Menag: Ada Pertarungan Pemikiran Kebebasan dan Pembatasan

Kebebasan mutlak hanya milik Allah, kata Menteri Agama Suryadharma Ali.
Menag mengimbau agar mahasiswa yang belajar di negara asing dapat menghindarkan diri dari Islam liberal.

***

Pekanbaru(Pinmas)–Menteri Agama (Menag) Suryadharma Ali menyatakan, dewasa ini tengah berlangsung pertarungan aliran pemikiran kebebasan melawan pembatasan di tanah air.

Aliran pemikiran kebebasan mengusung kebebasan hak asasi manusia (HAM) yang cenderung ke arah liberal, kata Menag di Riau, tatkala tatap muka dengan jajaran Kakanwil Kementerian Agama dan tokoh-tokoh agama setempat, di Pekanbaru,Riau, Rabu.

Ia mengatakan, kelompok kebebasan berjuang habis-habisan untuk diakui mendapat kemerdekaan mutlak tanpa aturan dan batasan. Tegasnya, minta kebebasan mutlak.

Pemikiran ini tentu saja ditentang. Para penentangnya berpandangan bahwa tanpa aturan, tentu akan timbul ketidakteraturan. Kebebasan mutlak hanya milik Allah, kata Suryadharma Ali.

Menurut Menag, bersamaan dengan makin derasnya kelompok pemikir kebebasan sempat mencuat gagasan agar undang undang perkawinan yang kini berlaku hendak digugat. Pasalnya, UU itu diskriminatif karena hanya mengatur berbeda jenis kelamin, pria dan wanita.

Kelompok kebebasan menilai UU perkawinan diskriminatif. Karena itu perlu diubah dengan mengakomodasi kepentingan pria yang ingin menikah dengan pria dan wanita dengan sesamanya, kata Menag.

Pemikiran semacam itu tak bisa diterima, karena tak sesuai dan sejalan dengan sistem nilai yang berlaku di Indonesia, ia menjelaskan.

Kebebasan beragama juga perlu diatur, karena jika tak ditata akan menimbulkan benturan. Mengubah kitab suci sama halnya dengan mencederai umat beragama bersangkutan. Bisa dikatagorikan sebagai penistaan agama, katanya.

Di Barat, membuat kartun Nabi Muhammad SAW dianggap sebagai kebebasan berekspresi. Tapi, di Indonesia tak demikian dan masuk sebagai penistaan agama. Karena itu, sistem dan nilai dari negara lain belum tentu bisa diadopsi di tanah air, kata Menag.

Untuk itu, ia berharap, bagi kelompok yang mendewakan HAM dan penggiat demokrasi harus berfikir ulang untuk menerapkan sistem dari negara lain di tanah air. Sebab, jika dipaksakan akan menimbulkan gesekan sosial yang berimplikasi pada tingginya ongkos sosial.

Ia menambahkan, kini banyak mahasiswa dari tanah air belajar di berbagai belahan dunia. Mereka belajar filsafat dengan pikiran menerawang ke berbagai tempat. Saking asyiknya, mereka lupa akan jatidiri bangsa.

Menag mengimbau agar mahasiswa yang belajar di negara asing dapat menghindarkan diri dari Islam liberal.(ant/es)

Sumber: http://kemenag.go.id, Minggu, 13 Maret 2011

(nahimunkar.com)