Laporan Perjalanan Dakwah di Sumatera (2 dari 4 tulisan)

Menyadarkan Para Da’i Akan Bahaya

 

Yang Menghadang Ummat

Oleh Hartono Ahmad Jaiz

Menyemangati santri Pesantren Dr Muhammad Natsir

Rombongan sempat mengunjungi Pesantren Dr Muhammad Natsir di Alahan Panjang, Sumatera Barat, di perbukitan yang pemandangannya indah, berhadapan dengan danau, perkebunan, dan bukit hijau bertanaman pohon teh. Pesantren ini jaraknya 100 KM dari Padang, satu kilometer dari masjid pasar Alahan Panjang yang di dekat masjid itulah Dr Mohammad Natsir (almarhum) ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia dilahirkan.

Kami kaget ketika 400-an santri dan santriwati dikumpulkan di halaman kemudian kami diminta untuk memberikan nasihat kepada mereka yang berseragam baju dan celana panjang bagi laki-laki, serta pakaian muslimah (berjilbab) bagi santri perempuan tingkat Tsanawiyah dan Aliyah ini. Karena sebenarnya, Pak Hamdi berbicara kepada direkturnya, agar kami bisa berbincang-bincang dengan para ustadz, ustadzah dan karyawan, namun ternyata justru para santri yang disodorkan dengan cara mirip apel bendera, dikumpulkan di halaman luas dalam posisi baris tegak berdiri. Satu persatu dari kami diminta “memompa” para santri.

Mula-mula Buya Hamdi El-Gumanti yang maju di hadapan para santri. Buya Hamdi yang rumahnya bertetangga dengan pesantren ini tampak maju dengan tenangnya, walau hanya bersandal jepit dan pakai ketu bayi (penutup kepala yang model pembalut kepala bayi) untuk menahan dingin. Buya Hamdi beteriak-teriak mengancam, kalau santri-santri di sini melanggar aturan Islam, maka lebih baik dicopot saja itu nama Dr Mohammad Natsir.

Lalu Mashadi yang mantan anggota DPR dan sering dikhabarkan sebagai anggota DPR yang termiskin pun dipersilakan maju untuk menyemangati para santri. Tampak Mashadi hanya berkaos tebal penghangat badan, bercelana panjang dan bersandal, tanpa tutup kepala, dalam keadaan cukur plontos. Dengan senyumnya yang khas, ia menasihati para santri, agar rajin belajar, jangan sampai pacar-pacaran. Itu tak sesuai dengan Islam. Kalau sudah mau nikah ya nikah saja, tak usah pacaran, tegasnya. (Di tengah perjalanan setelah kembali dari pesantren, Mashadi disindir rekannya, bagaimana Anda ini. Orang para santri itu sendiri kemungkinan ogah belajar, malah kamu suruh cepat-cepat kawin, ya bubar nantinya! Mashadi hanya senyum-senyum saja, karena nasihat agar jangan pacaran itu sudah benar).

Giliran Hartono Ahmad Jaiz diminta maju untuk memompa para santri. Kali ini hanya Hartonolah yang ke pesantren itu pakai sepatu walau tanpa kaos kaki. Dengan tenang dia ucapkan salam, lalu hamdalah, syahadat, sholawat dan seterusnya. Lalu ia meneriakkan pertanyaan kepada para santri:

“Kalian mau masuk surga atau masuk nereka?”

“Masuk surga!” sahut para santri.

“Dengan mengikuti Islam atau agama lain?”

“Islaam!!”

“Kalau kalian merantau ke kota-kota, ingin menirukan orang yang masih sholat atau yang tidak sholat?”

“Yang masih sholaat!”

“Banyak nggak, orang yang merantau ke kota-kota kemudian tidak sholat?”

Mereka ragu-ragu untuk menyahut, tetapi ada yang berani bilang: “Banyaak!”

“Kalian mau mengikuti mereka?”

“Tidaak!”

“Kalian mau menikah dengan yang sesama Muslim atau yang bukan?”

“Sesama Muslim!”

“Sekarang ada orang dari Sumatera Barat yang membolehkan wanita Muslimah dinikahi lelaki Kristen. Dr Zainun Kamal asal Sumbar dan kini mengajar di UIN (Universitas Islam Negeri, dulu IAIN) Jakarta dan Paramadina Jakarta yang membolehkan itu, padahal haram tidak?”

“Haraam!”.

“Adalagi orang yang lulusan dari Sumbar menyamakan semua agama, mengatakan bahwa semuanya baik, hingga dia diprotes di UMS (Universitas Muhammadiyah Surakarta), kalau semuanya sama, semuanya baik, maka bubarkan saja Muhammadiyah, karena sudah tidak ada gunanya lagi amar ma’ruf nahi munkar. Dr Yunan Yusuf lulusan Sumbar kini dosen di UIN Jakarta yang menyuarakan itu dan kemudian diprotes. Apakah kalian mau mengikutinya?”

“Tidaak!”

“Terimakasih. Kalian sudah berjanji. Akan tetap sholat, menikah dengan yang muslim, dan tidak mengikuti orang-orang yang merusak agama. Maka kalian harus rajin belajar, agar tidak mudah diseret oleh para penyesat yang merusak agama, dan agar mendapatkan hidayah dan taufiq dari Allah swt. Wassalamu’alaikum waromatullohi wa barokaatuh.”

“Wa’alaikum salaam warohmatullohi wabarokatuh.”

Amerika “menyerang” pesantren sampai ke pegunungan

Seusai “apel akbar” ini rombongan pun dipersilakan kembali dengan dibekali bukti-bukti dari pesantren ini bahwa Amerika telah “menyerang” pesantren di perbukitan jauh dari kota ini dengan cara mengirimi paket lewat pos berupa berkardus-kardus buku-buku tentang Amerika dari Departemen Luar Negeri Amerika (buku cetak sudah diterjemahkan dengan bahasa Indonesia). Itu untuk mempengaruhi pemikiran para ustadz dan santri-santrinya. Padahal dalam kenyataan, Amerika sedang membunuhi Ummat Islam di mana-mana, setelah di Afghanistan kemudian di Irak, tanpa sebab yang nyata, dengan mengerahkan seratus ribu tentara lebih, disertai aneka senjata, dan membomi rakyat sipil tak berdosa dengan cara pemboman kue lapis, yakni kapal terbang yang berlapis-lapis, dari tingkat rendah sampai tingkat tinggi.

Bangga masa lalu dan tokoh sesat

Acara selanjutnya, pertemuan yang cukup serius dan panjang berlangsung di Islamic Center Padang, kantor Dewan Dakwah. Para da’i setempat mendengarkan secara serius paparan 4 da’i yang dari Jakarta ini. Dari pukul 10 sampai jam 16.00 pertemuan itu berlangsung disertai dialog. Hamdi El-Gumanti yang asal Sumbar memberikan data-data tentang ganasnya kristenisasi di Sumbar dengan menunjukkan sarang-sarang dan dalang-dalangnya serta rangkaiannya. Bukti-bukti berupa pensihiran/santet terhadap sejumlah mahasiswa Universitas Andalas Padang beberapa waktu lalu yang arahnya adalah kristenisasi, dibeberkan pula. Hamdi mengingatkan, dalam kondisi seperti ini, ada satu kritik dari Gus Dur atau Abdurrahman Wahid bekas ketua umum PBNU (Pengurus Besar Nahdlatul Ulama) yang kritik satu ini Hamdi akui benar. (Maksudnya, omongan Abdurrahman Wahid yang lain, masih nanti dulu, tapi yang satu ini diakui benarnya). Yaitu, orang Padang itu hanya membanggakan masa lalunya. Ini yang perlu kita sebagai orang awak (Minang) mengaca diri, jangan sampai hanya membanggakan masa lalu bahwa dari Sumbar lah banyak lahir tokoh-tokoh bertaraf nasional bahkan internasional. Sebut saja, misalnya Pak M Natsir, Buya Hamka, Agus Salim dan lainnya, itu semua adalah tokoh-tokoh terkemuka berasal dari Sumbar. Namun tidak cukup kita membanggakan mereka saja, mesti apa yang kita hadapi sekarang ini kita pecahkan masalahnya, tandas Hamdi.

Lain pula Zulfi Syukur. Dalam perjalanan ini dia sering mengingatkan, bahwa dari Sumbar juga muncul tokoh-tokoh aliran sesat. Sebut saja Nazwar Syamsu yang dedengkot aliran sesat Inkar Sunnah yang telah dilarang Pemerintah RI. (Kalau mau diruntut, pentolan Inkar Sunnah di Malaysia, Kassim Ahmad, khabarnya masih ada darah Minangnya. Tetapi soal sesat dan tidak sesat itu tidak tergantung tempat. Hanya saja ada yang berteori, yang sesat-sesat itu kebanyakan adalah orang-orang dari desa atau dusun di udik sana, lalu belajar ke kota, kemudian bahkan mungkin ke luar negeri. Mereka kemudian berpikiran aneh dan sesat adalah untuk menutupi kedesaannya, biar dianggap sebagai orang kota atau orang modern. Anggapan semacam ini (bahwa kebanyakan yang berpikiran aneh dan sesat itu mereka yang asalnya dari desa-desa udik) pernah dilontarkan oleh dua orang yang biasanya tidak saling ketemu pendapatnya, yaitu sama-sama wartawan, yang satu Aru Saef Asadullah (Media Dakwah) dan yang satunya lagi Zaenal Muttaqin mantan Pemimpin Redaksi Majalah Sabili. Namun Pendapat itu pernah disanggah langsung oleh seseorang aktivis, bahwa yang namanya sesat itu bisa disandang oleh orang kota, orang desa, atau orang mana saja. Jadi anggapan seperti itu tidak benar. Wallahu a’lam. )—kalimat dalam kurung ini adalah penjelasan ihwal tokoh sesat dan penyebabnya, yang sering dianalisis oleh aneka kalangan.

Dalam perjalanan dakwah di Sumatera Barat ini, kalau Hartono menyebut tokoh sesat dengan mengembel-embeli bahwa di antaranya ada orang awak (Minang), maka berkali-kali Pak Hamdi El-Gumanti bekomentar, “Kenapa kalau bilang tokoh sesat mesti dibumbui ‘ada orang awak (Minang)-nya?’ Saya tersinggung, nih!” Ujar Hamdi sambil tersenyum. Dijawab, soalnya lagi berbicara di lingkungan orang Minang, biar nyambung. Bukan nyambung sesatnya, tapi nyambung pembicaraannya, kilah Hartono.

Ummat Islam dikeroyok secara fisik dan non fisik

Pembicaraan yang cukup intensif dilaksanakan di Islamic Center Padang, di Universitas Muhammadiyah Padang Panjang, dan Pesantren Diniyyah Muara Bungo Jambi. Pertemuan itu dihadiri oleh para dosen, da’i, dan tokoh Islam, bahkan pejabat setempat. Penyampaian materi dakwah dari 4 orang yang hadir dari Jakarta ini adalah memberikan gambaran yang utuh kondisi Ummat Islam secara nasional dan internasional, sehingga agar peta dakwah bisa tergambar, sehingga program dakwah selanjutnya bisa dilancarkan secara rapi dan sistematis serta agar mampu menanggulangi kendala-kendalanya dengan baik.

Dikemukakanlah bahwa Ummat Islam kini sedang dibunuhi, dibombardir secara fisik oleh musuh-musuh Islam yang dikomandoii Amerika, contohnya di Irak, Afghanistan, Thailand dan lainnya. Namun tidak hanya serangan fisik yang dilangsungkan, bagi yang orang Islamnya tidak sampai dibunuhi tapi cukup dengan dirusak keimanannya, maka musuh Islam pun merusaknya dengan cara menyewa para intelektual Islam untuk merusak keimanan Muslimin, di antaranya adalah menyewa JIL (Jaringan Islam Liberal), orang-orang Paramadina, orang-orang (sebagian) dari Departemen Agama, IAIN, UIN, STAIN, STAIS, NU, Muhammadiyah dan lainnya. Hingga intelektual yang masih mengaku muslim tapi disewa musuh Islam itu sampai berani mengacak-acak Islam agama Tauhid diselewengkan agar Ummat terjerumus ke agama syirik dengan cara memasarkan teologi pluralisme agama, menyamakan semua agama. Hingga Paramadina dengan dibiayai The Asia Foundation dari Amerika menerbitkan buku Fiqih Lintas Agama, yang isinya sesat menyesatkan: menyamakan semua agama, membolehkan muslim muslimah menikah dengan orang beragama apapun dan beraliran kepercayaan apapun. Itu artinya, Islam yang dibawa Nabi Muhammad saw dan diikuti oleh para sahabatnya dan sampai kini diikuti Ummat Islam ini sekarang dirusak oleh orang-orang sewaan musuh Islam.

Musuh-musuh Islam senantiasa mengeroyok Ummat Islam di bumi ini. Duit bermilyar-milyar, tentara ratusan ribu orang, senjata-senjata canggih komplit dengan aneka sarana membunuhi Ummat Islam, telah disediakan oleh kafirin di dunia ini dengan dikomandoi Amerika, Israel, Inggeris, Australia dan lainnya. Sasarannya adalah Ummat Islam di berbagai negara, untuk dibantai. Di Palestina, Afghanistan, Irak, Thailand dan lainnya, Ummat Islam dibunuhi secara kejam. Amerika mengirimkan seratus ribu lebih tentara untuk membunuhi Muslimin di Irak. Biayanya pun sangat mahal, hingga Amerika menderita devisit 1,1 triliun dolar AS masa pemerintahan Bush. Padahal sebelumnya, dalam pemerintahan Presiden Clinton, Amerika punya devisa 850 miliar dolar AS, menurut ZA Maulani mantan Kabakin yang ditirukan da’i yang sedang keliling Sumatera ini.

Mashadi menguraikan ganasnya serbuan Amerika dan konco-konconya terhadap Islam itu dengan semangat, terutama dalam pertemuan dengan para da’i di Islamic Center Padang dan Pesantren Diniyah Muara Bungo Jambi pimpinan H Maksum. Di Islamic Center itu H Mustamir dan H Rusli yang terhitung tokoh senior tampak antusias mendengarkan uraian rekannya dari Jakarta ini. Demikian pula di Universitas Muhammadiyah Padang Panjang Sumbar, para petinggi Universitas, dosen dan da’i serta tokoh Islam memperhatikan uraian para tamu ini. Di antara pemimpin Universitas Muhammadiyah ini adalah adik Buya Malik Ahmad (Buya Malik Ahmad adalah ulama terkemuka di Muhammadiyah, penentang utama asas tunggal Pancasila. Asas Tunggal Pancasila itu zaman Presiden Soeharto telah menjadi fitnah, di antaranya banyak orang yang dipenjarakan gara-gara menentangnya. Semua lembaga, ormas/ organisasi massa apalagi organisasi politik wajib berasas Pancasila. Kalau tidak, maka dibubarkan. Hingga terjadilah satu kelucuan, seperti MUI –Majelis Ulama Indonesia yang memang bentukan Soeharto, zaman pimpinan KH Hasan Basri diwajibkan berasaskan Pancasila. Maka diakalilah itu asas, hingga MUI berasaskan Pancasila dan beraqidah Islamiyah. Bahkan Soeharto sudah tumbang pun sisa-sisa orang penjilat atau yang ketakutan masih ada. Hingga ketika partai-partai yang menisbahkan diri sebagai partai Islam pun masih ada yang takut untuk menegaskan bahwa asasnya Islam. Contohnya, PBB –Partai Bulan Bintang yang di sana ada pakar-pakar hukumnya H Anwar Haryono, Yusril Ihza Mahendra, dan Hartono Mardjono justru menjadikannya sebagai rombongan “penakut” hingga tetap berasas Pancasila. Baru setelah asas tunggal Pancasila ditendang di Parlemen belakangan, ditempelkanlah asas Islam pada partai itu. Perlu diketahui, di zaman Soeharto, para pejabat setiap kali dia berpidato mesti mengucapkan ucapan Pancasila. Seakan lafal Pancasila itu bagai hamdalah (alhamdulillah) dalam khutbah Jum’at. Hingga pejabat yang ada di luar negeri pun, seakan takut bila berpidato tidak mengucapkan lafal Pancasila. Sampai-sampai Duta Besar Indonesia di Saudi Arabia dalam sambutannya di Arafah pada musim haji 1986 pun justru pidatonya tentang Pancasila itu, dengan mutar-mutar tidak keruan. Anehnya, ketika ada wartawan Suara Karya (Koran Golkar), Usman Yatim, yang mau berwawancara, di sela-sela wawancara itu Dubes Aang Kunaefi pun bertanya, bagaimana pidato saya di Arafah beberapa hari yang lalu? Jawab Usman Yatim, bagus Pak. Astaghfirullohal ‘adhiem, apanya yang bagus. Intonasinya saja ngak-nguk, sedang isinya pun entah ke mana. Tetapi memang secara terus terang, di zaman Soeharto banyak hal yang lucu-lucu, hanya saja menegangkan. Hingga pernah Radio BBC London melaporkan jalannya kampanye Golkar di Jakarta. Pertama-tama diputar rekaman musik dangdut hingar bingar. Lalu reporter melaporkan, itulah hingar bingar suara musik dangdut pada acara kampanye Golkar di Jakarta Utara tadi siang. Kemudian seorang pejabat berpidato, dan sebagaimana pidato-pidato biasanya, tidak ada seorangpun yang bisa mengambil kesimpulan apa isi pidatonya.)

Uraian dalam kurung itu tidak dibicarakan dalam tour dakwah. Itu hanyalah sekadar kilas balik, sehubungan di Universitas Muhammadiyah Padang Panjang itu masih ada tokoh sepuh yakni adik Buya Malik Ahmad, sehingga cerita laporan ini menyangkut hal yang telah lewat yaitu zaman almarhum Buya Malik Ahmad. (Bersambung insya Alloh).

Jakarta, Syawal 1425H/ Nov-Desember 2004M