Menghakimi Ulfa

MASIH ingat Lutfiana Ulfa yang pernikahannya dengan Syekh Puji pada tanggal 8 Agustus 2008 dibikin heboh media massa? Sekedar mengingatkan, pernikahan antara Ulfa dan Syekh Puji kala itu berlangsung mulus dan aman. Barulah di pekan ketiga Oktober 2008, pernikahan syar’i itu diberitakan secara heboh oleh berbagai media massa. Pasalnya, pada 26 Ramadhan 1429 H (bertepatan dengan 26 September 2008), Syekh Puji membagi-bagikan zakat maal (zakat harta) senilai Rp 1,3 milyar. Kepada warga desa Bedono, zakat maal yang diberikan sebesar Rp 120 ribu (untuk orang dewasa) dan Rp 50 ribu (untuk anak-anak). Sementara, warga dari desa lain zakat maal yang diberikan sebesar Rp 45 ribu (untuk orang dewasa) dan Rp 15 ribu (untuk anak-anak).

Kalau saja Syekh Puji tidak melakukan sesuatu yang menurut perspektif pers merupakan sebuah peristiwa menghebohkan berupa membagi-bagikan zakat maal, kemungkinan pernikahannya dengan Ulfa yang ketika itu masih berusia 12 tahun –namun sudah menstruasi sejak usia 10 tahun– tidak akan diberitakan seheboh kala itu.

Indonesia yang berpancasila ini, pada sila pertamanya menyebutkan Ketuhanan Yang Maha Esa, pada undang-udangnya menjamin kebebasan beragama. Menurut ketentuan hukum Islam, tidak ada istilah pernikahan dini. Setiap wanita yang sudah memasuki masa pubertas, yang ditandai dengan menstruasi, maka sejak saat itu ia tergolong wanita dewasa yang berhak menikah.

Allah tidak mengharamkan pernikahan seperti terjadi pada Ulfa dan Syekh Puji. Hanya Allah yang mempunyai hak mengharamkan segala sesuatu, termasuk pernikahan. Sedangkan manusia tidak punya hak untuk itu. Maka, bila ada seseorang atau sekelompok orang –dengan atas nama apapun– mengharamkan sesuatu yang tidak diharamkan Allah, maka ia atau mereka tidak perlu diikuti, tidak boleh ditaati, karena bertentangan dengan ketentuan Allah.

عَنِ النَّوَّاسِ بنِ سَمْعَانَ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : لا طَاعَةَ لِمَخْلُوقٍ فِي مَعْصِيةِ الخَالِقِ “

Nabi shallalahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Tidak ada ketaatan kepada makhluq dalam maksiat kepada Maha Pencipta. (HR Ahmad, Al-Hakim, dan Al-Baghawi, dishahihkan oleh Al-Albani).

Kini, pernikahan Ulfa dengan syekh Puji yang sah secara syar’i itu masih juga dipermasalahkan, dicecar dengan hukum pidana, dan bahkan ada proses visum terhadap Ulfa. Prosedur ini jelas mencederai Islam, menghinakan hukum Islam, menghina Ulfa dan keluarganya, karena pernikahan sah secara agama itu disamakan dengan perkosaan yang bernuansa paksaan dan kriminal.

Apalagi, untuk bisa memvisum Ulfa, Polwiltabes Semarang menempuh berbagai cara, termasuk membius Ulfa, sebagaimana diungkapkan Dodik, adik Syekh Puji. Cara itu ditempuh aparat kepolisian, karena sejak semula Ulfa menolak divisum.

Menurut kesaksian Dodik, Ulfa keluar dari ruang pemeriksaan RS Tugurejo dalam keadaan lemas, sehingga dua petugas dari polwiltabes harus membopongnya ke dalam mobil. Saat siuman, Ulfa menangis sejadi-jadinya, karena ia mulai sadar bahwa dirinya baru saja menjalani proses visum yang sejak semula ditolaknya.

Sebagaimana dikutip Jawapos, Dodik menceritakan kronologi penjemputan (pemeriksaan) Ulfa, yang menurutnya mencurigakan. Pada hari Kamis, 23 Juli 2009, sekitar pukul 19:00, Ulfa dibawa ke polwiltabes oleh dua pria yang merupakan suruhan Umi Hanni (istri tua Syekh Puji). Sesampai di polwiltabes, Ulfa diantar ke ruang PPA. Di tempat itu sudah menunggu Dora (anak kandung Syekh Puji dari mantan istri sebelumnya), yang menurut versi keluarga Syekh Puji ikut mendampingi Ulfa saat diperiksa.

Ulfa menjalani pemeriksaan hingga pukul 03.00 (Jumat 24 Juli 2009). Menurut Dodik, ketika diperiksa, Ulfa lebih banyak menjawab tidak tahu. Ulfa hanya menjawab pertanyaan yang ringan-ringan saja.

Di Indonesia memang ada Undang-undang Perkawinan yang isinya antara lain melarang pernikahan usia dini, yaitu bagi wanita yang belum mencapai usia 16 tahun. Ketentuan itu khas Indonesia, bukan Islam. Meski begitu, pihak berwenang tidak seharusnya menangani kasus pernikahan dini dengan cara-cara yang kurang menyenangkan, sebagaimana terjadi pada Ulfa.

Di Arab Saudi, larangan pernikahan dini ala Indonesia sama sekali tidak pernah ada. Bahkan di Kuwait, sejumlah ulama di sana menentang larangan pernikahan yang berlangsung pada wanita yang usianya belum mencapai 16 tahun, sebagaimana dirumuskan oleh parlemen Kuwait. Salah satu pasal dari undang-undang perkawinan versi Kuwait menyatakan, tidak boleh menikahkan anak yang umurnya di bawah 16 tahun kecuali dengan izin pengadilan syar’i. Menurut ulama di sana, undang-undang itu cenderung memudahkan kita untuk keluar dari hukum syar’i dan menggantinya dengan pendapat bathil.

Selama ini pernikahan dini merupakan hal yang lazim terjadi di sejumlah daerah di Indonesia. Misalnya, di Bantul (DIY), momen pernikahan dini sepanjang tahun 2008 lalu terjadi pada sekitar 78 pasangan. Menurut catatan, di kabupaten Bantul momen pernikahan dini menempati angka tertinggi dibanding kabupaten lain, namun uniknya, momen talak-cerai-rujuk menempati angka terendah dibanding kabupaten lain.

Kalau para pengusung pancasila itu konsisten, bahwa pancasila digali dari nilai-nilai yang hidup di dalam masyarakat, maka momen pernikahan usia muda yang hingga saat ini masih banyak terjadi di berbagai daerah, haruslah menjadi variabel yang dipertimbangkan di dalam membuat ketentuan.

Begitu juga dengan para aktivis yang menyuarakan kebebasan beragama dan berekspresi, bila mereka konsisten, seharusnya pernikahan antara Ulfa dengan Syekh Puji dapat dilihat dari sudut pandangan kebebasan berkspresi dan beragama, sehingga tidak layak untuk dilabeli macam-macam.

Para sekularis juga demikian. Bila mereka konsisten dengan pandangan adanya pemisahan antara urusan agama dengan urusan negara, maka pernikahan Ulfa dengan Syekh Puji yang didasari ajaran agamanya, tidak layak diintervensi negara, aparat negara, atau undang-undang sekalipun. Seharusnya mereka mengatakan, “pernikahan ulfa dan syekh puji itu berada di domain privat.”

Namun sayangnya, yang terjadi adalah upaya-upaya menghakimi Lutviana Ulfa, menghakimi Syekh Puji: sebuah proses penghakiman melalui hukum yang bathil. Dalam Islam, istilah pernikahan dini sama sekali tidak dikenal, yang ada justru anjuran untuk segera menikah.

809 حَدِيثُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ : عَنْ عَلْقَمَةَ قَالَ كُنْتُ أَمْشِي مَعَ عَبْدِ اللَّهِ بِمِنًى فَلَقِيَهُ عُثْمَانُ فَقَامَ مَعَهُ يُحَدِّثُهُ فَقَالَ لَهُ عُثْمَانُ يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ أَلَا نُزَوِّجُكَ جَارِيَةً شَابَّةً لَعَلَّهَا تُذَكِّرُكَ بَعْضَ مَا مَضَى مِنْ زَمَانِكَ قَالَ فَقَالَ عَبْدُ اللَّهِ لَئِنْ قُلْتَ ذَاكَ لَقَدْ قَالَ لَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ

809 Hadis Abdullah bin Mas’ud r.a: Diriwayatkan dari Alqamah r.a, ia berkata: Aku pernah berjalan-jalan di Mina bersama Abdullah r.a. Kami bertemu dengan Otsman r.a yang kemudian menghampiri Abdullah r.a. Setelah berbincang beberapa saat, Otsman r.a bertanya: Wahai Abu Abdul Rahman: Maukah aku jodohkan kamu dengan seorang perempuan muda؟ Mudah-mudahan perempuan itu akan dapat mengingatkan kembali masa lampaumu yang indah. Mendengar tawaran itu Abdullah r.a menjawab: Apa yang kamu ucapkan itu adalah sejajar dengan apa yang pernah disabdakan oleh Rasulullah s.a.w kepada kami: Wahai golongan pemuda! Siapa di antara kamu yang telah mempunyai kemampuan yaitu lahir dan batin untuk nikah, maka hendaklah dia nikah. Sesungguhnya pernikahan itu dapat menjaga pandangan mata dan menjaga kehormatan. Maka barangsiapa yang tidak berkemampuan, hendaklah dia berpuasa karena puasa itu dapat menjaga baginya (yaitu sebagai benteng nafsu). (HR Muttafaq ‘alaih/ Al-Bukhari dan Muslim).

Namun sayangnya lagi, ada saja sosok yang dikenali sebagai ulama justru mengajak umatnya untuk mengabaikan ketentuan syar’i dengan pendapat akal yang bertentangan dengan syar’i, misalnya dengan argumen: “… dalam agama Islam memang dibenarkan menikah dengan wanita usia muda asal sudah akil-baligh. Tetapi, sebagai orang Indonesia yang hidup di Indonesia, maka kita harus mengikuti hukum yang berlaku, mengikuti undang-undang yang berlaku, salah satunya undang-undang perkawinan yang melarang pernikahan dini.”

Pendapat seperti itu jelas bukan sebuah nasehat, tetapi sebuah penjerumusan ke dalam kebathilan. (haji/tede)