Laporan Perjalanan Dakwah di Sumatera (4/ habis)

Menyadarkan Para Da’i Akan Bahaya

 

Yang Menghadang Ummat

Oleh : Hartono Ahmad Jaiz

Puteri Syaikh Abdul Hamid Hakim Memprotes Nurcholish Madjid

Dengan uraian tentang bahaya perusakan Islam lewat pendidikan tinggi Islam secara sistematis itu, seusai acara di Universitas Muhammadiyah Padang Panjang ini, langsung puteri Syaikh Abdul Hamid Hakim menemui rombongan dan menyatakan bahwa dirinya (dosen IAIN Padang kemudian jadi anggota DPRD) telah memprotes langsung Nurcholish Madjid karena memutar balikkan atau menyalah artikan Kitab Syaikh Abdul Hamid Hakim, Al-Mu’inul Mubin.

“Saya sebagai anaknya (Syaikh Abdul Hamid Hakim) tidak terima, maka saya protes langsung, Pak Nurcholish saya hadapi, agar mencabut pernyataan/ tulisannya yang telah menyalah artikan tulisan bapak saya,” tandas puteri Abdul Hamid Hakim ini, disaksikan oleh suaminya di depan rombongan. Karena Nurcholish Madjid tidak mencabut pemlintiran yang telah ia lakukan, maka walaupun kini Nurcholish sudah 3 bulan berada di rumah sakit Singapura dalam keadaan sakit setelah separoh hatinya diganti dengan hati orang Cina Tiongkok di negeri Cina, namun tampaknya puteri Abdul Hamid Hakim ini masih menyimpan kekesalan.

“Bayangkan, bapak saya itu menginginkan agar buku-bukunya tidak diterjemahkan ke bahasa Indonesia, biar utuh Bahasa Arab, agar pengertiannya tetap utuh. Tahu-tahu malah ada orang yang menyalah artikan hingga tak sesuai dengan Islam,” keluhnya tampak kesal terhadap Nurcholish Madjid dosen IAIN Jakarta dan pendiri Paramadina di Jakarta. Namun dengan adanya rombongan yang mengemukakan betapa jauhnya kesesatan Nurcholish Madjid yang menganggap bahwa hukum Islam (fiqh) tak memadahi lagi hingga mesti diperlukan hukum lain yang bisa mencakup seluruh manusia; puteri Abdul Hamid Hakim ini menyatakan kegembiraannya. Karena yang mengusung kebatilan dan kesesatan itu pun terkuak.

Kekesalan puteri Abdul Hamid Hakim itu karena buku Al-Mu’inul Mubin karangan Abdul Hamid Hakim diperlakukan oleh Nurcholish Madjid sebagai landasan untuk memasukkan Konghuchu, Hindu, Budha, dan Sinto sebagai Ahli Kitab (juga). Padahal buku Al-Mu’inul Mubin sama sekali tidak seperti itu. Dan yang namanya Ahli Kitab adalah Yahudi dan Nasrani. Akibatnya, karena selain Yahudi dan Nasrani pun oleh Nurcholish dianggap sebagai Ahli Kitab (dengan memlintir Kitab Al-Mu’inul Mubin itu), maka orang Muslim menikahi wanita Konghuchu, Hindu, Budha, dan Sinto dianggap boleh-boleh saja. Itu sudah jauh sama sekali dengan isi buku Al-Mu’inul Mubin, dan sangat bertentangan dengan Islam.

Melelahkan tetapi ni’mat

Diskusi dan dialog antara rombongan da’I dari Jakarta dan para da’I di berbagai tempat itu sering kehabisan waktu. Sebagaimana ketika rombongan diminta memberi materi dalam pengajian di hadapan Bupati Muara Bungo Jambi untuk kalangan eksekutif, terasa sebentar saja, walau baru bubar pada jam 22 lebih.

Menyampaikan materi dakwah dan bersilaturrahim seperti ini rasanya ni’mat sekali. Walaupun sebenarnya cukup melelahkan, namun semua itu bisa tertutup dengan asyiknya hubungan secara langsung sesama Muslim dari satu tempat ke tempat lain. Hingga rombongan ini pun tetap melanjutkan aktivitasnya. Pak Hamdi dan Pak Zulfi meneruskan perjalanan dakwah ke Palembang dan Metro Lampung lalu ke Makassar; sedang Mashadi dan Hartono Ahmad Jaiz ke Jakarta. Mashadi untuk melangsungkan urusan pernikahan kerabatnya, sedang Hartono melanjutkan perjalanan ke Lawang Malang guna mengikuti dauroh (penataran) dari 4 orang Syaikh dari Yordan murid-murid Syaikh Al-Albani yang diselenggarakan oleh al-Irsyad al-Islamiyah Surabaya.

Kisah diganggu aliran sesat

Dalam perjalanan di Kapal Very dari Lampung ke Merak ternyata Hartono bertemu dengan rombongan yang berangkat dari Palembang untuk mengikuti dauroh di Lawang Malang Jawa Timur itu. Rombongan dari Prabumulih Sumsel inilah penyelenggara bedah buku “Aliran dan Paham Sesat di Indonesia” yang dikacau oleh orang-orang LDII di Masjid Darus Salam kompleks Pertamina Prabumulih, Ahad 8 Juni 2003. Beritanya sebagai berikut:

Senin, 09 Juni 2003

Walikota Prabumulih Dievakuasi

PRABUMULIH, SRIPO — Dewan Dakwah Islam (DDI) Prabumulih

menggelar diskusi dan bedah buku tentang beberapa aliran yang

ditulis Hartono Ahmad Jaiz. Dalam buku tersebut disebutkan ada

beberapa organisasi yang tidak sesuai ajaran Islam.

Namun dalam diskusi yang dimulai sekitar pukul 08.00 di Mesjid

Darussalam Kompleks Pertamina Prabumulih itu diwarnai

interupsi dan protes dari beberapa undangan. Mereka merupakan

anggota organisasi yang disebut merasa didiskreditkan itu,

yang diketuai HM Jinal yang sengaja diundang untuk memecahkan

persoalan terhadap penyampaian dakwah Islam.

Dalam interupsi tersebut, para undangan mengatakan bahwa

mereka keberatan terhadap Hartono Ahmad Jaiz, penulis buku

yang sekaligus menjadi pemakalah pada acara itu, yang

mengatakan bahwa aliran (organisasi mereka) merupakan aliran

yang tidak perlu diikuti. Setelah beradu argumentasi, akhirnya

sebagian besar undangan emosi dan sempat meleparkan gelas air

mineral ke pemakalah tersebut.

Acara yang dihadiri Walikota Drs H Rachman Djalili MM dan

Wawako Yuri Gagarin, anggota DPRD, kepala dinas dan instansi

serta beberapa jemaah dari NU dan Muhammadiyah itu, diwarnai

dengan pelemparan air mineral oleh salah satu undangan. Bahkan

air yang dilemparkan terciprat ke badan walikota dan wakil

walikota yang duduk di samping pemakalah tersebut. Ketika

situasi dirasakan tidak kondusif, akhirnya dengan sigap

anggota keamanan dari Subdenpom Prabumuih mengevakuasi para

pejabat dan pemakalah tersebut ke tempat yang aman.

Dibubarkan

Setelah situasi aman, wartawan sempat berbincang-bincang

dengan salah satu yang melakukan protes. Mereka pada umumnya

keberatan terhadap Hartono A Jaiz yang mengatakan bahwa aliran

mereka yang dipelajarinya sejak tiga tahun lalu itu adalah

tidak benar. “Memangnya dia itu Tuhan yang bisa mengatakan

bahwa aliran yang itu benar atau yang salah. Padahal dalam

Alquran tidak ada pelajaran yang menyebutkan hal-hal seperti

itu,” kata salah satu diantara mereka.

Undangan yang jumlahnya sekitar 300-an orang itu langsung

memotong ceramah diskusi itu dan mengancam menghentikan bedah

buku tersebut. Tak lama kemudian Ketua DDI Kota Prabumulih,

Husen SM dengan bijak menghentikan diskusi tersebut.

Selanjutnya acara itu dibubarkan dan undangan langsung pulang

ke rumah masing-masing. (Sriwijaya Pos, Senin 09 Juni 2003).

Dalam Kapal Very dari Lampung ke Anyer ini Hartono menanyakan keadaan setelah peristiwa ulah LDII yang menggagalkan acara bedah buku Aliran dan Paham Sesat di Indonesia itu. Menurut rombongan Prabumulih, masyarakat kini telah tahu belang LDII dan kesesatannya. Sehingga walaupun bedah buku itu tidak jadi berlangsung, terpotong di tengah acara, namun justru kerugian bagi LDII. Kenapa kalau memang mereka punya argumentasi yang benar, tidak mereka ajukan? Kenapa malah mengacau? Jadi justru LDII lah yang tadinya orang masih simpang siur, kini masyarakat tahu kesesatan LDII. Apalagi brosur dari LPPI (Lembaga Penelitian dan Pengkajian Islam) tentang bahaya dan sesatnya LDII saat itu sudah disebarkan.

Adapun perkataan “Memangnya dia itu Tuhan yang bisa mengatakan bahwa aliran yang itu benar atau yang salah”, itu justru menunjukkan bahwa mereka melindungi dan menyebarkan kesesatan. Karena dengan perkataan itu diharapkan tidak ada orang yang berani mengemukakan bahwa mereka sesat. Padahal Majelis Ulama saja sudah memfatwakan bahwa Islam Jama’ah, Lemkari, Darul Hadits atau apapun namanya yang merupakan jelmaan dari kelompok itu adalah sesat menyesatkan, karena tidak sesuai dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Secara gampang, pernyataan “Memangnya dia itu Tuhan yang bisa mengatakan bahwa aliran yang itu benar atau yang salah”, itu mudah disanggah. Contohnya, Alloh swt telah menegaskan dalam Al-Qur’an bahwa Alloh itu satu. Lalu di dunia ini ada orang yang berfaham bahwa Tuhan itu dua sebagaimana faham Majusi (Tuhan Terang dan Tuhan Gelap), maka Ummat Islam wajib meyakini bahwa kepercayaan itu sesat. Kalau tidak, maka justru jadi sesat. Jadi, orang yang mengatakan, “Memangnya dia itu Tuhan yang bisa mengatakan bahwa aliran yang itu benar atau yang salah,” itu adalah orang yang pada hakekatnya melindungi kesesatan bahkan ingin menyebarkan kesesatan itu sendiri, agar tidak ada yang mengusiknya.

Berpisah dan melanjutkan aktivitas

Para da’i yang telah berkeliling di Sumatera ini sampai di Jakarta masih saling kirim sms. Zulfi dan Hamdi masih berada di Palembang kemudian mau menuju ke Lampung dan diteruskan ke Maksaar; sedang Hartono Ahmad Jaiz dari Jakarta menuju ke Lawang Malang Jawa Timur untuk menghadiri Dauroh Masyayikh (penataran yang tutornya para syaikh) dari Yordan, murid-murid Syaikh Al-Albani ahli hadits terkemuka. Dauroh ini diselenggarakan oleh Al-Irsyad Al-Islamiyah Surabaya, diikuti 135 orang dari seluruh Indonesia, dengan materi aqidah dan hadits berbahasa Arab, berlangsung tanggal 6-10 Desember 2004.

Adapun Mashadi kembali ke Jakarta dan tidak ngantor lagi di gedung DPR Senayan Jakarta yang ac-nya sangat dingin itu.

“Saya jadi rakyat lagi, ini perlu latihan juga, dengan cara naik bus umum, naik kereta dan sebagainya. Namun di rumah yang tidak ber-ac, padahal biasanya ber-ac itu rasanya sangat gerah. Hingga puasa tahun ini 1425H/ 2004M, rasanya adalah puasa yang terberat bagi saya. Karena udaranya panas sekali, dan saya baru saja lepas dari ruangan ber-ac.” Ujar Mashadi mengaku tentang kondisinya. Namun dia mengaku bersyukur bisa lepas dari dunia yang kini tak dia maui lagi itu. Teman yang satu ini kalau pagi dan sore mulutnya komat-kamit membaca adzkar shobah wa masa’ (dzikir-dzikir waktu pagi dan sore). Bagi dia, dakwah bukan hanya untuk orang lain, tapi untuk dirinya sendiri lebih perlu. Jangan sampai seperti orang yang kepalanya masih hafal bahasa Arab, ayat-ayat dan hadits, dan mulutnya pun membacanya dengan lancar, namun hanya sampai di mulut.

Maksudnya?

“Ya ayat dan hadits itu adanya hanya di kepala dan di mulut. Di bagian sekujur tubuhnya tidak ada, hingga tindakannya lain dengan ucapannya. Na’udzubillahi min dzaalik. Makanya saya khawatir akan seperti itu, hingga saya pilih jadi rakyat biasa saja,” ungkapnya kipo-kipo (tak mau lagi kepada sesuatu yang sudah dia jauhi).

Ketika dalam perjalanan dakwah, Mashadi dikhabari oleh rekannya, Saefullah, seorang pejabat di Muara Bungo Jambi, bahwa pesawat terbang Lion Air tergelincir di Bandara Solo Jawa Tengah, penumpangnya banyak yang meninggal, di antaranya tokoh NU (Nahdlatul Ulama) anggota DPR yang akan menghadiri Muktamar NU di Solo/ Boyolali Jawa Tengah.

Sejenak Mashadi tertegun, ingat temannya, anggota DPR yang meninggal dalam kecelakaan itu. Kemudian terucaplah perkataan Mashadi:

“Saya masih ingat, teman kita itu berseloroh, duit dari manapun kalau sudah masuk kantong kiai maka hukumnya halal…”

“Ah, yang bener aja!” Seru Hartono tersentak, karena perkataan itu sangat bertentangan dengan Islam.

Mashadi hanya senyum-senyum saja saat itu. Banyak cerita Mashadi yang tidak bisa dilaporkan di sini, karena menyangkut aneka hal yang sulit diungkap. Biarlah Mashadi sendiri yang mengungkapnya, kalau mau. Dan saya pun tidak berarti menyuruhnya. Nanti kalau dia bercerita yang nggak-nggak dan kemudian mengandung dosa, biar saya tidak kecipratan dosanya. (Laporan selesai).

Jakarta, Syawal 1425H/ Nov-Desember 2004M