Minta Diundang MUI dan Siap Mubahalah dengan LDII

minta-diundang-mui-dan-siap-mubahalah-dengan-ldii

Penulis di blog airmatakumengalir.blogspot.com siap mubahalah dengan pihak LDII yang menurutnya diprediksi akan hadir ke MUI (Majelis Ulama Indonesia). Penulis di blog itu minta diundang MUI dan siap mubahalah.

Adanya gejala yang berkembang di masyarakat seperti ini merupakan masukan bagi para ulama terutama MUI, sehingga akan mampu memberikan jalan keluar yang baik, dengan pertimbangan landasan yang benar. Lebih penting lagi, perlu pula adanya koreksi diri apakah sikap-sikap yang dilakukan MUI selama ini sudah tepat.

Kutipan tulisan berikut ini kemungkinan bisa sebagai gambaran:

Ada lagi –tidak hanya satu—yang kalau ada orang-orang bertaubat dari aliran sesat, malah orang-orang penting di MUI itu ada yang kelihatannya tidak takut dengan ayat Allah, bahwa Allah itu tahu khianatnya mata. Jadi malah kelihatan nyureng terhadap orang yang bertaubat dari aliran sesat yang bersusah payah hadir ke kantor MUI akan menghadiahi data penting kesesatan aliran yang telah mereka tinggalkan itu. Entah apa sebabnya terkesan orang yang bersusah payah hadir ke kantor MUI itu tadi merasa ada beberapa mata yang menyurenginya.

Kalau dianalisis, memang aliran sesat yang ditinggalkan orang-orang itu tadi keadaannya banyak duit karena dapat memeras anggota-anggotanya sampai sekitar sepuluh persen tiap bulan, maka dapat membekali (orang), hingga ada orang yang mondar-mandir ke sana-sini serta akrab dengan pentolan-pentolan yang sejatinya sudah disebut sesat itu.

Pemerasan itu sebutannya dikenal dengan persenan. Makanan pentolan-pentolan sesat itu dari hasil memeras, itupun atas nama Islam, tetapi bagi mata yang khianat malahan lebih bagus dibanding orang yang bertaubat. (ungkapan tersebut terjemahan dari tex berikut ini):

Ono maneh –ora nggur siji– sing yen ono wong-wong tobat soko aliran sesat, malah wong-wong penting ono MUI kuwi ono sing ketoke ora wedi karo ayate Alloh, yen Alloh iku pirso khianate mripat. Dadi malah ketok mbencereng marang wong sing tobat songko aliran sesat sing keroyo-royo sowan menyang kantor MUI arep munjung data penting kesesatane aliran sing wis podo ditinggalake kuwi. Embuh opo sebape, kesane wong sing keroyo-royo sowan menyang kantor MUI kuwi mau rumongso ono mripat-mripat sing mbencerengi.

Yen dianalisis, pancen aliran sesat sing ditinggalake wong-wong iku mau kahanane sugih duwit margo biso meres anggota-anggotane nganti sekitar sepuluh persen saben sasi, tur biso nyangoni nganti ono sing wira-wiri mrono-mrene tur akrab karo pentolan-pentolan sing sejatine wis diarani sesat kuwi. Pemerasan kuwi jenenge dikenal persenan. Pakanane pentolan-pentolan sesat kuwi soko hasil meres tur atas nama Islam, nanging kanggone mripat khianat malah luwih bagus tinimbang wong sing tobat. (nahimunkar.com, July 26, 2010 1:16 , Yen Janjine Mentri Bener, Sasi Romadon Wis Ora Ono Internet Saru, Munas MUI Kudu Milih Wong sing Apik).

Adanya pihak yang siap diundang MUI untuk mubahalah dengan LDII dan adanya oknum-oknum MUI –kalau dalam Munas ke-delapan 25-28 Juli 2010 belum diganti– yang kemungkinan akrab dengan (LDII) pihak yang diajak mubahalah itu, berarti MUI pada hakekatnya menghadapi ujian final. Sedang yang menguji justru orang yang bertaubat dari aliran sesat, yang sesatnya itu sendiri telah ditegaskan dalam rekomendasi MUI:

MUI dalam Musyawarah Nasional VII di Jakarta, 21-29 Juli 2005, merekomendasikan bahwa aliran sesat seperti Ahmadiyah, LDII (Lembaga Dakwah Islam Indonesia) dan sebagainya agar ditindak tegas dan dibubarkan oleh pemerintah karena sangat meresahkan masyarakat. Bunyi teks rekomendasi itu sebagai berikut:

Ajaran Sesat dan Pendangkalan Aqidah.

MUI mendesak Pemerintah untuk bertindak tegas terhadap munculnya berbagai ajaran sesat yang menyimpang dari ajaran Islam, dan membubarkannya, karena sangat meresahkan masyarakat, seperti Ahmadiyah, Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII), dan sebagainya. MUI supaya melakukan kajian secara kritis terhadap faham Islam Liberal dan sejenisnya, yang berdampak terhadap pendangkalan aqidah, dan segera menetapkan fatwa tentang keberadaan faham tersebut. Kepengurusan MUI hendaknya bersih dari unsur aliran sesat dan faham yang dapat mendangkalkan aqidah. Mendesak kepada pemerintah untuk mengaktifkan Bakor PAKEM dalam pelaksanaan tugas dan fungsinya baik di tingkat pusat maupun daerah.” (Himpunan Keputusan Musyawarah Nasional VII Majelis Ulama Indonesia, Tahun 2005, halaman 90, Rekomendasi MUI poin 7, Ajaran Sesat dan Pendangkalan Aqidah).

Ujian final dari orang yang taubat dari aliran sesat tampaknya ditujukan kepada aliran sesat dan juga sekaligus sama dengan menguji MUI pula. Tinggal bagaimana keberanian kedua belah pihak itu.

Inilah tulisan di blog yang dimaksud:

kami siap MUBAHALAH

Kamis, 22 Juli 2010

Mubahalah (malediction, imprecation) berasal dari kata bahlah atau buhlah yang bermakna kutukan atau melaknat. Mubahalah menurut istilah adalah dua pihak yang saling memohon dan berdoa kepada Allah supaya Allah melaknat dan membinasakan pihak yang batil atau menyalahi pihak kebenaran.

Peristiwa mubahalah pernah dilakukan oleh Rasulullah Saw terhadap pendeta Nashrani dari Najran pada tahun ke-9 Hijriah, sebagaimana disebutkan dalam Qs. Ali Imron (3): 61; “Marilah kita memanggil anak-anak kami dan anak-anak kamu, isteri-isteri kami dan isteri-isteri kamu, diri kami dan diri kamu; kemudian marilah kita bermubahalah kepada Allah dan kita minta supaya la’nat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta.”

Jumlah delegasi Kristen Najran yang mendatangi Nabi Muhammad SAW berjumlah 2 orang (lihat Riwayat Bukhari dan Tafsir Ibnu Katsir). Memang yang datang adalah 60 orang berkuda, 3 diantaranya adalah al-Aqib alias Abdul-Masih, al-Ayham alias as-Sayyid dan Abu Haritsah bin ‘alqamah. Tetapi yang berdialog langsung dengan Nabi hanya 2 orang (yaitu al-Aqib dan as-Sayyid).

Kasus-kasus mubahalah ini juga sering dilakukan terhadap pendakwa kebenaran (terutama bagi mereka yang memproklamirkan diri sebagai Nabi atau Rasul dalam arti menerima wahyu sebagaimana Nabi Muhammad Saw ataupun mereka yang dengan beraninya merubah hukum atau syariat Islam yang sudah baku dan memiliki dasar argumentasi yang jelas, baik secara akal maupun secara literatur).

Pada jaman A. Hassan masih hidup, beliau sering menantang kaum Ahmadiyah untuk melakukan mubahalah (sayang sampai akhir hayatnya, sepengetahuan saya, pihak Ahmadiyah selalu menolak ataupun tidak hadir dalam mubahalah tersebut). Yang terakhir adalah kasus Lia Eden (dulu : salamullah), yang ini sempat beberapa kali terjadi permubahalahan, baik langsung maupun tidak langsung, dan secara tidak langsung (melalui surat dan email) sudah dilakukan oleh pihak MUI dengan Lia Aminuddin.

Sistem Mubahalah sendiri dilakukan apabila tidak lagi terdapat titik temu antara pihak kebenaran dengan pihak yang batil sementara pihak yang batil ini masih bersikeras menyebarkan pemahamannya yang batil itu ditengah umat Islam yang haq.

Mubahalah yang pernah diajukan oleh Rasul pun pada masa itu bukan karena kehabisan kata tetapi untuk mencari titik puncak penyelesaian semua diskusi, sebab tidak mungkin Islam mengakui ketuhanan al-Masih yang jelas-jelas manusia biasa dan Rasul Allah sementara kaum kristen Najran yang Trinitas itupun tidak mau menerima konsepsi Tauhid Islam dan tetap mempertahankan keberhalaannya meskipun dalam hal ini Abu Haritsah bin ‘alqamah (satu dari 3 orang pimpinan Najran) sebenarnya mengakui kebenaran Islam dan kenabian Muhammad.

Pembuktian positip sudah diberikan tetapi masih ditolak juga maka mubahalah adalah puncak dari semua pembuktian akan kebenaran yang kita yakini, sebab bila kita telah berani berkata atas nama Allah dan kebenaran-Nya, maka harusnya kitapun berani untuk membuktikan kejujuran dan kebenaran kita itu di hadapan Allah. Mubahalah anggap saja tidak berbeda dengan memberikan kesaksian dalam suatu persidangan, biar hakim yang menentukan siapa yang sebenarnya benar dan siapa yang sebenarnya salah sekaligus menjatuhkan hukuman-Nya kepada terdakwa.

Tidak ada sumpah pocong maupun kata-kata aneh dalam melakukan mubahalah ini seperti kalau mati mayat tidak diterima bumi, atau disambar petir dan sejenisnya, al-Qur’an hanya mengajarkan kata-kata demikian :

“Marilah kita ajak anak-anak kami dan anak-anak kamu dan perempuan-perempuan kami dan perempuan-perempuan kamu dan kaum kami dan kaum kamu, kemudian kita berdoa dan kita jadikan laknat Allah atas orang-orang yang dusta ! “ (Qs. Ali Imron (3): 61)

Masalah peserta, siapa yang boleh hadir, secara umum kiranya jelas.

“Demikianlah Kami jadikan kamu (ummat Islam), suatu ummat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas manusia.” (Qs. Al-Baqarah (2): 143)

Semua umat Islam pantas dan layak untuk menjadi saksi

“Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku untuk (menegakkan ajaran) Allah? Parahawariyyin (sahabat-sahabat setia) menjawab:”Kamilah penolong-penolong Allah. Kami beriman kepada Allah; dan saksikanlah bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berserah diri.”(Qs. Ali Imran (3): 52)

Akan lebih utama jika yang menjadi saksi atau penolong adalah sahabat yang setia yang selalu siap mendampingi dan membantu perjuangan.

Jumlah minimal saksi :

“Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orang-orang lelaki (di antaramu). Jika tak ada dua orang lelaki, maka (boleh seorang lelaki dan dua orang perempuan dari saksi-saksi yang kamu ridhai, supaya jika seorang lupa maka seorang lagi mengingatkannya.” (Qs. Al-Baqarah (2): 282)

Islam tidak pernah memaksa siapapun untuk mengakui kebenaran risalah-Nya, tugas di dalam Islam hanyalah menyampaikan :

“Apakah kamu mau masuk Islam? Jika mereka masuk Islam, sesungguhnya mereka telah mendapat petunjuk, dan jika mereka berpaling, maka kewajiban kamu hanyalah menyampaikan!” (Qs. Ali Imran (3): 20)

dikutip dari swaramuslim

DISINI TUJUAN KAMI INGIN MELURUSKAN TENTANG SUMPAH YANG PERNAH UCAPKAN OLEH KETUA LDII BAHWA MEREKA BUKANLAH GENERAS ISLAM JAMAAH

maka dari itu,apabila MUI akan menerima tamu dari pihak LDII dalam rangka LDII akan mengklarifikasi bahwa mereka bukanlah Islam Jamaah (islam takfiry,menghalalkan darah dan harta kaum muslimin di luar kelompoknya),kami juga meminta diundang dalam maslahat tersebut agar kami mengajak kepada LDII untuk bermubahalah.

tidak ada sumpah2an karna sumpah-sumpahan di mata LDII hanyalah permainan saja,dan kaum muslimin diluar kelompoknya masih tetap dianggap kafir dan beranggapan tidak masalah bersumpah palsu di hadapan mereka.

konsep mubahalah yang ingin kami layangkan seperti di atas,dengan mendatangkan delegasi masing-masing.

dan kami membuat pernyataan bahwa kami siap MUBAHALAH

Dicantumkan oleh airmatakumengalir di 00:19

Sumber: http://airmatakumengalir.blogspot.com/2010/07/kami-siap-mubahalah.html

Demikianlah isi pernyataan di blog airmatakumengalir.blogspot.com.

***

Berikut ini fatwa tentang mubahalah:

Mubahalah Tidak Khusus pada Rasulullah saw

Soal:

Apakah mubahalah itu khusus pada Rasulullah saw atau dapat menjadi umum bagi Muslimin? Dan apakah seandainya mubahalah itu umum bagi Muslimin bolehkah untuk dihadapkan dari arah ahlis sunnah waljama’ah kepada firqoh-firqoh sesat? Dan apakah mesti terjadi tanda yang menampakkan kebenaran seandainya dilangsungkan mubahalah?

Fatwa:

Alhamdulillah wassholatu wassalmu ‘ala rasulillah wa ‘ala alihi washohbihi, amma ba’du.

Mubahalah adalah do’a dengan laknat atas yang berdusta di antara dua pihak yang bermubahalah. Mubahalah itu tidak khusus hanya untuk Nabi saw. Dalilnya, bahwa banyak dari sahabat Nabi saw dulu mengajak orang lain untuk mubahalah. Di antaranya Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu mengajak untuk mubahalah dalam masalah ‘iddah (masa tunggu) wanita hamil. Dan sesungguhnya iddah itu selesai dengan lahirnya kehamilan, bukan dengan yang terpanjang dari dua masa (sampai melahirkan, dan sampai 4 bulan 10 hari, pen).

Dan juga Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu mengajak untuk mubahalah dalam masalah ‘aul dalam faroidh (pembagian waris); dan tidak mengapa dalam hal mubahalah Ahlis Sunnah waljama’ah terhadap ahli syirik, bid’ah dan semacamnya tetapi sesudah ditegakkan hujjah (argumentasi) dan upaya menghilangi syubhat (kesamaran), dan memberikan nasihat dan peringatan, sedang itu semua tak guna. Bukan termasuk kepastian (setelah mubahalah itu) munculnya tanda/ bukti atas dustanya orang yang batil dan dhalimnya orang yang dhalim, karena Allah Ta’ala menunda dan mengakhirkan, sebagai cobaan dan istidroj/ uluran.

Wallohu a’lam.

Mufti; Markas Fatwa dengan bimbingan Dr. Abdullah Al-Faqih (Asy-Syabakah Al-Islamiyah juz 8 halaman 85).

(nahimunkar.com)