Menteri Agama Sesalkan Perobohan Paksa Masjid Al-Ikhlas Medan

MUI: Pembongkaran Masjid Al-Ikhlas haram

menteri-agama-sesalkan012 penganiayaan-dan-perobohan-masjid-al-ikhlas-medan022

Mesjid Al Iklas di Jalan Timor Medan, Dirubuhkan (Rabu dini hari 04/05 2011). (Fhoto: Azan)

Masjid Al-Ikhlas di Medan telah berdiri sejak 1975 dan merupakan salah satu masjid tertua di wilayah tersebut. Sekitar pukul 04.00, (Rabu dini hari 04/05 2011) bangunan Masjid Al Ikhlas rata dengan tanah setelah dirobohkan oleh tiga buldozer dan becho.

Perobohan paksa itu dimulai tengah malam diawali dengan melancarkan aksi tindakan kekerasan menyasar 18 orang yang berada di Rumah Allah itu.

Mereka ditarik paksa, dianiaya, dipukul, ditendang, dan diteriaki dengan kasar oleh para penyerang. Menurut saksi mata, ada dua truk kepolisian yang berjaga-jaga di luar masjid.
Pembongkaran bermula dari rencana tukar guling Masjid Al Ikhlas yang berdiri di lahan milik Detasemen Perhubungan TNI AD dengan pihak pengembang PT Gandareksa Mulya yang akan mengosongkan lahan untuk dijadikan lokasi sentra bisnis baru.

Peristiwa beraroma pemaksaan dan kekerasan yang dilangsungkan di Rumah Allah itu menuai protes dari berbagai pihak. Tak kurang, Menteri Agama pun menyeslkannya, dan pihak MUI menyatakan haramnya perbuatan itu.

Inilah berita-beritanya:

Menag Sesalkan Perobohan Masjid Al-Ikhlas Medan

MEDAN – Menteri Agama (Menag), Suryadharma Ali, menyesalkan perobohan Masjid Al-Ikhlas di Jalan Timor Medan oleh Kodam I/BB untuk kepentingan tukar guling lahan tersebut dengan swasta. Menag mengaku sengaja datang ke Medan, selain untuk acara partai juga mencari informasi penyebab dibulzodernya rumah ibadah tersebut.

“Saya baru dapat informasi tentang perobohan masjid itu kemarin. Jadi, kunjungan kerja ke Medan sambil mencari tahu penyebab pembongkaran masjid kebanggaan warga kota Medan itu,” katanya, pagi ini.

Menag mengaku datang ke Medan menggali informasi soal perobohan masjid tersebut mengenai status tanahnya. Demikian juga apakah pembangunannya dilakukan secara swadaya atau bagaimana sebelumnya.

Bahkan yang paling penting lagi, lanjutnya, apakah pihak yang merobohkan sudah membangun kembali di lokasi baru yang lebih representatif. “Kalau tidak ada masjid pengganti yang representatif, saya sangat menyesalkan,” ujarnya.

Menag menegaskan tidak ada salahnya kaum muslimin tetap menjalankan shalat di lokasi robohan masjid tersebut.

Sementara itu, Ustadz KH Muhammad Al Khathat, mengingatkan agar umat Islam harus hati-hati terhadap musuh-musuh Allah yang berusaha untuk memecah belah sesama umat Islam. Jangan ada konflik di antara umat Islam dan sebaliknya umat Islam harus mencegah terjadinya perbuatan mungkar.

“Kita harus berjuang menegakkan Islam dan jangan takut kepada kaum kafir dan penguasa yang zalim. Sesungguhnya kekuatan itu milik Allah,” tegas Al Khathat saat memberikan khutbah Jumat di ruas Jalan Timor persis di depan puing-puing Masjid Al-Ikhlas yang telah rata dengan tanah itu.

Al Khathat mengaku heran mengapa umat Islam yang terbesar di Kota Medan, penguasa yang beragama Islam, banyak tokoh ulama dan politisi Islam yang mayoritas namun Masjid Al-Ikhlas bisa dirobohkan dan kini rata dengan tanah. “Mana sikap-sikap mereka dan mengapa semuanya terdiam tanpa bereaksi,” ujarnya.

Pada bagian lain, Al Khathat juga menyebutkan, isu Negara Islam Indonesia (NII) merupakan buatan pihak intelijen untuk memfitnah umat Islam, karena pemerintah sekarang sedang pusing karena isu politik dan berbagai persoalan lainnya yang belum bisa diselesaikan.

“Isu NII merupakan kerjaan intelijen karena upaya mengkriminalisasi umat Islam tidak berhasil. Jadi, umat Islam juga pandai berpolitik dan kitalah yang harus berdaulat di negeri sendiri,” ujar Al Khathat yang juga Sekretaris Jendera FUI Pusat ini.

Shalat Jumat yang juga dipimpin Al Khathat diikuti seribuan jamaah yang memadati ruas Jalan Timor Medan. Usai shalat, jamaah dan 40 ormas Islam menggelar aksi damai di Gedung DPRD Sumut. (waspada.co.id)

Sumber: polrestamedan.com,

Aroma kekerasan dilancarkan di Rumah Allah

Inilah beritanya:

Sengketa Tanah Sidodadi

Setara Institute Soroti Arogansi TNI terhadap Jemaah Masjid

Kamis, 05 Mei 2011 22:47 WIB

JAKARTA–MICOM: Rabu (4/5) dini hari sekitar pukul 00.55 WIB, ratusan orang tidak dikenal dan dibantu anggota TNI AD menyerang jemaah yang berada di dalam masjid dengan terlebih dahulu mematikan aliran listrik.

Jemaah masjid itu baru saja menyelesaikan pengajian bersama di lokasi kejadian, Masjid Al Ikhlas di Jalan Timor Nomor 23 eks areal Kantor Hubdam I/BB, Kelurahan Sidodadi, Kecamatan Medan Timur, Sumatra Utara. Tindakan kekerasan menyasar 18 orang yang berada di dalam mesjid.

Mereka ditarik paksa, dianiaya, dipukul, ditendang, dan diteriaki dengan kasar oleh para penyerang. Menurut saksi mata, ada dua truk kepolisian yang berjaga-jaga di luar masjid.

Penyerang juga merampas handphone (HP), dompet, tas, dan barang-barang lain dari jemaah. Setiap orang di dalam masjid disergap oleh 2-3 orang, diseret keluar, diangkut ke atas truk kepolisian yang sudah disiapkan di luar pekarangan masjid tanpa diberi kesempatan untuk mengambil dan mengenakan peci dan sandal.

Selanjutnya, seluruh jemaah dibawa ke Mapolresta Medan menggunakan truk polisi. Saat diseret ke pekarangan, jemaah melihat ratusan polisi bersenjata lengkap.

Sesampainya di Mapolresta, ke-18 orang itu diperintahkan untuk berbaris dan didata berkaitan barang-barang yang masih tinggal di masjid selanjutnya digiring masuk ke ruangan Intel Mapolresta. Beberapa saat di ruang intel, sebagian HP milik jemaah dikembalikan namun tidak boleh diaktifkan.

Tetapi, beberapa HP, tas, helm, uang, dan barang-barang milik jemaah sampai sekarang belum dikembalikan. Setelah lebih dari dua jam di Mapolresta Medan, ke-18 jemaah tersebut diizinkan untuk pulang.

Sekitar pukul 04.00, bangunan Masjid Al Ikhlas rata dengan tanah setelah dirobohkan oleh tiga buldozer dan becho. Pembongkaran bermula dari rencana tukar guling Masjid Al Ikhlas yang berdiri di lahan milik Detasemen Perhubungan TNI AD dengan pihak pengembang PT Gandareksa Mulya yang akan mengosongkan lahan untuk dijadikan lokasi sentra bisnis baru.
Masjid tersebut telah berdiri sejak 1975 dan merupakan salah satu masjid tertua di wilayah tersebut. Setara Institute mengecam aparat Kodam I/BB yang telah melakukan tindakan kekerasan dan mempertontonkan arogansi kekuasaan terhadap permasalahan yang terjadi dengan masyarakat.

Tindakan arogansi itu juga tidak menghargai upaya-upaya penyelesaian dan pencarian solusi yang sedang dilakukan oleh berbagai pihak. Setara Institute meminta parat pemerintah daerah lebih aktif melindungi fasilitas publik yang dibutuhkan masyarakat.

Fasilitas penting yang menyangkut tempat ibadah adalah kebutuhan asasi umat beragama. Pilihan Kodam I/BB menggunakan kekerasan dalam penyelesaian konflik pertanahan menunjukkan kultur militeristik yang tidak berubah meski reformasi TNI telah berlangsung satu dekade. Tindakan kekerasan terhadap warga mutlak dimintai pertanggungjawaban.

Setara Institute mendesak Panglima TNI untuk memberikan sanksi kepada bawahan di Kodam I/BB yang tidak mengedepankan kepentingan masyarakat Sumatra Utara dan kenyamanan masyarakat muslim dalam menjalankan ibadah keagamaan. (OL-5)

Sumber: mediaindonesia.com

Sudah ada fatwa haramnya.

Inilah beritanya:

SUNDAY, 08 MAY 2011 22:10

MUI: Pembongkaran Masjid Al-Ikhlas haram

Warta

ROMI IRWANSYAH

Koresponden Pemerintahan&Politik

WASPADA ONLINE

MEDAN – Adanya pembongkaran Masjid Al-Ikhlas Jalan Timur diatas tanah Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI AD) eks kantor Hubdam I/Bukit Barisan, diduga dilakukan oleh pihak Kodam, adalah perbuatan haram sesuai dengan fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Ketua MUI Sumut, Abdullah Syah, mengatakan Masjid Al-Ikhlas sudah ada sejak puluhan tahun, dan semua umat Islam tahu. Makanya menurut ajaran Islam yang telah difatwakan MUI kalau masjid itu adalah tanah wakaf.

Masjid Al-Ikhlas tak bisa dibongkar begitu saja harus sesuai dengan fatwa MUI. Tanah wakaf tidak bisa diperjual belikan, dihibah ataupun diwariskan kepada siapapun, ujarnya, kepada Waspada Online, malam ini.

Dikatakan, andaikan mau diruslag atau dipindahkan, letak masjid itu tak jauh dari areal masjid, dan pembongkaran masjid itu harus ada surat dari Kakanwil Agama daerah setempat, Dirjen Bimas Islam dan dari Menteri Agama.

Lebih lanjut, dia menambahkan, masjid pengganti itu harus bersertifikat sertifikat dan merupakan tanah wakaf bukan ditempat atau tanah orang. Serta nilai ruslag itu harus lebih tinggi/besar dari sebelumnya.

“Kalau ada yang mengatakan fatwa itu tidak kuat silahkan saja, mungkin ada ormas Islam yang bisa mengeluarkan fatwa lebih baik lagi. Namun, fatwa MUI itu dikeluarkan dengan keputusan bersama para ulama dan fatwa itu dikeluarkan sudah lama,” ungkapnya.

Diutarakan, tugas MUI adalah mengeluarkan fatwa yang selama ini menjadi pegangan, jadi kalau ada yang mengatakan fatwa itu tidak kuat silahkan saja. “Kalau mau percaya Alhamdulillah, kalau tidak ya’silahkan buat fatwa sendiri” tegasnya.

Editor: SUWANDI

(dat05/wol)

Sumber: waspada.co.id

Ummat Islam shalat Jum’at di lingkungan bekas reruntuhan masjid. Berikut ini beritanya:

Massa Ormas Islam Salat Jumat di Jalan

10:17, 07/05/2011

menteri-agama-sesalkan022

SALAT JUMAT: Massa ormas Islam menggelar salat Jumat di jalan karena Masjid Al Ikhlas di Jalan Timor Medan yang biasa mereka gunakan telah dirobohkan, Jumat (6/5).//TRIADI WIBOWO/SUMUT POS

Masjid Al Ikhlas Dirobohkan

MEDAN-Massa yang tergabung dalam berbagai ormas Islam di Kota Medan seperti HMI, FUI, Laskar Amanar, GPK meng gelar aksi unjuk rasa terkait perobohan Masjid Al Ikhlas di bekas area Hubdam I/BB Jalan Timor Medan, Jumat (6/5). Selain melakukan aksi unjuk rasa massa juga menggelar salat Jumat berjamaah di badan Jalan Timor Medan. Dalam aksi tersebut massa mendapatkan pengawalan ketat dari aparat TNI/Polri.

Sebelum melaksanakan salat Jumat, umat Islam terpaksa mengambil air wudu dari truk tangki air mineral di pinggir jalan yang telah distandbykan sejak pagi. Jamaah salat Jumat dibawa terik sinar matahari beralaskan kertas koran Khatib salat Jumat Sekretaris Forum Umat Islam Pusat, Al Khatath dalam kutbah Jumatnya mengatakan, perobohan masjid perbuatan anarkis.

“Kita selaku umat Islam harus berjuang.Umat Islam jangan terpecah-pecah, umat Islam harus bersatu. Mesjid adalah rumah Tuhan, milik umat Islam. Kita sangat menyesalkan perobohan ini, apakah disini tidak ada umat Islam,” kata Al Khatath.

Al-Khatab juga mengatakan, pemerintah kota Medan hanya diam saja sehingga bakalan banyak masjid yang berdiri kokoh di tengah kota akan tergusur untuk perluasan lahan. “Sudah saatnya pemerintah bertindak untuk menjaga dan melindungi masjid,” katanya.

Sementar itu, Indra Suheri, Ketua I Forum Umat Islam (FUI) Sumut, usai salat Jumat mengatakan, tidak ada dalih atau rujukan apapun seperti yang dilakukan oleh MUI Kota Medan dan MUI Sumut sesuai dengan Undang-undang wakaf  No 41 tahun 2004, untuk tukar menukar masjid.

Muchrijal Syahputra, Kordinator Komisi Untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) Sumut yang ikut salat Jumat berjamaah, saat ditemui Sumut Pos mengecam pembokaran Masjid Al-Ikhlas dan meminta membangun kembali Masjid Al-Ikhlas seperti semula serta meminta tanggung jawab kepada pihak-pihak yang sudah membongkar masjid.

Usai salat berjamaah selanjutnya massa bergerak bersama menuju gedung DPRD Sumut untuk melakukan aksi.Usai salat Jumat massa melanjutkan aksinya ke Gedung DPRD Sumut. Dalam orasinya massa memprotes Panglima Kodam I/BB, Mayjen TNI Leo Siegers soal perobohan masjid Al Iklhas di bekas komplek Hubdam I/BB Jalan Timor Medan. Massa mengacungkan tangan kanan dan mengucapkan Allahu Akbar sambil meneriakkan copot Pangdam I/BB, Mayjend TNI Leo Siegers dari jabatannya, mendesak Presiden RI dan Panglima TNI untuk mencopotnya.

“Kami minta Presiden dan Panglima TNI agar mencopot Pangdam I/BB dengan tidak hormat serta muspika plus Sumut bertanggung jawab atas penghancuran masjid itu dan meminta Pemerintah Propsu untuk membangun masjid itu kembali,” teriak massa.

“Ada indikasi beberapa pihak tertentu untuk memecah belah persatuan umat Islam di Sumut dengan membenturkan sesama umat Muslim,”ujar Suheli, seorang jamaah. Dikatakannya, pihaknya akan terus menambah jamaah untuk melakukan salat di depan masjid yang dirobohkan hingga masjid berdiri kembali.

“Kami akan terus menambah jamaah dan setiap Jumat kami akan melakukan salat Jumat di tempat ini,” katanya.

Dijelaskannya, perjuangan membangun keimanan jauh lebih penting dibandingkan urusan perut yang selalu mengeluarkan barang kotor, serta meminta pihak-pihak yang mengiginkan perpecahan umat Islam itu hengkang dari Sumut.

Sumber: hariansumutpos.com

(nahimunkar.com)