Laporan Perjalanan Dakwah di Sumatera (3 dari 4 tulisan)

Menyadarkan Para Da’i Akan Bahaya

 

Yang Menghadang Ummat

 

Oleh: Hartono A. Jaiz

Pendidikan Tinggi Islam di Indonesia menjauhkan dari Islam yang benar

Adik Buya Malik Ahmad itu sendiri dan rekan-rekannya di Universitas Muhammadiyah Padang Panjang mendengarkan uraian rombongan da’i ini dengan serius. Bahkan puteri Syaikh Abdul Hamid Hakim (ulama terkemuka, penulis kitab Al-Mu’inul Mubin) menyimak baik-baik uraian para da’i dari Jakarta, terutama mengenai sesatnya Nurcholish Madjid yang di antaranya menjuluki Islam sebagai agama Hibrida. Nurcholish setega itu menjuluki Islam hanya karena secuil bukti yang ia buat-buat, bahwa kata Nurcholish, di Al-Qur’an ada lafal qisthos, itu dari kata Yunani jastis, artinya adil. Juga menurut Nurcholish Madjid, lafal kafuro, itu dari bahasa Melayu kapur barus, tapi bukan untuk kepinding, namun untuk minuman tonic dan harganya mahal sekali di zaman Nabi Sulaiman, menurut Nurcholish. Hanya dengan secuil bukti, tanpa sanad tanpa rowi dan tanpa derajat shohih tidaknya pernyataan itu, ternyata Nurcholish berani menyandangkan julukan kepada Islam, bahwa Islam itu agama hibrida. (hibrida itu misalnya bibit jagung atau kelapa yang satu dicangkok dengan bibit yang lain, lalu tumbuh satu bibit baru, itu namanya hibrida). Julukan ditimpakan kepada Islam tanpa bukti-bukti ilmiyah seperti itu adalah sikap sangat serampangan. Maka benarlah ungkapan Imam Ahmad, bahwa kebanyakan cara berpikir orang sesat itu adalah mujmal (serampangan, pukul rata) dan atau dengan cara qiyas (batil), analog/ perbandingan yang tak memenuhi syarat –perbandingan dua hal yang sebenarnya tak bersesuaian.

Dalam kesempatan di Universitas Muhammadiyah Padang Panjang, Islamic Center Padang, dan Pesantren Diniyah Muara Bungo Jambi, para da’I dari berbagai daerah itu diingatkan oleh da’i dari Jakarta bahwa serbuan non fisik lewat pendidikan Islam yang sebenarnya mengarah kepada pemurtadan pun sedang dilangsungkan di UIN, IAIN, STAIN, dan STAIS; baik S1, S2, maupun S3. Sehingga pendidikan di perguruan tinggi Islam sekarang justru mengarah kepada penjauhan dari pemahaman Islam yang benar. Masalahnya:

1. Mata kuliah dasarnya adalah:

a. Sejarah Pemikiran Islam (SPI). Itu materinya adalah pemikiran sekte-sekte dalam Islam (kebanyakan dalam istilah di kitab-kitab disebut firoq dhoollah, aliran-aliran sesat) seperti Ahmadiyah, Syi’ah, Mutazilah, Jahmiyah dan lain-lain. Juga pemikiran tasawuf sampai tasawuf yang paling sesat yang ditokohi al-Hallaj (yang dibunuh di jembatan Baghdad tahun 922M atau 309H, karena Al-Hallaj mengatakan, anal haq, aku adalah al-haq/ Alloh). Pembunuhan itu atas keputusan para ulama. Juga tasawuf Ibnu Arabi, wihdatul wujud, menyatukan alam dengan Tuhan, dan wihdatul adyan, menyamakan semua agama. Lalu apa yang disaebut filsafat Islam, padahal Al-Razi pun dimasukkan dalam kurikulum itu dalam pembahasan filsafat Islam, walaupun Al-Razi tidak percaya wahyu dan kenabian. Cara penyajian materi SPI ini di IAIN dan lainnya, justru diarahkan untuk pemberi materi ataupun penyampai, kalau diskusi maka mahasiswa yang membawa materi/ makalah diarahkan agar berpikir seperti sekte yang sedang dibahas. Kalau bicara tentang Ahmadiyah yang mengangkat Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi sesudah Nabi Muhammad saw maka harus berpikir seperti Ahmadiyah. Lalu tidak boleh disorot dari pemahaman yang benar sesuai dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah yang disampaikan Rasulullah saw dan difahami para sahabat. Akibatnya, dengan cara pendidikan yang model ini, pada hakekatnya IAIN dan pendidikan tinggi Islam di Indonesia ini justru menjerumuskan generasi Muslim ke arah pemikiran sesat sejauh-jauhnya. Karena, mereka diarahkan untuk berpikir dan berfaham model yang sesat-sesat itu. Akibat paling ringan, mereka tidak bisa membedakan antara madzhab dan sekte. Padahal, perbedaan dalam madzhab: Hanafi, Maliki, Syafi’I dan Hanbali; hanyalah beda dalam hal-hal furu’ (cabang). Bukan beda dalam hal ushul (pokok) ataupun prinsip. Karena 4 madzhab itu semuanya adalah Ahlus Sunnah. Lain dengan firoq dhoollah, atau sekte-sekte sesat, mereka itu menyelisihi Islam dalam hal-hal yang prinsip. Misalnya, Ahmadiyah mengangkat Mirza Ghulam Ahmad sebagai Nabi, dengan kitab sucinya Tadzkiroh. Namun pendidikan di IAIN justru tidak menjelaskan itu, malahan memasukkannya sebagai Sejarah Pemikiran Islam dan mahasiswa pun diseret untuk berfikir model yang sesat-sesat itu, dengan cara tidak boleh menyorotinya dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah sesuai pemahaman Nabi saw yang ditiru oleh para sahabatnya, tabi’ien, tabi’it tabi’en dan disampaikan kemudian oleh para ulama salafus sholih. Setelah itu, akibatnya para lulusan IAIN dan perguruan tinggi Islam Indonesia S1, S2, dan S3 bukan hanya tak bisa (tak mau) membedakan antara madzhab dengan sekte, bahkan tidak bisa lagi (tak mau) membedakan antara mukmin dengan kafir, setelah ditingkatkan ke tasawuf sesat, di antaranya ajaran Ibnu Arabi wihdatul wujud dan wihdatul adyan (menyamakan semua agama). Dengan demikian, pendidikan tinggi Islam di Indonesia bukannya mengarah kepada kejelian dan ketelitian serta kehati-hatian agar terhindar dari kesesatan, tetapi justru mengarah kepada penjerumusan kepada kesesatan secara sistematis dan menyeluruh. Sampai tidak bisa (dan tak mau) membedakan kafir dengan mukmin. Aneh, sekaligus sangat berbahaya.

b. Sejarah Kebudayaan Islam (SKI). Materi inipun di IAIN dan perguruan tinggi Islam lainnya di Indonesia tidak mempedulikan riwayat yang shohih. Semau mereka saja. Dan hanyalah pikiran mereka yang lebih dikedepankan. Hingga sejarah kepemimpinan kekhalifahan para sahabat Nabi yakni Khulafaur Rasyidin pun seringkali ada ungkapan untuk dipompakan kepada para mahasiswa bahwa Khulafaur Rasyidin itu tidak demokratis, nepotisme dan sebagainya. Astaghfirullohal ‘adhiem. Jadi mata kuliah SKI itu bukannya sebagai pelajaran untuk mendidik agar meniru kebaikan Islamnya para sahabat dan ulama zaman generasi yang oleh Nabi saw disebut sebagai khoirul qurun, sebaik-baik generasi, namun justru untuk memberikan cap-cap yang semena-mena, misalnya tidak demokratis, nepotisme dan sebagainya. Padahal Nabi saw bersabda:

1498 حَدِيثُ أَبِي سَعِيدٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : كَانَ بَيْنَ خَالِدِ بْنِ الْوَلِيدِ وَبَيْنَ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ شَيْءٌ فَسَبَّهُ خَالِدٌ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَسُبُّوا أَحَدًا مِنْ أَصْحَابِي فَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَوْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا أَدْرَكَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلَا نَصِيفَهُ *

1498 Diriwayatkan dari Abu Said r.a katanya: Di antara Khalid bin al-Walid dan Abdul Rahman bin Auf telah terjadi sesuatu, lalu Khalid mencaci dia (Abdul rahman bin Auf). Mendengar hal itu, Rasulullah s.a.w bersabda: Janganlah kamu mencaci Sahabatku. Walaupun salah seorang dari kamu membelanjakan emas sebesar gunung Uhud sekalipun, dia tidak dapat menandingi salah seorang ataupun separuh dari mereka. (Muttafaq ‘alaih).

Ungkapan yang dijejalkan kepada mahasiswa dalam hal memberi cap buruk kepada Khulafaur Rasyidin, seakan-akan demokarsi itu jauh lebih unggul dan baik dibanding system Islam. Penanaman pelajaran busuk semacam ini justru dilancarkan secara sistematis di perguruan tinggi Islam seluruh Indonesia, karena memang kurikulumnya seperti itu.

SPI dan SKI itu dijadikan mata kuliah dasar di perguruan tinggi Islam S1, S2, dan S3 (?). Artinya, seluruh mahassiwa harus ikut, dan kalau perguruan tinggi Islam swasta maka harus ujian negara.

Pertanyaan yang perlu diajukan kepada pemerintah dan terutama pembuat kurikulum yakni Departemen Agama/ Direktorat Perguruan Tinggi Islam, atau kini UIN dan IAIN yang sudah otonom:

n Apakah SPI dan SKI itu jadi dasar dalam Islam?

n Apakah cara belajar SPI dan SKI yang seperti itu akan menjadikan mahasiswa ketika jadi sarjana akan bisa kenal Islam dengan benar?

n Apakah tidak justru menjadikan sarjana-sarjana S1, S2, dan S3 akan tidak faham Islam sama sekali, otaknya rancu terhadap Islam, dan bahkan tidak bisa membedakan madzhab dengan sekte, dan bahkan tak bisa membedakan mukmin dengan kafir?

n Apakah memang ini disengaja untuk menjauhkan generasi Islam dari agama Islam yang benar?

n Atau ada apa di belakang ini semua?

2. Banyaknya bacaan yang didatangkan dari pihak kafirin, contohnya di berbagai IAIN dan UIN didirikan American Corner, perpustakaan yang buku-bukunya diberi langsung oleh Amerika. Bahkan itu kadang diresmikan langsung oleh Menteri Agama, contohnya Menteri Said Agil Almunawwar tahun 2004 di IAIN Medan, meresmikan perpustaan Amerika di IAIN Medan. Satu IAIN saja didrop buku oleh Amerika 1100 judul buku.

Pertanyaan yang perlu diajukan:

Apakah pendidikan Islam itu sangat membutuhkan secara mendesak akan buku-buku dari Amerika yang jelas-jelas memusuhi Islam secara fisik dan non fisik itu?

n Apakah pendidikan Islam itu akan jadi baik, dan mahasiswanya berubah jadi sholih dan sekaligus pintar-pintar serta pemahaman Islamnya jadi benar sesuai dengan Islam bila bacaannya dari orang-orang kafir?

3. Musik dan semacamnya yang sifatnya hura-hura dan tidak sesuai dengan Islam justru dihidup-hidupkan di IAIN dan perguruan tinggi Islam. Dalam satu pertemuan dengan mahasiswa dari Malaysia, Ramadhan 1425H/ 2004M, ada beberapa mahasiswa BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) UI (Universitas Indonesia) mengemukakan keheranannya, mereka diundang ke UIN Jakarta, tahu-tahu ada musik hingar bingar yang bahkan UI pun tidak pernah berbuat seperti itu. Kemudian ketika laporan ini ditulis, baru saja di Bulan Desember 2004, UIN Jakarta mengadakan konser musik band GIGI, tiba-tiba malam itu atap canopy gedung StudentCenter UIN Jakarta tempat berlaganya musik itu ambrol, maka matilah dua penonton, dan lukalah 50-an penonton lainnya. Malu rupanya aku mendengar berita itu. Kampus Islam mengadakan konser musik. Dan dengan gagahnya rector UIN Jakarta Azzumardi Azra mau menanggung biaya kecelakaan itu. Bukan menyesali penyelenggaraan musik yang disalahkan polisi karena belum dapat izin, (dan secara agama mensyiarkan malahi/ hal-hal yang menjauhkan dari ingat pada Alloh), namun dengan jantannya dia mau menanggung.

Perusakan Islam di Indonesia ternyata dilaksanakan dan dilancarkan secara sistematis lewat jalur pendidikan, atas nama pendidikan Islam. Dengan demikian, betapa ruginya Ummat Islam Indonesia ini. Generasi muda Islamnya dididik secara sistematis untuk jauh dari Islam yang benar, masih pula biaya pendidikan itu tentunya disedot dari Ummat Islam. Sehingga secara kasarnya, Ummat Islam disuruh membiayai perusakan Islam secara sistematis oleh orang-orang sewaan Amerika dan lainnya lewat jalur-jalur formal. (Bersambung, insya Alloh).

Jakarta, Syawal 1425H/ Nov-Desember 2004M