Memburu Lobang yang Orisinil Tapi Mengabaikan Ajaran yang Orisinil

Sehabis shalat ‘ashar, saya di jalan (Jakarta) bertemu orang yang menenteng dua peleg (roda) sepeda onthel ukuran besar (produk masa lalu). Tampaknya orang itu dari bepergian jauh. Memang hari itu hari libur yakni Ahad, tepatnya tanggal 11 April 2010/ 26 Rabi’ul Akhir 1431H. Karena saya sudah kenal lama dengan dia, maka saya tanya dia: “Dari mana?”

Dia jawab: “Dari Cirebon, dan saya hanya dapat peleg (roda) ini,” ucapnya sambil mengangkat peleg ditunjukkan ke saya.

“Kenapa beli peleg saja jauh-jauh (kurang lebih sekali jalan 5 jam) ke Cirebon? Apa di sini (Jakarta) tidak ada?” tanya saya heran.

Susah carinya. Dan kalau ada, harganya mahal. Ini kan yang lobangnya (untuk ruju-ruji) jumlahnya 36 lobang. Kalau di sini (Jakarta) ada biasanya lobang 40. Sepeda saya di rumah itu kalau dipasangi peleg yang lobangnya 40 berarti sudah tidak orisinil,” jelasnya sambil menyeringai seakan bangga karena menemukan lobangnya, yakni barang yang nantinya kalau dipasang di sepedanya jadinya bernama “orisinil” alias asli. Lobang 36, bukan 40.

Saya terheran-heran sejenak, dia pun tampak masih ada sisa-sisa bangganya, kemudian saling berpisah, saya ke timur dia ke barat untuk menuju rumah masing-masing.

Sampai di rumah, saya masih terheran-heran. Kenapa hanya lobang 36 saja diburu sampai Cirebon, hingga pulang balik hampir seharian? Padahal, kalau peleg yang lobangnya 36 yang dia buru jauh-jauh itu mau ditunjuk-tunjukkan kepada orang pun, siapa yang perduli bahwa peleg yang dia miliki di sepedanya itu masih orisinil karena lobangnya 36?

Lebih terheran-heran lagi saya, ketika saya tahu bahwa orang yang sangat mementingkan orisinil lobang peleg sepeda onthelnya ini ternyata sama sekali tidak tampak ada tanda-tanda bahwa dia ingin menjalankan agamanya, Islam, sesuai yang orisinil, murni. Padahal melaksanakan Islam sesuai yang masih murni itu justru sangat dituntut bagi setiap Muslim. Karena Allah Ta’ala berfirman:

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُبِينًا [الأحزاب/36]

Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu’min dan tidak (pula) bagi perempuan yang mu’min, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata. (Qs Al-Ahzab/ 33: 36).

Petunjuk Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada ummatnya juga cukup jelas, di antaranya:

عن عَائِشَة أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

Dari Aisyah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa mengamalkan suatu perkara yang tidak kami perintahkan, maka ia tertolak.” (HR Muslim nomor 3243).

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ دَعُونِي مَا تَرَكْتُكُمْ إِنَّمَا هَلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ بِسُؤَالِهِمْ وَاخْتِلَافِهِمْ عَلَى أَنْبِيَائِهِمْ فَإِذَا نَهَيْتُكُمْ عَنْ شَيْءٍ فَاجْتَنِبُوهُ وَإِذَا أَمَرْتُكُمْ بِأَمْرٍ فَأْتُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ

Dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Biarkanlah apa yang aku tinggalkan untuk kalian, hanyasanya orang-orang sebelum kalian binasa karena mereka gemar bertanya dan menyelisihi nabi-nabi mereka, jika aku melarang kalian dari sesuatu maka jauhilah, dan apabila aku perintahkan kalian dengan sesuatu maka kerjakanlah semampu kalian.” (HR Al-Bukhari, NO – 6744)

عَنْ أَبِى ثَعْلَبَةَ الْخُشَنِىِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ فَرَضَ فَرَائِضَ فَلاَ تُضَيِّعُوهَا وَحَرَّمَ حُرُمَاتٍ فَلاَ تَنْتَهِكُوهَا وَحَدَّ حُدُودًا فَلاَ تَعْتَدُوهَا وَسَكَتَ عَنْ أَشْيَاءَ مِنْ غَيْرِ نِسْيَانٍ فَلاَ تَبْحَثُوا عَنْهَا ». حديث حسن رواه الدارقطني وغيره

Dari Abi Tsa’labah Al-Khusyaniy, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla telah memfardhukan fardhu-fardhu maka jangan kalian menyia-nyiakannya, dan Dia mengharamkan keharaman-keharaman maka jangan kalian melanggarnya, dan Dia menentukan batas hukum-hukum had (batasan / ketentuan Allah tentang hukuman yang dikenakan kepada orang yang berbuat dosa atau melanggar hukum) maka jangan kalian melanggarnya, dan Dia mendiamkan terhadap hal-hal bukan karena lupa maka jangan kalian mencari terhadapnya. (Hadits hasan, riwayat Ad-Daraquthni dan lainnya, hadits Arba’in An-Nawawi nomor 30).

Dari ayat dan hadits-hadits itu jelas, justru dalam beragama Islam ini kita dituntut untuk melaksanakan yang murni.

Betapa antagonisnya. Yang dituntut untuk mencari dan menjalani yang orisinil yakni Islam ini, agar diamalkan tanpa menambah dan mengurangi, justru dicuwekin, diabaikan, tidak diperhatikan.

Sebaliknya, terhadap hal-hal yang sama sekali tidak ada tuntutan yang perlu orisinalitasnya (kemurniannya), apalagi barang sudah usang, model lama, dalam kasus ini adalah peleg atau roda sepeda onthel dengan lobang 36, justru oleh orang tersebut dan mungkin orang-orang semacamnya, sangat dipentingkan orisionilnya, hingga memburunya ke tempat-tempat yang jauh.

Benar-benar terbalik, ulah sebagian manusia di dunia ini bahkan mungkin banyak orang dari isi dunia ini.

Maka benarlah firman Allah Ta’ala yang sampai Allah bersumpah bahwa manusia dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, dan beramal shalih, dan saling berwasiat dengan kebenaran dan saling berwasiat dengan kesabaran.

وَالْعَصْرِ (1) إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (2) إِلَّا الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ (3)

Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran. (QS Al-‘Ashr: 1, 2, 3).

Allah Ta’ala juga memperingatkan:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ فَلَا تَغُرَّنَّكُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا وَلَا يَغُرَّنَّكُمْ بِاللَّهِ الْغَرُورُ (5) إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا إِنَّمَا يَدْعُو حِزْبَهُ لِيَكُونُوا مِنْ أَصْحَابِ السَّعِيرِ (6) الَّذِينَ كَفَرُوا لَهُمْ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَالَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَأَجْرٌ كَبِيرٌ (7) أَفَمَنْ زُيِّنَ لَهُ سُوءُ عَمَلِهِ فَرَآَهُ حَسَنًا فَإِنَّ اللَّهَ يُضِلُّ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ فَلَا تَذْهَبْ نَفْسُكَ عَلَيْهِمْ حَسَرَاتٍ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ بِمَا يَصْنَعُونَ (8) [فاطر/5-9]

Hai manusia, sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka sekali-kali janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu dan sekali-kali janganlah syetan yang pandai menipu, memperdayakan kamu tentang Allah.

Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh (mu), karena sesungguhnya syaitan-syaitan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.

Orang-orang yang kafir bagi mereka azab yang keras. Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh bagi mereka ampunan dan pahala yang besar.

Maka apakah orang yang dijadikan (syaitan) menganggap baik pekerjaannya yang buruk lalu dia meyakini pekerjaan itu baik, (sama dengan orang yang tidak ditipu oleh syaitan)? maka sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya; maka janganlah dirimu binasa karena kesedihan terhadap mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat. (QS father/ 35: 5, 6, 7, 8).

Kembali kepada orang –yang memburu lobang yang dia sebut orisinil– itu dia mengejar sesuatu hanya sekadar untuk semacam kebanggaan bahwa sepeda onthel yang dia miliki itu rodanya orisinil karena lobangnya 36. Padahal yang dia pakai sehari-harinya, dengan roda yang lobangnya 40, ya tidak ada masalah. Tidak ada orang yang menanyakan lobangnya berapa, apalagi memprotesnya. Dan setelah dia pasangi roda yang lobangnya 36, ya tidak ada orang yang menaruh peduli juga. Jadi untuk apa? Sedangkan dari segi kekuatan roda itu pun tidak ada masalah antara yang lobang 40 dengan yang 36.

Berbeda dengan hal mengenai agama, Islam, yang menuntut kemurnian itu tadi. Ketika yang kita laksanakan tidak ada dalilnya, tidak ada contohnya, maka kita harus mencari mana yang orisinil, yang asli ada dalilnya atau tuntunannya atau contohnya dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kalau memang ternyata tidak ada tuntunannya sama sekali, maka harus kita tinggalkan. Dan ketika sudah menemukan yang murni, maka alhamdulillah, semoga Allah memberi kekuatan untuk istiqomah atasnya.

Bersikap terbalik: Mengejar nafsu membenci kemurnia agama

Marilah kita sadari, mungkin selama ini kita juga bersikap terbalik. Yang mestinya tidak penting bahkan mungkin dilarang, justru kita pentingkan. Sebaliknya, yang sebenarnya sangat penting, bahkan sangat perlu dijaga kemurniannya yakni Islam ini dalam pengamalannya, justru banyak Ummat Islam sendiri tidak memperhatikannya. Atau bahkan lebih jauh dari itu, mereka mementingkan untuk mempertahankan dan memperjuangkan serta membesar-besarkan apa yang sebenarnya di luar yang orisionil. Sampai-sampai sering terdengar, Muslimin yang mengamalkan Islam yang orisionil justru ditempeli cap-cap buruk, dipepetkan, disingkirkan, bahkan diusir pun kerap terdengar.

Kalau yang berbuat dan bersikap secara terbalik –seperti dalam kasus ini pemburu peleg lobang 36 yang hal itu bukan mengenai urusan agama– itu hanya bertindak sendiri dan tidak mengomandoi orang lain serta tidak menyangkut urusan agama, maka masih agak ringan, dalam arti dampaknya kepada masyarakat tidak begitu banyak, dan tidak menyangkut urusan agama. Namun kalau yang berbuat seperti itu justru kumpulan orang, dan dalam hal urusan agama, bahkan berupa jum’iyah, bahkan jum’iyah besar, bahkan terbesar di Ummat Islam, misalnya, sedangkan yang diperjuangkan justru hal-hal yang tidak orisinil menurut Islam, dan bahkan mensinisi yang menjalani Islam yang orisinil, maka betapa tercelanya. Benar-benar memprihatinkan.

Sebenarnya apa yang dicari oleh para pembela ketidak orisionilan –dalam urusan agama— itu, sehingga sampai mereka ramai-ramai memusuhi orang-orang yang menjalankan agama dengan menjaga kemurniannya?

Jawaban yang dapat diperkirakan hanyalah ungkapan singkat: memburu nafsu! Sehingga kalau itu berupa kumpulan orang, maka adalah kelompok yang secara ramai-ramai terjerumus kepada sesuatu yang tidak seharusnya begitu. Kasihan mereka, kenapa jadi begitu. Hanya saja kalau diingatkan, maka bahasa Betawinya adalah: Lebih galakan mereka dibanding orang yang mengingatkannya. (Hartono Ahmad Jaiz/ nahimunkar.com).