Minuman Non-alkohol Belum Tentu Halal

Direktur Eksekutif LPPOM MUI Lukman Hakim mengatakan: “Label non-alkohol pada produk minuman tidak menjamin kalau produk itu halal karena ternyata berdasarkan penelitian LPPOM MUI, dalam proses produksi sejumlah minuman non-alkohol tertentu masih terdapat sejumlah kandungan atau ingredients yang tidak halal.”

“Karena masyarakat banyak yang memaknai minuman non alkohol sebagai hal yang halal, akhirnya sejumlah perusahaan berlomba-lomba membuat merk non alkohol. Walaupun setelah diselidiki ternyata minuman berlabel non alkohol itu masih mengandung alkohol,” kata Lukmanul saat menjadi pembicara dalam media workshop “Sertifikasi Halal Minuman Non Alkohol” di Kantor MUI, Jalan Proklamasi, Jakarta Pusat, Selasa 9 Maret 2010.

Inilah beritanya:

RABU, 10 MARET 2010 | 14:14 WITA

Non Alkohol Belum Tentu Halal

MUI: Minuman Non Alkohol Perlu Sertifikasi Halal

JAKARTA — Masyarakat harus mencermati maraknya peredaran minuman non alkohol. Ternyata, adanya kerentanan bahwa minuman non alkohol adalah produk yang haram untuk dikonsumsi.

Direktur Eksekutif Lembaga Pengkajian Pangan Obat-obatan, dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia (LPPOM-MUI) Lukmanul Hakim menyebutkan, masyarakat saat ini seolah-olah mengkategorikan bahwa hanyalah minuman beralkohol yang haram. Padahal, yang diharamkan dalam Al Quran tidak hanya khamar (beralkohol), tapi ada 4 unsur lain yang termasuk haram.

Keempat unsur itu adalah daging babi, hewan yang disembelih dengan tanpa menyebut nama Allah, bangkai, dan darah (Al Baqarah: 168, 172-173; Al An’am: 145; Al Maidah: 3, 90-91)

“Karena masyarakat banyak yang memaknai minuman non alkohol sebagai hal yang halal, akhirnya sejumlah perusahaan berlomba-lomba membuat merk non alkohol. Walaupun setelah diselidiki ternyata minuman berlabel non alkohol itu masih mengandung alkohol,” kata Lukmanul saat menjadi pembicara dalam media workshop “Sertifikasi Halal Minuman Non Alkohol” di Kantor MUI, Jalan Proklamasi, Jakarta Pusat, Selasa 9 Maret.

Dijelaskan, babi yang diharamkan dalam Al Quran ternyata menghasilkan sejumlah kandungan yang digunakan sebagai campuran bahan makanan dan minuman. Di antaranya enzim, empedu, pankreas, intestim, taurin, karbon aktif, gelatin, dan stabilizer.

Penggunaan bahan makanan dan minuman dari babi ini sangat mungkin terjadi. Enzim misalnya, meskipun juga bisa diperoleh dari sapi, kelinci, dan hewani lainnya, namun enzim babi merupakan yang termurah. “Jadi sangat mungkin dipakai oleh produsen ke dalam minumannya,” kata Lukmanul.

Ia juga menyebutkan, susunan genetika babi dengan manusia hanya berbeda satu strip. “Gen babi paling dekat dengan manusia. Makanya produk kosmetik dari babi sangat cocok dengan manusia,” jelasnya.

Lebih lanjut dijelaskan, taurin sebagai salah satu kandungan yang secara umum digunakan pada industri minuman energi, salah satunya diperoleh dari sumber empedu hewan, seperti babi, kambing, dan sapi.

“Karena itu masyarakat muslim sebaiknya mengkonsumsi minuman energi yang telah disertifikasi halal oleh LPPOM MUI. Mengingat kandungan taurin ada yang diperoleh dari sumber yang diharamkan (babi),” kata Lukman.

Ketua MUI Ma’ruf Amin dalam sambutannya menyebutkan, untuk mengantisipasi adanya produk non alkohol yang mengandung unsur keharaman, maka pihaknya memandang perlu untuk melakukan sertifikasi. MUI menilai ada 6 jenis minuman alkohol yang perlu disertifikasi.

Adapun keenam jenis itu adalah Air Minum Dalam Kemasan (AMDK), jus buah dan sayur dalam kemasan, minuman ringan atau soft drink, the dan kopi dalam kemasan cair atau bubuk, minuman energi, serta minuman isotonik.

“Makanan halal dalam beragama adalah suatu keharusan. Tapi makanan atau minuman bisa menjadi tidak halal bila dia bercampur dengan sesuatu yang haram,” jelas Ma’ruf.

Ia juga menambahkan, standar sertfikasi MUI sudah dalam proses untuk menjadi standar ASEAN, dan mulai mengarah pada standar global. Beberapa produk makanan dan minuman luar negeri juga sudah meminta sertifikasi ke MUI. “Prinsip yang kita bangun di Indonsia adalah konsep paling moderat, aman, dan paling bisa diterima,” jelas Ma’ruf. (mba/fmc)

http://metronews.fajar.co.id/read/85085/10/non-alkohol-belum-tentu-halal