Mengenal Kitab Suci Al-Qur’an

 

Oleh Hartono Ahmad Jaiz

Al-Qur’an berasal dari kata qara’a yang artinya membaca. Qur’an itu artinya bacaan, atau dimaknai maqru’ yaitu yang dibaca. Maka menurut pendapat yang paling kuat seperti yang dikemukakan Dr Subhi Al-Salih, Qur’an itu artinya bacaan.

Di dalam Al-Qur’an sendiri ada pemakaian kata ‘Qur’an’ itu dalam arti demikian sebagai tersebut dalam ayat 17, 18 surat (75) Al-Qiyamah:

إِنَّ عَلَيْنَا جَمْعَهُ وَقُرْءَانَهُ(17)فَإِذَا قَرَأْنَاهُ فَاتَّبِعْ قُرْءَانَهُ(18)

Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya.

Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu. (QS Al-Qiyamah/ 75: 17. 18).

Kemudian lafal ‘Qur’an’ itu dipakai untuk Al-Qur’an yang dikenal sekarang ini.

Adapun definisinya, Al-Qur’an adalah ‘Kalam Allah subhanahu wa ta’ala yang merupakan mu’jizat yang diturunkan (diwahyukan) kepada Nabi Muhammad saw dan yang ditulis di mushaf dan diriwayatkan dengan mutawatir serta membacanya adalah ibadah.’

Dengan definisi ini, Kalam Allah yang diturunkan kepada Nabi-nabi selain Nabi Muhammad saw, tidak dinamakan Al-Qur’an; seperti Taurat yang diturunkan kepada Nabi Musa as, atau Injil yang diturunkan kepada Nabi Isa as. Dengan demikian pula Kalam Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw yang (ketika kita) membacanya tidak dianggap sebagai ibadah, seperti Hadits Qudsi, tidak pula dinamakan Al-Qur’an. (Lihat Al-Qur’an dan Terjemahnya, Mujamma’ Al-Malik Fahd, Madinah, 1422H, halaman 15).

Untuk lebih memperjelas, perlu pula ditampilkan di sini beberapa definisi Al-Qur’an:

1. Al-Qur’an adalah kalamullah (firman Allah) yang mengandung mu’jizat, yang diturunkan kepada nabi dan rasul terakhir, dengan perantaraan Al-Amin Jibril as, yang tertulis dalam mushaf, yang disampaikan kepada kita secara mutawatir yang dianggap sebagai ibadah membacanya, yang dimulai dengan surat Al-Fatihah dan ditutup dengan surat An-Naas.

2. Al-Qur’an adalah lafal berbahasa Arab yang diturunkan kepada pemimpin kita Muhammad saw yang disampaikan kepada kita secara mutawatir, yang dianggap sebagai ibadah membacanya, yang menentang setiap orang (untuk menyusun walaupun) dengan (membuat) surat yang terpendek daripadanya, yang dimulai dengan surat Al-Fatihah dan ditutup dengan surat An-Naas.

Al-Qur’an (dengan nama apapun ia dinamakan) adalah perkataan yang mengandung mukjizat yang diturunkan kepada Nabi saw yang tertulis dalam mushaf, yang disampaikan dengan mutawatir, yang dianggap sebagai ibadah, membacanya. (Dr Subhi Al-Salih, Mabahits fi ‘ulumil Qur’an, halaman 21, seperti dikutip Muqaddimah Al-Qur’an dan Tafsirnya, Departemen Agama RI, Jakarta, 1985/ 1986, halaman 20.)

3. Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijiri dalam Kitab Ushuluddin menjelaskan tentang Al-Qur’an sebagai berikut:

Al-Qur’anul Kariem adalah firman Rabbil ‘alamien, yang telah Allah turunkan kepada Rasul-Nya, Muhammad saw, untuk mengeluarkan manusia dari kegelapan kepada cahaya.

هُوَ الَّذِي يُنَزِّلُ عَلَى عَبْدِهِ ءَايَاتٍ بَيِّنَاتٍ لِيُخْرِجَكُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ وَإِنَّ اللَّهَ بِكُمْ لَرَءُوفٌ رَحِيمٌ(9)

Dialah yang menurunkan kepada hamba-Nya ayat-ayat yang terang (Al Qur’an) supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya. Dan sesungguhnya Allah benar-benar Maha Penyantun lagi Maha Penyayang terhadapmu. (QS Al-hadiid/ 57: 9).

Al-Qur’anul Kariem itu kitab Allah kepada semua manusia.

إِنَّا أَنْزَلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ لِلنَّاسِ بِالْحَقِّ فَمَنِ اهْتَدَى فَلِنَفْسِهِ وَمَنْ ضَلَّ فَإِنَّمَا يَضِلُّ عَلَيْهَا وَمَا أَنْتَ عَلَيْهِمْ بِوَكِيلٍ(41)

Sesungguhnya kami menurunkan kepadamu Al Kitab (Al Qur’an) untuk manusia dengan membawa kebenaran; siapa yang mendapat petunjuk, maka (petunjuk itu) untuk dirinya sendiri, dan siapa yang sesat maka sesungguhnya dia semata-mata sesat buat (kerugian) dirinya sendiri dan kamu sekali-kali bukanlah orang yang bertanggung jawab terhadap mereka. (QS Az-Zumar/ 39: 41).

Al-Qur’anul Kariem membenarkan kitab-kitab sebelumnya seperti Taurat dan Injil; dan jadi ukuran benar tidaknya kitab-kitab sebelumnya itu. Firman Allah Ta’ala:

وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتَابِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ

Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Qur’an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu. (QS Al-Maaidah/ 5: 48).

Setelah turunnya Al-Qur’an maka jadilah dia kitab untuk manusia sampai tibanya hari qiyamat. Siapa yang tidak beriman kepadanya maka kafir, akan disiksa dengan adzab di hari qiyamat, sebagaimana firman Allah:

وَالَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا يَمَسُّهُمُ الْعَذَابُ بِمَا كَانُوا يَفْسُقُونَ(49)

Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, mereka akan ditimpa siksa disebabkan mereka selalu berbuat fasik. (QS Al-An’aam/ 6 : 49).

Oleh karena agungnya Al-Qur’an dan apa-apa yang ada di dalamnya berupa ayat-ayat, mu’jizat, perumpamaan, ungkapan-ungkapan sampai pada segi kejelasan dan keindahan keterangannya, maka Allah Ta’ala berfirman:

لَوْ أَنْزَلْنَا هَذَا الْقُرْءَانَ عَلَى جَبَلٍ لَرَأَيْتَهُ خَاشِعًا مُتَصَدِّعًا مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ وَتِلْكَ الْأَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ(21)

Kalau sekiranya Kami menurunkan Al Qur’an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan takut kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berfikir. (QS Al-hasyr/ 59 : 21).

Allah menantang manusia dan jin untuk mendatangkan yang seperti Al-Qur’an atau satu surat sepertinya atau satu ayat sepertinya, maka tidak dapat dan tidak akan dapat, sebagaimana Allah swt firmankan:

قُلْ لَئِنِ اجْتَمَعَتِ الْإِنْسُ وَالْجِنُّ عَلَى أَنْ يَأْتُوا بِمِثْلِ هَذَا الْقُرْءَانِ لَا يَأْتُونَ بِمِثْلِهِ وَلَوْ كَانَ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ ظَهِيرًا(88)

Katakanlah: ‘Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al Qur’an ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan dia, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain’. (QS Al-Israa’/ 17: 88).

Karena Al-Quranul kariem itu kitab samawi (yang turun dari langit) yang paling agung, paling sempurna, dan paling komplit dan paling akhir, maka Allah memerintahkan Rasul-Nya, Muhammad saw, untuk menyampaikannya kepada seluruh manusia, dengan firman-Nya:

يَاأَيُّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ مَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ وَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَمَا بَلَّغْتَ رِسَالَتَهُ وَاللَّهُ يَعْصِمُكَ مِنَ النَّاسِ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ(67)

Hai Rasul, sampaikanlah apa yang di turunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir. (QS Al-Maaidah/ 5: 67).

Karena pentingnya Al-Qur’an ini dan adanya kebutuhan umat kepadanya, maka Allah telah memuliakan kita dengan menurunkannya atas kita, dan Dia menjamin dengan menjaganya untuk kita, Dia berfirman:

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ(9)

Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya. (QS Al-Hijr/ 15: 9). (Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijiri, Kitab Ushuluddin, dikutip dalam Fatawa al-‘Aqidah oleh Muhammad Shalih Al-Munajid, Maktabah At-Taufiqiyyah, Kairo, tt.)

Al-Qur’an adalah Kitab Suci satu-satunya yang telah dijamin oleh Allah bebas dari kekurangan dan tambahan, selamat dari perobahan, dan telah dijamin keabadiannya hingga kelak diangkat pada akhir kehidupan ini.

لَا يَأْتِيهِ الْبَاطِلُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَلَا مِنْ خَلْفِهِ تَنْزِيلٌ مِنْ حَكِيمٍ حَمِيدٍ(42)

Yang tidak datang kepadanya (Al Qur’an) kebatilan baik dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari Tuhan Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji. (QS Fusshilat/ 41: 42). (Abu Bakar Jabir Al-Jazairi, Minhajul Muslim, Darul Fikr, Beirut).

Itulah pensifatan-pensifatan tentang Al-Qur’anul Kariem, kitab suci umat Islam sedunia, sejak zaman Nabi Muhammad saw sampai akhir zaman.

Hukuman Atas pengingkar ayat

Ada contoh pengingkar ayat dan hukumannya, di antaranya sebagai berikut:

Ja’d bin Dirham guru Jahm bin Shofwan pemimpin aliran Jahmiyah.

Ja’d bin Dirham itu tidak percaya bahwa Nabi Ibrahim itu khalilullah (kekasih Allah) dan Nabi Musa itu Kalimullah (orang yang pernah diajak bicara Allah).

Padahal Alloh Swt berfirman:

وَاتَّخَذَ اللَّهُ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلًا

Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayanganNya. (QS An-Nisaa’: 125).

وَرُسُلًا قَدْ قَصَصْنَاهُمْ عَلَيْكَ مِنْ قَبْلُ وَرُسُلًا لَمْ نَقْصُصْهُمْ عَلَيْكَ وَكَلَّمَ اللَّهُ مُوسَى تَكْلِيمًا(164)

Dan (kami telah mengutus) rasul-rasul yang sungguh telah Kami kisahkan tentang mereka kepadamu dahulu, dan rasul-rasul yang tidak Kami kisahkan tentang mereka kepadamu. Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung. (QS An-Nisaa’: 164).

Karena tidak percaya itulah maka kemudian Gubernur Kholid bin Abdullah Al-Qasri berkhutbah di Wasith (wilayah Iraq) pada Hari Raya Adha, dia (Gubernur) berkata:

ارجعوا فضحوا تقبل الله ضحاياكم فإني مضح بالجعد بن درهم فإنه زعم أن الله لم يكلم موسى تكليما ولم يتخذ إبراهيم خليلا تعالى الله عما يقول الجعد علوا كبيرا ثم نزل فذبحه

“Pulanglah kamu sekalian lalu sembelihlah qurban semoga Allah menerima qurban-qurban kalian. Maka sesungguhnya aku akan menyembelih Ja’d bin Dirham, karena dia menyangka bahwa Allah tidak berbicara kepada Musa dan tidak menjadikan Ibrahim itu khalil (kekasih). Maha Tinggi Allah dari apa yang dikatakan Ja’d yang menyombongkan diri dengan kesombongan yang besar.” Kemudian Gubernur Kholid turun (dari mimbar) dan menyembelih Ja’d bin Dirham.)As-Showa’iqul Mursalah, juz 4, halaman 1396(

Itulah Ja’d bin Dirham, yang manafikan (meniadakan ) sifat Alloh. Peniadaan sifat Alloh itu biasanya disebut ta’thil (pembatalan –sifat-sifat Alloh). Ja’d bin Dirham itu adalah guru dari Jahm bin Shofwan pemimpin Jahmiyah. Firqah Jahmiyah yakni para pengikut Jahm bin Shafwan Abi Mahras As-Sa­markandi At-Turmudzi yang dihukum bunuh pada tahun 128 H. Jahm bin Shafwan be­lajar kepada Ja’d bin Dirham. Ja’d belajar kepada Thalut. Thalut belajar kepada Labib bin Al- ‘Asham, seorangYahudi, maka jadilah mereka semua murid-murid Yahudi. Kare­na itu, perhatikanlah dari siapa seseorang itu mengambil ilmu. Maka perlu diperhatikan nasihat Muhammad Ibnu Sirin:

عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ سِيرِينَ قَالَ إِنَّ هَذَا الْعِلْمَ دِينٌ فَانْظُرُوا عَمَّنْ تَأْخُذُونَ دِينَكُمْ. صحيح مسلم – (ج 1 / ص 11(

Sesungguhnya ilmu ini adalah agama, maka waspadalah dari siapa kalian mengambil agamamu itu. (Shahih Muslim juz 1/ halaman11).

Perhatikanlah saudara-saudaraku, sekarang ini orang-orang sepilis (sekuler, pluralisme agama, dan liberal) yang menghujat-hujat ataupun menyelewengkan pengertian ayat-ayat Al-Qur’an kebanyakan adalah orang-orang yang menyusu kepada orang-orang kafir Barat ataupun Timur, atau terpengaruh oleh pemikiran kafirin dan munafikin baik Barat maupun Timur. Ketika mereka ramai-ramai belajar “Islam” kepada para penghujat Islam, baik di Barat maupun di Timur, maka setelah mereka pulang kemudian melontarkan hujatan-hujatan terhadap ayat-ayat Al-Qur’an.

يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَالَّذِينَ ءَامَنُوا وَمَا يَخْدَعُونَ إِلَّا أَنْفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُونَ

Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, pada hal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar. (QS Al-Baqarah: 9).