ilustrasi/ duniamuallaf


9 situs Islam diblokir. Orang menyebutnya kado tahun baru 2017. Lalu komentar dari masyarakat pun bersahut-sahutan. Di antaranya ada yang melontarkan, mengarah kepada ungkapan, seperti kembali ke orde baru zaman Pak Harto saja….

Saya mengalami jadi wartawan zaman orde baru. Tapi tidak merasakan yang seperti sekarang. Padahal, berita yang beredar di koran tempat saya kerja sampai ada yang menjadi perhatian secara nasional. Yaitu tentang 62 jenis makanan diduga mengandung lemak babi. Itu terjadi tahun 1989.

Pemerintah pun sibuk saat itu. Rombongan Ulama disertai para wartawan pun sampai diterbangkan ke Jawa Timur untuk memperagakan minum susu dengan diliput oleh para wartawan tv dan lainnya. Itu bertujuan untuk meyakinkan masyarakat agar percaya bahwa lecitin dalam susu itu tidak mengandung lemak babi.

Pada gilirannya, Presiden Soeharto pun diberitakan, bahwa beredarnya berita itu merupakan subversif ( satu upaya pemberontakan dalam merobohkan struktur kekuasaan).

Bayangkan, lafal subversif diucapkan oleh Presiden yang tahun itu lagi jaya-jayanya dalam berkuasa. Namun, apakah koran yang memberitakan itu dibredel?

Tidak. Tidak diapa-apakan.

Pemimpin redaksi Harian Pelita, Pak Abdul Karim Jacobi memang dipanggil ke Kejaksaan Agung, Gedung Bundar di Blok M Jakarta. Ternyata kemudian justru saya yang “disuguhkan” untuk diinterogasi. Dan juga Pak Haji Zaini Hamid yang sudah tua. Kami berdua harus menjalani interogasi. Karena memang kami berdua yang menulis berita itu di koran itu.

Selama dua hari saya diinterogasi di gedung bundar, Kejaksaan Agung. Begitu juga Pak Zaini Hamid, hanya harinya beda. Hasilnya, alhamdulillah, kami berdua dinyatakan tidak bersalah.

Jadi, berita yang sudah sampai menghebohkan, bahkan kabarnya menyangkut perusahaan keluarga penguasa, dan bahkan disebut sebagai subversif, namun ketika kami diinterogasi dan tidak ada kesalahan, ternyata tidak ada masalah apa-apa. Dari pihak penguasa, maupun dari intern surat kabar itu sendiri sama sekali tidak ada hukuman apa-apa. Dan korannya pun tetap beredar, dan tidak diperingatkan apa-apa, apalagi diancam. Tidak.

Jadi, saya yang mengalami keadaan itu, kini senyum-senyum geli, kalau ada yang komentar membandingkan antara pemblokiran situs-situs Islam sekarang ini, lalu ada yang nyeletuk, kayak zaman orde baru saja. Lhah, saya yang mengalami zaman orde baru, kedaannya tidak seperti sekarang. Keadaannya yang saya alami seperti uraian saya itu tadi.

Rupanya, penguasa orde baru saat itu justru berhati-hati. Tidak mau “menepuk air di dulang, (karena akibatnya) terpercik ke muka sendiri. Beda dengan sekarang, justru bagai menepuk air di dulang otomatis terpercik ke muka sendiri.

Oleh Hartono Ahmad Jaiz

(nahimunkar.com)