniai Allah Al-Qur’an lalu diamalkannya pada waktu malam dan siang, dan orang yang dikaruniai Allah harta lalu diinfakkannya pada waktu malam dan siang.” (Hadits Muttafaq alaih).

Yang dimaksud dengki disini yaitu mengharapkan seperti apa yang dimiliki orang lain([1]).

Maka bersungguh-sungguhlah –semoga Allah menunjuki anda kepada jalan yang diridhai-Nya- untuk mempelajari Al-Qur’anul Karim dan membacanya dengan niat yang ikhlas untuk Allah ta’ala. Bersungguh-sungguhlah untuk mempelajari maknanya dan mengamalkannya, agar mendapatkan apa yang dijanjikan Allah bagi para Ahli Al-Qur’an berupa keutamaan yang besar, pahala yang banyak, derajat yang tinggi dan kenikmatan yang abadi. Para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamdahulu jika mempelajari sepuluh ayat dari Al-Qur’an, mereka tidak melaluinya tanpa mempelajari makna dan cara pengamalannya.

Dan perlu anda ketahui, bahwa membaca Al-Qur’an yang berguna bagi pembacanya, yaitu membaca dengan disertai merenungkan dan memahami maknanya, perintah-perintahnya dan larangan-larangannya. Jika ia menjumpai ayat yang memerintahkan sesuatu maka ia pun mematuhi dan menjalankannya, atau menjumpai ayat yang melarang sesuatu maka ia pun meninggalkan dan menjauhinya. Jika ia menjumpai ayat rahmat, Ia memohon dan mengharap kepada Allah rahmat-Nya; atau menjumpai ayat adzab, ia berlindung kepada Allah dan takut akan siksa-Nya. Al-Quran itu menjadi hujjah bagi orang yang merenungkan dan mengamalkannya; sedangkan yang tidak mengamalkan dan memanfaatkannya maka Al-Qur’an itu menjadi hujjah terhadap dirinya.

Firman Allah ta’ala:

كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آَيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ [ص/29]

“Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayat-Nya dan supaya orang-orang yang mempunyai pikiran mendapat pelajaran.” (Shaad: 29).

Bulan ramadhan memiliki kekhususan dengan Al-Qur’anul Karim, sebagaimana firman Allah:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآَنُ [البقرة/185]

“Bulan ramadhan, yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur’an …” (Al-Baqarah: 185).

Dan dalam hadits shahih dari Ibnu Abbas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambertemu dengan jibril pada bulan Ramadhan setiap malam untuk membacakan kepadanya Al-Qur’anul karim.

Hal itu menunjukkan dianjurkannya mempelajari Al-Qur’an pada bulan ramadhan dan berkumpul untuk itu, juga membacakan Al-Qur’an kepada orang yang lebih hafal. Dan juga menunjukkan dianjurkannya memperbanyak bacaan Al-Qur’an pada bulan Ramadhan.

Tentang keutamaan berkumpul di masjid-masjid untuk mempelajari Al-Qur’anul Karim, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda:

(( وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِيْ بَيْتٍ مِنْ بُيُوْتِ اللهِ يَتْلُوْنَ كِتَابَ الله وَيَتَدَارَسُوْنَهُ بَيْنَهُمْ إِلاَّ نَزَلَتْ عَلَيْهِم السَّكِيْنَةُ وَغَشِيَتْهُم الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُم المَلاَئِكَةُ وَذَكَرَهُم الله فِيْمَنْ عِنْدَهُ ))

“Tidaklah berkumpul suatu kaum di salah satu rumah Allah seraya membaca kitab Allah dan mempelajarinya diantara mereka, kecuali turunlah ketenangan atas mereka, serta mereka diliputi rahmat, dikerumuni para malaikat dan disebut-sebut oleh Allah kepada para malaikat di hadapan-Nya.” (HR. Muslim).

Ada dua cara untuk mempelajari Al-Qur’anul Karim:

1. Membaca ayat yang dibaca sahabat anda.

2. Membaca ayat sesudahnya. Namun cara pertama lebih baik.

Dalam hadits Ibnu Abbas di atas disebutkan pula mudarasah antara Nabi dan Jibril terjadi pada malam hari. Ini menunjukkan dianjurkannya banyak-banyak membaca Al-Qur’an di bulan Ramadhan pada malam hari, karena malam merupakan waktu berhentinya segala kesibukan, kembali terkumpulnya semangat dan bertemunya hati dan lisan untuk merenungkan. Seperti dinyatakan dalam firman Allah:

إِنَّ نَاشِئَةَ اللَّيْلِ هِيَ أَشَدُّ وَطْئًا وَأَقْوَمُ قِيلًا [المزمل/6]

“Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyu’), dan bacaan di waktu itu lebih berkesan.” (Al Muzammil: 6).

Disunnahkan membaca Al-Qur’an dalam kondisi sesempurna mungkin, yakni dengan bersuci, menghadap kiblat, mencari waktu-waktu yang paling utama seperti malam, setelah maghrib dan setelah fajar. Boleh membaca sambil berdiri, duduk, tidur, berjalan dan menaiki kendaraan, berdasarkan firman Allah:

الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ [آل عمران/191]

“(yaitu) orang-orang yang dzikir kepada Allah sambil berdiri, atau duduk, atau dalam keadaan berbaring.” (Al-Imran: 191).

Sedangkan Al-Qur’anul Karim merupakan dzikir yang paling agung.

Kadar bacaan yang disunnahkan:

Disunnahkan mengkhatamkan Al-Qur’an setiap minggu, dengan setiap hari membaca sepertujuh dari Al-Qur’an dengan melihat mushaf, karena melihat mushaf merupakan ibadah. Juga mengkhatamkannya kurang dari seminggu pada waktu-waktu yang mulia dan di tempat-tempat yang mulia. Seperti; Ramadhan, Dua tanah suci dan sepuluh hari Dzul Hijjah karena memanfaatkan waktu dan tempat. Jika membaca Al-Qur’an khatam dalam setiap hari pun baik, berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallamkepada Abdullah bin ‘Amr:

(( اقْرَأْهُ فِيْ كُلِّ ثَلاَثٍ ))

“Bacalah Al-Qur’an itu dalam setiap tiga hari.([2]).

Dan makruh menunda khatam Al-Qur’an lebih dari empat puluh hari, bila hal tersebut dikhawatirkan membuatnya lupa. Imam Ahmad berkata: Betapa berat beban Al-Qur’an itu bagi orang yang menghafalnya kemudian melupakannya.”

Dilarang bagi yang berhadats kecil maupun besar menyentuh mushaf, dasarnya firman Allah ta’ala:

لَا يَمَسُّهُ إِلَّا الْمُطَهَّرُونَ [الواقعة/79]

“Tidak menyentuhnya kecuali hamba-hamba yang disucikan.” (Al-Waqi’ah: 78).

Dan sabda Nabi r:

(( لاَ يَمَسُّ القُرْآنَ إِلاَّ طَاهِرٌ )) رواه الإمام مالك في الموطأ والدارقطني.

“Tidak dibenarkan menyentuh Al-Qur’an ini kecuali orang yang suci.” (HR. Imam Malik dalam Al-Muwattha’, Ad-Daruquthni dan lainnya)([3]).

Al-Qur’anul Karim syari’at sempurna:

Asy-syatibi dalam kitab Al-Muwafaqat mengatakan: “Sudah menjadi kesepakatan bahwa kitab yang mulia ini adalah syari’at yang sempurna, sendi agama, sumber hikmah, bukti kerasulan, cahaya penglihatan dan hujjah. Tiada jalan menuju Allah selainnya, tiada keselamatan kecuali dengannya dan tidak ada yang dapat dijadikan pegangan sesuatu yang menyelisihinya. Kalau demikian halnya, mau tidak mau bagi siapa yang hendak mengetahui keuniversalan syari’at, berkeinginan mengenal tujuan-tujuannya serta mengikuti jejak para ahlinya harus menjadikannya sebagai kawan bercakap dan teman duduknya sepanjang siang dan malam dalam teori dan praktek; maka dekat waktunya ia mencapai tujuan dan menggapai cita-cita serta mendapati dirinya termasuk orang-orang pendahulu, dan dalam rombongan pertama. Jika ia mampu, dan tidaklan mampu atas hal itu kecuali orang yang senantiasa menggunakan apa yang dapat membantunya, yaitu sunnah yang menjelaskan kitab ini. Selainnya adalah ucapan para imam terkemuka dan salaf pendahulu yang dapat membimbingnya dalam tujuan yang mulia ini([4]).

Hukum melagukan Al-Qur’an:

Pembaca dan pendengar Al-Qur’an yang hatinya disibukkan dengan lagu dan sejenisnya -yang dapat mengakibatkan perubahan firman Allah, padahal kita diperintahkan untuk memperhatikannya- sebenarnya menghalangi hatinya dari apa yang dikehendaki Allah dalam kitab-Nya, memutuskannya dari pemahaman firman-Nya. Maha suci firman Allah dari hal itu semua. Imam Ahmad melarang talhin dalam membaca Al-Qur’an, yaitu yang menyerupai lagu, beliau berkata “itu bid’ah”.

Ibnu Katsir Rahimahullah dalam Fadha’ilul Qur’an mengatakan: “Sasaran yang diminta menurut syara’ tiada lain yaitu memperindah suara yang dapat mendorong untuk merenungkan dan memahami Al-Qur’an yang mulia dengan khusyu’, tunduk, dan patuh penuh ketaatan. Adapun suara-suara dengan lagu yang diada-adakan yang terdiri dari nada dan irama yang melalaikan serta aturan musikal, maka Al-Qur’an adalah suci dari hal ini dan tak layak dalam pelaksanaannya diperlakukan demikian ([5]).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah megatakan: “Irama-irama yang dilarang para ulama untuk membaca Al-Qur’an yaitu yang dapat memendekkan huruf yang panjang, memanjangkan yang pendek, menghidupkan huruf yang sakin dan mensakinkan yang berharkat. Mereka lakukan hal itu supaya sesuai dengan irama lagu-lagu yang merdu. Jika hal itu dapat mengubah aturan Al-Qur’an dan mejadikan harakat sebagai huruf, maka haram hukumnya ([6]).

Dikutip dari:

RISALAH RAMADHAN

] Indonesia [

رسالة رمضان

[ اللغة الأندونيسية ]

Abdullah bin Jarullah bin Ibrahim Al Jarullah

عبد الله بن جار الله بن إبراهيم الجار الله

Penerjemah :

Muhammad Yusuf Harun, MA.

Ainul Harits Umar Arifin Thayib, Lc.

Ahmad Musthalih Afandi, Lc.

Murajaah :ERWANDI TARMIZI

مراجعة: إيرواندي ترمذي

Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah

المكتب التعاوني للدعوة وتوعية الجاليات بالربوة بمدينة الرياض

1428 – 2007

islamhouse.com

(nahimunkar.com)


[1] . Lihat kitab Riyadhush shalihin, hlm. 467-469.

[2]. Lihat kitab Fadhalilul Qur’an, oleh Ibnu Katsir, hlm.169-172 dan Hasyiyatu muqaddimatu tafsir, oleh Ibnu Qassim, hal, 107.

[3]. Hal ini diperkuat oleh hadits Hakim bin Hizam yang lafadznya: “Jangan menyentuh Al-Qur’an kecuali jika kamu suci.” (HR. At-Thabrani dan Al Hakim dengan menyatakan shahih).

[4] . Lihat Al Muwafaqat, oleh Asy Syathibi, 3/224.

[5] . Lihat kitab Fadha’ilul Qur’an, oleh Ibnu Katsir, hlm, 125-126.

[6]. Lihat Hasyiyatu Muqaddimatu tafsir, oleh Ibnu Qasim, hlm,107.