Berbicara tentang masalah Syi’ah, menurut Ust. Hartono, sebetulnya Majelis Ulama Indonesia (MUI) juga telah mengeluarkan fatwa, yaitu pada tahun 1984, yang isinya menjelaskan tentang perbedaan Syi’ah dengan Ahlus Sunnah. Dalam fatwa tersebut secara gamblang disebutkan: “Paham Syi’ah sebagai salah satu paham yang terdapat dalam dunia Islam mempunyai perbedaan-perbedaan pokok dengan mazhab Sunni, yaitu Ahlus Sunnah wal-Jama’ah yang dianut oleh mayoritas umat Islam Indonesia.“

Selain itu, Departemen Agama Republik Indonesia (Depag) pada tanggal 5 Desember 1985 juga telah menjelaskan tentang Syi’ah yang isinya menegaskan bahwa Syi’ah itu paham yang sesat dan menyesatkan.

Ust. Hartono menceritakan pengalamannya ditantang ber-mubahalah (berdo’a saling melaknat bagi yang berbohong) oleh seorang Syi’ah melalui telepon. Orang itu mengaku bernama Abdullah dari Ciputat.

Dia mengatakan, “Abu Bakar itu munafik.”

Ust. Hartono menjawab, “Munafik bahasa Indonesia yang artinya misalnya tadi pura-pura nggak mau makan, kemudian ternyata makan, atau munafik secara istilah agama?”

Dia jawab: “Secara istilah agama.”

Ust. Hartono menyahut, “Tidak!”

Kemudian, terjadilah saling berbantahan, dan dia menantang Ust. Hartono untuk ber-mubahalah.

Ust. Hartono: “Mubahalah perlu bertemu.”

Dia jawab: “Lewat telepon saja!”

Ust. Hartono: “Kalau lewat telepon, kamu menyatakan Abu Bakar munafik dalam arti istilah agama, dalam arti kafir?”

Dia jawab: “Ya!”

Ust. Hartono: “Bukan sekadar bahasa Indonesia yang begini!”

Dia jawab: “Bukan!” Kemudian dia katakan: “Kalau begitu Anda dulu untuk menyatakan mubahalah.”

Ust. Hartono: “Lho, yang mengajak siapa? Anda yang mengajak, ya Anda dulu yang harus ber-mubahalah?” Akhirnya dia mau, terus bersahadat, dan ternyata sahadatnya ditambah dengan wa asyhadu anna ‘Ali waliyullah.

Ust. Hartono menyahut: “Tidak usah, syahadat kan syahadatain, dua kalimat syahadat, asyhadu an laa ilaaha illalloh, wa asyhadu anna muhamadan rosulullah, cukup!”

Dia jawab: “Nggak, keyakinan saya ini, ya saya harus begini.” kemudian dia menyatakan bahwasannya Abu Bakar itu benar-benar munafik.

Ust. Hartono kemudian bersyahadat, kemudian menyatakan bahwasanya benar-benar Abu Bakar Sidik itu tidak munafik. “Siapa yang berbohong dalam mubahalah ini, maka agar Allah laknat.

“Alhamdulillah, saya sudah tiga-empat tahun ini alhamdulillah tidak apa-apa, tetapi saya tidak tahu dia, apakah sudah mati atau bagaimana?”

Kata Ust. Hartono, hal ini membuktikan bahwa aqidah Syi’ah yang mengkafirkan sahabat itu sudah sampai di Indonesia, bahkan sudah berani menantang ber-mubahalah.

Sikap yang sama juga ditunjukkan oleh pemimpin di negeri kaum Syi’ah, Iran, yaitu Ahmadinejad. Dalam pidatonya yang disiarkan di televisi dua hari menjelang pemilu beberapa waktu lalu, Ahmadinejad mengumpat kepada dua sahabat Rasulullah saw., yaitu Thalhah r.a. dan Zubair r.a. Ia menganggap bahwa kedua sahabat itu telah khianat dan kembali kepada kepercayaan jahiliah. Atas pernyataannya itu, maka kecaman datang dari berbagai belahan dunia. Padahal, kedua sahabat ini—Zubair dan Thalhah—termasuk sepuluh sahabat yang sudah dijamin oleh Rasulullah saw. akan masuk surga.

Ahmadinejad memang politisi yang piawai di depan umum. Penampilannya yang tidak berdasi memperlihatkan kesederhanaan hidupnya. Dalam orasi-orasi politiknya sering memperlihatkan betapa beraninya dia terhadap negara adidaya Amerika Serikat (AS). Retorikanya menentang standar ganda kebijakan AS membuat masyarakat dunia—yang tidak mengetahui keadaan sebenarnya—terkagum-kagum. Tak heran jika media massa selalu membanggakan sosok yang satu ini. Padahal, dia berpaham Syi’ah yang telah terbukti menjelek-jelekkan sahabat Nabi saw.

Selanjutnya, Ust. Hartono memperlihatkan kepada hadirin satu buku terjemahan yang diterbitkan oleh Lembaga Penelitian dan Pengkajian Islam (LPPI). Buku itu berisi daftar para ulama Ahlus Sunnah di Iran yang disembelih dan masjid-masjid yang dirobohkan oleh orang-orang Syi’ah. Buku itu memperlihatkan betapa kejamnya orang-orang Syi’ah kepada Ahlus Sunnah.

Sejarah masa lalu juga telah menunjukkan bukti kekejaman kaum Syi’ah terhadap Ahlus Sunnah. Pada masa pemerintahan Abbasiah, Al-Mu’tasim Billah, di Baghdad pada tahun 656 H, dua orang pejabat menteri yang berpaham Syi’ah—Ibnul ‘Alqami dan Nashiruddin Ath-Thusi—membantu panglima Tar-Tar (pasukan Mongol) untuk masuk dan menyerang kota Baghdad, sehingga tidak kurang dari 20.000 tentara Tar-Tar berhasil membantai ratusan ribu kaum muslimin bahkan tanpa tersisa, kecuali orang-orang Yahudi dan Nasrani. Selain itu, mereka juga membakar perpustakaan-perpustakaan yang ada hingga Sungai Dajlah dan Furat (Sungai Tigris dan Sungai Eufrat) selama berhari-hari airnya menghitam. Akhirnya, kekhalifahan Al-Mu’tasim Billah hancur berkeping-keping.

Pengalaman sejarah yang kelam ini seharusnya menjadi pelajaran yang berharga bagi kaum muslimin Ahlus Sunnah. Tetapi, sayangnya pengalaman pahit itu seolah sudah dilupakan, setidaknya oleh beberapa tokoh terkemuka dari dua organisasi terbesar di Indonesia (NU dan Muhammadiyah) belakangan ini. Sikap tokoh-tokoh terkemuka tersebut sangat menguntungkan bagi pergerakan Syi’ah. Sehingga, bukannya berperan di barisan depan untuk menghadang gerakan Syi’ah, malahan menjadi tameng bagi kaum Syi’ah untuk menghadapi penolakan dari kaum Ahlus Sunnah.

Pada tahun 1997 di Masjid Istiqlal Jakarta diadakan seminar nasional tentang Syi’ah. Seminar (tentang kesesatan Syi’ah) yang dibuka oleh KH Hasan Basri, ketua MUI saat itu, mendapatkan komentar miring dari Wakil Khatib Syuriah PBNU KH Said Agil Siraj. Ia pasang badan menghadapi serangan terhadap Syi’ah. Ia mengatakan saat menjadi pembicara dalam acara do’a kumel (do’a-nya orang Syi’ah), “Tak perlu ulama Syi’ah turun tangan, cukup saya dan Gus Dur dari NU, Cak Nur (Nurkholis Majid), MH Ainun Najib, Pak Amin Rais dari Muhamadiyah yang melakukan pembelaan.”

Gus Dur juga melontarkan tanggapan yang keras. Ia menyebut seminar tadi kurang kerjaan. Gus Dur siap menggelar demonstrasi jika Syi’ah dilarang.

Ketua PBNU KH Hasyim Muzadi menyalahkan orang-orang NU di daerah, seperti di Pasuruan dan Bangil, yang memprotes keras keberadaan Syi’ah.

Sikap-sikap yang telah ditunjukkan oleh beberapa tokoh tersebut sangat jauh berbeda dengan yang telah ditunjukkan oleh para pendahulu mereka. Seharusnya para yunior itu meneladani sikap terpuji yang telah dilakukan oleh para seniornya. Dulu KH Irfan Zidni dari PBNU dan KH Dawam Anwar dari Wakil Khatib Syuriah NU sangat menentang Syi’ah. KH Dawam Anwar pernah menyatakan, ketika kita membaca sejarah, maka orang Syi’ah sampai dibakar oleh Ali bin Abi Thalib r.a. Mengapa sampai dibakar, karena orang Syi’ah mengatakan kepada Ali: “Anta-Anta”, artinya adalah “Engkau-Engkau”, maksudnya adalah bersifat Tuhan. Maka, mereka dihukum mati dengan cara dibakar.

Akibat dari sikap sebagian para tokoh terkemuka yang membela Syi’ah, maka Syi’ah dengan mudah dapat menerobos ke tempat-tempat yang strategis. Sekarang ini telah didirikan sebanyak 12 Iranian Corner di seluruh Indonesia. Irian Corner ini didirikan oleh Iran di perguruan-perguruan tinggi Islam. Sebagai contoh adalah Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ). Dan alhamdulillah, ternyata sudah dimusnakah oleh Allah waktu banjir Situ Gintung tahun 2009. Kejadian itu memusnahkan Iranian Corner di UMJ. Selain di perguruan tinggi Islam, Iranian Corner juga telah didirikan di kantor pusat PBNU (Pengurus Besar Nahdlatul Ulama) Kramat Raya Jakarta di lantai lima. Menurut keterangan di situs resmi NU (www.nu.org), di dalam Iranian Corner tersebut terdapat tidak kurang dari 500 buah buku dari Iran.

Strategi Syi’ah di dalam menghancurkan kaum Ahlus Sunnah di Indonesia juga terlihat semakin bervariasi. Hal itu terlihat setelah ditangkapnya para pendatang dari Iran yang menyelundupkan narkoba. Modus baru kaum Syi’ah seperti ini perlu diwaspadai oleh kaum muslimin. Dengan demikian, serangan orang-orang Syi’ah sekarang ini mengandung dua hal yang sangat membahayakan, yaitu serangan yang membahayakan aqidah berupa penyebaran ajaran Syi’ah, dan serangan yang membahayakan jiwa dan raga berupa penyelundupan narkoba. Jika kaum muslimin Ahlus Sunnah tidak siap siaga menghadapi serangan kaum Syi’ah, maka tunggulah saat yang menentukan itu tiba: kaum Syi’ah yang akan membantai kaum muslimin Ahlus Sunnah atau Ahlus Sunnah yang akan memberantas kesesatan kaum Syi’ah? (Alislamu.com/Abu Annisa)