Moqsith Pembela Nabi Palsu Meraih Doktor

 

Menuduh Al-Qur’an Ada Kontradiksi

 

Oleh Hartono Ahmad Jaiz

Abd. Moqsith Ghazali (pendukung Nabi palsu Ahmad Moshaddeq) dari kalangan JIL (Jaringan Islam Liberal) dan juga dari UIN (Universitas Islam Negeri, dahulu IAIN) Jakarta berhasil meraih gelar Doktor Bidang Tafsir dari Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Kamis (13/12/2007) malam, dengan predikat memuaskan (cumlaude). Disertasi Moqsith itu berjudul Pluralitas Umat Beragama dalam al-Qur’an: Kajian terhadap Ayat Pluralis dan Tidak Pluralis.

Para penguji terdiri dari Prof. Dr. Azyumardi Azra (Penguji dan Ketua Sidang), Prof. Dr. Salman Harun, Prof. Dr. Komaruddin Hidayat, Prof. Dr. Nasaruddin Umar, Prof. Dr. Kautsar Azhari Noer, Prof. Dr. Suwito, Prof. Dr. Mulyadhi Kartanegara dan DR. Zainun Kamal.

Di antara para pengujinya ada seorang penguji, Dr Salman Harun yang termasuk Tim Penafsir Al-Qur’an, menanggapi keras disertasi Moqsith secara tertulis, dan menilai Moqsith sebagai salah faham dan tidak utuh dalam mengutip Tafsir Ibnu Katsir dan Tafsir Al-Munir karya Syekh Nawawi Al-Bantani. Sehingga disertasi Moqsith bertentangan dengan tafsir-tafsir yang dikutipnya itu. Menurut Salman, dua ulama itu (Imam Ibnu Katsir dan Imam Nawawi Al-Bantani) berkesimpulan hanya Muslim yang masuk surga. Tapi Moqsith menyimpulkan, non muslim juga bisa. Makanya Dr Salman Harun berkomentar: “Disertasi Begini kok Lulus”.

Di samping itu Moqsith menganggap, bahwa di dalam al-Qur’an ada kontradiksi (ta’arudl) antara ayat yang mendukung pluralisme dan yang menolaknya. Dia kemukakan contoh sekenanya bahwa ada ayat berbunyi la ikraha fi al-din (tidak ada paksaan dalam beragama), di samping ada juga ayat faqtulu al-musyrikin (bunuhlah orang-orang musyrik).

Tuduhan itu terlalu berani.

Seandainya Moqsith mau menyimak dua ayat berikut ini saja, kalau dia konsekuen, maka mungkin dia tidak akan menyatakan bahwa di dalam al-Qur’an ada kontradiksi (ta’arudl).

لَتَجِدَنَّ أَشَدَّ االنَّاسِ عَدَاوَةً لِلَّذِيْنَ آمَنُوْا اْليَهُوْدَ وَالَّذِيْنَ أَشْرَكُوْا وَلَتَجِدَنَّ أَقْرَبَهُمْ مَوَدَّةً لِلَّذِيْنَ آمَنُوْا الَّذِيْنَ قاَلُوْا إِنَّا نَصَارَى ذلِكَ بِأَنَّ مِنْهُمْ قِسِّيْسِيْنَ وَرُهْبَانًا وَأَنَّهُمْ لاَ يَسْتَكْبِرُوْنَ (المائدة: 82)

“Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. dan Sesungguhnya kamu dapati yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya kami Ini orang Nasrani”. yang demikian itu disebabkan Karena di antara mereka itu (orang-orang Nasrani) terdapat pendeta-pendeta dan rahib-rahib, (juga) Karena Sesungguhnya mereka tidak menymbongkan diri.” (QS Al-Maaidah: 82).

قَاتِلُوْا الَّذِيْنَ لاَ يُؤْمِنُوْنَ بِاللهِ وَلاَ بِالْيَوْمِ الآخِرِ وَلاَ يُحَرِّمُوْنَ مَا حَرَّمَ اللهُ وَرَسُوْلُهُ وَلاَ يَدِيْنُوْهُ دِيْنَ اْلحَقِّ مِنَ الَّذِيْنَ أُوْتُوْا اْلكِتَابَ حَتىَّ يُعْطُوْا اْلِجْزيَةَ عَنْ يَدٍ وَهُمْ صَاغِرُوْنَ (التوبة: 29)

Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari Kemudian, dan mereka tidak mengharamkan apa yang diharamkan oleh Allah dan RasulNya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al-Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah[638] dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk.” (QS At-Taubah: 29).

[638] Jizyah ialah pajak per kepala yang dipungut oleh pemerintah Islam dari orang-orang yang bukan Islam, sebagai imbangan bagi keamanan diri mereka.

Di ayat itu tidak ada pemaksaan pula untuk masuk agama Islam. Mereka bisa memilih, membayar jizyah sebagai imbangan keamanan diri mereka atau mau masuk Islam, terserah saja.

Terserah Moqsith mau percaya atau tidak, tetapi yang jelas, ungkapan Moqsith itu sudah menentang terang-terangan terhadap ayat dan hadits berikut ini:

أَفَلا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلافاً كَثِيراً [النساء:82].

Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran? kalau kiranya Al Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.” (An-Nisaa’: 82).

Imam Ahmad meriwayatkan dari ‘Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakek-nya, ia berkata: “Aku pernah duduk bersama saudaraku dalam sebuah majelis yang lebih aku sukai daripada memiliki unta-unta yang merah. Ketika aku dan saudaraku berjalan, tiba-tiba kami temukan orang-orang yang sudah tua dari kalangan sahabat Nabi berada di depan salah satu pintu dari pintu-pintu (rumah) Nabi. Kami tidak ingin merusak majelis mereka. Maka kami pun duduk di bagian belakang. Ternyata mereka sedang membicarakan sebuah ayat dalam Al-Qur’an. Mereka berselisih pendapat tentangnya, sehingga mengeraslah suara-suara mereka. Kemudian Rasulullah saw pun keluar dalam keadaan marah, hingga wajahnya memerah. Beliau melempar mereka dengan tanah, lalu berkata:

« مَهْلاً يَا قَوْمُ بِهَذَا أُهْلِكَتِ الأُمَمُ مِنْ قَبْلِكُمْ بِاخْتِلاَفِهِمْ عَلَى أَنْبِيَائِهِمْ وَضَرْبِهِمُ الْكُتُبَ بَعْضَهَا بِبَعْضٍ إِنَّ الْقُرْآنَ لَمْ يَنْزِلْ يُكَذِّبُ بَعْضُهُ بَعْضاً بَلْ يُصَدِّقُ بَعْضُهُ بَعْضاً فَمَا عَرَفْتُمْ مِنْهُ فَاعْمَلُوا بِهِ وَمَا جَهِلْتُمْ مِنْهُ فَرُدُّوهُ إِلَى عَالِمِهِ ». (أخرجه أحمد (2/181 ، رقم 6702) .

Tahanlah wahai kaumku! Sesungguhnya karena hal yang seperti inilah umat-umat sebelum kalian binasa. Mereka menyelisihi nabi-nabi mereka dan memperten-tangkan sebagian (isi) kitab dengan sebagian yang lainnya. Sesungguhnya Al-Qur-’an diturunkan tidak saling mendustakan sebagian dengan sebagian yang lainnya. Namun justru saling membenarkan antara sebagiannya dengan sebagian yang lainnya. Apa yang kalian ketahui darinya, maka amalkanlah. Dan apa yang tidak kalian ketahui, maka kembalikanlah kepada orang yang mengetahuinya. (HR Ahmad II/181, shahih: dishahihkan oleh Syaikh Syu’aib Al-Arnauth no. 6702).

Jelaslah. Nabi Muhammad saw bersabda: Sesungguhnya Al-Qur’an diturun-kan tidak saling mendustakan sebagian dengan sebagian yang lainnya. Namun justru saling membenarkan antara sebagiannya dengan sebagian yang lainnya.

Dalam disertasi Moqsith, menunjukkan, bahwa di dalam al-Qur’an ada kontra-diksi (ta’arudl) antara ayat yang mendukung pluralisme dan yang menolaknya.

Kalau para penguji (selain satu orang yang mengkritik Moqsith tentu saja) masih percaya kepada Nabi Muhammad saw, mestinya menolak disertasi Moqsith itu. Namun anehnya, Azyumardi Azra (penguji, yang dalam kasus nabi palsu, dia dikenal sebagai salah satu penanda tangan penjelasan pengikut nabi palsu Mirza Ghulam Ahmad yaitu JAI –Jemaat Ahmadiyah Indonesia) dan juga Nasaruddin Umar selaku pembimbing (yang juga penandatangan penjelasan pengikut nabi palsu, JAI), memuji-muji disertasi tokoh liberal yang jelas-jelas menentang ayat Allah dan hadits Nabi saw ini.

Perlu diketahui, menurut situs wahidinstitut, Moqsith ini disebut pemikir muda Nahdhatul Ulama dan peneliti the WAHID Institute yang didirikan oleh Gus Dur (Abdurrahman Wahid) yang dikenal sering melontarkan pemikiran nyeleneh/ aneh.

Kaitan dengan nabi palsu

Dalam kasus munculnya nabi palsu Ahmad Moshaddeq di Jakarta 2007, Moqsith adalah tokoh pembelanya, bersama orang liberal lainnya. Nabi palsu itu sen-diri difatwakan oleh Majelis Ulama Indonesia, Ramadhan 1428H/ Oktober 2007M, sebagai kafir, dan agar ditindak oleh pemerintah dengan sesuai aturan yang ada.

Kenapa ada orang yang berani terang-terangan mengaku sebagai nabi? Secara kenyataan, bisa disimak bahwa sebenarnya ada faktor penunjang, yaitu maraknya orang liberal warisan Nurcholish Madjid, Harun Nasution, dan dukungan Abdurrah-man Wahid, Ahmad Syafii Maarif serta Dawam Rahardjo yang diawaki Ulil Abshar Abdalla, Abd Moqsith Ghazali dan lainnya yang berfaham semua agama sama (plu-ralisme agama) di mana-mana, bahkan didukung terang-terangan lewat media massa.

Meskipun demikian, ada juga factor penghalangnya, yaitu masih banyaknya ulama, tokoh Islam dan umat Islam yang peduli pada agamanya. Maka akibatnya, nabi palsu ini ajarannya dilarang beredar oleh kejaksanaan Negeri Jakarta untuk wilayah Jakarta, sejak 29 Oktober 2007M. Para pentolannya ditangkap polisi untuk diproses. Kemudian dilarang secara Nasional di seluruh wilayah Indonesia oleh Pakem (Pengawas Aliran Kepercayaan Masyarakat) Kejaksaan Agung, November 2007. Ahmad Moshaddeq sang nabi palsu pun mendekam dalam tahanan untuk diproses ke pengadilan.

Lantaran dilarang itu maka ada pihak-pihak yang tidak rela dengan larangan itu, di antaranya Abd Moqsith Ghazali orang UIN (Universitas Islam Negeri) Jakarta, pentolan JIL (Jaringan Islam Liberal) lewat Metro TV 29 Oktober 2007 dan teman-temannya dari kelompok liberal lewat aneka sarana. Kelompok sesat dan membela kesesatan ini dijuluki dengan sarkasme, sepilis (sekulerisme, pluralisme agama –menyamakan semua agama— dan liberalisme).

Pelajaran dari kasus ini

1. MUI kecolongan karena melaksanakan dialog dengan JIL (Jaringan Islam Liberal, yang diawaki Moqsith Ghazali) dan pentolan Al-Qiyadah (tidak hadir) di Metro Tivi Senin malam 29 Oktober 2007M. Kehadiran MUI itu sama dengan mendudukkan JIL yang sudah difatwakan MUI 2005 bahwa faham liberalisme, pluralisme agama dan sekulerisme itu bertentangan dengan Islam, dan umat Islam haram mengikutinya; namun justru MUI mau duduk sejajar dengan JIL. Berarti JIL sejajar dengan MUI. Dan kalau pentolan nabi palsu hadir dalam dialog di televisi itu justru posisi MUI jadi minoritas, yaitu satu pihak dilawan oleh 2 pihak yang sesat. Kenyataannya Al-Qur’an pun ditolak hukumnya secara terang-te-rangan oleh Moqsith dalam dialog itu. Jadi MUI atau siapapun yang muslim sebenarnya haram hukumnya duduk bicara dengan orang model Moqsith dari JIL yang bicara menolak hukum Al-Qur’an terang-terangan itu.

وَقَدْ نَزَّلَ عَلَيْكُمْ فِي الْكِتَابِ أَنْ إِذَا سَمِعْتُمْ ءَايَاتِ اللَّهِ يُكْفَرُ بِهَا وَيُسْتَهْزَأُ بِهَا فَلَا تَقْعُدُوا مَعَهُمْ حَتَّى يَخُوضُوا فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِ إِنَّكُمْ إِذًا مِثْلُهُمْ إِنَّ اللَّهَ جَامِعُ الْمُنَافِقِينَ وَالْكَافِرِينَ فِي جَهَنَّمَ جَمِيعًا(140)

Dan sungguh Allah telah menurunkan kepada kamu di dalam Al Qur’an bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan (oleh orang-orang kafir), maka janganlah kamu duduk beserta mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena sesungguhnya (kalau kamu berbuat demi-kian), tentulah kamu serupa dengan mereka. Sesungguhnya Allah akan mengumpul-kan semua orang-orang munafik dan orang-orang kafir di dalam Jahannam.” (QS An-Nisaa’: 140).

2. Satu sisi JIL sementara menang, bisa seakan sejajar dengan MUI, padahal JIL jelas telah difatwakan oleh Munas MUI ketujuh, tahun 2005, bahwa fahamnya bertentangan dengan Islam. Namun ketika JIL jelas-jelas membela nabi palsu, sedangkan dia sendiri (Moqsith dari JIL) mengaku bahwa Nabi Muhammad saw itu nabi terakhir, maka masyarakat mendapatkan minimal tiga pelajaran:

a. Moqsith pentolan JIL itu cara berfikirnya kurang waras, karena dia sendiri mengaku bahwa Nabi Muhammad saw nabi terakhir tetapi dia tetap membela nabi palsu.

b. Makin jelas bahwa Moqsith bersama JIL dan sepadannya yang berfaham sepilis (sekulerisme, pluralisme agama, dan liberalisme) itu adalah penentang-penentang Islam yang terang-terangan, sampai yang sudah jelas musuh Islam berupa nabi palsu yang hukumannya hukum bunuh saja masih dibela. Berarti JIL mendudukkan diri sebagai musuh Islam secara nyata dan dipertontonkan kepada umat Islam secara terbuka.

c. Nabi palsunya sendiri, Ahmad Moshaddeq mengaku sudah bertaubat, 9 November 2007M. Tetapi para pendukungnya dari JIL dan liberal-liberal lainnya tetap “berjuang” mendukung kepalsuannya. Sehingga dalam kasus Ahmadiyah alias pengikut nabi palsu Mirza Ghulam Ahmad, ternyata muncul tokoh-tokoh yang “melegalkan” Ahmadiyah bahkan menandatangani penje-lasan JAI (Jemaat Ahmadiyah Indonesia) yang dikenal dengan 12 butir penje-lasan JAI, yang menurut MUI tetaplah Ahmadiyah itu sesat karena penje-lasannya itu tak menafikan Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi. Tokoh-tokoh liberal pendukung Ahmadiyah itu di antaranya Atho Muzhar (Kepala Badan Litbang Departemen Agama), Nasaruddin Umar Dirjen Bimas Islam Depag, Azyumardi Azra bekas rector IAIN Jakarta dan lainnya. Dengan kasus ini maka lebih jelas lagi bagi umat bahwa kelompok liberal (baik yang jualan di luaran atau kaki lima seperti Ulil Abshar Abdalla, Moqsith Ghazali dkk maupun yang di dalam lembaga structural – seperti Depag, IAIN-IAIN dan lain-lain) di samping mereka itu sesat memang selaku pembela kesesatan nomor wahid. Allah swt telah menampakkan cela mereka (mengaku Muslim namun terang-terangan membela nabi palsu dan pengikut nabi palsu) walau mereka dalam keadaan mendekam di dalam sarang mereka. Sebagaimana dalam Al-Qur’an ada pula orang yang sangat memusuhi Islam, Al-Walid bin Al-Mughirah, yang kemudian terbunuh di Perang Badr dengan hidung terpotong. Sebelumnya, dia telah ditampakkan celanya oleh Allah swt:

سَنَسِمُهُ عَلَى اْلخُرْطُوْمِ

Kelak akan kami beri tanda dia di belalai(nya) ” (QS Al-Qalam: 16).

[1491] yang dimaksud dengan belalai di sini ialah hidung. dipakai kata belalai di sini sebagai penghinaan.

UIN Jakarta memproduk nabi palsu dan pembelanya

Dari kenyataan ini, sudah jelas kerusakannya. Bahkan kalau ditengok lebih jauh ternyata lembaga yang dibincang ini telah memproduk nabi palsu pula, bahkan mengaku sebagai reinkarnasi Nabi Muhammad saw, yaitu Abdurrahman, alumni Ushuluddin IAIN Jakarta 1997 yang mengabdi kepada Lia Aminuddin (belakangan sebutannya Lia Eden) sejak 1996. Kini nabi palsu itu masuk penjara atas vonis Mahkamah Agung 3 tahun penjara. Sebaliknya pembela nabi palsu justru meraih gelar doctor, walau disertasinya menuduh-nuduh Al-Qur’an sebagai ada kontradiksi, ditambah dengan menggelapkan atau bahasa kasarnya memutar balikkan ulama tafsir sekaliber Imam Ibnu Katsir.

Dalam buku Bunga Rampai Penyimpangan Agama di Indonesia, Pustaka Al-Kautsar, Jakarta, 2007, telah saya kemukakan 4 tafsir (Imam Ibnu Katsir, Imam Ibnu Taimiyyah, penafsiran Imam As-Syathibi, dan Imam As-Sa’di) dalam menafsirkan ayat 62 Surat Al-Baqarah dan ayat 69 Surat Al-Maidah yang sering diplintir pengertiannya oleh kaum liberal. Ayat itu sama sekali tidak menegaskan masuk sorga bagi orang-orang Yahudi dan Nasrani yang masih dalam agama mereka ketika sudah mendengar seruan Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw. Adapun mereka yang mengikuti nabi mereka masing-masing di saat agama nabi itu belum diubah dan belum diganti oleh nabi berikutnya, maka mereka itulah yang dimaksud ayat yang terjemahnya mereka mendapat pahala dari Tuhannya, tidak ada rasa takut pada mereka, dan mereka tidak bersedih hati (QS Al-Baqarah: 62). Itulah di antara penafsiran dari empat ulama tersebut.

Seandainya para penguji disertasi Moqsith (selain Dr Salman Harun) masih mau menghargai para ulama tafsir, maka kemungkinan akan sama pendapatnya dengan Pak Salman Harun. Namun, boro-boro mau menghargai ulama, kalau sebaliknya, yaitu nabi palsu ya mau lah mereka untuk menghargainya. Bahkan maqomnya tidak usah sampai sederajat nabi palsu, cukup pengikut nabi palsu saja sudah menarik hati mereka, sehingga mereka mau menandatangani bersama pernyataan pengikut nabi palsu Mirza Ghulam Ahmad, yaitu Jemaat Ahmadiyah Indonesia.

Itulah keblingernya. Ulama ditlikung, sedang nabi palsu dijunjung. Maka yang dijunjung sekarang pun adalah pembela nabi palsu, yaitu Abd Moqsith Ghazali. Diluluskan sebagai doctor, masih pula disanjung. Lembaga ini telah memproduk nabi palsu, dan menamatkan dengan terhormat pembela nabi palsu, yang langsung mengkader para mahasiswanya di sini pula. Karena dia memang berkiprah di sini. Selangkah lagi kalau dia masuk dalam tim penafsir Al-Qur’an di Departemen Agama atau tingkat nasional, karena dia doctor di bidang tafsir Al-Qur’an, maka apa yang akan terjadi? Wallahu a’lam. Na’udzubillahi min dzalik.

Untuk lebih jelasnya, bisa dibaca di buku Nabi-nabi Palsu dan Para Penyesat Umat, yang telah dibedah di Islamic Book Fair, Istora Senayan Jakarta, 7 Maret 2008, jam 16.00 WIB oleh penulis Hartono Ahmad Jaiz, Ketua MUI (Majelis Ulama Indonesia) KH Ahmad Kholil Ridwan, dan Ketua LPPI (Lembaga Penelitian dan Pengkajian Islam) M Amin Djamaluddin.