Menyikapi Musibah Gempa Disusul Kebakaran dan Gempa Lagi

وَلاَ تَدْعُ مِن دُونِ اللّهِ مَا لاَ يَنفَعُكَ وَلاَ يَضُرُّكَ فَإِن فَعَلْتَ فَإِنَّكَ إِذاً مِّنَ الظَّالِمِينَ ﴿١٠٦﴾ وَإِن يَمْسَسْكَ اللّهُ بِضُرٍّ فَلاَ كَاشِفَ لَهُ إِلاَّ هُوَ وَإِن يُرِدْكَ بِخَيْرٍ فَلاَ رَآدَّ لِفَضْلِهِ يُصَيبُ بِهِ مَن يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَهُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ ﴿١٠٧﴾

106. Dan janganlah kamu menyembah apa-apa yang tidak memberi manfa`at dan tidak (pula) memberi mudharat kepadamu selain Allah; sebab jika kamu berbuat (yang demikian) itu, maka sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk orang-orang yang zalim”.

107. Jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tak ada yang dapat menolak kurnia-Nya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS Yunus/ 10: 106, 107).

menyikapi-musibah-gempa-disusul-kebakaran-dan-gempa-lagi

(AP Photo) Thu Oct 1, 3:14 AM ET

Seorang lelaki lari dekat kebakaran rumah-rumah setelah gempa dahsyat di Padang, Sumatera Barat, Indonesia, Rabu, 30 September 2009. (AP)

Korban tewas akibat gempa 7,6 SR di Sumatera Barat bertambah menjadi 529 jiwa. Kebanyakan korban berasal dari Kota Padang.

“529 Orang tewas sudah dievakuasi ke RS,” ujar petugas Satkorlak Depsos, Novi, ketika berbincang dengan detikcom, Kamis (1/10/2009) pukul 15.25 WIB.


Korban tewas berasal dari berbagai kota di Sumatra Barat. “Dari Pariaman ada 11 jenazah, Padang 376 jenazah, Solok 2 jenazah, Pasaman 75 jenazah, Padang Panjang 3 jenazah, dan Padang Pariaman 62 jenazah,” jelas Novi.


Jenazah kini berada di RS di kota-kota di Sumatera Barat. “Tim kami juga menyebar di sana,” ujar Novi.  (dckoh) http://www.menkokesra.go.id/content/view/12842/39/

Gempa Jambi Menyusul

Belum lagi musibah di Pariaman dan Kota Padang tertangani, Kamis pukul 08.52 gempa berkekuatan 7,0 skala Richter terjadi di Kota Sungai Penuh, Provinsi Jambi. Lebih dari 500 rumah ambruk dan rusak di 16 desa di Kecamatan Gunung Raya, Kabupaten Kerinci. Hingga semalam baru diketahui seorang meninggal dunia terkena serangan jantung akibat terkejut dan 12 warga luka-luka. Sebanyak 30 rumah rusak di Kecamatan Batangmerangin.

Kepala Bidang Operasi Satuan Polisi Pamong Praja Sumatera Barat Zul Aliman mengatakan, banyak korban tertimpa beton-beton bangunan besar. Karena itu, diperlukan alat berat untuk menyingkirkan bongkahan tembok dan beton bangunan itu.

”Kami khawatir bangunan yang sudah rusak parah justru akan roboh menimpa petugas. Sementara alat berat yang ada terbatas jumlahnya. Memindahkan alat berat dari satu lokasi ke lokasi lain di tengah kota juga sulit,” kata Zul.

Hingga kemarin, petugas evakuasi yang terdiri dari polisi, TNI, dan satuan polisi pamong praja belum bisa berbuat banyak menyelamatkan korban yang tertimpa reruntuhan gedung. Mereka baru bisa bekerja menyelamatkan korban yang tertimbun setelah alat berat membersihkan puing-puing bangunan.

Pergerakan petugas evakuasi semakin terbatas ketika malam tiba sebab aliran listrik masih terputus dan Kota Padang gelap gulita. Meskipun menggunakan alat berat, petugas juga kesulitan menyingkirkan beton lantai bangunan yang ambruk karena ukurannya besar-besar.

Padahal, menurut Zul, diperkirakan masih ada korban selamat yang masih bertahan di dalam reruntuhan bangunan. Misalnya, Zul memperkirakan masih ada sekitar 150 korban tertimbun di Hotel Ambacang di Jalan Bundo Kanduang. Mereka terdiri atas karyawan hotel, tamu hotel, dan pengunjung yang sedang bermain biliar di lantai tiga hotel itu. Korban lain diperkirakan masih tertimbun di gedung Lembaga Bahasa LIA yang juga runtuh.

Namun, Zul mengatakan, jumlah korban yang masih tertimbun di Hotel Ambacang memang belum pasti. Hingga kemarin, petugas baru bisa mengeluarkan delapan orang dari hotel tersebut. Dua di antaranya masih hidup. (compass.com,Jumat, 2 Oktober 2009 | 03:11 WIB)

http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/10/02/03114846/evakuasi.terkendala.

Melupakan Allah Ta’ala

Ketika ada musibah, manusia sama sekali tak berdaya menolaknya, walaupun sejumlah besar manusia sedang berkumpul jadi satu. Seperti yang terjadi di Padang Sumatera Barat, Rabu 30 September 2009/ 11 Syawal 1430H. Begitu gempa berkekuatan 7,6 SR merubuhkan gedung-gedung, pertokoan, hotel-hotel, dan rumah-rumah, lalu sebagian rumah terjadi kebakaran, masing-masing orang untuk menyelamatkan diri sendiri pun tak mampu, kecuali bila mendapatkan pertolongan Allah Ta’ala.

Hotel-hotel yang penuh manusia sedang berseminar ataupun pelatihan dan sebagainya (di kala menjelang akhir tahun anggaran, konon hal itu sudah biasa terjadi di negeri ini) dan tiba-tiba hotelnya ambruk karena digoncang gempa, maka para manusia itupun tak kuasa apa-apa.

Manusia sering tidak menyadari kelemahan dirinya dan ke-Maha Kuasaan Allah Ta’ala. Sampai di saat tidak berdaya, dan hanya Allah lah yang Maha Menolong, itupun manusia masih lupa pula. Bahkan setelah terjadi peristiwa dahsyat seperti gempa yang mengakibatkan ratusan bahkan ribuan korban jiwa dan ratusan bangunan runtuh itu pun, kadang manusia masih lupa. Tidak mau mengingat Kekuasaan Allah Ta’ala, hingga tidak mau menyandarkan kepada Allah Ta’ala. Tidak memohon kepadaNya, dan belum tentu menyadarkan jiwanya untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala.

Aneka bencana telah terjadi bertubi-tubi di negeri ini. Bahkan aneka percakapan entah itu yang dinamakan talk show atau apa telah berlangsung di mana-mana dan berlama-lama. Di tengah malam pun pembicaraan secara bersahut-sahutan itu dilangsungkan. Hanya saja hampir semuanya menafikan (meniadakan) kekuasaan Allah Ta’ala. Meniadakan dosa-dosa manusia terhadap Tuhannya. Dianggapnya segala bencana itu hanya gejala alam belaka. Seakan tidak ada urusan untuk minta tolong kepada Allah Ta’ala, menyadari dosa-dosa dan terutama kesombongannya, untuk kembali ke jalan yang benar yang telah digariskan Alla Ta’ala lewat Rasul-Nya. Hampir tak terdengar suara itu. Banyaknya hanya suara-suara agar begini dan begitu yang sama sekali tidak menyadarkan manusia akan dosa-dosa dan kesombongannya, ketidak jujurannya dan semacamnya.

Padahal segala yang menimpa pada diri manusia itu hanya dari Allah Ta’ala. Dan itu wajib menjadi keyakinan bagi setiap Muslim.

Allah Ta’ala berfirman:

قُل لَّن يُصِيبَنَا إِلاَّ مَا كَتَبَ اللّهُ لَنَا هُوَ مَوْلاَنَا وَعَلَى اللّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ ﴿٥١﴾

051. Katakanlah: “Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kami. Dialah Pelindung kami, dan hanyalah kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakkal.” (QS At-Taubah/ 9: 51).

Mungkin akan timbul pertanyaan: Ketika musibah itu telah ditetapkan oleh Allah, apakah Allah Ta’ala berbuat dhalim terhadap hambanya. Kalau tidak, kenapa orang-orang baik juga kena musibah?

Pertanyaan semacam itu telah ada jawaban-jawabannya:

وَمَا اللَّهُ يُرِيدُ ظُلْماً لِّلْعِبَادِ

Dan Allah tidak menghendaki berbuat kezaliman terhadap hamba-hamba-Nya. (QS Ghafir/ 40: 31).

وَمَا كَانَ رَبُّكَ لِيُهْلِكَ الْقُرَى بِظُلْمٍ وَأَهْلُهَا مُصْلِحُونَ ﴿١١٧﴾

117. Dan Tuhanmu sekali-kali tidak akan membinasakan negeri-negeri secara zalim, sedang penduduknya orang-orang yang berbuat kebaikan. (QS Hud/ 11: 117).

وَمَا كُنَّا مُهْلِكِي الْقُرَى إِلَّا وَأَهْلُهَا ظَالِمُونَ

Dan tidak pernah Kami membinasakan kota-kota; kecuali penduduknya dalam keadaan melakukan kezaliman. (QS Al-Qashash/ 28: 59).

Namun bencana itu kadang bukan hanya menimpa khusus orang yang dzalim saja. Orang baik-baik pun dapat terkena bencana akibat banyaknya kadzaliman, kemaksiatan, pelanggaran di sekitarnya. Allah memperingatkan:

وَاتَّقُوا فِتْنَةً لَا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ(25)

Dan peliharalah dirimu daripada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya.(QS Al-Anfal: 25).

Dalam hadits lebih jelas lagi keterangannya:

عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ زَوْجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَتْ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِذَا ظَهَرَتْ الْمَعَاصِي فِي أُمَّتِي عَمَّهُمْ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ بِعَذَابٍ مِنْ عِنْدِهِ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَمَا فِيهِمْ يَوْمَئِذٍ أُنَاسٌ صَالِحُونَ قَالَ بَلَى قَالَتْ فَكَيْفَ يَصْنَعُ أُولَئِكَ قَالَ يُصِيبُهُمْ مَا أَصَابَ النَّاسَ ثُمَّ يَصِيرُونَ إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ اللَّهِ وَرِضْوَانٍ. (أحمد)

“Jika maksiat-maksiat telah merajalela di dalam ummatku maka Allah meratakan adzab dari sisi-Nya kepada mereka. Lalu aku (Ummu Salamah isteri Nabi SAW) bertanya: Wahai Rasulallah, apakah pada hari itu tidak ada (lagi) orang-orang shaleh/ baik? Beliau menjawab: Masih ada. Aku bertanya: Lalu bagaimana mereka berbuat? Beliau menjawab: Mereka ditimpa musibah-musibah yang menimpa para manusia, kemudian mereka akan mendapatkan ampunan dan keridhoan dari Allah. (HR Ahmad dari Ummu Salamah isteri Nabi SAW VI/ 304 atau no 26122, Al-Haitsami mengatakan, hadits ini rijalnya shahih).

Dalil-dalilnya jelas seperti itu, yakni musibah itu dari Alah, sedang Allah tidak dzalim. Apakah semua itu (baik peristiwa musibahnya maupun kejelasan bahwa musibah itu dari Allah, dan penyebabnya adalah kedzaliman dan dosa-dosa manusia itu sendiri) telah disadari?

Gejala yang tampak dan lontaran-lontaran perkataan orang-orang yang bicaranya disiarkan media massa, jarang yang mengajak manusia untuk menyadari dosa-dosanya, terutama kesombongan dan kadzaliman yang selama ini dilakukan dengan sengaja. Di hari itu Allah Ta’ala sedang menunjukkan bahwa tidak ada yang sakti kecuali Dia. Tidak ada hari sakti sama sekali, maka siapa yang selama ini telah mengakui adanya hari sakti, dia perlu mengaca diri, kemudian bertobat.

Lihat saja, yang namanya orang-orang musyrik Makkah saja tidak menganggap adanya Hari Kesaktian Ka’bah. Padahal jelas-jelas mereka tahu, Abrahah dengan bala tentaranya yang dikenal bergajah (naik gajah) menyerang Ka’bah, lalu dibinasakan oleh Allah Ta’ala. Peristiwa itu dikisahkan dalam Al-Qur’an Surat Al-Fil yang artinya gajah. Orang musyrik Makkah sama sekali tidak menganggap adanya Hari Kesaktian Ka’bah, walau jelas Ka’bah yang diserang itu masih tegak, sedang penyerangnya binasa. Apalagi Ummat Islam, maka sama sekali tidak mengada-adakan penamaan apalagi upacara Hari Kesaktian Ka’bah. Karena hal itu adalah kemusyrikan, yaitu menyekutukan Allah Ta’ala dengan lainnya. Itu suatu kedzaliman yang terbesar, dosa terbesar yang tak diampuni bila mati dalam keadaan musyrik.

Kemusyrikan – dengan aneka bentuk dan coraknya, di antaranya meyakini atau mengakui ada hari sakti atau kesaktian ini dan itu– yang selama ini dipercayai oleh para manusia adalah merupakan kadzaliman terbesar. Menganggap adanya hari sakti itu adalah kemusyrikan, karena telah membuat tandingan terhadap Allah Ta’ala, dan itu adalah kadzaliman terbesar.

وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ ﴿١٣﴾

Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan (Allah) sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”. (QS Luqman: 13).

Lebih dari itu, ketika menghadapi musibah kadang justru dengan mencari jalan keluar yang lebih buruk lagi. Misalnya mengada-adakan keyakinan batil, dengan membuat-buat semacam sesaji kepada syetan. (Mudah-mudahan gempa di Padang itu tidak ada yang kemudian mengadakan keyakinan batil). Misalnya, agar tidak terjadi gempa lagi atau tsunami setelah gempa, maka diadakan korban berupa penanaman tumbal (hewan disembelih sebagai tumbal) atau berkorban dengan barang tertentu di tanam dalam tanah (duit krincing gambar gunungan, misalnya). Lalu dipercayai, dengan berkorban seperti itu maka akan selamat.

Mengadakan korban (sesaji) untuk selain Allah Ta’ala berupa apapun seperti itu adalah keyakinan batil yang merusak iman, menghancurkan iman. Bahkan seandainya yang dikorbankan itu hanya lalat sekalipun, tetap akan menghancurkan iman.

Di dalam hadits dinyatakan, ada orang yang masuk neraka hanya karena berkorban dengan lalat. Tidak sampai bernilai tinggi apalagi ratusan juta rupiah, hanya dengan berkorban lalat saja karena untuk syetan, maka akibatnya masuk neraka. Haditsnya sebagai berikut:

{ دَخَلَ رَجُلٌ الْجَنَّةَ فِي ذُبَابٍ وَدَخَلَ النَّارَ رَجُلٌ فِي ذُبَابٍ , قَالُوا : وَكَيْفَ ذَلِكَ ؟ قَالَ مَرَّ رَجُلَانِ عَلَى قَوْمٍ لَهُمْ صَنَمٌ لَا يَجُوزُهُ أَحَدٌ حَتَّى يُقَرِّبَ لَهُ شَيْئًا , فَقَالُوا لِأَحَدِهِمَا : قَرِّبْ قَالَ : لَيْسَ عِنْدِي شَيْءٌ فَقَالُوا لَهُ قَرِّبْ وَلَوْ ذُبَابًا , فَقَرَّبَ ذُبَابًا فَخَلَّوْا سَبِيلَهُ قَالَ : فَدَخَلَ النَّارَ , وَقَالُوا لِلْآخَرِ قَرِّبْ وَلَوْ ذُبَابًا قَالَ مَا كُنْت لِأُقَرِّبَ لِأَحَدٍ شَيْئًا دُونَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ قَالَ : فَضَرَبُوا عُنُقَهُ قَالَ فَدَخَلَ الْجَنَّةَ } قسم العقيدة – (ج 21 / ص 179)

أخرجه أحمد في الزهد (22) وأبو نعيم في « الحلية » 1 / 203 موقوفا على سليمان الفارسي . عن طارق عن سلمان الفارسي موقوفاً بسندٍ صحيحٍ.

صحيح موقوفا: رواه أحمد في الزهد (15 , 16), وأبو نعيم في الحلية (1/203) عن طارق بن شهاب عن سلمان الفارسي موقوفا بسند صحيح أفاده الدوسري في النهج السديد.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Ada seorang yang masuk naar (neraka) karena lalat dan seorang lainnya yang masuk jannah (surga) karena lalat. Maka para sahabat radhiyallahu ‘anhu bertanya, Bagaimana bisa begitu wahai Rasulullah? Maka jawab Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Dua orang lelaki lewat pada suatu kaum yang memiliki berhala yang tidak boleh dilewati tanpa berkorban sesuatu. Maka kaum itu berkata kepada lelaki yang pertama, Sembelihlah kurban! Jawab lelaki tersebut, Aku tidak punya sesuatu untuk dikorbankan. Maka kata kaum tersebut, Berkurbanlah walau hanya dengan seekor lalat! Maka lelaki itu melakukannya dan ia bisa lewat dengan selamat, tetapi ia masuk naar (neraka). Maka hal yang sama terjadi pada lelaki yang kedua, saat diminta berkurban ia menjawab, Aku tidak akan berkurban kepada sesuatu pun selain Allah ‘Azza wa Jalla, maka lelaki yang kedua ini dipenggal kepalanya oleh mereka dan ia masuk jannah (surga). (HR. Ahmad dalam Az-Zuhd halaman 15, 16, dan Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah 1/ 203 dari Thariq bin Syihab dari Salman Al-Farisi, mauquf, dengan sanad shahih).

Apabila manusia sudah menghindari pembuatan tumbal, sesaji, berkorban untuk selain Allah dan semacamnya, masih pula perlu diingatkan, agar mereka tidak berdo’a kepada selain Allah. Tidak meminta kepada orang yang sudah meninggal di kubur-kubur. Jangan sampai ikut-ikutan perbuatan orang-orang jahil yang datang ke kubur-kubur keramat lalu memohon (berdo’a) kepada isi kubur yang mereka anggap wali atau orang shaleh untuk menolong mereka agar terbebas dari segala derita dan tercapai segala yang diinginkan. Kalau sampai berbuat demikian, maka telah melakukan perbuatan kemusyrikan. Allah melarangnya, dan menegaskan bahwa yang mampu melepaskan segala bahaya hanyalah Allah Ta’ala.

وَلاَ تَدْعُ مِن دُونِ اللّهِ مَا لاَ يَنفَعُكَ وَلاَ يَضُرُّكَ فَإِن فَعَلْتَ فَإِنَّكَ إِذاً مِّنَ الظَّالِمِينَ ﴿١٠٦﴾ وَإِن يَمْسَسْكَ اللّهُ بِضُرٍّ فَلاَ كَاشِفَ لَهُ إِلاَّ هُوَ وَإِن يُرِدْكَ بِخَيْرٍ فَلاَ رَآدَّ لِفَضْلِهِ يُصَيبُ بِهِ مَن يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَهُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ ﴿١٠٧﴾

106. Dan janganlah kamu menyembah apa-apa yang tidak memberi manfa`at dan tidak (pula) memberi mudharat kepadamu selain Allah; sebab jika kamu berbuat (yang demikian) itu, maka sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk orang-orang yang zalim”.

107. Jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tak ada yang dapat menolak kurnia-Nya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS Yunus/ 10: 106, 107).

Derita Orang Mu’min

Dalam hal penderitaan yang dialami Ummat Islam yang kena musibah, penderitaan itu akan terasa bagi Muslimin lainnya di mana saja berada.

عن النُّعْمَانَ بْنَ بَشِيرٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – « مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِى تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى ». مُتَّفَقٌ عَلَيهِ .

Dari An-Nu’man bin Basyir, ia berkata, Rasulullah shalllallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Perumpamaan orang-orang mu’min dalam saling kasih sayang mereka , saling cinta mencintai mereka, dan saling tolong menolong mereka seperti satu tubuh apabila satu anggotanya mengaduh maka seluruh badan itu ikut merasakan padanya dengan tidak dapat tidur dan demam. (Muttafaq ‘alaih).

Di samping itu Allah berjanji untuk menolong hamba-Nya yang mau menolong saudaranya.

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِىِّ –صلى الله عليه وسلم- قَالَ « مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُسْلِمٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ – وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ يَسَّرَ اللَّهُ عَلَيْهِ فِى الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَمَنْ سَتَرَ عَلَى مُسْلِمٍ سَتَرَ اللَّهُ عَلَيْهِ فِى الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَاللَّهُ فِى عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِى عَوْنِ أَخِيهِ ». قَالَ أَبُو دَاوُدَ لَمْ يَذْكُرْ عُثْمَانُ عَنْ أَبِى مُعَاوِيَةَ « وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ ». سنن أبي داود – (ج 2 / ص 704) قال الشيخ الألباني : صحيح

Dari Abi Hurairah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa melepaskan dari seorang Muslim satu keruwetan dari keruwetan-keruwetan dunia maka Allah akan melepaskannya satu keruwetan dari keruwetan-keruwetan akherat, dan barangsiapa memudahkan atas orang yang kesulitan maka Allah akan memudahkan atasnya di dunia dan akherat, dan barangsiapa menutupi (aib) atas seorang Muslim maka Allah akan menutupi (aib) atasnya di dunia dan akhirat, dan Allah senantiasa menolong hamba selama hamba itu menolong saudaranya. (HR Abu Dawud, shahih kata Syaikh Al-Albani).

Allah Ta’ala tidak akan menyia-nyiakan orang yang menginfaqkan hartanya untuk mereka yang membutuhkannya, asal ikhlas karena Allah dan tidak membangkit-bangkit atau menyakiti pihak yang diberi bantuan harta itu.

الَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللّهِ ثُمَّ لاَ يُتْبِعُونَ مَا أَنفَقُواُ مَنّاً وَلاَ أَذًى لَّهُمْ أَجْرُهُمْ عِندَ رَبِّهِمْ وَلاَ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَ هُمْ يَحْزَنُونَ ﴿٢٦٢﴾

262. Orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, kemudian mereka tidak mengiringi apa yang dinafkahkannya itu dengan menyebut-nyebut pemberiannya dan dengan tidak menyakiti (perasaan sipenerima), mereka memperoleh pahala di sisi Tuhan mereka. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.(QS Al-Baqarah: 262)

Yang namanya sedekah di dalam Islam mencakup banyak hal, sampai hanya perkataan yang baik pun dihitung sedekah. Dan itu bahkan lebih baik dibanding sedekah harta yang diiringi perkataan yang tak mengenakkan.

قَوْلٌ مَّعْرُوفٌ وَمَغْفِرَةٌ خَيْرٌ مِّن صَدَقَةٍ يَتْبَعُهَا أَذًى وَاللّهُ غَنِيٌّ حَلِيمٌ ﴿٢٦٣﴾

263. Perkataan yang baik dan pemberian ma`af lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan sipenerima). Allah Maha Kaya lagi Maha Penyantun. (QS Al-Baqarah: 263).

Apabila Ummat Islam yang kena musibah dan yang peduli membantu ini sama-sama menyadari bahwa semuanya itu atas kehendak Allah Ta’ala, dan di balik itu tentu ada hikmahnya bila dihadapi dengan kesabaran dan tawakkal, maka insya Allah pertolongan Allah pun dekat.

وَاللَّهُ فِى عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِى عَوْنِ أَخِيهِ

Dan Allah senantiasa menolong hamba selama hamba itu menolong saudaranya. (HR Abu Dawud, shahih kata Syaikh Al-Albani).

(Redaksi nahimunkar.com)