HM Aru Syeiff Assadullah
Pemred Tabloid Suara Islam

Kebangkrutan Moral Anggota DPR/ kaskus.us

Sungguh sangat mengkhawatirkan perjalanan  negara dan bangsa Indonesia hari ini. Sejumlah tokoh dan golongan yang berdiri di luar pemerintahan  terus menerus mengkritisi rejim SBY, bahwa seluruh lini kehidupan di negeri ini mengalami kemunduran dan kemerosotan yang amat drastis. Kini puncaknya diingatkan bahwa negeri ini mengalami  kebangkrutan negara dan kehancuran moral bangsa yang amat mengerikan.

Mula-mula orang tidak peduli terhadap serangkaian kejadian bahkan fenomena kehancuran seluruh lini kehidupan bangsa Indonesia disebabkan pemaksaan sistem yang telah mentah-mentah menelan model demokrasi kapitalistik dan liberalistis itu. Kegundahan hanya terjadi di kalangan segelintir elite saja. Rakyat cenderung cuek-bebek saja, tidak peduli bahkan apatis. Sederetan  kejadian yang amat dramatis sebenarnya sudah terus-menerus terjadi. Kejadian paling dahsyat niscaya peringatan Allah Swt yang terus menurunkan bencana sepanjang lima tahun pemerintahan SBY jilid I. Jika peringatan seperti itu dianggap tidak rasional, silakan dironce berbagai fakta kehancuran negeri ini disebabkan membebek kepada sistem asing yang Neo-Liberal, kapitalistik-liberalistis itu. Fakta lapangan pemerintahan SBY selama pemerintahannya jilid I tak mengubah bangsa Indonesia, bahkan sebaliknya mengalami kemunduran di semua lini kehidupan. Ekonomi merosot khususnya kalangan menengah ke bawah. Angka kemiskinan bertambah meningkat. Perilaku masyarakat luas yang makin pragmatis dan makin korup. Dengan kata lain prestasi pemerintahan SBY-JK 2004-2009 nicaya nol, kosong melompong prestasi. Tapi dengan prestasi yang amat buruk itu, rakyat malah kembali memilih SBY pada Pemilu 2009.

Orang-orang yang terlanjur memilih SBY-Boediono sungguh terperangah dengan berbagai kejadian sepanjang hampir dua tahun terakhir ini yang tanpa jeda dengan berbagai peristiwa serba destruktif. Baru satu dua bulan pemerintahan SBY jilid II berjalan sudah meledak Mega-Skandal Century yang sangat dramatis dan mengarah secara gamblang tuduhan dan pelaku tak lain sosok Boediono, Sri Mulyani, wabil khusus rejim partai Demokrat pimpinan SBY. Kasus Century ini dipaksakan pengusutannya dihentikan. Tapi muncul lagi kasus pembunuhan Nasruddin Zulkaranaen yang kini ditengarai merekayasa Ketua KPK menjadi pelaku pembunuhan itu. Padahal Antasari saat itu dikabarkan sedang getol hendak membongkar manipulasi hasil Pemilu 2009 di KPU. Yang lebih menggegerkan tentu kasus Gayus HP Tambunan yang mengisyaratkan betapa bobroknya moral, aparat pajak, penegak hukum : polisi, jaksa, hakim, dan pengacara. Ternyata kebobrokan moral ini belakangan berlaku sangat merata dengan munculnya berbagai kasus korupsi yang melanda Kemenpora dan melibatkan Bendahara Umum Partai Demokrat  Mohammad Nazaruddin yang kini kabur ke luar negeri. Ditengarai deretan tokoh dan petinggi Demokrat ternyata sami mawon, bahkan lebih korup dari yang lain. Lingkungan MK, KPU bahkan KPK juga tak luput dari borok-borok korupsi, apalagi para hakim  dengan ditangkapnya Hakim Syarifuddin.

Bertubi-tubi serangkaian raport merah mewarnai pemerintahan SBY jilid II ini. Ketika para tokoh dan agamawan mengkritik pedas SBY sebagai pembohong, sesudah itu tak henti-henti tuduhan pedas ditujukan kepada SBY dan seluruh jajaran aparat negara tanpa kecuali. Data kegagalan demi kegagalan terus menerus diekspose media massa, misalnya gagalnya pemberantasan korupsi yang justru menjadi program utama SBY yang berjanji akan menjadi pelopor dan berdiri di barisan terdepan. Kasus-kasus korupsi terbongkar di jantung kekuasaan DPR, birokrat. Yang membuat miris adalah merosotnya daya beli rakyat berbanding terbalik dengan harga-harga kebutuhan pokok yang terus melejit naik. Yang terakhir harga beras naik sangat tinggi. Kenaikan harga dan makin tak terjangkaunya harga-harga itu oleh rakyat diiringi oleh fenomena kejahatan yang sangat mengerikan. Di sekitar ibukota : Bekasi, Tangerang, Depok, Bogor terus terjadi kejahatan disertai pembunuhan dengan  korban, tercatat satu hari satu korban tewas dalam kejahatan itu. Rasa aman publik benar-benar tergerus, wibawa Polri makin merosot di titik nadir. Dengan berbagai kejadian yang telah kelewat ekstrem itu toh justru menyebabkan kenekadan tindak pidana korupsi, dan berbagai jenis kejahatan justru makin menjadi-jadi. Data yang selalu kita kemukakan dalam rubrik ini, betapa mengerikan lebih separoh dari gubernur sekitar 19 gubernur dari 33 gubernur di Indonesia kini terbelit masalah hukum. Sebagian  sudah divonis pengadilan dan masuk penjara sebagian masih dalam proses. Walikota dan bupati pun berjumlah ratusan yang kini terlibat kasus hukum, dan hari-hari ini tiap kali kita mendengar seorang bupati ditangkap dan dipenjara.

Gunung Es Contek Massal

Masyarakat tiba-tiba dibuat terhenyak tatkala terbongkar kasus contek massal yang justru dipelopori para guru dan pendidik dalam UN (Ujian Nasional) tingkat SD di Jawa Timur Juni lalu. Betapa ironis dan tragis para pendidik justru mengajari ketidakjujuran. Laporan orang tua yang tidak rela anaknya disuruh mencontek, justru dikecam masyarakat luas bahkan mengusir keluarga Alif dari sebuah kampung di Gresik Jawa Timur. Masyarakat luas sejatinya sudah sama-sama tahu side-effeck UN telah sedemikian rupa menyeret orang tua murid, murid sendiri, dan para guru serta manajemen sekolah dibuat stress tak terhingga. Ketakutan massal diidap pihak-pihak terkait ini jika gagal dalam UN. Masa depan anak seolah-olah runtuh begitu juga nama baik sekolah hancur. Jadi, jalan pintas—nyontek massal– pun disepakati bersama tanpa perjanjian tertulis. Menyontek bersama yang penting lulus 100%. Dan kejadian seperti ini berlaku rata di seluruh Indonesia juga di tingkat SLTP dan SLTA. Program yang diterapkan secara ngotot oleh penggagasnya Jusuf Kalla di masa pemerintahan SBY jilid I, terbukti hanya berdampak amat negatif. Ketika geger contek massal ini mencuat, tidak terdengar lagi celoteh JK yang biasanya tetap meyakini konsep UN ini.

Kehebohan contek massal ini berbuah kecaman terhadap semua program yang digagas pemerintah. Kendati pemerintah SBY melalui Gubernur BI, Darmin Nasution mengumumkan cadangan devisa negara saat ini melejit sampai 115,8 Milyar dollar AS, tetap saja, tak ada dampak positifnya bagi rakyat kecil sehingga hal ini malah memunculkan kritik pedas, kini negara telah mengarah ke posisi Kebangkrutan Nasional. Indikasi  telah terjadi kebangkrutan negara, adalah :  Kesejahteaan sosial rakyat, dan jaminan keamanan, telah musnah, dan merebaknya korupsi secara gila-gilaan. Sementara keteladanan kepemimpinan  tidak lagi memiliki visi dan karakter yang kuat. Bahkan muncul lagi tuduhan negara ini hakikatnya mengidap sebagai Negara Kleptokrasi alias negara yang para pemimpinnya terdiri para maling dan pencuri, terbukti asset negara lebih 50% bahkan 70% telah dijual kepada asing dengan harga yang sangat murah, ekonomi Indonesia didominasi asing, dan ketahanan pangan sangat rawan dan tergantung pada asing.

Alhasil negara ini diambang bahaya besar. Kebangkrutan negara secara fisik sebenarnya masih belum apa-apa dibandingkan dengan kebangkrutan moral rakyat Indonesia yang kini menggejala rata di semua lini kehidupan. Kebangkrutan moral yang membawa kehancuran total rakyat Indonesia saat ini benar-benar telah hadir di depan mata. Anggota DPR yang duduk di  Badan Anggaran sekarang disorot mengkorupsi anggaran yang seharusnya menjadi jatah rakyat Indonesia di daerah-daerah. Kabarnya pelaku inti mengantongi trilyunan rupiah dari sogok bupati-bupati dan gubernur. Kehancuran moral ini juga berlaku di tengah masyarakat yang semua justru diajari oleh sistem UN (Ujian Nasional bagi anak sekolah). Pornografi sebagai sumber kebejatan moral, jangan ditanya lagi. KH. Abdul Rasyid Abd. Syafi’ie bersama jajaran FUI (Forum Umat Islam) dalam pertemuan dengan Kapolda Metrojaya Irjen Pol Sutarman–kini menjabat sebagai Kabareskrim–menyerahkan contoh kebejatan masyarakat kecil di pinggiran ibukota, berupa rekaman CD hajatan sunatan diisi dengan hiburan Organ Tunggal dengan penyanyi dangdut memperagakan adegan seks dan ditonton anak-anak kecil. Bentuk hiburan rakyat kecil yang amat merusak moral ini terjadi di seluruh kampung di Indonesia.

Hendak ke mana perjalanan bangsa Indonesia ? Gembar-gembor hendak menggalakkan praktek Pancasila niscaya hanya menghasilkan fatamorgana. Jalan paling tepat adalah menghentikan semua sistem yang terbukti menghancurkan ini. Berulang-ulang di rubrik ini kita ingatkan : Hentikan model politik ekonomi budaya  saat ini yang telah disusupi agenda  dan program Yahudi internasional ini. Para ulama mengajak rakyat Indonesia taubatan nasuha, dan kembali ke ajaran Islam yang hakiki yang bersumber kepada Al Qur’an dan As-Sunah. Inilah Jalan Keselamatan satu-satunya. Niscaya !!

http://suara-islam.com, Thursday, 21 July 2011 06:31 Written by Shodiq Ramadhan