Menista Istilah Poligami

Demi Menutupi Kejahatan Ahmadiyah

Pada harian Seputar Indonesia edisi Ahad, 20 April 2008, khususnya di halaman 13, ada sebuah tulisan menarik berjudul Sekte Poligami, yang ditulis oleh AU (maaf kami singkat saja namanya, red).

Isinya, ternyata tidak ada bahasan apa-apa soal poligami. Pada tulisan itu, AU bercerita tentang pengalamannya bertemu dengan seorang seniman dari Austria, berusia 60 tahun. Sang seniman, ketika muda, di tahun 1970-an pernah mengikuti sebuah komune yaitu Commune Friedrichshof yang didirikan oleh Otto Muhl di tahun 1972.

Komune itu, menurut AU, dalam praktiknya mirip dengan sekte Yearning for Zion yang saat ini sedang ramai di Texas. Pada tulisannya, AU menggunakan istilah Poligami untuk sekte seks bebas dan liar ini. Selengkapnya sebagai berikut:

Commune Friedrichshof. Praktiknya mirip dengan sekte poligami yang kini sedang ramai di Texas (cetak tebal dari redaksi).

Perbedaan antara Commune Friedrichshof dengan sekte Yearning for Zion di Texas adalah, pada Commune Friedrichshof yang dipimpin Otto Muhl, tidak ada klaim ketuhanan. Namun sebagaimana sekte Yearning for Zion di Texas, mereka (Commune Friedrichshof ) juga membangun komunitas tertutup.

Bagaimana perilaku (ajaran) dari sekte poligami yang ‘dilaporkan’ AU kepada pembaca harian Seputar Indonesia, simak tulisan aslinya sebagai berikut:

Dalam Sekte Yearning for Zion di Texas, perawan kencur dijadikan istri kesekian lelaki tua. Biasanya, perawannya baru belasan tahun. Setelah tidak kencur lagi, istri-istri itu dilungsurkan kepada jejaka-jejaka yang sudah siap menikah. Biasanya, pemuda menjelang dua puluh tahun. Demikian, lelaki gaek dapat perawan.”

Kalau content-nya seperti tersebut di atas, itu sih jelas-jelas bukan poligami sebagaimana dikenal umat Islam. Apalagi yang dipraktikkan Commune Friedrichshof sebagai berikut:

Dalam Commune, karena tak ada klaim keilahian, yang dianjurkan adalah sejenis promiskuis, yaitu pertukaran pasangan setiap malam. Serunya, setiap anggota dianjurkan (nyaris diperintahkan) untuk aktif secara seksual. Mereka didorong untuk berbuat setiap malam. Celakanya, para perempuan memiliki catatan terbuka tentang prestasi lelaki yang bersetubuh dengannya. Artinya, semua orang bisa tahu apa penilaian si cewek.

Wah, wah, apa hubungannya seks bebas dan liar seperti itu dengan konsep poligami yang dikenal dalam ajaran Islam? Nggak ada. Tetapi mengapa AU dengan sengaja memilih istilah Poligami untuk melaporkan keberadaan sebuah paham yang menganut seks bebas dan liar itu? Padahal, ia bukan ahli agama, bukan konsultan perkawinan, bukan ahli bahasa, tetapi seniman. Mengapa AU tidak mengambil istilah yang dekat dengan dunianya sendiri (dunia kesenian)?

Sebagai seniman, seharusnya AU menggunakan istilah-istilah yang dekat dengan dunianya sendiri (dunia kesenian). Misalnya tulisannya diberi tajuk Sekte Binatang Jalang yang akan mengingatkan kita pada salah satu penggalan puisi Chairil Anwar, sosok seniman Angkatan ’45 yang kini sedang dihidup-hidupkan kalangan seniman? Apalagi, ajaran sekte-sekte tadi memang mirip perilaku binatang jalang, dan sangat jauh dari konsep poligami yang dikenal umat Islam.

Menggunakan istilah poligami untuk menggambarkan perilaku seks bebas dan liar, apakah dimaksudkan untuk melecehkan? Mudah-mudahan tidak. Kalau toh AU membenci poligami, membenci agama apapun, itu urusan dia sendiri. Namun, bila kebenciannya itu dipublikasikan di ruang publik, maka akan menjadi urusan orang banyak.

Kalau sudah berada di ruang publik, maka kejadiannya bisa macam-macam. Tidak semua orang bisa mengekspresikan maksudnya dengan tulisan, seperti dilakukan AU. Namun ada juga yang hanya bisa mengekspresikan maksudnya dengan otot. Nah, kalau kalangan pakar otot ini tidak senang dengan tulisan AU, kemudian ingin memberikan ekspresi balasan, tentu bukan pena yang ia gunakan, tetapi ototnya.

AU dan kawan-kawannya yang tergolong pakar pena tentu berkilah, bahwa seharusnya tulisan dibalas dengan tulisan dong. Tapi masalahnya tidak semua orang bisa menulis. Kalau terhadap orang yang tidak bisa menulis disuruh nulis, jelas tidak adil. Kalau mau adil, maka setiap orang bebas mengekspresikan kemauannya dengan kemampuan alami yang ada pada dirinya.

Misalnya, para pakar pena bebas mengungkapkan kebenciannya. Nah, kalau para pakar otot tidak senang atau tidak setuju namun masuk akal, maka mereka bebas membalas ekspresi para pakar pena tadi dengan kemampuan ototnya. Ente nulis, ane tonjok. Kalau ini diterapkan, barulah bisa disebut adil dan demokratis, kalau memang cara itu yang dia anut hingga berani-beraninya menulis penghinaan seenaknya.

Memprovokasi dan membela Ahmadiyah

AU mungkin tidak paham konsep poligami sebagaimana dipahami ulama Islam. Meski tidak paham, namun istilah itu sudah berani dia lekatkan kepada perilaku seks bebas dan liar, ini bukan saja sok tahu tetapi provokasi. Sikap seperti itu (sok tahu dan provokasi) dapat juga dilihat ketika AU mengakhiri tulisannya dengan membela Ahmadiyah. Selengkapnya sebagai berikut (cetak tebal dari redaksi):

Yang menarik kita pelajari: di negeri demokrasi, sekte-sekte aneh demikian tamat hanya ketika kesewenangan internal terbongkar. Sebelum ada pengaduan tindak kekerasan, mereka tak boleh dilarang. Artinya, negara tidak bisa mengadili apa yang menjadi ideologi atau iman sekelompok orang. Negara hanya bisa mengadili tindak kriminal. Bukan poligami atau promiskuis-nya yang salah, tetapi pemukulan dan pelecehan seksual yang salah. Ini tentu tidak terjadi di negeri kita yang hebat itu. Sebab, poligami yang dimuliakan, tukar pasangan, serta kawin kontrak yang tidak dimuliakan terjadi. Di sini, yang dilarang adalah ideologi dan kepercayaan. Karena itu, meskipun Ahmadiyah belum pernah dilaporkan melakukan kekerasan, kita sudah ingin melarangnya.”

Karena AU berada di domain kesenian, dia tentu tidak tahu –sebagaimana orang-orang yang berada di domain penelitian dan pengkajian tentang aliran dan paham sesat– bahwa Ahmadiyah sudah terbukti melakukan tindakan yang dapat digolongkan kriminal (pidana). Termasuk soal uang (pemerasan berdalih agama). Namun, sebagaimana layaknya sebuah komune yang tertutup dan eksklusif, hal-hal seperti itu tidak mudah bocor ke luar. Kalau toh berhasil keluar, jumlahnya sedikit alias tidak signifikan, serta tidak bisa langsung diproses, karena kaidah hukum harus menempuh proses baku yang tidak sederhana. Apalagi, penyangkalan sudah pasti akan ada di hadapan aparat ketika memproses laporan korban. Sebagian besar korban cenderung mempetieskan pengalaman pahitnya selama menjadi anggota aliran sesat. Karena mereka sudah merasa beruntung terbebas dari penjara kesesatan.

Paling tidak, cobalah AU baca harian Republika edisi Kamis, 17 April 2008. Di situ ditampilkan pengalaman Budi yang pernah menjadi anggota Ahmadiyah sejak 1983 hingga awal 2008. Pada mulanya Budi beragama Islam, namun ketika misionaris Ahmadiyah datang menjanjikan bantuan ekonomis, ia pun masuk Ahmadiyah. Dari sini saja, sudah terbukti adanya pemaksaan ideologis dan keimanan (semacam penjeblosan) dengan iming-iming uang. Ini kriminal.

Setelah masuk Ahmadiyah, tiap bulan Budi diharuskan menyetorkan uang pengorbanan sebesar 10 persen dari total penghasilan. Ini juga kejahatan. Pemerintah saja hanya mengenakan pajak terhadap warga negaranya yang berpenghasilan tertentu. Di bawah penghasilan kena pajak, seseorang bebas dari kewajiban membayar pajak. Namun bagi komune sesat dan eksklusif, tidak pandang bulu. Pokoknya harus bayar.

Selain itu, Ahmadiyah mewajibkan Budi membeli ‘kavling surga’. Karena, hanya bila dikubur di tempat itulah, mereka mendapat jaminan masuk surga. Harga ‘kavling surga’ mencapai jutaan rupiah, yang tentu saja memberatkan bagi orang kecil seperti Budi. Ini juga kejahatan. Bagi orang kecil, membayar ongkos kuburan yang hanya bernilai beberapa ratus ribu rupiah saja, belum tentu mampu dipenuhi dari kantongnya sendiri, lebih sering dibayar dari hasil urunan tetangga kiri kanan. Ini mengandung dua kejahatan. Kejahatan pertama, mereka memonopoli surga. Kedua, memaksa orang membeli ‘kavling surga’ dari mereka.

Pada umumnya, yang jadi korban aliran sesat seperti Ahmadiyah, LDII, NII KW-9 Al-Zaytun, adalah orang-orang lemah secara ekonomi. Nah, seharusnya orang-orang kuat dan pinter seperti AU, membantu membebaskan mereka dari penjara kesesatannya, keluar dari kedzaliman yang sedang menimpanya.

Kalau belum mengerti soal Ahmadiyah, sebaiknya pelajari dulu. Jangan belum apa-apa sudah berpihak, dan apriori kepada pihak yang menghendaki Ahmadiyah dibubarkan. Itu namanya tidak tahu diri! Ironisnya, orang-orang semacam ini – padahal mereka menyandang gelar kesarjanaan, ketokohan, bahkan ketenaran– sekarang sedang mubal (bermunculan) dan berkeliaran, dengan melontarkan aneka celotehan yang jauh lebih memalukan dibanding anak-anak urakan yang tak tahu adab kesopanan. (haji/tede)