Ungkapan Gus Dur itu mari kita buktikan, dusta atau tidak Gus Dur itu, kita lihat Undang-undang Dasar:.

UNDANG-UNDANG DASAR

NEGARA REPUBLIK INDONESIA

TAHUN 1945

BAB XA

HAK ASASI MANUSIA

Pasal 28E

(1) Setiap orang bebas memeluk agama dan beribadat menurut agamanya…

BAB XI

AGAMA

Pasal 29

(1) Negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa.

(2) Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu.

Dalam kaitan dengan kasus Ahmadiyah, M Amin Djamaluddin ketua LPPI (Lembaga Penelitian dan Pengkajian Islam) di Jakarta menulis, di antaranya:

TANGGAPAN:

Yang dijamin oleh UUD 1945 Pasal 29 Ayat (1) dan (2) dan Undang-Undang HAM itu adalah masalah kebebasan beragama. Maksudnya adalah, setiap agama yang ada di Indonesia, pengikutnya dijamin bebas menjalankan ajaran agamanya sesuai dengan ajaran agama masing-masing.

Sedangkan Ahmadiyah ini praktek nyatanya bukan masalah kebebasan beragama, tetapi kebebasan mengacak-acak agama Islam serta mengacak-acak dan memutarbalikkan ayat-ayat kitab suci Al Qur’an.

Tidak ada dalam UUD 1945 serta UU HAM, satu pasal atau ayat pun yang membolehkan pemutarbalikan serta perusakan suatu agama yang ada di Indonesia. Sekali lagi saya tegaskan, yang dijamin oleh UUD 1945 serta UU HAM adalah kebebasan beragama dan bukan kebebasan mengacak-acak serta merusak agama Islam. Oleh karena itu, tindakan saudara-saudara orang Ahmadiyah ini telah menodai suatu agama yang ada di Indonesia dan akan dikenai pasal 156A KUHP. (M Amin Djamaluddin, Ketua LPPI).

Pasal 156 a KUHP memberi ancaman pidana lima tahun penjara bagi

mereka yang dengan sengaja dimuka umum mengeluarkan perasaan atau

melakukan perbuatan yang bersifat permusuhan, penyalahgunaan atau

penodaan terhadap suatu agama yang dianut di Indonesia. Juga bagi

mereka yang dengan sengaja di muka umum mengeluarkan perasaan atau

melakukan perbuatan dengan maksud agar supaya orang tidak menganut

agama apapun juga yang bersendikan Ketuhanan Yang Maha Esa.

Pasal 1 Undang-Undang No. 1/PNPS/1965 tegas menyebutkan larangan

mengusahakan dukungan umum dan untuk melakukan penafsiran tentang

sesuatu agama. Ketentuan pasal ini selengkapnya berbunyi: “Setiap

orang dilarang dengan sengaja di muka umum menceritakan,

menganjurkan atau mengusahakan dukungan umum untuk melakukan

penafsiran tentang sesuatu agama yang utama di Indonesia atau

melakukan kegiatan-kegiatan keagamaan yang menyerupai

kegiatan-kegiatan agama itu, penafsiran dan kegiatan mana menyimpang

dari pokok-pokok ajaran dari agama itu“.

Pelanggaran Ahmadiyah sangat jelas

Ahmadiyah telah dinyatakan oleh Bakor Pakem Kejaksaan Agung: menyimpang dari pokok-pokok ajaran Islam. Antara Undang-undang dan keputusan Bakor Pakem tentang Ahmadiyah, telah nyata, melanggar larangan .

Sementara itu pemalsuan dan penodaan nabi palsu Ahmadiyah, Mirza Ghulam Ahmad, terhadap Islam nyata jelas. Mari kita simak contoh ayat-ayat palsu yang menodai Islam bahkan menganggap ummat Islam ini kafir dan musuh:

Menganggap semua orang Islam yang tidak mempercayai Mirza Ghulam Ahmad sebagai Rasul adalah musuh. Kitab Tadzkirah halaman 402:

سَيَقُوْلُ الْعَدُوُّ لَسْتَ مُرْسَلاً

Musuh akan berkata: kamu (Mirza Ghulam Ahmad) bukanlah orang yang diutus (Rasul). (Tadzkirah halaman 402)

Selain golongannya maka dianggap kafir dan dilaknat.

Tadzkirah, halaman 748-749:

Laknat Allah ditimpakan atas orang yang kufur

لَعْنَةُ اللهِ عَلَى الَّذِىْ كَفَرَ

Kamu adalah Imam yang di-berkahi, Laknat Allah ditimpa-kan atas orang yang kufur

َانْتَ اِمَامٌ مُّبَارَكٌ لَعْنَةُ اللهِ عَلَى مَنْ كَفَرَ

Kamu adalah Imam yang di-berkahi, Laknat Allah ditimpa-kan atas orang yang kufur

َانْتَ اِمَامٌ مُّبَارَكٌ لَعْنَةُ اللهِ عَلَى مَنْ كَفَرَ

Kamu adalah Imam yang di-berkahi, Laknat Allah ditimpa-kan atas orang yang kufur

َانْتَ اِمَامٌ مُّبَارَكٌ لَعْنَةُ اللهِ عَلَى مَنْ كَفَرَ

Memutar balikkan ayat-ayat Al-Qur’an. Contohnya:

Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa – Dia itu tidak masuk ke dalamnya (neraka), kecuali dengan rasa takut.

تَبَّتْ يَدَآ اَبِيْ لَهَبٍ وَّتَبَّ مَاكَانَ لَهُ اَنْ يَّدْخُلَ فِيْهَا اِلاَّ خَائِفًا

Di dalam Al-Qur’an, bunyi ayatnya:

تَبَّتْ يَدَا أَبِي لَهَبٍ وَتَبَّ(1) مَا أَغْنَى عَنْهُ مَالُهُ وَمَا كَسَبَ(2)

Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa.

Tidaklah berfaedah kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan. (QS Al-Masad: 1, 2).

Setelah kita simak Undang-undang Dasar, serta undang-undang yang ada di Indonesia, dapat kita bandingkan dengan penodaan terhadap Islam yang dilakukan nabi palsu Ahmadiyah yakni Mirza Ghulam Ahmad, ternyata benar-benar sudah melanggar Undang-undang. Kalau Gus Dur istiqamah, maka ucapannya: “Kalau perlu tangkap saja yang melanggar Undang-undang.” Itu mestinya ditujukan kepada orang-orang Ahmadiyah yang telah jelas-jelas melanggar undang-undang karena merusak dan menodai serta menyimpang dari ajaran Islam. Tetapi anehnya, teriakan Gus Dur itu justru untuk membela Ahmadiyah, dan mengecam MUI serta Bakor pakem Kejaksaan Agung. Aneh tenan! (Benar-benar aneh!).

Oleh karena itu betapa bohongnya Gus Dur itu. Sudah membohongi ummat, masih pula berdalih-dalih dengan Undang-undang Dasar, hanya demi membela Ahmadiyah, perusak Islam. Komplitlah sudah kejahatannya. Masih ditambah lagi, menggoblog-goblogkan orang. Itu entah ke mana akhlaqnya.

Bahaya tokoh sesat menyesatkan

Untuk menghadapi tokoh sesat lagi menyesatkan, ada hadits yang cukup jelas:

عَنْ ثَوْبَانَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « إِنَّمَا أَخَافُ عَلَى أُمَّتِى الأَئِمَّةَ الْمُضِلِّينَ ».

Dari Tsauban, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Sesungguhnya yang aku takuti (bahayanya) atas ummatku hanyalah imam-imam/ pemimpin-pemimpin yang menyesatkan. (HR Ahmad, rijalnya tsiqot –terpercaya menurut Al-Haitsami, juga dikeluarkan oleh Abu Daud, Ad-Darimi, dan At-Tirmidzi, ia berkata: Hadits Shahih. Al-Albani dalam As-Silsilah As-Shahihah berkata, isnadnya shahih atas syarat Muslim).

Siapakah imam-imam yang menyesatkan (aimmah mudhillin) itu?

( إنما أخاف على أمتي الأئمة ) أي شر الأئمة ( المضلين ) المائلين عن الحق المميلين عنه . — التيسير بشرح الجامع الصغير ـ للمناوى – (ج 1 / ص 728)

Imam-imam yang menyesatkan (al-Aimmah al-mudhillin) artinya seburuk-buruk imam/ pemimpin, yang menyimpang dari kebenaran dan menyelewengkan darinya. (Al-Munawi, At-Taisir bisyarhil Jami’is Shaghir juz 2 halaman 728).

أئمة مضلين أي داعين إلى البدع والفسق والفجور. — تحفة الأحوذي – (ج 6 / ص 401)

Imam-imam yang menyesatkan, artinya penyeru-penyeru kepada bid’ah-bid’ah, kefasikan (pelanggaran-pelanggaran) dan fujur (kejahatan-kejahatan) (Al-Mubarokafuri, Tuhfatul Ahwadzi, syarah Jami’ At-Tirmidzi juz 6 halaman 401).

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam sangat khawatir terhadap pemimpin-pemimpin yang menyesatkan. Sedangkan Nabi saw adalah panutan kita. Itu pasti. Tetapi kenapa kadang kita yang mengaku jadi ummat Nabi Muhammad saw justru membiarkan tokoh sesat menyestakan merajalela. Bahkan lebih dari itu justru memilihnya, mendukungnya, dan mengelu-elukannya, sampai menciumi tangannya segala. Perilaku macam inilah mestinya yang jadi sasaran, kalau mau kau goblog-goblogkan, Gus! (Hartono Ahmad Jaiz)

<http://www.nahimunk ar.com/?p= 64#more-64>http://www.nahimunk ar.com/?p= 64#more-64
Catatan: Setelah Gus Dur dikubur 31/ 12 2009 di Jombang pun nisannya diciumi orang-orang, tanah kuburannya diambili para fanatikusnya dijadikan semacam jimat (ini tingkah kemusyrikan, dosa terbesar dalam Islam), bahkan kembang di atas kubur pun habis mereka ambili. ketika hidupnya, Gus Dur tidak melarang hal semacam itu, bahkan menghidupkan kembali kemusyrikan di antaranya ruwatan. Dan dia sibuk membela kesesatan dan maksiat seperti Ahmadiyah, Inul penggoyang ngebor dan sebagainya. lengkaplah sudah, dan celengannya masih banyak… sekali…

Ini perlu diungkap kembali karena kini banyak orang yang memuji-muji Gus Dur setinggi langit.