Dr. Quraish Shihab membuat sebuah judul “Selamat Natal Menurut Al-Qur’an”, setelah membawakan surat Maryam ayat 23–30, dia berkata:

Itu cuplikan kisah Natal dari Al-Qur’an. Dengan demikian, Al-Qur’an mengabadikan dan merestui ucapan selamat Natal pertama dari dan untuk Nabi mulia itu, Isa Al-Masih.( Membumikan Al-Qur’an hlm. 579–580)

Lalu dia juga mengatakan:

Tidak kelirulah, dalam kacamata ini, fatwa dan larangan (ucapan Selamat Natal) itu, bila ditujukan kepada mereka yang dikhawatirkan ternodai akidahnya. Tidak juga salah mereka yang membolehkannya, selama pengucapnya bersikap arif dan bijaksana dan tetap terpelihara akidahnya, lebih-lebih jika hal tersebut merupakan tuntutan keharmonisan hubungan. (Membumikan Al-Qur’an hlm. 583).

Jawaban:

Ucapan ini keliru dan menyimpang, karena hari Natal telah dijadikan sebagai umat Nashrani sebagai hari besar mereka dan syiar agama mereka. Apa itu hari Natal?! Natal adalah sebuah perayaan kelahiran Yesus Kristus (Nabi Isa al-Masih ‘Alaihissalam) yang dalam pandangan umat Kristen saat ini ia adalah anak Tuhan dan Tuhan anak, sedang mereka meyakini ajaran Trinitas.

Apa sih yang sedang mereka rayakan? Apa yang sedang mereka gembirakan?? Tentunya semua kaum Nashrani—dari Sabang sampai Merauke—sepakat bahwa mereka sedang merayakan hari kelahiran tuhan dan sembahan mereka. Mereka tidak sedang merayakan kelahiran Yesus sebagai seorang nabi, tetapi merayakan kelahiran Yesus sebagai “Tuhan” atau “anak Tuhan”.

Setelah kita tahu bahwa perayaan Natal adalah mengandung aqidah kufur yang menuhankan Isa al-Masih, maka pantaskah seorang muslim mengucapkan selamat atas perayaan tersebut. Jawabnya: Tentu tidak boleh. Coba kita renungkan dengan akal sehat…, tatkala seorang muslim mengucapkan selamat kepada mereka, apakah yang difahami oleh mereka? Apakah mereka memahami seorang muslim sedang menyatakan “selamat atas kelahiran Yesus sebagai seorang nabi”? Tentunya sama sekali tidak(!!!), karena jika mereka memahami demikian tentunya mereka akan mengamuk dan merasa dihina oleh seorang muslim…

Karena itu, mengucapkan selamat hari Natal menimbulkan kelaziman-kelaziman yang sangat buruk … ((selamat hari Natal = selamat hari lahirnya “tuhan” kalian = selamat menyembah salib = selamat kalau Allah punya anak = selamat bertrinitas = selamat memusuhi agama tauhid (Islam) = selamat bahagia dengan bangkitnya kaum salibis yang senantiasa mengharapkan hancurnya Islam)).

Ucapan selamat Natal lebih parah daripada ucapan “selamat berzina…”, “selamat mabuk…”, “selamat mencuri…”, “selamat membunuh…”, “selamat korupsi…”, karena dosa terbesar adalah dosa kesyirikan…

Akan tetapi, masih banyak kaum Muslimin yang tidak menyadarinya…!!!!

Hal ini, ternyata telah jauh-jauh hari yang lampau diperingatkan oleh para ulama. Ibnul Qayyim Rahimahullahuta’ala menegaskan: “Adapun ucapan selamat dengan syiar-syiar kekufuran yang khusus, maka hukumnya adalah haram dengan kesepakatan ulama, seperti ucapan selamat hari raya dan sebagainya. Kalau bukan kekufuran maka minimal adalah haram, sebab hal tersebut sama halnya dengan memberi selamat atas sujud mereka terhadap salib, bahkan hal itu lebih parah dosanya dan lebih dahsyat kemurkaannya di sisi Allah dengan ucapan selamat atas minum khamr, membunuh, berzina, dan sebagainya. Sungguh, banyak orang yang tidak memiliki agama dalam hatinya terjatuh dalam hal tersebut dan tidak mengetahui kejinya perbuatannya tersebut.” (Ahkam Ahli Dzimmah hlm. 202–203)

Tidak diragukan bagi orang yang berakal/waras bahwasanya jika seseorang berkata kepada orang lain “selamat berzina” sambil mengirimkan kartu ucapan selamat, disertai senyuman tatkala mengucapkannya, maka tidak diragukan lagi bahwasanya ini menunjukkan ia ridha dengan “zina” tersebut. Dan itulah yang difahami oleh sang pelaku zina.65

Lantas jika ada orang yang mengucapkan “selamat hari Natal”, bukankah ini menunjukkan ia ridha dengan acara kesyirikan dan kekufuran tersebut?? Ucapan selamat seperti ini tidak diragukan lagi secara zhahir menunjukkan keridhaan!!!

Dari sinilah kenapa para ulama mengharamkan ucapan “selamat Natal” meskipun pelakunya tidak bermaksud ridha dengan kekufuran dan kesyirikan, bahkan ini merupakan kesepakatan ulama sebagaimana nukilan Ibnul Qayyim di atas dan ini merupakan fatwa ketua MUI, KH. Ma’ruf Amin.

Dipetik dari artikel Al-Ustadz Abu Ubaidah Yusuf bin Mukhtar as-Sidawi, Kritik Ilmiyyah Atas Pemikiran Dr. Quraish Shihab ( Bagian Pertama) http://abiubaidah.com

(nahimunkar.com)