Menakar Bobot Sang Pengamat Politik


SALAH satu ciri khas menonjol dari bangsa Indonesia, sebagaimana ditunjukkan sebagian kalangan terdidiknya, adalah pandai bicara alias pintar ngomong. Mereka yang pintar ngomong ini antara lain dijuluki dan dinobatkan sebagai pengamat oleh media massa (bukan oleh masyarakat). Pengamat bisa macam-macam, antara lain ada yang disebut dengan pengamat politik. Salah satu pengamat politik yang sering dimanfaatkan media massa untuk meramaikan panggung politik dan memanaskan suhu politik adalah Arbi Sanit, pria beranak tunggal kelahiran Painan, Pesisir Selatan, Sumatera Barat, pada tangal 4 Juni 1939.

Oleh media massa, Arbi Sanit dijuluki sebagai pengamat politik senior. Faktanya, memang demikian adanya. Bila dibandingkan dengan Eep Saepulloh Fatah atau Andi Malarangeng, Arbi Sanit jelas jauh lebih senior, setidaknya karena usianya yang kini memasuki 70 tahun. Bahkan boleh dibilang, Eep Saepulloh Fatah dan Andi Malarangeng bisa digolongkan sebagai ‘anaknya’ Arbi Sanit. Rentang usia Arbi Sanit dengan kedua juniornya itu mencapai satu generasi.

Namun, nasib Arbi Sanit tidak sebagus Andi Malarangeng, yang dalam usia relatif muda sudah masuk Istana Negara sebagai Juru Bicara Kepresidenan. Penampilan Andi Malarangeng juga disenangi masyarakat, terutama para kaum perempuan, bukan saja karena penampilan fisiknya yang berkumis dan atletis, tetapi juga karena terkesan cerdas dan santun ketika menyampaikan pandangan politiknya. Namun demikian, ada kalanya sekali-dua Andi Malarangeng terpeleset juga emosinya sehingga mengeluarkan sebaris kalimat yang tidak santun.

Begitu juga dengan Eep Saepulloh Fatah, yang selain terkesan cerdas dan santun juga menarik dari segi fisik. Namun sayangnya, akhir-akhir ini Eep Saepulloh Fatah terbius oleh ‘kehebatan’ konsep sepilis dan pandangan sesat Ulil Abshar Abdalla dedengkot JIL (Jaringan Islam Liberal). Bahkan ia secara gegabah pernah ‘menganjurkan’ agar MUI menghormati Ulil. (Lihat tulisan berjudul Eep Ajak MUI Bali Hormati Ulil di nahimunkar.com edisi October 29, 2008 9:48 pm).

Berbeda dengan kedua ‘anak-anaknya’ tadi, Arbi Sanit selain terkesan tidak cerdas dan tidak santun, penampilan fisiknya juga tidak begitu menarik: rambut gondrong beruban dan dikuncir. Padahal, usianya sudah melampaui enam puluh tahun dan segera memasuki tujuh puluh tahun. Penampilan seseorang itu merupakan hasil kerja otaknya. Bila penampilannya kacau, maka begitulah hasil pemikirannya.

Sering Meleset

Setidaknya, sebagai pengamat politik yang sering dimanfaatkan media massa, Arbi Sanit sering meleset prediksinya. Misalnya, pada Pilpres 2004 Arbi Sanit memprediksi Capres dan Cawapres yang masuk putaran kedua adalah pasangan Wiranto-Salahudin Wahid dan Megawati-Hasyim, dan yang keluar sebagai pemenang adalah Wiranto. Begitu prediksi Arbi Sanit kala itu. Arbi Sanit ketika itu beralasan, pasangan Wiranto-Salahuddin akan memenangkan pilpres, selain karena didukung oleh mesin politik yang kuat, juga karena beberapa faktor lainnya seperti punya basis dukungan yang kuat, modal besar dan duitnya banyak. (http://www.mail-archive.com/[email protected]/msg04540.html, Fri, 25 Jun 2004 17:16:30 -0700).

Kenyataannya, pasangan Wiranto-Salahuddin boro-boro memenagi pilpres 2004, bahkan masuk putaran kedua saja tidak.

Masih di tahun 2004, ketika itu Arbi Sanit memprediksi Akbar Tanjung berpeluang besar terpilih kembali menjadi Ketua Umum Golkar dalam Musyawarah Nasional (Munas) Partai Golkar 15-20 Desember 2004 di Bali. Karena menurut Arbi, basis suara elit yang akan bertempur memperebutkan kursi pimpinan Golkar pada Munas Golkar 2004 masih sama dengan basis dasar Golkar sebelumnya pada pemilu 1999 lalu.

Prediksi itu dikemukakan Arbi Sanit pada diskusi publik bertema Munas Golkar dan Potensi Bangkitnya Rezim Orba di Jakarta Media Center, Jalan Kebon Sirih, Jakata Pusat, pada hari Senin tanggal 6 Desember 2004. Padahal, saat itu Jusuf Kalla salah satu elite Golkar yang juga kandidat Ketua Umum Golkar, sudah memenangi pilpres putaran kedua bersama pasangannya SBY. Bahkan berdasarkan quick count, sejak September 2004 pasangan SBY-Kalla sudah diperkirakan memenangkan pilpres putaran kedua tadi.

Akhirnya, terjadilah apa yang seharusnya terjadi. Jusuf Kalla menjadi Ketua Umum Golkar, menggantikan Akbar Tanjung. Konstituen Golkar yang pragmatis, jelas lebih memilih Jusuf Kalla yang saat itu sudah pasti menduduki posisi Wakil Presien mendampingi SBY untuk periode 2004-2009. Jangan-jangan, Arbi Sanit kala itu memang tidak sedang mengamati, tetapi sedang membentuk opini sesuai pesanan. Karena, seharusnya sebagai seorang pengamat, Arbi Sanit tidak bisa begitu saja mengabaikan variabel signifikan (berupa fakta kemenangan Jusuf Kalla sebagai Wakil Presiden) di dalam memprediksi calon Ketua Umum Golkar kala itu.

Di tahun 2006, ketika sejumlah orang menolak RUU APP (kemudian berubah menjadi RUU Pornografi), Arbi Sanit termasuk salah satu penentang yang keras. Jika RUU tersebut berhasil diloloskan menjadi undang-undang, menurut prediksi Arbi Sanit akan memicu pertarungan agama. “Yang bukan Islam menolak, sekuler, intelektual. Bali dan Papua kan menolak. Jadi tidak perlu dan harus ditarik…” Demikian prediksi Arbi Sanit. (detiknews edisi Selasa, 28/03/2006 14:35 WIB).

Kini, prediksi itu tidak terbukti. Tidak ada perang agama, sebagaimana didramatisir Arbi Sanit.

Kala itu, Arbi Sanit juga menganggap bila RUU APP itu disetujui maka kelak akan lahir berbagai UU yang mengatur negara berdasarkan agama (Islam). Maka yang terjadi adalah satu agama (Islam) menguasai satu negara. Pernyataan Arbi Sanit itu sudah di luar kapasitasnya sebagai ahli politik. Karena, meski ia ahli politik namun dia bukan ahli hukum. Dengan kata lain, Arbi Sanit sudah bersikap sok tahu. Karena, proses pembentukan hukum positif, antara lain berupa undang-undang, amat sangat wajar bila diserap dari nilai-nilai (agama) mayoritas yang hidup di kalangan masyarakat tempat lahirnya undang-undang tersebut.

Ceplas-ceplos dan Kasar

Selain sering meleset, Arbi Sanit termasuk pengamat politik yang ketika berkomentar tidak saja ceplas-ceplos, tetapi juga gandrung dengan istilah-istilah yang sarkas, kasar. Misalnya, ketika baru-baru ini Arbi Sanit ditanya tentang kemungkinan koalisi antara PDI-P dengan Partai Demokrat, ia mengatakan koalisi itu mungkin saja. “Ular dan buaya bisa saja bersatu asal sama-sama dapat makan…” Demikian pendapat Arbi Sanit dengan mengambil ibarat dua ekor hewan. (detiknews, Jumat, 27/02/2009 15:19 WIB).

Begitu juga ketika ia mengomentari kemungkinan koalisi Partai Demokrat dengan PKS (Partai Keadilan Sejahtera), lagi-lagi dua ekor binatang dijadikan ibarat. Ketika itu Arbi Sanit mengatakan, “Nasionalis dan Islam itu seperti ular dan buaya. Nggak bagus itu. Paling itu kepentingan elit saja…” (detiknews Rabu, 11/03/2009 06:20 WIB). Bahkan Arbi Sanit sudah berani menyimpulkan, koalisi antara nasionalis dan Islam mustahil terjadi. Menurut Arbi, koalisi yang mungkin terjadi adalah koalisi yang memiliki basis ideologi yang sama. Misalnya koalisi partai nasionalis, atau koalisi partai Islam. Oleh karena itu, Arbi Sanit mengusulkan, jika tiga partai berhaluan nasionalis (Golkar, PDIP, dan PD) menggalang koalisi akan menghasilkan kekuatan efektif. Apalagi jika koalisi itu bersifat permanen sebelum pilpres digelar.

Ada kemungkinan pisau analisis Arbi Sanit memang tidak tajam sama sekali, ditambah pula dengan peralatan dan instrumen analisa yang dimilikinya sangat terbatas, apalagi kapasitasnya juga nampaknya terbatas, menyebabkan komentar-komentar Arbi Sanit lebih sering menggunakan untaian kalimat yang bombastis, ramai di permukaan, riuh rendah sejenak, kemudian dilupakan orang. Seperti anak kecil meniupkan gelembung sabun di tepi jalan. Begitulah gambaran tentang Arbi Sanit. “Anak kecil” berusia 70 tahun yang rambutnya sudah beruban, gondrong bagai seniman tapi bukan seniman, bukan pula anak metal, tapi dijuluki pengamat politik.

Produk yang Lebih Gagal

Kalau dibandingkan dengan Amien Rais (tanpa bermaksud berpihak kepada salah satu di antaranya), track record Amien Rais lebih baik dibandigkan Arbi Sanit. Setidaknya di dalam kiprahnya menakhodai sebuah kapal publik yang anggotanya jutaan orang. Amien Rais pernah menjadi Ketua PP Muhammadiyah, yang konon anggotanya mencapai 27 juta jiwa. Amien Rais pernah menjabat sebagai Ketua MPR RI yang anggotanya ratusan juta rakyat Indonesia.

Tapi, di mata Arbi Sanit, Amien Rais adalah produk gagal. Pernyataan itu disampaikan Arbi Sanit ketika ia dimintai komentarnya sehubungan dengan pernyataan Amien Rais yang melempar wacana akan maju menjadi calon presiden jika memang rakyat menghendaki. Menurut Arbi Sanit, “…sewaktu dia memimpin dalam parlemen tidak ada keputusan atau langkah yang jelas dalam kepemimpinannya…”

Kalau Amien Rais saja dinilai sebagai produk yang gagal, maka bila track record Amien Rais dinilai lebih baik oleh masyarakat, istilah apa yang cocok untuk Arbi Sanit? Rasanya julukan produk yang lebih gagal cukup sesuai untuk Arbi Sanit.

Di tahun 2000 Arbi Sanit bahkan pernah mencela Amien Rais dengan kata-kata yang kasar. Saat itu Gus Dur selaku presiden bermaksud me-reshuffle kabinet. Sebelum reshuffle terjadi, Kwik Kian Gie yang saat itu menjabat sebagai Menko Ekuin mundur dari jabatannya pada hari Kamis malam tangal 10 Agustus 2000. Langkah mundur Kwik Kian Gie itu ternyata diikuti juga oleh Menkeu Bambang Sudibyo yang mundur dari jajaran Kabinet Persatuan Nasional.

Langkah mundur Kwik Kian Gie dan Bambang Sudibyo, membuat Amien Rais prihatin. Keprihatinan Amien Rais itu lantas disambut oleh Arbi Sanit dengan mengatakan: “…Amien Rais, hanya curiga. Dia politisi kampungan dan tolol…” Begitu tuding Arbi Sanit.

Lha, kalau di mata masyarakat track record Amien Rais dinilai lebih baik dibandingkan dengan Arbi Sanit, sedangkan Amien Rais dituding sebagai politisi kampungan dan tolol, maka istilah apa yang cocok bagi Arbi Sanit? Apakah perlu adanya julukan pengamat politik yang lebih kampungan dan lebih tolol dikenakan kepada Arbi Sanit?

Arbi Sanit dan Syafi’i Ma’arif

Sebagaimana Syafi’i Ma’arif, Arbi Sanit juga berasal dari Sumatera Barat. Bila Arbi Sanit kelahiran 4 Juni 1939, maka Syafi’i Ma’arif kelahiran 31 Mei 1935. Artinya, Arbi Sanit lebih muda sekitar 4 tahun dibandingkan Syafi’i Ma’arif. Bila Arbi Sanit lulus Sekolah Dasar (SD, dahulu namanya SR –Sekolah Rakyat, kalau sekolah umum, sedang sekolah agama namanya Madrasah Ibtidaiyyah) pada usia 15 tahun (1954), maka Syafi’i Ma’arif lulus SD pada usia 12 tahun (1947). Bila Arbi Sanit lulus SMP pada usia 18 tahun (1957), maka Syafi’i Ma’arif lulus SMP pada usia 15 tahun (1950). Bila Arbi Sanit lulus SMA pada usia 23 tahun (1962), maka Syafi’i Ma’arif lulus SMA pada usia 21 tahun (1956).

Nampaknya, Arbi Sanit menyelesaikan pendidikan tingkat SD sampai SMA dalam kisaran usia yang ‘lebih matang’ bila dibandingkan dengan usia generasi yang lebih tua seperti Syafi’i Ma’arif. Semoga saja data-data di atas tidak menunjukkan adanya indikasi keterbelakangan pada diri seorang Arbi Sanit. Mungkin pada saat itu lulus SMA pada usia 23 tahun termasuk wajar-wajar saja. Namun biasanya pada tahun-tahun itu, usia 23 tahun bagi sebagian penduduk nagari, sudah bisa dijuluki bujang lapuak.

Persamaan antara Arbi Sanit dengan Syafi’i Ma’arif adalah kegemarannya menggunakan untaian kata-kata yang kasar. Rupanya, alam yang indah khas Sumatera Barat, tidak meresap ke dalam sanubari mereka.

Meski di Sumatera Barat terkenal dengan istilah Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (adat bersendikan syari’ah dan syari’ah bersendikan Kitabullah), namun belum tentu semua urang awak sadar syari’ah. Arbi Sanit jelas Islamophobia. Dia lebih terlihat sekuler, kalau tidak mau dikatakan condong ke kiri. Sedangkan Syafi’i Ma’arif, meski terlihat berada di kanan, ia lebih sering menunjukkan kekagumannya kepada yang di kiri.

Misalnya, baru-baru ini Syafi’i Ma’arif mengatakan, untuk memajukan bangsa dan negara, sudah saatnya Indonesia membutuhkan pola kepemimpinan model Deng Xiaoping yang berkuasa pada 1976-1997. Karena menurut Syafi’i Ma’arif, di bawah kepemimpinan Deng, negeri Cina berkembang menjadi salah satu pertumbuhan ekonomi yang tercepat di dunia. Pernyataan itu disampaikan Ma’arif pada Sidang Tanwir Muhammadiyah di Bandar Lampung, yang berlangsung pada hari Sabtu tanggal 7 Maret 2009 lalu.

Pernyataan Syafi’i Ma’arif yang dikumandangkan menjelang rakyat Indonesia dalam keadaan masih bingung menentukan siapa yang akan dipilih pada pemilihan presiden mendatang, boleh jadi akan ditafsirkan sebagai upaya menyuntikkan racun ke dalam pikiran umat Islam. Sebab, umat Islam tentunya mempunyai ekspektasi (pengharapan) bahwa Syafi’i Ma’arif akan memberikan contoh dan rujukan misalnya mencontoh kepemimpinan Rasulullah saw, Khulafaur Rasyidin, atau setidaknya Umar bin Abdul Aziz dan sebagainya.

Pendapat Syafi’i Ma’arif itu semakin mengokohkan bahwa dirinya mengais-ngais sampah Nurcholish Madjid. Dulu, semasa hidupnya, Nurcholish Madjid pernah mengatakan, negeri paling baik untuk dicontoh adalah Cina Tiongkok. Kini, Syafi’i Ma’arif mengatakan kepemimpinan model Deng Xiaoping dibutuhkan di Indonesia.

Kecintaan Nurcholish Madjid terhadap negeri Tiongkok semakin terlihat ketika ia saat menderita sakit hati, harus dicangkok hati orang Tiongkok yang asli komunis. Namun, kehendak Allah berkata lain, Nurcholis Madjid meninggal dunia sambil membawa hati cangkokan pemuda Tiongkok yang komunisnya asli.

Syafi’i Ma’arif sudah kelihatan kirinya, sudah jelas posisinya sebagai pengais sampah Nurcholish Madjid. Kini, kita mulai bisa menemukan persamaan antara Arbi Sanit dengan Syafi’i Ma’arif. Mudah-mudahan mereka berdua tidak perlu sampai dicangkok hatinya dengan hati pemuda Tiongkok yang komunisnya asli, mantan narapidana yang menjalani hukuman mati. Semoga Allah mencurahkan hidayah-Nya kepada kedua urang awak tadi.

Bahaya lisan

Iblis melalui pendapatnya yang dibuat-buat, disampaikan dengan perkaataan (lisan) bahkan mengaku sebagai pemberi nasihat, telah menipu dan menjerumuskan Adam dan Hawa. Allah Ta’ala berfirman tentang peristiwa itu.

وَياَ آدَمُ اسْكُنْ أَنْتَ وَزَوْجُكَ اْلجَنَّةَ فَكُلاَ مِنْ حَيْثُ شِئْتُماَ وَلاَ تَقْرَباَ هذِهِ الشَّجَرَةَ فَتَكُوْناَ مِنْ الظَّالِمِيْنَ# فَوَسْوَسَ لَهُمَا الشَّيْطاَنُ لِيُبْدِيَ لَهُمَا مَا وُرِيَ عَنْهُمَا مِنْ سَوْءَاتِهِماَ وَقَالَ مَا نَهاَكُمَا رَبُّكُماَ عَنْ هذِهِ الشَّجَرَةَ إِلاَّ أَنْ تَكُوْناَ مَلَكَيْنِ أَوْ تَكُوْناَ مِنَ الْخاَلِدِيْنَ#وَقَاسَمَهُمَا إِنِّي لَكُمَا لمَِنَ النَّاصِحِيْنَ# فَدَلاَّهُمَا بِغُرُوْرٍ فَلَماَّ ذَاقَا الشَّجَرَةَ بَدَتْ لَهُمَا سَوْءَاتُهُماَ وَطَفِقَا يَخْصِفَانِ عَلَيْهِمَا مِنْ وَرَقِ اْلجَنَّةِ وَناَدَاهُمَا رَبُّهُمَا أَلَـمْ أَنْهَكُمَا عَنْ تِلْكُمَا الشَّجَرَةِ وَأَقُلْ لَكُمَا إِنَّ الشَيْطَانَ لَكُمَا عَدُوٌّ مُبِيْنٌ # قَالاَ رَبَّناَ ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَـمْ تَغْفِرْ لنَاَ وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ # قَالَ اهْبِطُوْا بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ وَلَكُمْ فيِ اْلأَرْضِ مُسْتَقَرٌّ وَمَتَاعٌ إِلَى حِيْنٍ

19. (dan Allah berfirman): “Hai Adam bertempat tinggallah kamu dan isterimu di surga serta makanlah olehmu berdua (buah-buahan) di mana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu berdua mendekati pohon ini, lalu menjadilah kamu berdua termasuk orang-orang yang zalim.”

20. Maka syaitan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya untuk menampakkan kepada keduanya apa yang tertutup dari mereka yaitu auratnya dan syaitan berkata: “Tuhan kamu tidak melarangmu dan mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang-orang yang kekal (dalam surga)”.

21. Dan dia (syaitan) bersumpah kepada keduanya. “Sesungguhnya saya adalah termasuk orang yang memberi nasehat kepada kamu berdua”,

22. Maka syaitan membujuk keduanya (untuk memakan buah itu) dengan tipu daya. Tatkala keduanya telah merasai buah kayu itu, nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya, dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun surga. Kemudian Tuhan mereka menyeru mereka: “Bukankah Aku telah melarang kamu berdua dari pohon kayu itu dan Aku katakan kepadamu: “Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu berdua?”

23. Keduanya berkata: “Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.

24. Allah berfirman: “Turunlah kamu sekalian, sebahagian kamu menjadi musuh bagi sebahagian yang lain. dan kamu mempunyai tempat kediaman dan kesenangan (tempat mencari kehidupan) di muka bumi sampai waktu yang telah ditentukan”. (QS Al-A’raaf: 19, 20, 21, 22, 23, 24).

Pembaca yang terhormat, ketika orang tidak mampu menjaga dan mengendalikan lisannya, walaupun dia terpelajar, bahkan terkemuka di suatu negeri, maka keterpelajarannya dan keterkemukaannya tidak akan mampu mendongkrak bobotnya yang telah hancur. Lihainya mempermainkan lisan pun kalau itu menyuntikkan racun dan berbahaya, maka kelihaiannya itupun tidak akan mampu menolong untuk menutupi bahaya yang telah disemburkannya. Apalagi lisan-lisan yang difungsikan sebagai penghalang Islam, maka kelihaiannya, keterkenalannya maupun seringnya dimanfaatkan oleh media massa tidak akan mampu menolongnya untuk mengeliminir dosa dan dustanya. Maka benarlah peringatan-peringatan tegas dari Utusan Allah Ta’ala:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ رِضْوَانِ اللَّهِ لَا يُلْقِي لَهَا بَالاً يَرْفَعُهُ اللَّهُ بِهَا دَرَجَاتٍ وَإِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ سَخَطِ اللَّهِ لاَ يُلْقِي لَهَا بَالاً يَهْوِي بِهَا فِي جَهَنَّمَ. (البخاري).

Hadits dari Abi Hurairah dari Nabi saw berkata, ‘Sesungguhnya hamba pasti ada yang berkata dengan satu kata dari yang diridhoi Allah, tidak dia renungkan di hatinya tentang pengaruhnya, lalu Allah mengangkatnya beberapa derajat karena perkataannya itu . Dan sesungguhnya hamba pasti ada yang berkata dengan satu kata dari yang dimurkai Allah, dia tidak memandangnya ada keburukan, (tetapi) mencemplungkannya ke dalam neraka jahannam. (HR Al-Bukhari).

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مَا يَتَبَيَّنُ مَا فِيهَا يَهْوِي بِهَا فِي النَّارِ أَبْعَدَ مَا بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ. (مسلم).

Hadits dari Abi Hurairah bahwa Rasulullah saw berkata, ‘Sesungguhnya hamba pasti ada yang berkata dengan satu perkataan, dia tidak memperhatikannya dan tidak memikirkan keburukannya (dan tidak takut akibatnya), lalu dia dicemplungkan ke dalam neraka (yang jarak dalamnya) lebih jauh antara timur dan barat. (HR Muslim).

Imam An-Nawawi menjelaskan,

قَوْله صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ( إِنَّ الرَّجُل لَيَتَكَلَّم بِالْكَلِمَةِ مَا يَتَبَيَّن مَا فِيهَا يُهْوَى بِهَا فِي النَّار ) مَعْنَاهُ لَا يَتَدَبَّرهَا وَيُفَكِّر فِي قُبْحهَا , وَلَا يَخَاف مَا يَتَرَتَّب عَلَيْهَا , وَهَذَا كَالْكَلِمَةِ عِنْد السُّلْطَان وَغَيْره مِنْ الْوُلاَة، وَكَالْكَلِمَةِ تُقْذَف، أَوْ مَعْنَاهُ كَالْكَلِمَةِ الَّتِي يَتَرَتَّب عَلَيْهَا إِضْرَار مُسْلِم وَنَحْو ذَلِكَ . وَهَذَا كُلّه حَثّ عَلَى حِفْظ اللِّسَان كَمَا قَالَ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” مَنْ كَانَ يُؤْمِن بِاَللَّهِ وَالْيَوْم الآخِر فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُت ” وَيَنْبَغِي لِمَنْ أَرَادَ النُّطْق بِكَلِمَةٍ أَوْ كَلاَمٍ أَنْ يَتَدَبَّرهُ فِي نَفْسه قَبْل نُطْقه , فَإِنْ ظَهَرَتْ مَصْلَحَته تَكَلَّمَ، وَإِلاَّ أَمْسَكَ .

Rasulullah saw berkata, ‘Sesungguhnya hamba pasti ada yang berkata dengan satu perkataan, dia tidak memperhatikannya dan tidak memikirkan keburukannya (dan tidak takut akibatnya), lalu dia dicemplungkan ke dalam neraka, artinya tidak memperhatikannya dan tidak memikirkan tentang keburukannya, dan tidak takut akibatnya. Ini seperti perkataan di sisi sultan dan pemimpin lainnya. Dan seperti perkataan tuduhan, atau maknanya seperti perkataan yang akibatnya membahayakan muslim dan semacamnya. Ini semua anjuran untuk menjaga lisan sebagaimana sabda Rasulullah saw:

” مَنْ كَانَ يُؤْمِن بِاَللَّهِ وَالْيَوْم الْآخِر فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُت “

‘Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia berkata yang baik atau diam.’ Seyogyanya bagi orang yang ingin berucap dengan satu pekataan atau suatu pembicaraan hendaknya mencermatinya dulu di dalam dirinya sebelum mengucapkannya. Apabila menimbulkan mashlahat/ perbaikan maka ucapkanlah, tetapi kalau tidak, maka diamlah. (Imam An-Nawawi, Syarah Shahih Muslim)

Demikian penjelasan Imam An-Nawawi.

Hadits lain menegaskan pula:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ الرَّجُلَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ لاَ يَرَى بِهَا بَأْسًا يَهْوِي بِهَا سَبْعِينَ خَرِيفًا فِي النَّارِ . (الترمذي قَالَ هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ مِنْ هَذَا الْوَجْهِ.) عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ الرَّجُلَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ لاَ يَرَى بِهَا بَأْسًا يَهْوِي بِهَا سَبْعِينَ خَرِيفًا فِي النَّارِ. (أحمد)

Hadist dari Abi Hurairah berkata, Rasulullah saw bersabda, ‘Sesungguhnya lelaki )seseorang) pasti ada yang berkata dengan satu kalimat, ia tidak memandangnya berdosa, (tetapi) ia jatuh karena satu kata itu, (selama) tujuh puluh musim/ tahun (senantiasa naik turun) di dalam neraka. (HR Ahmad, dan At-Tirmidzi, ia katakana ini hadits hasan ghorib dari segi ini).

Imam Ibnu Hajar menjelaskan, tidak dia sangka ada pengaruhnya sedikitpun, itu seperti firman Allah

( وَتَحْسَبُونَهُ هَيِّنًا وَهُوَ عِنْد اللَّه عَظِيم )

dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal dia pada sisi Allah adalah besar. (QS An-Nuur/ 18: 15).

Jaminan surga bagi yang menjaga lisan dan kemaluannya

سهل بن سعد الساعدي – رضي الله عنه – قال: قال رسولُ الله -صلى الله عليه وسلم- : « مَنْ يَضْمَنْ لِي ما بين رجليه، وما بين لِحْيَيه أَضْمَنْ له الجنة». أخرجه البخاري ، والترمذي.

Sahl bin Sa’ad As-Sa’idi radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Siapa yang menjamin untukku apa yang di antara dua kakinya (yaitu farji/ kemaluannya) dan apa yang di antara dua rahangnya (yaitu mulutnya) maka aku menjamin baginya surga. (Hadits Riwayat Al-Bukhari nomor 6109, dan At-Tirmidzi)..

Menjamin artinya menjaga dan menunaikan haknya.

Hadits yang hampir sama, memperjelas maknanya:

أبو هريرة – رضي الله عنه – قال : قال رسولُ الله -صلى الله عليه وسلم- : « مَنْ وَقَاهُ اللَّهُ شَرَّ مَا بَيْنَ لَحْيَيْهِ وَشَرَّ مَا بَيْنَ رِجْلَيْهِ دَخَلَ الْجَنَّةَ ». أخرجه الترمذي. قَالَ أَبُو عِيسَى وَهَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ. قال الشيخ الألباني : حسن صحيح

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Siapa yang dijaga Allah keburukan apa yang di antara dua rahangnya (mulutnya), dan keburukan apa yang di antara dua kakinya (farjinya/ kemaluannya) maka dia masuk surga. (HR At-Tirmidzi, ia berkata, ini adalah hadits hasan gharib. Syaikh Al-Albani berkata: hasan shahih).

Ketika seseorang tidak mampu menjaga lisan dan farjinya/ kemaluannya, maka di samping bobotnya sudah diragukan, masih pula ancaman sangat keras bahwa akibat lisannya yang tak dijaga itu akan mencemplungkan ke neraka di akherat kelak. Betapa ruginya. Di dunia sudah tidak dipercaya, sedang di akherat terancam siksa neraka. Maka ayo bertaubat segera. Pintu taubat mumpung masih terbuka. (haji/tede)