Menanggapi 12 Poin Penjelasan Jemaat Ahmadiyah Indonesia

Sebelum mengeluarkan rekomendasi untuk membubarkan Jemaat Ahmadiyah Indonesia pada 16 April 2008 lalu, Bakor Pakem sebelumnya selama tiga bulan (sejak 15 Jan 2008) melakukan pemantauan, di 33 Kabupaten, 55 komunitas Ahmadiyah, 277 warga Ahmadiyah. Kesimpulannya, 12 poin penjelasan pokok-pokok keyakinan dan kemasyarakatan Pengurus Besar (PB) JAI yang disampaikan dalam rapat Bakorpakem tiga bulan lalu (15 Januari 2008), tak sesuai kenyataan.

Bakor Pakem juga menyimpulkan, Ahmadiyah telah melakukan kegiatan dan penafsiran keagamaan menyimpang dari pokok-pokok ajaran Agama Islam yang dianut di Indonesia dan menimbulkan keresahan dan pertentangan di masyarakat sehingga mengganggu kententeraman dan ketertiban umum. Ahmadiyah tetap mengakui ada Nabi setelah Nabi Muhammad shallallahu ‘laihi wa sallam, dan tetap mengakui Mirza Ghulam Ahmad sebagai Nabi.

12 poin penjelasan pokok-pokok keyakinan dan kemasyarakatan Pengurus Besar (PB) JAI

Secara lengkap, 12 poin penjelasan pokok-pokok keyakinan dan kemasyarakatan Pengurus Besar (PB) JAI yang disampaikan dalam rapat Bakorpakem Januari lalu, sebagaimana dipubliaksikan antara lain oleh detikcom edisi 15 Januari 2008, adalah sebagai berikut:

01. Kami warga Jemaat Ahmadiyah sejak semula meyakini dan mengucapkan dua kalimah syahadat sebagaimana yang diajarkan oleh Yang Mulia Nabi Muhammad Rasulullah shallallahu ‘laihi wa sallam, yaitu Asyhaduanlaa-ilaaha illallahu wa asyhadu anna Muhammadar Rasullulah, artinya: aku bersaksi bahwa sesungguhnya tiada tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa sesungguhnya Muhammad adalah Rasulullah.

02. Sejak semula kami warga jemaat Ahmadiyah meyakini bahwa Muhammad Rasulullah adalah Khatamun Nabiyyin (nabi penutup).

03. Di antara keyakinan kami bahwa Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad adalah seorang guru, mursyid, pembawa berita dan peringatan serta pengemban mubasysyirat, pendiri dan pemimpin jemaat Ahmadiyah yang bertugas memperkuat dakwah dan syiar Islam yang dibawa oleh nabi Muhammad shallallahu ‘laihi wa sallam.

04. Untuk memperjelas bahwa kata Rasulullah dalam 10 syarat bai’at yang harus dibaca oleh setiap calon anggota jemaat Ahmadiyah bahwa yang dimaksud adalah nabi Muhammad SAW, maka kami mencantumkan kata Muhammad di depan kata Rasulullah.

05. Kami warga Ahmadiyah meyakini bahwa tidak ada wahyu syariat setelah Al-Quranul Karim yang diturunkan kepada nabi Muhammad. Al-Quran dan sunnah nabi Muhammad SAW adalah sumber ajaran Islam yang kami pedomani.

06. Buku Tadzkirah bukanlah kitab suci Ahmadiyah, melainkan catatan pengalaman rohani Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad yang dikumpulkan dan dibukukan serta diberi nama Tadzkirah oleh pengikutnya pada 1935, yakni 27 tahun setelah beliau wafat (1908).

07. Kami warga jemaat Ahmadiyah tidak pernah dan tidak akan mengkafirkan orang Islam di luar Ahmadiyah, baik dengan kata maupun perbuatan.

08. Kami warga jemaat Ahmadiyah tidak pernah dan tidak akan menyebut Masjid yang kami bangun dengan nama Masjid Ahmadiyah.

09. Kami menyatakan bahwa setiap masjid yang dibangun dan dikelola oleh jemaat Ahmadiyah selalu terbuka untuk seluruh ummat Islam dari golongan manapun.

10. Kami warga jemaat Ahmadiyah sebagai muslim melakukan pencatatan perkawinan di Kantor Urusan Agama dan mendaftarkan perkara perceraian dan perkara lainnya berkenaan dengan itu ke kantor Pengadilan Agama sesuai dengan perundang-undangan.

11. Kami warga jemaat Ahmadiyah akan terus meningkatkan silaturahim dan bekerja sama dengan seluruh kelompok/golongan ummat Islam dan masyarakat dalam perkhidmatan sosial kemasyarakat untuk kemajuan Islam, bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

12. Dengan penjelasan ini, kami pengurus Besar Jemaat Ahmadiyah Indonesia mengharapkan agar warga Jemaat Ahmadiyah khususnya dan ummat Islam umumnya serta masyarakat Indonesia dapat memahaminya dengan semangat ukhuwah Islamiyah, serta persatuan dan kesatuan bangsa.

Tanggapan:

Jika hanya mendasarkan pada penjelasan (pengakuan) mereka (JAI), maka terkesan bahwa JAI sama saja dengan ummat Islam pada umumnya. Namun demikian, untuk menetapkan suatu kelompok sesat atau tidak, menyimpang dari akidah Islam atau tidak, sama sekali tidak bisa dilihat dari pengakuan atau penjelasan sepihak. Tetapi yang harus dilihat dan dinilai adalah produk-produknya. Antara lain, lihatlah Kitab Sucinya, nabinya, tempat sucinya, tatacara ibadahnya, dan sebagainya.

Pada poin pertama dari 12 poin penjelasan pokok-pokok keyakinan dan kemasyarakatan Pengurus Besar (PB) Jemaat Ahmadyah Indonesia, disebutkan bahwa mereka sejak semula meyakini dan mengucapkan dua kalimah syahadat sebagaimana yang diajarkan oleh Yang Mulia Nabi Muhammad Rasulullah shallallahu ‘laihi wa sallam, yaitu Asyhaduanlaa-ilaaha illallahu wa asyhadu anna Muhammadar Rasullulah, artinya: aku bersaksi bahwa sesungguhnya tiada tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa sesungguhnya Muhammad adalah Rasulullah.

Benarkah demikian? Secara tekstual, materi syahadat yang mereka sampaikan melalui penjelasannya itu, sama sekali tidak ada perbedaan dengan syahadat ummat Islam pada umumnya. Namun, secara maknawi, mengandung perbedaan yang sangat mendasar. Karena, makna Muhammad pada syahadat Ahmadiyah, bukanlah Muhammad bin Abdullah yang lahir di Makkah. Tetapi, makna Muhamad pada syahadat mereka menunjuk kepada sosok Mirza Ghulam Ahmad, sang nabi palsu yang lahir di India.

Tahun 1993, Jemaat Ahmadiyah Indonesia cabang Bandung, pernah menerbitkan sebuah buku karya Mirza Ghulam Ahmad yang diterjemahkan oleh salah seorang aktivis JAI Bandung yaitu H.S. Yahya Pontoh dengan judul Memperbaiki Suatu Kesalahan.

Dari buku itu nyata jelas, meskipun redaksi kalimat Syahadatnya sama, akan tetapi orang yang dimaksud dalam kalimat syahadat tersebut berbeda. Nama MUHAMMAD dalam syahadat tersebut menurut para pengikut/tokoh Ahmadiyah adalah Nabi/Rasul mereka, yaitu Mirza Ghulam Ahmad yang lahir di India, sebagaimana tercantum dalam buku karya Mirza Ghulam Ahmad tertulis:

مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ

“Dalam wahyu ini Allah subhanahu wata’ala menyebutku Muhammad dan Rasul…” (Mirza Ghulam Ahmad, Memperbaiki Kesalahan, dialih bahasakan oleh H.S. Yahya Pontoh, diterbitkan oleh Jamaah Ahmadiyah cab. Bandung, tahun 1993, halaman 5).

Ayat tersebut sebenarnya adalah wahyu kepada nabi Muhammad shallallohu ‘alaihi wa sallam dalam Surat Al-fat-h: 29

مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ

Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. (QS Al-Fat-h: 29). Namun kemudian dibajak oleh Mirza Ghulam Ahmad dengan mengatakan:

“Dalam wahyu ini Allah SWT menyebutku Muhammad dan Rasul”

Pada halaman 4 buku tersebut, MGA mengatakan, Di dalam wahyu ini nyata benar, bahwa aku dipanggil dengan nama Rasul. Sedangkan pada halaman 5 buku tersebut, MGA mengutip salah satu ayat dari Kitab Suci Tadzkirah yang artinya: alam wahyu ini Allah subhanahu wa ta’ala menyebutku Muhammad dan Rasul… (Tadzkirah hal. 97).

Oleh karena itu, walaupun dalam pernyataan JAI itu lafal syahadatnya sama dengan Islam, ku bersaksi bahwa sesungguhnya tiada tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa sesungguhnya Muhammad adalah Rasulullah. Namun maknanya beda, karena bukanlah Muhammad bin Abdullah yang lahir di Makkah dan wafat di Madinah, namun adalah Mirza Ghulam Ahmad yang lahir di Qadyan 1835 yang mengkalim dirinya sebagai Muhammad utusan Allah.

Masih pada buku yang sama, di halaman 10, MGA mengakui dirinya sebagai Muhammad yang kedua: “karena Muhammad yang kedua ini adalah gambaran dari Muhammad yang dahulu.”

Sedangkan pada halaman 15-16, MGA menyatakan bahwa yang menolak kenabiannya sebagai orang yang masih bergelimang dengan kebodohan: “… Jika ada orang yang marah, karena wahyu kepadaku ada yang menerangkan bahwa aku ini Nabi dan Rasul, maka dalam hal ini menunjukkan kebodohannya sendiri, sebab kenabian dan kerasulan ini tidak merusak cap Allah Ta’ala” Jelaslah bahwa aku menyatakan mengenai diriku, bahwa Allah Ta’ala menyebut namaku dengan panggilan nabi dan rasul.

Sebelumnya, pernah diterbitkan sebuah buku berjudul Ahmadiyah Apa dan Mengapa? karya Syafii R. Batuah (cet. XVII, diterbitkan oleh Jemaat Ahmadiyah Indonesia, 1986). Pada halaman 5 buku tersebut dikatakan:

Menurut Al Qur’an setiap nabi adalah rasul dan sebaliknya setiap rasul adalah nabi. Seorang dikatakan nabi karena ia mendapat khabar ghaib dari Allah swt (subhanahu wa ta’ala) yang menyatakan ia adalah seorang ‘nabi’. Dan ia diutus oleh Allah swt kepada manusia. Selaras dengan itu Hadhrat Mirza Ghulam a.s. adalah nabi dan rasul. (Ahmadiyah Apa dan Mengapa?, halaman 5).

Dari fakta-fakta di atas, tidak saja menunjukkan kebohongan mereka sebagaimana dituangkan pada poin 01 di atas, juga membantah penjelasan poin 02 yang menyatakan bahwa ejak semula kami warga jemaat Ahmadiyah meyakini bahwa Muhammad Rasulullah adalah Khatamun Nabiyyin (nabi penutup).”

Pada halaman 10 buku yang sama, MGA mengatakan: “…akan tetapi kalau seorang yang telah benar-benar fana dalam ‘khatamannabiyyin’ dan sudah mendapat namanya karena sudah bersatu betul dengan tidak ada perlainan dan perbedaan sedikit jua pun, serta sudah sebagai cermin yang amat bersih yang di dalamnya kelihatan jelas wajah Muhammad shallallahu ‘laihi wa sallam, maka orang itu dengan tidak merusak cap, akan dikatakan nabi, karena dia itu Muhammad, meskipun secara zhilli

Jadi, yang mereka maksudkan dari pernyataan uhammad Rasulullah adalah Khatamun Nabiyyin (nabi penutup) tak lain dan tak bukan adalah Mirza Ghulam Ahmad. Karena MGA merupakan Muhammad yang kedua yang merupakan gambaran dari Muhammad yang sebelumnya.

Pengakuan MGA sebagai nabi sekaligus sebagai Khatamun Nabiyyin (nabi penutup), karena MGA merupakan titisan (reinkarnasi) dari nabi Muhammad SAW, dapat dilihat pada Majalah Sinar Islam halaman 11-12 yang terbit tanggal 01 November 1985, khususnya para rubrik Tadzkirah, sebagai berikut:

Dalam wahyu ini, Tuhan menyebutkanku Rasul-Nya, karena sebagaimana sudah dikemukakan dalam Barahin Ahmadiyah, Tuhan Maha Kuasa telah membuatku manifestasi dari semua Nabi, dan memberiku nama mereka. Aku Adam, Aku Seth, Aku Nuh, Aku Ibrahim, Aku Ishaq, Aku Ismail, Aku Ya’kub, Aku Yusuf, Aku Musa, Aku Daud, Aku Isa, dan Aku adalah penjelmaan sempurna dari Nabi Muhammad SAW, yakni aku adalah Muhammad dan Ahmad sebagai refleksi. (Haqiqatul Wahyi, hal. 72).”

Fakta-fakta di atas selain membantah poin 01 dan 02, juga membuka tabir kebohongan poin tiga dari penjelasan PB JAI, yang berbunyi: i antara keyakinan kami bahwa Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad adalah guru, mursyid, pembawa berita gembira dan peringatan serta pengemban musbasysyirat pendiri dan pemimpin Jemaat Ahmadiyah yang bertugas memperkuat dakwah dan syiar Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘laihi wa sallam.”

Pada poin ketiga ini, seolah-olah MGA diposisikan hanya sebagai guru, atau juru dakwah yang memperkuat dakwah Nabi Muhammad shallallahu ‘laihi wa sallam. Namun bila kita cukup cermat di dalam membaca kalimat yang disusun sedemikian canggih itu, maka ada beberapa kesimpulan yang bisa diperoleh.

Pertama, mereka sama sekali tidak pernah membantah bahwa MGA bukan Nabi dan Rasul. Tidak ada sepotong anak kalimat yang secara tegas membantah kenabian dan kerasulan MGA. Kedua, mereka tetap mengakui MGA sebagai Nabi dan Rasul melalui anak kalimat “pembawa berita gembira dan peringatan”

Pada Surat Al-Israa’ ayat 105, Allah subhanahu wa ta’ala menegaskan bahwa pembawa berita dan peringatan adalah tugas serta fungsi nabi (Muhammad shallallahu ‘laihi wa sallam). Begitu juga melalui surat Al-Furqaan ayat 56, Alah subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا مُبَشِّرًا وَنَذِيرًا(56)

Dan tidaklah Kami mengutus kamu melainkan hanya sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan.”

Pada poin 04, yang berbunyi: ntuk memperjelas bahwa kata Rasulullah dalam 10 syarat bai’at yang harus dibaca oleh setiap calon anggota jemaat Ahmadiyah bahwa yang dimaksud adalah nabi Muhammad shallallahu ‘laihi wa sallam, maka kami mencantumkan kata Muhammad di depan kata Rasulullah.”

Sebagaimana pembahasan di atas, bahwa yang dimaksud dengan Muhammad bagi jemaat Ahmadiyah adalah Mirza Ghulam Ahmad, maka poin keempat ini juga sudah terbantahkan.

Apalagi, yang dimaksud dengan bai’at versi Ahmadiyah, bukanlah sekedar mengucapkan serangkaian kata penuh janji, tetapi harus dibarengi dengan tekad yang bulat menjalankan ajaran Mirza Ghulam Ahmad. Sebagaimana dikatakan MGA melalui bukunya berjudul Ajaranku yang diberbitkan oleh Yayasan Wisma Damai Bogor (cet. Ke-6, 1993), khususnya pada halaman 1 disebutkan:

Hendaknya hal ini dipahami dengan jelas, bahwa bai’at hanya berupa ikrar di lidah saja tidaklah punya arti apa-apa, jika tidak ditunjang oleh suatu kebulatan tekad hendak melaksanakan janji itu sepenuh-penuhnya. Oleh karena itu, barangsiapa yang mengamalkan ajaranku selengkapnya, ia masuk rumah ini –perihal rumah mana ada janji dari Allah subhanahu wata’ala:

إني أحافظ كل من في الدار

Yakni: Tiap-tiap orang yang berada di dalam dinding pagar rumahmu akan kuselamatkan.

Berbai’at menjadi jemaat Ahmadiyah tidak saja harus diwujudkan dengan menjalankan ajaran MGA, tetapi juga harus mabuk dalam ketaatan kepada MGA, sebagaimana dikatakan MGA melalui buku yang sama halaman 15, sebagai berikut: “…Barangsiapa yang bai’at kepadaku dengan sesungguh-sungguhnya dan menjadi pengikutku dengan senang hati yang setulus-tulusnya, dan juga membuat dirinya mabuk di dalam ketaatan kepadaku hingga meninggalkan segala keinginan-keinginan pribadinya, rohku akan memberikan syafaat pada hari-hari yang penuh derita bagi diri orang itu”

Pada poin 05, yang berbunyi Kami warga Ahmadiyah meyakini bahwa tidak ada wahyu syariat setelah Al-Quranul Karim yang diturunkan kepada nabi Muhammad. Al-Quran dan sunnah nabi Muhammad shallallahu ‘laihi wa sallam adalah sumber ajaran Islam yang kami pedomani kedustaan mereka juga dapat dirasakan dengan jelas.

Melalui buku yang sama (Ajaranku, 1993) khususnya pada halaman 27, MGA meyakinkan pengikutnya bahwa pintu wahyu masih tetap terbuka: Janganlah hendaknya kamu punya prakiraan bahwa wahyu ILAHI itu tidak mungkin lagi ada di waktu yang akan datang; bahwa wahyu itu hanya berlaku pada masa yang telah lampau saja; janganlah mengira bahwa Rohul kudus tidak dapat turun di waktu sekarang dan bahwa hal itu hanya berlaku di masa dahulu saja. Aku berkata dengan sebenar-benarnya, bahwa segala pintu itu tidak pernah tertutup.”

Sedangkan dalam buku berjudul Apakah Ahmadiyah Itu? karangan Hz. Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad, khususnya di halaman 63-64 disebutkan:

Hadhrat Masih Mau’ud a.s. tampil ke dunia dan dengan lantangnya menyatakan bahwa Allah Ta’ala bercakap-cakap dengan beliau dan bukan dengan diri beliau saja, bahkan Dia bercakap-cakap dengan orang-orang yang beriman kepada beliau serta mengikuti jejak beliau, mengamalkan pelajaran beliau dan menerima petunjuk beliau. Beliau berturut-turut mengemukakan kepada dunia Kalam Ilahi yang sampai kepada beliau dan menganjurkan kepada para pengikut beliau, agar mereka pun berusaha memperoleh nikmat serupa itu.”

Pada poin 06, mereka menyangkal Tadzkirah sebagai Kitab Suci Ahmadiyah: Buku Tadzkirah bukanlah kitab suci Ahmadiyah, melainkan catatan pengalaman rohani Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad yang dikumpulkan dan dibukukan serta diberi nama Tadzkirah oleh pengikutnya pada 1935, yakni 27 tahun setelah beliau wafat (1908).”

Secara tehnis, Tadzkirah dibukukan oleh pengikutnya pada masa 27 tahun setelah matinya MGA. Namun, itu tidak membantah keterangan bahwa Tadzkirah merupakan Kitab Suci, karena pada halaman pertamanya tertulis bahwa ADZKIRAH YAKNI WAHYU MUQODDAS, artinya TADZKIRAH ADALAH WAHYU SUCI. Wahyu suci yang disusun sebagai buku (kitab) tentunya menjadi Kitab Suci.

Isinya, penggalan ayat-ayat suci Al-Qur’an yang dipotong-sambung, dimodifikasi sedemikian rupa oleh MGA. Jadi, Tadzkirah ini merupakan kitab suci Jemaat Ahmadiyah hasil kerja kreatif MGA membajak Al-Qur’an.

Contohnya, bisa ditemukan pada Ktab Suci Tadzkirah halaman 92 dan 451:

قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَى إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ

Katakanlah (wahai Mirza Ghulam Ahmad): Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kalian, yang diwahyukan kepadaku, bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan Yang Esa.”


Ayat tersebut merupakan bajakan dari Al-Qur’an surat Al-Kahfi ayat 110 dan surat Fushshilat ayat 6.

Pada poin 07, mereka menyangkal megkafirkan orang Islam di luar Ahmadiyah: ami warga jemaat Ahmadiyah tidak pernah dan tidak akan mengkafirkan orang Islam di luar Ahmadiyah, baik dengan kata maupun perbuatan.”

Namun, ketika ada warga Muhammadiyah yang menyatakan keluar dari Ahmadiyah dan kembali kepada Islam, orang itu langsung dinyatakan murtad. Ini menunjukkan bahwa Ahmadiyah tidak sama dengan Islam.

Pada poin 08, dinyatakan: “Kami warga jemaat Ahmadiyah tidak pernah dan tidak akan menyebut Masjid yang kami bangun dengan nama Masjid Ahmadiyah.” Sedangkan pada poin 09 dinyatakan: ‘Kami menyatakan bahwa setiap masjid yang dibangun dan dikelola oleh jemaat Ahmadiyah selalu terbuka untuk seluruh ummat Islam dari golongan manapun.”

Meski tidak ditulis atau dinamakan Mesjid Ahmadiyah, namun peraturan yang berlaku tetaplah khas Ahmadiyah. Berbeda dengan mesjid ummat Islam pada umumnya yang bisa diakses oleh ummat Islam pada umumnya.

Jemaat mesjid Ahmadiyah orangnya itu-itu juga, seperti jemaat gereja ummat Kristen yang eksklusif dan tertentu (terdaftar). Sehingga, ketika ada orang lain yang bukan jemaat Ahmadiyah, memasuki mesjid tersebut, sejumlah mata akan memelototinya, seperti tuan rumah yang kedatangan tamu tak diundang.

Pada poin 10 dinyatakan: ami warga jemaat Ahmadiyah sebagai muslim melakukan pencatatan perkawinan di Kantor Urusan Agama dan mendaftarkan perkara perceraian dan perkara lainnya berkenaan dengan itu ke kantor Pengadilan Agama sesuai dengan perundang-undangan.”

Pernyataan di atas juga tidak bermakna apa-apa. Sebagai warga negara Indonesia mereka memang sudah seharusnya mengikuti ketentuan administrasi yang berlaku di negara tempat mereka tinggal. Pernyataan pada poin 10 ini sama sekali tidak membantah bahwa jemaat Ahmadiyah dilarang menikah dengan kalangan non Ahmadiyah.

Di dalam buku Riwayat Hidup Mirza Ghulam Ahmad –Imam Mahdi dan Masih Mau’ud Pendiri Jemaat Ahmadiyah karya Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad, yang diterbitkan Jemaat Ahmadiyah Indonesia (cet. kedua, 1995), khususnya pada halaman 46 disebutkan:

Pada tahun 1898 itu juga, untuk mendisiplinkan dan mengokohkan Jemaat, serta untuk memelihara ciri khas keahmadiyahan, Hazrat Ahmad as telah menganjurkan kepada orang-orang Ahmadi peraturan-peraturan perkawinan serta cara-cara pergaulan hidup, dengan menetapkan bahwa wanita Ahmadi tidak boleh kawin dengan orang-orang non Ahmadi.”

Poin 11 dan 12 juga hanya untaian kata-kata yang tak bermakna. Harus diakui, susunan kata-kata pada 12 poin penjelasan PB JAI ini dibuat dengan cermat dan canggih, sehingga dapat mengecoh orang pintar (cendekia) sekalipun. Terutama, orang-orang pintar (cendekia) yang memang di dalam dirinya memiliki kecenderungan kepada kesesatan.

Mereka yang tertipu Ahmadiyah

Mereka –para cendekiawan dan tokoh masyarakat– yang tertipu oleh penjelasan PB JAI antara lain bisa dilihat pada harian Media Indonesia edisi 26 Mei 2008 (hal. 13). Secara bersama-sama mereka pasang badan membela kesesatan Ahmadiyah seraya menakut-nakuti dan memprovokasi bahwa ummat Islam yang menolak keberadaan Ahmadiyah kelak akan mengubah dasar negara Indonesia, Pancasila, mengabaikan konstitusi dan menghancurkan sendi kebersamaan melalui pemasangan iklan setengah halaman di media tersebut, dengan isi sebagai berikut:

MARI PERTAHANKAN INDONESIA KITA!

Indonesia menjamin tiap warga bebas beragama. Inilah hak asasi manusia yang dijamin oleh konstitusi. Ini juga inti dari asas Bhineka Tunggal Ika, yang menjadi sendi ke-Indonesiaan kita. Tapi belakangan ini ada sekelompok orang yang hendak menghapuskan hak asasi itu dan mengancam ke-bhineka-an. Mereka juga menyebarkan kebencian dan ketakutan di masyarakat. Bahkan mereka menggunakan kekerasan, seperti yang terjadi terhadap penganut Ahmadiyah yang sejak 1925 hidup di Indonesia dan berdampingan damai dengan ummat lain. Pada akhirnya mereka akan memaksakan rencana mereka untuk mengubah dasar negara Indonesia, Pancasila, mengabaikan konstitusi, dan menghancurkan sendi kebersamaan kita. Kami menyerukan, agar pemerintah, para wakil rakyat, dan para pemegang otoritas hukum, untuk tidak takut kepada tekanan yang membahayakan ke-Indonesia-an itu.

Marilah kita jaga republik kita.

Marilah kita pertahankan hak-hak asasi kita.

Marilah kita kembalikan persatuan kita.

Jakarta 10 Mei 2008

ALIANSI KEBANGSAAN untuk KEBEBASAN BERAGAMA dan BERKEYAKINAN


 

A. Mubarik Ahmad

A. RAHMAN TOLLENG

A. Sarjono

A. Suti Rahayu

A. SYAFII MAARIF

AA GN Ari Dwipayana

Aan Anshori

Abdul Moqsith Ghazali

Abdul Munir Mulkhan

Abdul Qodir Agil

Abdur Rozaki

Acep Zamzam Nur

Achmad Chodjim

Achmad Munjid

Ade Armando

Ade Rostina Sitompul

Adi Wicaksono

ADNAN BUYUNG NASUTION

Agnes Karyati

Agus Hamonangan

Agustinus

Ahmad Baso

Ahmad Fuad Fanani

Ahmad Nurcholish

Ahmad Sahal

Ahmad Suaedi

Ahmad Taufik

Ahmad Tohari

Akmal Nasery Basral

Alamsyah M. Dja’far

Albait Simbolon

Albertus Patty

Amanda Suharnoko

AMIEN RAIS

Ana Lucia

Ana Situngkir

Anak Agung Aryawan

ANAND KRISHNA

Andar Nubowo

Andreas Harsono

Andreas Selpa

Anick H. Tohari

Antonius Nanang E.P.

Ari A. Perdana

Arianto Patunru

ARIEF BUDIMAN

Arif Zulkifli

Asep Mr.

Asfinawati

Asman Aziz

ASMARA NABABAN

Atika Makarim

Atnike Nova Sigiro

Ayu Utami

AZYUMARDI AZRA

Bachtiar Effendy

Benny Susetyo, SJ

Bivitri Susanti

Bonnie Tryana

BR. Indra Udayana

Budi Purwanto

Butet Kertaredjasa

CHRISTIANTO WIBISONO

Christina Sudadi

Cosmas Heronimus

Daddy H. Gunawan

Daniel Dhakidae

Daniel Hutagalung

Djaposman S

DJOHAN EFFENDI

Doni Gahral Adian

Donny Danardono

Eep Saefulloh Fatah

Eka Budianta

Eko Abadi Prananto

Elga J. Sarapung

Elizabeth Repelita

Elza Taher

Endo Suanda

Erik Prasetya

EVA SUNDARI

F. Wartoyo

Fadjroel Rahman

Fajrime A. Goffar

Farid Ari Fandi

Fenta Peturun

FIKRI JUFRI

Franky Tampubolon

Gabriella Dian Widya

Gadis Arivia

Garin Nugroho

Geovanni C.

Ging Ginanjar

GOENAWAN MOHAMAD

Gomar Gultom

Gus TF Sakai

Gustaf Dupe

GUSTI RATU HEMAS

Hadi Nitihardjo

Hamid Basyaib

Hamim Enha

Hamim Ilyas

Hamka Haq

Haryo Sasongko

Hasif Amini

Hendardi

Hendrik Bolitobi

Herman S. Endro

Heru Hendratmoko

HS DILLON

I Gede Natih

ICHLASUL AMAL

Ifdal Kasim

Ihsan Ali-Fauzi

Ika Ardina

Ikravany Hilman

Imam Muhtarom

Ilma Sovri Yanti

Imadun Rahmad

Indra J. Piliang

Isfahani

J. Eddy Juwono

Jacky Manuputty

Jaduk Feriyanto

Jajang Pamuntjak

Jajat Burhanudin

Jaman Manik

Jeffri Geovanie

Jeirry Sumampow

JN. Hariyanto, SJ

Johnson Panjaitan

JORGA IBRAHIM

Josef Christofel Nalenan

Joseph Santoso

Judo Puwowidagdo

JULIA SURYAKUSUMA

Jumarsih

Kadek Krishna Adidarma

Kartini

Kartono Mohamad

Kautsar Azhari Noer

KEMALA CHANDRA KIRANA

KH. ABDUD TAWWAB

KH. ABDUL A’LA

KH. ABDUL MUHAIMIN

KH. ABDURRAHMAN WAHID

KH. HUSEIN MUHAMMAD

KH. IMAM GHAZALI SAID

KH. M. IMANUL HAQ FAQIH

KH. MUSTOFA BISRI

KH. NURIL ARIFIN

KH. NURUDIN AMIN

KH. RAFE’I ALI

KH. SYARIF USMAN YAHYA

Kristanto Hartadi

L. Ani Widianingtias

Laksmi Pamuntjak

Lasmaida S.P.

Leo Hermanto

LIES MARCOES-NATSIR

Lily Zakiyah Munir

LIN CHE WEI

Lisabona Rahman

Luthfie Assyaukanie

M. Chatib Bisri

M. DAWAM RAHARDJO

M. Guntur Romli

M. Subhan Zamzami

M. Subhi Azhari

M. Syafi’i Anwar

Marco Kusumawijaya

Maria Astridina

Maria Ulfah Anshor

Mariana Amirudin

MARSILAM SIMANJUNTAK

Martin L. Sinaga

Martinus Tua Situngkir

Marzuki Rais

Masykurudin Hafidz

MF. Nurhuda Y

Mira Lesmana

MOCHTAR PABOTTINGI

MOESLIM ABDURRAHMAN

Moh. Monib

Mohammad Imam Aziz

Mohtar Mas’oed

Monica Tanuhandaru

Muhammad Kodim

Muhammad Mawhiburrahman

Mulyadi Wahyono

MUSDAH MULIA

Nathanael Gratias

Neng Dara Affiah

Nia Sjarifuddin

Nirwan Dewanto

Noldy Manueke

Nong Darol Mahmada

NONO ANWAR MAKARIM

Noorhalis Majid

Novriantoni

Nugroho Dewanto

Nukila Amal

Nur Iman Subono

Pangeran Djatikusumah

Panji Wibowo

Patra M. Zein

Permadi

Pius M. Sumaktoyo

Putu Wijaya

Qasim Mathar

R. Muhammad Mihradi

R. Purba

Rachland Nashidik

Rafendi Djamil

Raharja Waluya Jati

Raja Juli Antoni

Rasdin Marbun

RATNA SARUMPAET

Rayya Makarim

Richard Oh

Rieke Dyah Pitaloka

RIZAL MALARANGENG

Robby Kurniawan

Robertus Robett

Rocky Gerung

Rosensi

Roslin Marbun

Rumadi

Saiful Mujani

Saleh Hasan Syueb

Sandra Hamid

Santi Nuri Dharmawan

Santoso

Saor Siagian

Sapardi Djoko Damono

Sapariah Saturi Harsono

SAPARINAH SADLI

Saras Dewi

Save Degun

SHINTA NURIYAH WAHID

Sijo Sudarsono

Sitok Srengenge

Slamet Gundoro

Sondang

Sri Malela Mahargasari

St. Sunardi

Stanley Adi Prasetyo

Stanley R. Rambitan

Sudarto

Suryadi Radjab

SUSANTO PUDJOMARTONO

Syafiq Hasyim

Syamsurizal Panggabean

Sylvana Ranti-Apituley

Sylvia Tiwon

Tan Lioe Ie

Tatik Krisnawaty

TAUFIK ABDULLAH

Taufik Adnan Amal

TGH Imran Anwar

TGH Subki Sasaki

Tjiu Hwa Jioe

Tjutje Mansuela H.

TODUNG MULYA LUBIS

Tommy Singh

Toriq Hadad

Tri Agus S. Siswowiharjo

Trisno S. Sutanto

Uli Parulian Sihombing

ULIL ABSHAR-ABDALLA

Usman Hamid

Utomo Dananjaya

Victor Siagian

Vincentius Tony V.V.Z

Wahyu Andre Maryono

Wahyu Effendi

Wahyu Kurnia I

Wardah Hafiz

Wiwin Siti Aminah Rohmawati

WS RENDRA

Wuri Handayani

Yanti Muchtar

Yayah Nurmaliah

Yenni Rosa Damayanti

YENNY ZANNUBA WAHID

Yohanes Sulaiman

Yosef Adventus Febri P.

Yosef Krismantoyo

Yudi Latif

Yuyun Rindiastuti

Zacky Khairul Umam

Zaim Rofiqi

Zen Hae

Zainun Kamal

Zakky Mubarok

Zuhairi Misrawi

Zulkifli Lubis

Zuly Qodir


Di bagian paling bawah iklan pendukung kesesatan itu tercantum undangan untuk menghadiri APEL AKBAR yang diselenggarakan tanggal 1 Juni 2008, pukul 13.00 – 16.00 WIB di Lapangan MONAS-JAKARTA.

Setidaknya kita tahu, itulah nama-nama para tokoh yang berhasil ditipu mentah-mentah oleh Ahmadiyah yang sesat dan menyesatkan, serta berhasil menipu rakyat miskin yang kurang bekal iman.

Biaya pemasangan iklan setengah halaman di Media Indonesia tentunya tidak sedikit. Kalau saja dana itu digunakan untuk membantu sejumlah orang miskin, tentu akan jauh lebih bermanfaat. Begitulah watak orang sesat dan pendukung kesesatan, mereka mengeluarkan sejumlah uang dalam jumlah besar hanya untuk menegaskan kesesatannya. Kasihan sekali. Padahal, akan lebih bermakna bila iklan seperti itu ditujukan untuk menolak kenaikan BBM, kenaikan harga sembilan bahan pokok, dan sebagainya.

Oleh karena itu, marilah kita berdoa kepada Allah subhanahu wata’ala agar ke-298 orang yang namanya tercantum sebagai pendukung Ahmadiyah dan pelaku provokasi terhadap ummat Islam itu mendapat hidayah dari-Nya, dipulihkan akal sehatnya, serta dituntun ke jalan yang benar. (haji/tede)