muslim

Narathiwat (SI ONLINE) – THAILAND bagian selatan kembali memanas. Kamis (23/5/2013) terjadi baku tembak antara kelompok militan dan militer dalam penggerebekan sebuah rumah di provinsi Narathiwat. Dua orang tewas,  satu dari kelompok militan dan satu lagi dari kubu militer.

Bagian selatan Thailand merupakan wilayah yang mayoritas muslim. Di sana memang kerap terjadi pemberontakan dan kini ada upaya damai dengan pemerintah. Otoritas Thailand sendiri sudah memerangi pemberontakan yang berlarut-larut sejak 2004.

Petinggi militer Thailand Kononel Pramote Promin kepada AFP mengatakan bahwa baku tembak yang terjadi Kamis dini di sebuah rumah di Distrik Choi Ai Rong Provinsi Narathiwat itu bermula dari adanya informasi tentang adanya pertemuan kelompok militan di sana. sekitar 40 pasukan militer pun datang dan mengepung rumah tersebut.

Tak begitu lama pasukan pun meminta mereka menyerah namun kelompok itu tak menurutinya. Buntutnya terjadi saling serang. “Salah satu anggota pasukan kami tewas dan anggota lainnya terluka. Sedangkan salah satu militan juga tewas dan dua orang lainnya ditangkap,” katanya.

Namun, lanjut dia, dua anggota pemberontak lainnya berhasil meloloskan diri. Konflik di Thailand selatan hingga saat ini sudah menewaskan lebih dari 5.500 orang. Mayoritas korban merupakan rakyat sipil, di provinsi yang terletak di selatan Thailand yang berbatasan dengan Malaysia.

Peran Indonesia

Pemerintah Thailand pernah mengirim utusan ke Indonesia terkait konflik Thailand Selatan yang tak kunjung selesai. Melalui Pusat Pemerintahan Perbatasan Thailand Selatan (SBPAC – Southern Border Province of Administrative Center), pemerintah Thailand  mengharapkan masukan Indonesia.

Dalam kunjungannya   4 April lalu, SBPAC yang dipimpim Kolonel Polisi Tawee Sodsong menyatakan ingin belajar kerukunan beragama di Indonesia dan mengharapkan dukungan pemerintah Indonesia terkait masalah Thailand Selatan yang mayoritas Muslim.

Delegasi SBPAC yang diterima Menteri Agama Suryadharma Ali itu, mengharapkan peran Indonesia untuk mempercepat proses perdamaian melalui kerjasama sosial-ekonomi-budaya. “Thailand Selatan dan Indonesia punya banyak kesamaan social-ekonomi-budaya. Peran Indonesia akan mempercepat proses perdamaian”, kata  Tawee Sodsong.

Menteri Agama pada waktu itu berjanji akan membantu bidang pendidikan bagi warga Thailand Selatan yang terkendala ekonomi. Kerjasama bidang pendidikan dianggap penting, termasuk pendidikan bahasa Melayu, pembelajaran membaca Al-Qur’an, dan bea siswa bagi pelajar Thailand Selatan untuk belajar di UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta.

Red : Agusdin
Sumber : ant/POL

Jumat, 24/05/2013 14:08:45 | Agusdin Syah / si online

***

Isya Berdarah di Masjid Narathiwat

Inilah pembantaian paling biadab yang dilakukan militer Thailand setelah peristiwa Tak Bai dan Tragedi Masjid Krue See, Thailand Selatan. Sepuluh orang terbunuh, saat sedang shalat Isya.

Beberapa waktu lalu (14/6) pasca pembantaian di Masjid Al Furqan, Narathiwat (8/6), sebelas NGO dari Malaysia melakukan kunjungan ke Thailand Selatan untuk mencari informasi seputar korban yang dibantai tentara Thailand.

“Kami berjumlah 15 orang, meliputi NGO student dan muslim-muslimah. Saat berkunjung, kami didampingi sekitar 30 securiti, baik pihak polisi maupun tentara Thailand. Saat berada di Thailand Selatan, kami mendatangi hospital di Narathiwat untuk menjenguk korban yang terluka. Namun, kami tak diperbolehkan untuk memasuki ruangan,” ujar Azmi Abdul Hamid saat dihubungi Sabili via telepon. Azmi adalah salah seorang koordinator NGO yang turut berkunjung.

Seperti diberitakan sebelumnya, Senin (8/6) malam, sewaktu Isya, sekelompok pria bersenjata (sekitar enam orang) dengan penutup wajah, mengepung masjid dari arah depan dan samping. Pembantaian dilakukan saat Shalat Isya ditunaikan, tepatnya, pada rakaat kedua, ketika Imam membaca surah Al Fatihah.

Berondongan peluru di arahkan ke 50 jamaah yang sedang berjamaah, dari sisi kanan dan kiri masjid, dan mengenai bagian kepala dan perut korban. Dari selongsogn peluru yang berserakan, penembak dipastikan menggunakan senjata M-16. Senjata organik militer Thailand. Malam nahas itu menyebabkan, 11 Muslim gugur dan 19 lainya luka-luka cukup parah.

“Sepuluh Muslim meninggal di lokasi kejadian dan seorang lainnya menghembuskan nafas terakhir di rumah sakit setelah mengalami luka-luka cukup parah,” cerita Azmi.

Isya berdarah tersebut terjadi di Masjid Al Furqan yang berada di Distrik Joh-I-Rong, Provinsi Narathiwat, selatan Thailand. Tepatnya di Kampung Air Tempayan., Sebelumnya, sebagian jamaah masih duduk-duduk di masjid sambil menanti datangnya waktu Isya. Diantara yang shalat itu, ada beberapa jamaah tabligh yang turut tertembak. Termasuk imam setempat.

Yang jelas, ada dua kelompok penyerang, satu masuk melalui pintu depan, dan yang lain masuk melalui pintu samping. Dua warga Muslim lainnya ditembak mati tatkala mereka bersiap-siap masuk ke sebuah masjid.

Ini bukan yang pertama, setiap kali terjadi pembunuhan yang menewaskan polisi, tentara, dan warga setempat, selalu mengkambinghitamkan mujahidin atau Muslim Patani sebagai dalang dari peristiwa itu.

Mereka memfitnah para mujahidin untuk menciptakan stigma buruk terhadap dunia Internasional, seolah ingin menegaskan, bahwa pejuang itu pembunuh yang sadis. Namun semua itu adalah propaganda kebohongan belaka. Ini kerjaan Siam, Pastinya, militer Thailand berada di balik serangan itu.

Masyarakat yakin, bukan para mujahidin yang melakukan perbuatan biadab itu, karena mustahil sesama muslim akan mengotori kesucian masjid. “Serangan di sebuah masjid bukanlah gaya para militant,” ujar penduduk local.

Pembantaian itu terjadi dalam dua empat tahun terakhir menjelang peringatan lima tahun penyerbuan berdarah pemerintah terhadap Masjid Kruu See. Dengan demikian, inilah kedua kalinya, militer Thai menyerbu masjid hingga menjatuhkan korban. Tragedi berdarah ini berlangsung saat PM Thailand Abhisit Vejajiva sedang membahas upaya penyelesaian kekerasan dengan PM Malaysia Najib Razak.

Indonesia dan Malaysia telah berupaya mencari penyelesaian, namun Pemerintah Thailand terkesan tidak serius menyelesaikan konflik berdarah ini. Perwakilan Melayu yang diundang Pemerintah Indonesia untuk membahas penyelesaian kekerasan ini, tidak diakui Deplu Thailand.

Konflik berdarah yang terjadi di Masjid Al Furqan adalah rekayasa militer Thai untuk mendapat tambahan budjet pada Oktober nanti. Seperti diketahui, hingga saat ini, sekitar 66.607 tentara Siam masih menanamkan rasa terror pada masyarakat Muslim di tiga provinsi: Narathiwat, Patani, dan Yala.

Seperti diketahui, di wilayah itu dihuni oleh masyoritas muslim. Banyak barikade-barikade dengan penjagaan ketat tentara bersenjata. Sudah 3.500 lebih penduduk Muslim di wilayah tersebut yang menjadi korban operasi militer tentara Thai sejak lima tahun belakangan.

Azmi berharap, ASEAN membahas penyelesaian konflik di Thailand Selatan. Mengingat setiap hari, Muslim Thailand selalu dihantui oleh teror dari tentara Thailand. Mereka merasa asinng di negeri sendiri, dan tak bisa merasakan tenangnya beribadah. Setiap saat tentara Thailand yang biadab itu dapat seenaknya menculik, menyiksa, dan menembak warga Muslim kapan pun mereka mau.
[cybersabili] dakta.com

***

Penyiksaan Terhadap Tahanan Muslim Oleh Militer Musyrik Thailand Tak Terungkap Publik

Hanin MazayaKamis, 26 Jumadil Akhir 1434 H / 2 Desember 2010 20:48

Dunia masih diramaikan oleh pemberitaan mengenai bocornya dokumen-dokumen rahasia yang memperlihatkan keburukan AS yang dirilis oleh situs Wikileaks milik Julian Assange.  Dalam dokumen tersebut terungkap bagaimana AS menyiksa tahanan Irak serta pembunuhan terhadap sipil Irak.  Publik internasional seperti terlupa dengan adanya penyiksaan lain di dunia ini.

Yaitu Thailand, penyiksaan terjadi di sana, bukan karena AS bercokol di Thailand dan memerangi “militan” di sana.  Sejak tahun 2004, lebih dari 4.400 orang telah tewas di Thailand selatan dalam konflik berdarah antara pasukan musyrik Thailand dan “militan” Islam.  Mayoritas penduduk Thailand merupakan penganut Budha, namun di provinsi-provinsi selatan seperti Pattani, Yala dan Narathiwat sebagian besar penduduknya beragama Islam dan berbahasa Melayu yang berada di bawah pemerintahan Bangkok selama satu abad.

Saya, baru-baru ini mengunjungi wilayah bersama direktur Orlando de Guzman, untuk bersama-sama mendokumentasikan kematian seorang tersangka “militan” yang berusia 25 tahun bernama Sulaiman Naesa.  Ia ditahan pada bulan Mei di kamp militer di Pattani, Ingkhayutthabariharn.  Pasukan musyrik Thailand mengklaim Sulaiman mengakui perannya dalam pembunuhan sembilan orang, kemudian mengikat handuk ke jeruji selnya dan menggantung diri.

Orangtua Sulaiman mengatakan anaknya merupakan seorang penduduk desa yang setengah buta huruf, bukan militan dan bahwa darah dan memar yang terlihat di tubuh jenazahnya membuktikan ia disiksa sampai mati, bukan gantung diri.

Apa yang sebenarnya terjadi?  Kita mungkin tidak akan pernah tau.  Orangtuanya melihat tidak ada gunanya otopsi.  “Bagaimana mungkin kami melawan pemerintah?” ujar ibu Maetsoh.  Tapi kasus Sulaiman harus menjadi fokus perhatian internasional tentang pelanggaran hak asasi manusia di Thailand selatan, khususnya pada tubuh yang terus semakin membuktikan bahwa militer secara rutin melakukan penyiksaan terhadap tahanan Muslim.  Hal ini juga menjadi pertanyaan, mengapa AS terlihat tenang dalam hal ini?

Militer Thailand sangat antusian untuk memperlihatkan kepada kru kami wajah kemanusiaan Letjen Pichet Visaijorm, seorang mantan komandan regional, yang memberi kami tur pribadi dari proyek peliharaannya.  Hal ini termasuk operasi gigi secara gratis bagi masyarakat lokal di markasnya di provinsi Yala.

Kami melihat seorang dokter gigi tentara yang tengah memasang satu set gigi palsu terhadap seorang Muslim tua.  Orang itu berseringai, “apakah mereka cantik?” mendesak Jenderal Pichet untuk tersenyum balik dan mengatakan “Kamu menyukainya?”  Lalu senyumnya memudar.  Perhatian kami berikutnya adalah Ingkhayutthabariharn, rumah untuk tahanan militer dan fasilitas interogasi.  Ini disebut juga Pusat Promosi Rekonsiliasi.  Bagi ummat Islam, Ingkhayutthabariharn adalah kata yang mengerikan.  Mereka tahu apapun dapat terjadi di sana.

Sulaiman ditemukan tewas di sebuah blok yang disebut oleh tentara sebagai “resort”.  “setiap orang takut berada di sana,” ujar seorang mantan tahanan kepada kami.  Mantan napi mengatakan ia sempat berbicara kepada Sulaiman, yang mengatakan bahwa tentara telah menendangnya dengan begitu keras di perutnya dan ia tidak diberi makan selama empat hari.  Ia mengatakan ia melihat tahanan dipukuli dan kantong plastik menutupi kepalanya hingga membuat tahanan tersebut mati lemas.  Sangat banyak komplain mengenai penyiksaan terhadap tahanan militer di Thailand selatan dan semakin banyak setiap tahunnya, sangat menakjubkan bahwa dunia tidak sedikitpun memiliki perhatian lebih akan hal ini.

Pelanggaran yang dilaporkan oleh para tahanan termasuk pemukulan berat, sengatan listrik, dipaksa telanjang, suhu ruangan ekstrim yang sangat panas atau dingin, dimasukkan jarum ke dalam luka yang menganga, dan menahan keluarga para tahanan sebagai sandera termasuk sebuah kasus penyanderaan terhadap anak berusia 6 tahun.

“Kami tidak pernah melakukan penyiksaan,” ujar Letjen Udomchai Thamsarorat, komandan regional saat ini.  “Kami disini untuk menolong orang-orang, bukan menyakiti mereka,” klaimnya.  Selimut penolakan ini tidak mengesankan para pengamat ahli.  “Tentara keamanan terus menggunakan penyiksaan meskipun komandan senior mengklaim telah melarangnya,” ujar International Crisis Group yang berbasis di London pada November lalu.  Dalam dua bulan menjelang kematian Sulaiman, Amnesti Internasional menerima delapan laporan penyiksaan dan enam diantaranya terjadi di Ingkhayutthabariharn.

Penolakan tersebut juga tidak mampu menipu penduduk setempat.  Di Pattani, aku menemui seorang guru bahasa Melayu yang sedang memberikan latihan kepada muridnya dan meminta muridnya (yang semuanya Muslim) untuk menulis sebuah laporan bergaya surat kabar.  Belasan dari mereka memilih kisah mengenai kerabat atau teman mereka yang pernah ditahan atau disiksa.  Ketika saya bertanya kepada seorang Muslim tentang pelanggaran ini dan mengapa mereka tidak berbicara lantang mengenai hal tersebut, ia menjawab : “Kami benci tentara tapi kami juga takut kepada mereka.  Ketakutan kami lebih besar dari kebencian kami.”  Pandangan seperti itu nampaknya telah diketahui oleh petugas yang berbicara kepada saya.  Letjen Udomchai mengatakan ia “100 persen” yakin bahwa tentaranya telah memenangkan hati dan pikiran kaum Muslim.

Penyiksaan adalah ilegal dan menjijikkan.  Setelah peristiwa 911, CIA menyiapkan jaringan global penjara rahasia dimana tersangka “terorisme” menjadi sasaran waterboarding dan bentuk-bentuk penyiksaan lainnya.  Sistem pertama, dua tahanan secara brutal diinterogasi di sebuah penjara di Thailand pada 2002.  Di bulan november Departemen Kehakiman AS memutuskan bahwa para pejabat CIA tidak akan menghadapi tuduhan kriminal untuk menghancurkan rekaman video yang menunjukkan penyiksaan.

CIA tidak pernah mengungkapkan lokasi tepat dari penjara rahasia yang laporannya ditutup pada 2003.  Thailand membantah semua pengetahuan itu.  Namun banyak dari “teknik interogasi yang telah disempurnakan”, apa yang disebut halus di fasilitas-fasilitas ini menciptakan stress yang berkepanjangan, kurang tidur, penggunaan anjing.  Ini bukan bukti bahwa Amerika sedang mengajar Thailand cara penyiksaan, tetapi ini bukan suatu kebetulan.  Tentara Thailand tampaknya tengah mengadopsi praktek buruk yang hanya diketahui militer dan mengaguminya sendiri.

Pada Januari mendatang, pemberontakan di Thailand selatan akan memasuki tahun kedelapan.  Perdamaian tidak akan berdiri sampai Jenderal Thailand melihat penyiksaan sebagai kanker dalam barisan mereka.  Ingin memenangkan hati dan pikiran ummat Islam?  Selidiki dan tuntut para prajurit yang menyalahgunakan kekuasaan.  Apa yang diinginkan penduduk setempat adalah keadilan, bukan gigi palsu gratis.(haninmazaya/arrahmah.com)

catatan : kami tidak mengetahui dengan pasti siapa penulis artikel ini, kami menerjemahkan artikel ini yang diposting dalam forum Ansar Al-Mujahidin./arrahmah.com/

(nahimunkar.com)