Menjebak dan Memerangkap Umat Islam

(Menjegal Umat dan Menggembosi Buku-buku Islam)

Oleh Hartono Ahmad Jaiz*

Semakin semaraknya Islam di masyarakat Indonesia bahkan di negeri-negeri Barat terutama Inggris, tampaknya menjadikan sibuknya pihak-pihak yang tidak suka. Namun ketidaksukaannya itu diperkirakan akan menuai kegagalan bila dilakukan dengan cara-cara kekerasan seperti yang sudah-sudah. Bahkan disikapi dengan ketidak sukaan secara mencolok saja sudah mendapatkan reaksi berat, hingga diperkirakan gagal.

Perhitungan semacam itu agaknya dicarikan jalan keluar untuk mewujudkan ketidak sukaan terhadap Islam, hanya saja dengan cara-cara yang halus, tidak tampak nyata, namun hasilnya dapat dicapai. Dan kalau kelihatan mencolok, maka buru-buru ditutupi, agar kesannya bukan dari pihak-pihak yang tidak suka terhadap Islam, namun biar terkesan bahwa “penjegalan” itu dari pihak yang “islami” sendiri, bahkan tokoh atau panutan.

Bagaimanapun halusnya cara untuk menjegal Islam, namun lantaran Islam ini milik Allah Ta’ala, maka tetap saja akan menimpa pelakunya. Baik itu yang merekayasa ataupun orang yang terjebak dalam perangkap rekayasa. Baik itu dia sadar maupun tidak. Karena Allah Ta’ala telah menjelaskan:

وَمَكَرُوا وَمَكَرَ اللَّهُ وَاللَّهُ خَيْرُ الْمَاكِرِينَ [آل عمران/54]

Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya. (QS Ali ‘Imran: 54).

وَمَكَرُوا مَكْرًا وَمَكَرْنَا مَكْرًا وَهُمْ لَا يَشْعُرُونَ [النمل/50]

Dan merekapun merencanakan makar dengan sungguh-sungguh dan Kami merencanakan makar (pula), sedang mereka tidak menyadari. (QS An-Naml/ 27: 50).

(Maaf, beberapa alenia berikut ini mungkin kurang dapat ditangkap alur cerita kasusnya –kecuali bagi yang faham—karena kami mementingkan pesannya, bukan alur ceritanya. Mohon dimaklumi).

Satu contoh kecil, siapa yang nyana, begitu enaknya mewajibkan apa yang disebut “halal bi halal” di televisi satu, da’i sak miliun umat sampai kebablasan. Dia berkata, kurang lebihnya: Lha kalau sedikit-sedikit dibilang bid’ah, ya silakan naik unta saja ke mana-mana. Karena motor itu juga bid’ah.

Weleh-weleh, qadarullah, hanya dalam jangka sekitar satu pekan dari berjumpalitan (berjungkir balik) tentang masalah gawat dalam Islam yakni bid’ah namun dia sepelekan begitu saja secara serampangan, langsung kontan mak bruk petutuk (tiba-tiba) ada yang memutar lagu lama yang konon dia “pengarangnya”, yakni lagu dangdut Aida… aida.. aida…

Keruan saja dia kemungkinan gulung koming . Hingga dikejar-kejar media infotainment yang doyanannya masalah lagu dangdut, biduannya, dan juga “pengarang lagunya”, yakni yang dituduh adalah penjumpalit masalah bid’ah itu.

Lagu dangdut Aida tampaknya bukan lagi menghibur “pengarangnya” namun justru “mewajibkan” dia minta maaf kepada penyanyi dangdut Aida itu atau pilih islah. Rupanya baru terdengar bid’ah baru, ada istilah islah antara penyanyi lagu dangdut berjudul Aida dengan “pengarang lagunya” yakni penjumpalit itu. Atau dengan kata lain, rupanya ada ciptaan baru dimasuk-masukkan ke Islam, hingga ada “istilah” islah (perdamaian) berkaitan dengan tingkah maksiat.

Memangnya ada islah dalam hal maksiat kepada Allah?

Kalau ini benar terjadi maksiatnya, dan kemudian dilakukan pula apa yang disebut islah, maka benar-benar ada bid’ah baru, yakni islah dalam bermaksiat.

Enak tenan! Agama kok dipermainkan!

Kasus itu perlu dijadikan pelajaran oleh siapa saja, terutama yang gigih membela bid’ah di mana-mana. Allah Ta’ala sama sekali tidak luput dari aneka tingkah polah manusia, apalagi yang sengaja melawan aturan yang telah disampaikan Rasul-Nya, bahwa setiap bid’ah itu adalah sesat, dan setiap kesesatan itu adalah dalam neraka.

Para juru dakwah biasa mengucapkan lafal itu dalam bahasa Arabnya, berupa nash hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun dalam prakteknya, ada yang lain di bibir lain di hati dan praktek pengamalan. Bahkan kelainannya itu sampai ada yang “bengak-bengok” (teriak-teriak) lewat pidato yang disiarkan radio dan semacamnya: jangan dengar kan itu radio anu, itu berbahaya.

Yang disebut radio anu itu padahal biasa-biasa saja, hanya berisi bacaan Al-Qur’an, pengajian berlandaskan Al-Qur’an, As-Sunnah alias hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sesuai dengan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Tetapi dianggapnya akan mengancam eksistensi bid’ah yang mereka jalani selama ini, yang memang tidak pernah dijalankan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, para sahabatnya, tabi’in, tabi’it tabi’ien dan para ulama Ahlus Sunnah. Namun jadi “makanan” harian orang-orang banyak, dan dipertahankan. Ketika ada yang menda’wahi bahwa itu tidak sesuai dengan apa yang dituntunkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka disikapi dengan mencak-mencak. Sampai-sampai yang merasa dirinya jagoan dan dijuluki da’I semiliun ummat kemudian berani menyiarkan, kalau sedikit-sedikit dibilang bid’ah, maka harusnya naik unta saja ke mana-mana, karena motor juga bid’ah. Lha dalah… akibatnya justru dia terkena bid’ah bikinan baru dia pula yakni “mewajibkan” apa yang disebut “halal bi halal” lalu kejeblos adanya lagu lama “dangdut Aida” yang dia sebut diputar ulang lagi, dan dia “wajib” islah itu.

***

Saudara-saudaraku, maaf, mungkin kata-kataku ini kurang enak. Tetapi ini lantaran sayang. Yang terpenting adalah isinya, sebenarnya untuk mengemukakan agar kita ini sadar. Penyadaran terhadap saudaranya sendiri, kadang dengan penampilan yang seram. Itu lantaran masalahnya memang mengenai sesuatu yang sebenarnya harus ditinggalkan, diwaspadai, dan dihindari, namun justru ada gejala dipertahankan, dipiara, dan dibela mati-matian.

Ketika di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam belum muncul bid’ah saja beliau sudah memperingatkan dengan tegas. Jadinya wajar bila ada pembela bid’ah dengan dalih yang dibuat-buat, kemudian ada reaksi di antaranya seperti ini.

***

Di samping itu, perangkap yang dibuat untuk menipu Ummat Islam bukan hanya masalah bid’ah. Dalam dua dasawarsa ini, Ummat Islam terutama Indonesia tampak mengalami kemajuan dalam aktivitas dan menuntut ilmu Islam. Sehingga masyarakat terutama kaum terpelajar banyak yang kemudian insya Allah faham tentang Islam. Di antaranya karena mereka rajin membaca buku-buku Islam.

Tampaknya gejala ini tidak disukai oleh pihak-pihak yang tidak suka terhadap Islam, baik itu orang kafir maupun munafik serta orang-orang yang ela-elu (kanan kiri oke) dalam Islam.

Keresahan mereka atas berkembangnya Islam itu semakin menjadi-jadi, apalagi melihat gejala, selama pameran buku Islam (IBF Islamic Book Fair) di Senayan Jakarta selama 9 kali (tiap tahun, dari 2001) ternyata pengunjungnya sangat membludak. Jauh lebih ramai dan semarak dibanding pameran buku umum. Pengunjung dan peserta pameran bukan hanya dari dalam negeri namun dari berbagai negeri.

Bagaimana orang yang tidak “doyan” Islam akan senang terhadap gejala yang Islami ini. Sedangkan Allah Ta’ala telah berfirman:

وَلَنْ تَرْضَى عَنْكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ قُلْ إِنَّ هُدَى اللَّهِ هُوَ الْهُدَى وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ بَعْدَ الَّذِي جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ مَا لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا نَصِيرٍ [البقرة/120]

Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu. (QS Al-Baqarah: 120).

Di samping itu, orang-orang munafik pun mengadakan tipu daya terhadap orang mu’min, sebagaimana firman Allah:

يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَالَّذِينَ آَمَنُوا وَمَا يَخْدَعُونَ إِلَّا أَنْفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُونَ (9) فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ فَزَادَهُمُ اللَّهُ مَرَضًا وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ بِمَا كَانُوا يَكْذِبُونَ [البقرة/9، 10]

Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar .

Dalam hati mereka ada penyakit[23], lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta. (QS Al-Baqarah: 9, 10).

[23]. Yakni keyakinan mereka terdahap kebenaran Nabi Muhammad s.a.w. lemah. Kelemahan keyakinan itu, menimbulkan kedengkian, iri-hati dan dendam terhadap Nabi s.a.w., agama dan orang-orang Islam.

Bagaimana pun, mereka bekerjasama secara hiruk pikuk antara kafirin dengan munafiqin. Sehingga muncullah di Indonesia ini terutama sepuluhan tahun terakhir, sejumlah lembaga yang sejatinya merusak Islam namun berlagak bicara tentang Islam. Bermunculan aneka lembaga dan di antaranya ada 44 lembaga yang didanai lembaga orang kafir dari Amerika, sebagaimana dicatat Hartono Ahmad Jaiz dalam bukunya Jejak Tokoh Islam dalam Kristenisasi. Maka tidak mengherankan, di sana-sini muncul orang-orang liberal, bahkan sampai diratakan di berbagai perguruan tinggi Islam se-Indonesia. Dan itu terbukti, di antaranya telah disoroti oleh buku Hartono Ahmad Jaiz yang berjudul Ada Pemurtadan di IAIN.

***

Menggembosi buku-buku Islam

Tampaknya, penggerakan pengusung bid’ah dan penjegalan Islam lewat orang-orang liberal yang menjajakan ide-ide rusaknya lewat asongan maupun bahkan di perguruan-perguruan tinggi Islam; dirasa belum cukup untuk membelokkan Islam. Justru Islam tampaknya makin diamalkan dan dipelajari oleh Ummat ini. Maka ditempuhlan jalan lain, yaitu menggembosi buku-buku Islam.

Setelah pengusung bid’ah dan pengusung kemusyrikan baru berupa faham liberal sampai pluralism agama dan multikulturalisme dirasa belum cukup dalam menghalangi lajunya Islam, pada gilirannya buku-buku Islam jadi sasaran untuk digembosi.

Diboomingkanlah buku porno yang sangat mencengangkan, berjudul Jakarta Under Cover, yang konon bahkan ditulis oleh orang yang tadinya pernah belajar di pesntren. Yang mempopulerkan buku misi syetan perusak moral itu justru di antaranya adalah Koran Republika yang dari riwayatnya, saham awalnya dari Ummat Islam dan pembacanya dapat dibilang Ummat Islam. Itulah cara-cara busuk yang –baik terasa atau tak disadari—tetap busuk. Bertaubatlah wahai teman-teman di Republika, yang telah mempopulerkan bacaan porno itu lewat tulisan khususnya.

Betapa tidak, buku porno itu laku keras, dan tentu saja dikunyah-kunyah oleh orang Islam, dan tidak pernah ada larangan. Malahan di supermarket-supermarket pun tampaknya dijual di depan kasir. Na’udzubillahi min dzalik… negeri semacam ini akibatnya banyak turun bencana di mana-mana, maka salah siapa?

Rupanya buku-buku Islam diserang dengan buku porno belum ada dampak macetnya buku Islam. Kalau toh berkurang ya sedikit saja. Maka tampaknya tidak sampai di situ penggembosan bahkan penggempuran terhadap buku-buku Islam. Belakangan, digempurlah buku-buku Islam dengan fiksi-fiksi, karangan khayalan, rekaan, bikin-bikinan. Dipopulerkan lah pengarang-pengarangnya. Diusung-usunglah mereka ke berbagai tempat, bahkan sampai ke luar negeri. Maka begitu maraknya cerita-cerita yang mereka sebut “islami” itu. Masyarakat pun mengunyah-ngunyah cerita itu. Sedikit demi sedikit, diamati, masyarakat masih pula tetap membaca buku-buku Islam, walau yang muda-muda bergeser menggemari cerita-cerita bikinan yang disebut “bernafaskan Islam” itu.

Belakangan, lebih diperhatikanlah fiksi-fiksi itu, hingga pameran buku Islam (IBF) di Senayan Jakarta dihiasi dengan pemberian hadiah kepada buku yang disebut fiksi dan non fiksi. Tampaknya justru yang fiksi ini lebih ditonjolkan, sehingga istilahnya buku yang sebenarnya justru buku, itu disebut non fiksi. Sedang buku yang hanya cerita bikinan, disebut dengan terhormat, fiksi. (Saya sebagai orang Islam, ketika menyebut orang Islam dengan Muslim, dan orang bukan Islam dengan non Muslim, itu otomatis saya memihak Muslim. Jadi bagaimanapun, penyebutan non fiksi dalam pemberian hadiah dalam pameran buku Islam, itu justru ada “tujuan” merendahkan buku Islam, dikategorikan dengan non fiksi).

Itu tidak mungkin muncul begitu saja, pasti pakai rencana. Dan rencana yang gila-gila-an, adalah membesar-besarkan cerita fiksi, di antaranya yang berjudul Ayat-ayat Cinta. Lagi-lagi Republika berperan. Tampaknya tidak sadar atau bahkan disengaja (?), wallahu a’lam, lewat koran dan peneribitan yang satu ini, justru perlu dikaji, apakah mereka ini menguntungkan Islam atau bahkan merugikan. Kemudian difilmkanlah cerita fiksi itu. Kemudian diusung ke mana-mana, dan dibuatlah seolah bersaing antara Ayat-ayat Cinta dengan fiksi lain yang berjudul Laskar Pelangi. Maka masyarakat dibuat sebegitu tergiurnya dengan aneka giringan yang sangat memukau. Maka sukseslah pengalihan perhatian Ummat Islam dari membaca buku Islam ke buku fiksi khayalan, yang akhirnya difilmkan dan digembar-gemborkan seseru-serunya itu.

Sukseslah penggembosan buku-buku Islam yang serius. Masyarakat sudah dialihkan ke arah fiksi khayalan.

Ketika sudah demikian, maka cara memahami agama dan cara pandang keagamaan pun kemungkinan sekali merujuk kepada pengarang fiksi yang kesohor itu. Sehingga ANDREA HIRATA sang pengarang fiksi Laskar Pelangi itu dijadikan salah satu tokoh untuk dimintai pendapatnya di Mahkamah Konstitusi dalam masalah gugatan orang-orang liberal tentang Undang-undang Penodaan Agama. Padahal, apakah dia faham tentang agama?

Sangat memalukan! Andrea Hirata tidak malu menulis di antaranya ada penggalan kalimat: azan shalat Idul Fitri telah berkumandang (Harian Kompas Lebaran di Negeri Laskar Pelangi, Senin, 14 September 2009 | 03:20 WIB, Oleh ANDREA HIRATA).

Orang yang sangat bodoh pun mestinya tahu bahwa shalat Idul Fitri itu tidak ada adzan sama sekali. Namun pengarang fiksi kesohor itu nekat menulis seperti itu, dan kemudian dimintai pendapatnya tentang Undang-undang Penodaan Agama di sidang MK.

Inilah keberhasilan penggembosan terhadap Islam. Orang yang tidak faham agama pun dapat dimintai pendapatnya dalam masalah berkaitan dengan agama.

Aneka dampak dari penggembosan buku-buku Islam dialihkan ke buku cerita fiksi itu sangat memprihatinkan.

Lebih sedih lagi ketika ada tokoh yang tadinya serius menulis buku dan berceramah menghadapi syubhat yang disebarkan pentolan-pentolan liberal, bertungkus lumus ke sana-sini untuk memberantas faham liberal, tahu-tahu tergiur pula ikut menulis fiksi. Lha dalaah… nanti kalau difilmkan pula, berarti sukseslah penggembosan buku-buku Islam, tanpa mengeluarkan kekerasan, energy besar, atau sikap frontal memusuhi buku-buku Islam yang mencolok. Cukup dengan digiring ke arah fiksi “islami” lalu difilmkan, lalu dicarikan komentar-komentar dari para pesohor, lalu diusung ke mana-mana, maka sukseslah misinya: yakni menggembosi buku-buku Islam.

Sadarlah wahai Ummat Islam. Bahwa kita telah masuk ke perangkap. Dan kalau tidak menyadari, lama-lama nanti tahu-tahu tumbuh subur generasi yang sangat buruk, yakni miskin tapi sombong. Miskin ilmu agama Islam, namun berbangga hati, seolah sudah “islami”. Benar-benar perangkap yang sangat dalam dan menganga…

Ya Allah, berilah petunjuk kepada kami dan saudara-saudara kami. Ampunilah dosa-dosa kami dan saudara-saudara kami muslimin dan muslimat. Dan jangan sampai kami dan saudara-saudara kami muslimin muslimat ini terjebak dalam perangkap kaum kuffar, musyrikin, munafiqin dan penjahat-penjahat semacamnya yang menjerumuskan kami ke jurang kesesatan bahkan neraka. Itulah yang berbahaya sekali bagi kami, namun kadang justru kami merasa bangga dengannya. Astaghfirullahal ‘adhiem. Laa haula walaa quwwata illa bilahil ‘aliyyil ‘adhiem. Allahul musta’an.

Jakarta, Dzulqa’dah 1431H/ November 2010.

*Hartono Ahmad Jaiz, penulis buku Pangkal Kekeliruan Golongan Sesat

(nahimunkar.com)