Laporan Perjalanan Dakwah di Sumatera (1 dari 4 tulisan)

Menyadarkan Para Da’i Akan Bahaya

Yang Menghadang Ummat

Oleh Hartono Ahmad Jaiz

Pengantar Redaksi:

Kami turunkan laporan perjalanan dakwah Forum Peduli Ummat di Jakarta yang terdiri dari 4 da’i yang telah menyampaikan dakwah secara keliling di beberapa daerah di Sumatera pada Bulan Syawal 1425H / November –Desember 2004. Ini bukan seperti Jama’ah Tabligh yang khuruj, tetapi dakwah untuk memberi masukan kepada Ummat Islam untuk mempertahankan aqidah Ummat dari berbagai serangan yang membahayakan. Karena muatannya cukup baik untuk disimak, dan insya Alloh bermanfaat, maka laporan ini walaupun sudah dibuat tahun 2004, namun seakan baru saja terjadi.

Semoga bermanfaat.

Terimakasih.

Redaksi nahimunkar.com

Pekan kedua setelah Iedul Fitri 1425H/ Desember 2004M, berangkatlah rombongan da’i Forum Peduli Ummat dari Jakarta menuju Padang Sumatera Barat. Tiga orang da’i berangkat lebih dulu menyusuri jalan darat sepanjang Jakarta-Padang, sementara seorang da’i masih ditunggu sembuhnya dari sakit, semoga bisa menyusul ke Padang. Perjalanan dakwah di Sumatera ini dilangsungkan selama 11 hari, dari tanggal 25 November sampai 5 Desember 2004. Kemudian dilanjutkan ke Makassar Sulawesi selatan selama 4 hari. Tujuannya adalah ke lembaga-lembaga Islam, masjid-masjid, perguruan tinggi Islam, dan pesantren-pesantren.

Hari Sabtu pagi, 14 Syawal 1425/ 27 November 2005M, 3 orang da’i telah sampai di Padang setelah menyusuri jalan darat selama dua hari dua malam. Mereka pagi itu langsung memberikan materi-materi dakwah dan kajian yang perlu disampaikan kepada jama’ah di Masjid Al-Madani Padang, dan telah ditunggu pula agar segera berda’wah di Masjid Muhammadiyah At-Taqwa di dekat pasar di Padang ba’da dhuhur seusai acara di Masjid al-Madani. Sementara itu Kepala rombongan, H Zulfi Syukur dari Dewan Dakwah Pusat Jakarta, berharap-harap cemas, rekannya yang satu, Hartono Ahmad Jaiz yang ditinggalkan dua hari yang lalu dalam keadaan sakit di Jakarta, mudah-mudahan bisa hadir saat itu. Zulfi senantiasa mengharapkan kepada Aru Saef Asadullah wartawan senior Majalah Media Dakwah yang di Jakarta untuk mendatangkan Hartono ke Padang, kalau perlu harus didampingi Aru, dan kemudian diantar pulang kembali ke Jakarta, tidak usah mengikuti tour dakwah selanjutnya, yakni ke seantero Sumatera Barat, Muara Bungo, Jambi, Palembang,dan Metro Lampung.

Kenapa Zulfi selaku ketua rombongan ini sangat mengharapkan kedatangan Hartono, menurut Zulfi dan Aru, tour dakwah ini kurang seru bila tanpa disertai Hartono. Pembahasan kurang komplit. Sebab materi yang disampaikan tidak sempurna bila tanpa membeberkan kebusukan dan bahaya JIL (Jaringan Islam Liberal). Sedangkan masing-masing sudah membawakan materi sesuai dengan faknya, dan Hartono bagian menjelaskan kebusukan dan bahaya JIL.

Terbayang bagi Zulfi, begitu ketiga orang (Zulfi Syukur tokoh Dewan Dakwah Pusat, Hamdi El-Gumanti –ketua Pagar Nagari Tingkat Pusat, dan Mashadi mantan anggota DPR) tampil di mimbar di Masjid Al-Madani Padang, kemudian hadir Hartono dan Aru. Rupanya bayangan Zulfi itu terwujud, dua pemuda Masjid mengiringi Hartono masuk ke masjid, hanya saja tanpa disertai Aru. Sumringahlah wajah Zulfi seketika, begitu melihat kehadiran rekannya yang ditunggu-tunggu, dan tampaknya telah sehat, hingga tidak usah didampingi Aru.

Mashadi yang tengah menyampaikan materi tentang kondisi dan situasi Ummat Islam secara nasional dan internasional tampak tambah semangat pula, apalagi awal dari pemberian materi dakwah/ kajian ini ternyata jama’ah yang hadir cukup banyak, sekitar 200-an orang dan rata-rata kaum muda. Rasa capaik, pegal dan linu sekujur tubuh yang dirasakan ketiga awak dakwah akibat jalan darat selama dua hari dua malam itu seakan sirna dengan antusiasnya sambutan hadirin. Maklum, perjalanan dakwah ini bukan karena diundang oleh pihak yang didatangi, namun seakan “menjejalkan materi” dakwah kepada para tuan rumah tanpa diminta. Sehingga, pada perjalanan selanjutnya ketika ada saudara yang kirim sms menanyakan tentang keadaan dakwahnya, salah satu awak ini menjawab, kalau selama ini orang JT (Jama’ah Tabligh) khuruj (keluar untuk apa yang mereka sebut berdakwah di masjid-masjid dan belum tentu sesuai dengan Sunnah Rasul saw), maka kami ini merasakan dampaknya; ketika sebagai pendatang tanpa diundang lalu berdakwah, ternyata sangat berbeda dengan kalau kehadirannya itu karena diundang. Paling kurang, seakan ada sebagian hadirin atau bahkan shohibul bait yang dari raut wajahnya tergambar sebuah pertanyaan, “mereka ini mau menjejalkan apa”?

Sebaliknya, dari pihak kami pun bisa salah terka. Seperti Akh Mashadi yang biasa di mana-mana berhadapan dengan jama’ahnya, yang rata-rata muda-mudi, tahu-tahu ketika di Solok Sumatera Barat ternyata kebanyakan hadirin adalah da’i tua-tua, maka Mashadi tampak saklarnya agak turun alias kurang begairah. Padahal baru saja pengurus Dewan Dakwah setempat menyuguhi nasi Padang yang cukup pedas, yang tentunya tidak membikin loyo. Tetapi lantaran kebiasaan hanya berbicara di hadapan kaum muda, maka dia jadi kikuk dan kagok, kurang lancar dan kurang tertata rapi. Bahkan sebelumnya, dia mengajukan usulan kepada ketua rombongan agar dia tak usah bicara saja. Namun Hartono dan Hamdi tetap mendorongnya untuk bicara. Kondisi ini agak kurang nyambung. Sekalipun Mashadi mengemukakan ganasnya Amerika membomi Muslimin di Fallujah, kota di Irak, hingga menewaskan ribuan Muslimin tak berdosa, serta aneka kekejaman Amerika serta Inggeris, Perancis, Australia, Thailand dan kafir-kafir lainnya terhadap Ummat Islam, namun gaya Mashadi yang tampak ragu-ragu di depan kaum tua, masih belum mampu membangkitkan semangat mereka. Baru setelah di antara 4 da’i ini mengemukakan kejahatan-kejahatan orang JIL (Jaringan Islam Liberal) dan semacamnya dalam merusak agama Islam, dan di antaranya adalah orang-orang dari Sumatera Barat sampai membolehkan wanita Muslimah dinikahi oleh lelaki Kristen; saat itu da’i-da’i tua dari seantero Solok Sumbar ini pun terbelalak. Seolah mereka disambar geledek, atau bahaya sudah di depan mata. Nama Dr Zainun Kamal asal Sumatera Barat disebut dalam acara itu dan dikemukakan sebagai orang yang mengkampanyekan ajaran yang menentang Al-Qur’an karena membolehkan pernikahan Muslimah dengan lelaki Kristen. Hamdi El-Gumanti mengemukakan bahwa dirinya langsung di depan Dr Zainun Kamal menyebutnya sebagai Yahudi, ketika diskusi di Al-Azhar Jakarta.

Para da’i tua dan muda tampak bersemangat untuk mendengarkan informasi-informasi penting seperti itu. Para da’i yang datang dari berbagai pelosok, ada yang jarak tempuh 100-an Kilo Meter itu mulai bergairah untuk berdialog dengan 4 da’i dari Jakarta ini.

Rohmatan lil’alamien model pemahaman semaunya

Materi yang disampaikan di berbagai tempat di depan para da’i dan jama’ah di antaranya adalah masalah kristenisasi, kondisi Ummat Islam secara nasional dan internasional, peta dakwah, dan bahaya kejahatan-agama yang dilancarkan JIL (Jaringan Islam Liberal) dan konco-konconya yang didanai lembaga-lembaga kafir. Di Indonesia ini ada 21 NGO, lembaga swasta internasional, yang 20 lembaga orang kafir, dan yang satu lembaga orang Muslim. Namun yang satu Islam itu pun telah diberedel oleh Amerika dengan alasan yang dibuat-buat. Al-Haramaian Foundation yang Islam itu telah diberedel dari bumi Indonesia. Sedang yang di pusatnya, Saudi Arabia pun diberangus atas desakan Amerika, Oktober 2004. Padahal Ummat Islam Indonesia, tahunya Al-Haramain itu hanya berkegiatan memberikan andil dalam buka puasa bersama atau penyembelihan hewan qurban. Namun orang kafir Amerika sudah gerah dan memberedelnya. Sementara itu lembaga orang kafir internasional yang jumlahnya 20 di Indonesia itu, dari satu lembaga The Asia Foundation saja sudah mendanai perusakan Islam sejadi-jadinya, di antaranya mendanai 44 lembaga yang suaranya memecundangi Islam. Buku Fiqih Lintas Agama terbitan Paramadina Jakarta yang mengacaukan hukum Islam itu didanai pula oleh The Asia Foundation yang berpusat di Amerika. Demikian pula kegiatan-kegiatan JIL yang menyuarakan perusakan faham terhadap Islam, seperti kordinatornya, Ulil Abshar Abdalla, pernah menulis di Kompas, 18 November 2002, Menyegarkan kembali pemahaman Islam, yang isinya menegas-negaskan bahwa dirinya tidak percaya adanya hukum Tuhan.

Materi dan informasi yang disampaikan para da’I dari Jakarta kepada para da’i di Sumatera ini disertai cara-cara untuk mengatasi berbagai persoalan Ummat Islam. Di antaranya tentu dengan persiapan dan sikap tegas melawan kekufuran dan perusakan agama. Namun dari seorang da’i muda berbaju hijau mencolok, dari daerah pedalaman jauh dari Solok Sumbar, terlontar satu “gugatan” terhadap empat orang penatar da’i ini, bahwa Islam itu rohmatan lil’alamien (rahmat bagi seluruh alam). Maka tidak bisa dilakukan cara-cara yang nantinya orang luar (Islam) akan menilai bahwa Islam itu keras, tidak toleran dan sebagainya.

Kalimat dari da’i muda yang telah terkena virus liberal hingga pemahamannya semaunya inilah yang tampaknya agak mengusik Pak Hamdi, sehingga da’i muda itu diberi tahu dengan tegas bahwa kalau Ummat Islam ini diam ketika agamanya diserbu orang, dan Ummatnya dimurtadkan, maka orang luar (Islam) akan makin menginjak-injak kepala kita. Sekarang ini sudah diatur dengan SKB (Surat Keputusan Bersama) Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri tahun 1969 tentang penyiaran agama dan pendirian rumah ibadah, yang hal itu untuk menenangkan Ummat, tahu-tahu pihak Kristen, PGI (Persekutuan Gereja-gereja Indonesia) meminta kepada presiden SBY (Soesilo Bambang Yudhoyono) agar SKB 1969 itu dicabut. Itu kan artinya justru kita Ummat Islam ini kalau diam justru akan diinjak-injak dan Ummatnya dimurtadkan oleh orang lain. Akhir-akhir ini, masalah SKB No 1/1969 mencuat kembali dan menjadi perdebatan ramai di berbagai media massa, menyusul pernyataan Ketua Persekutuan Gereja Indonesia (PGI) Pdt.Nathan Setiabudi setelah diterima Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono, beberapa hari lalu. Sebelumnya, upaya ingin mencabut SKB 1969 itu juga telah mencuat di saat kampanye pemilihan presiden dan wakil presiden 2004, ketika akan bergabung dengan kubu Megawati-Hasyim Muzadi, Partai Damai Sejahtera (PDS) mengajukan sejumlah syarat, antara lain pencabutan SKB Menteri Dalam Negeri dan Menteri Agama Nomor 1/1969 dan UU Sisdiknas (Undang-undang Sistem Pendiddikan Nasional).

SKB 1/1969 ini berisi antara lain: Setiap pendirian rumah

ibadat perlu mendapatkan izin dari kepala daerah atau pejabat

pemerintahan di bawahnya yang dikuasakan untuk itu.

Kata Hamdi, menghadapi masalah sedemikian, kalau Ummat Islam ini diam saja, melempem, maka tentu diinjak-injak dan dimurtadkan semena-mena. Jadi kita apalagi para da’i tidak boleh diam, harus menyelamatkan Ummat kita, tegasnya.

Sementara itu Hartono Ahmad Jaiz mengemukakan, ayat tentang rohmatan lil’alamien itu pelaksanaannya perlu dirujuk kepada Nabi Muhammad saw dan para sahabatnya, bukan semau-mau kita untuk memahaminya tanpa landasan. Rahmat bagi seluruh alam sudah terbukti dengan ajaran Islam, contohnya, binatang pun mendapatkan rahmat karena aturan Islam, yaitu perintah Nabi Muhammad saw agar berbuat ihsan ketika menyembelih, dengan menajamkan pisau dan merehatkannya (mempercepat berlalunya dan tidak memperlakukannya dengan kasar).

عَنْ شَدَّادِ بْنِ أَوْسٍ قَالَ ثِنْتَانِ حَفِظْتُهُمَا عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ الْإِحْسَانَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ فَإِذَا قَتَلْتُمْ فَأَحْسِنُوا الْقِتْلَةَ وَإِذَا ذَبَحْتُمْ فَأَحْسِنُوا الذَّبْحَ وَلْيُحِدَّ أَحَدُكُمْ شَفْرَتَهُ فَلْيُرِحْ ذَبِيحَتَهُ (مسلم).

Riwayat dari Syaddad bin Aus, ia berkata, dua hal yang aku menghafalnya dari Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam, beliau bersabda: Sesungguhnya Allah telah mewajibkan ihsan atas segala sesuatu, maka apabila kalian membunuh maka berihsanlah / baguskanlah (tindakan dan sikap) pembunuhannya (terhadap yang berhak dibunuh) dan apabila kalian menyembelih maka ihsanlah (tindakan dan sikap) penyembelihannya dan hendaklah salahsatu dari kalian menajamkan pisaunya maka hendaklah merehatkan /menyantaikan (binatang) sembelihannya (dengan menajamkan pisau dan mencepatkan berlalunya). (HR Muslim).

Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa hadits ini termasuk hadits yang mencakup kaidah-kaidah Islam.[1]

Imam Ibnu Taimiyyah menjelaskan, dalam hadis inilah adanya dalil bahwa ihsan (berbuat secara bagus) itu wajib dalam segala keadaan, sehingga dalam hal ketika menghabisi jiwa manusia dan binatang pun maka wajib atas manusia untuk berihsan dalam pembunuhan terhadap manusia (yang berhak dibunuh) dan penyembelihan terhadap binatang. (Ibnu Taimiyyah, Al-Fatawal Kubro, juz 4, hlm 619).[2]

Itu satu contoh. Bahkan orang kafir yang tidak memusuhi Islam pun mendapatkan rahmat dengan aturan Islam, di antaranya Ummat Islam untuk berbuat adil kepada orang yang tidak memusuhi. Sehingga dalam hal jual beli, misalnya, tidak boleh dicurangi, walaupun orang kafir. Dari sisi lain, rohmatan lil ‘alamien itu perlu didudukkan, sesuai dengan Al-Qur’an, Allah swt mengemukakan pujian terhadap Nabi Muhammad saw dan para sahabatnya, dengan ungkapan pensifatan yang diabadikan dalam al-Qur’an:

مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ ذَلِكَ مَثَلُهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَمَثَلُهُمْ فِي الْإِنْجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَى عَلَى سُوقِهِ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ ءَامَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنْهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا(29)

Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka, kamu lihat mereka ruku` dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mu’min). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar. (QS Al-Fat-h/48: 29).

Rohmatan lil’alamien itu pelaksanaannya seperti yang dilakukan oleh Nabi Muhammad saw dan para sahabatnya itu, yaitu asyiddaa-u ‘alal kuffaar, ruhamaa-u bainahum, bertindak keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama Muslim. Bukan sebaliknya, berkasih-kasihan dengan orang-orang kafir tetapi malah jegal-jegalan sesama Muslim. Itu tidak benar, tegas Hartono Ahmad Jaiz dengan nada tinggi, sambil mengemukakan data adanya tokoh-tokoh JIL dan yang sefaham dengannya yang justru minta-minta dana kepada lembaga-lembaga kafir kemudian mendukung kafirin dan memecundangi Islam dan ummat Islam. Masih pula mereka menyebarkan pemahaman yang tak benar, di antaranya mengelirukan tentang maksud dari rohmatan lil ‘alamien.

Dialog yang hangat ini sempat memecahkan suasana yang diliputi gerimis atau di daerah-daerah dingin yang penduduknya sampai jam 9 pagi masih terlihat banyak yang berselimut sarung di pinggir-pinggir jalan itu. (Bersambung, insya Alloh).

Jakarta, Syawal 1425H/ Nov-Desember 2004M



 

[1] قَوْله صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ( إِنَّ اللَّه كَتَبَ الْإِحْسَان عَلَى كُلّ شَيْء فَإِذَا قَتَلْتُمْ فَأَحْسِنُوا الْقِتْلَة , وَإِذَا ذَبَحْتُمْ فَأَحْسِنُوا الذَّبْح , وَلْيُحِدَّ أَحَدكُمْ شَفْرَته وَلْيُرِحْ ذَبِيحَته ) أَمَّا ( الْقِتْلَة ) فَبِكَسْرِ الْقَاف , وَهِيَ الْهَيْئَة وَالْحَالَة , وَأَمَّا قَوْله صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ( فَأَحْسِنُوا الذَّبْح ) فَوَقَعَ فِي كَثِير مِنْ النُّسَخ أَوْ أَكْثَرهَا ( فَأَحْسِنُوا الذَّبْح ) بِفَتْحِ الذَّال بِغَيْرِ هَاء , وَفِي بَعْضهَا ( الذِّبْحَة ) بِكَسْرِ الذَّال وَبِالْهَاءِ كَالْقِتْلَةِ , وَهِيَ الْهَيْئَة وَالْحَالَة أَيْضًا . قَوْله صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ( وَلْيُحِدَّ ) هُوَ بِضَمِّ الْيَاء يُقَال : أَحَدّ السِّكِّين وَحَدَّدَهَا وَاسْتَحَدَّهَا بِمَعْنًى , وَلْيُرِحْ ذَبِيحَته , بِإِحْدَادِ السِّكِّين وَتَعْجِيل إِمْرَارهَا وَغَيْر ذَلِكَ , وَيُسْتَحَبّ أَلَّا يُحِدّ السِّكِّين بِحَضْرَةِ الذَّبِيحَة , وَأَلَّا يَذْبَح وَاحِدَة بِحَضْرَةِ أُخْرَى , وَلَا يَجُرّهَا إِلَى مَذْبَحهَا . وَقَوْله صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ( فَأَحْسِنُوا الْقِتْلَة ) عَامّ فِي كُلّ قَتِيل مِنْ الذَّبَائِح , وَالْقَتْل قِصَاصًا , وَفِي حَدّ وَنَحْو ذَلِكَ . وَهَذَا الْحَدِيث مِنْ الْأَحَادِيث الْجَامِعَة لِقَوَاعِد الْإِسْلَام . وَاللَّهُ أَعْلَم .)شرح صحيح مسلم للنووي)

 

[2] الفتاوى الكبرى ج: 4 ص: 619

وَقَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم : { إنَّ اللَّهَ كَتَبَ الْإِحْسَانَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ فَإِذَا قَتَلْتُمْ فَأَحْسِنُوا الْقِتْلَةِ وَإِذَا ذَبَحَتْهُمْ فَأَحْسِنُوا الذِّبْحَةَ } . وَفِي هَذَا دَلِيلٌ عَلَى أَنَّ الْإِحْسَانَ وَاجِبٌ عَلَى كُلِّ حَالٍ حَتَّى فِي إزْهَاقِ النَّفْسِ نَاطِقِهَا وَبَهِيمِهَا فَعَلَى الْإِنْسَانِ أَنْ يُحْسِنَ الْقِتْلَةَ لِلْآدَمِيِّينَ وَالذَّبِيحَةَ لِلْبَهَائِمِ .