More Style Than Substance

 

Budiarto Shambazy (BS) pengasuh rubrik Politika di harian Kompas pernah menurunkan tulisan berjudul Pilpres 2008 atau 2009? Intinya, BS memberikan nasehat kepada kita, antara lain: “Jangan terpukau dengan gaya capres yang more style than substance alias penjual citra.” (Kompas, 30 September 2008). Sebuah nasehat yang bagus tentunya.

Dalam kehidupan sehari-hari banyak kita temui organisme seperti itu tidak hanya berwujud politisi, calon presiden, calon anggota legislatif, yudikatif, dan sebagainya. Bahkan kita dapat menemui organisme bertipikal seperti itu di Indoneisa, di hampir seluruh kategori sosial yang ada, termasuk rohaniwan dan budayawan atau seniman. Boleh dibilang, more style than  substance sudah menjadi budaya bangsa kita, sudah menjadi karakter bangsa kita.

Bila Indonesia diibaratkan dengan sebuah kolam ikan besar, maka kolam itu lebih dipenuhi oleh ikan-ikan yang kebanyakan bertipikal seperti itu. Maka bila kita ambil satu atau dua ikan untuk dijadikan pemimpin nasional, sudah bisa diduga, hasilnya pun seperti itu: menebar pesona dan menjual citra semata. Kalau kurang puas, kemudian diganti dengan ikan yang lain lagi, hasilnya ya sama saja. Tetapi ini bukan berarti mendukung-dukung apa yang sudah ada. Ini sekadar gambaran belaka bahwa kondisinya sudah sekronis itu.

Mungkin salah satu solusinya adalah melakukan pengayaan genetis. Misalnya melalui perkawinan plural dengan organisme bergenetis unggul, bukan perkawinan homo (sejenis) sebagaimana dibolehkan kaum sepilis (sekuler, pluralis, dan liberalis) sebab perkawinan homo tidak bertautan dengan human reproduction. Prosesnya bisa sangat lama, paling sedikit perlu empat generasi melalui upaya yang intensif dan radikal, tapi bisa juga jauh lebih lama, karena tingkat kesulitannya demikian tinggi.

Mengapa tingkat kesulitannya begitu tinggi? Karena, fakta-fakta menunjukkan demikian. Di antara organisme itu ada yang pekerjaannya menjual pluralisme. Namun jangan lupa, ia hanya menjual. Produk yang ia jual, bahkan tidak mau ia kenakan kepada anggota keluarganya sendiri. Mendiang Cak Nur (Nurcholish Madjid), misalnya. Meski semasa hidupnya menjajakan pluralisme agama (menyamakan semua agama), yang salah satu isi ajarannya adalah membolehkan wanita muslimah menikah dengan lelaki non-Muslim; namun ketika Nadia binti Nurcholish Madjid mau menikah dengan David (Yahudi Amerika), sang penjaja pluralisme ini justru kelimpungan karena tidak setuju. Pada bulan Agustus 2001, Cak Nur mengirimkan e-mail kepada Nadia, isinya: “Kalau sampai terjadi perkawinan antara Nadia dengan David, itu termasuk dosa terbesar setelah syirik.” (Lihat artikel berjudul The Men From Jombang August 11, 2008 9:42 pm)

Lha, kalau yang dijuluki oleh Kompas sebagai orang yang tergolong “guru bangsa” saja sikapnya seperti itu, bagaimana dengan muridnya?

Sebuah pepatah mengatakan, “never judge a book from its cover”. Sebuah buku boleh jadi cover-nya bagus, namun belum tentu isinya juga bagus. Begitu juga sebaliknya, buku yang cover-nya tidak menarik belum tentu isinya tidak menarik. Ada penjaja pluralisme yang casing-nya tidak menarik, kelihatan memble, namun khabarnya ia mampu menjalani fit and proper sex dengan berbagai wanita di berbagai tempat, sebelum kemudian terserang stroke. Orang-orang sempat tidak percaya, masak sih orang ‘terhormat’ seperti beliau kok suka berzina?  Wallahu a’lam.

Sosok ini selain menjajakan pluralisme juga jualan demokrasi, setelah gagal dalam upayanya mau mengganti assalamu’alaikum jadi selamat pagi. Bagaimana tidak gagal. Lha wong temannya Nurcholish Madjid, Dr Bahtiar Efendi, saja sampai terheran-heran dengan usulan penggantian lafal assalamu’alaikum itu. Hingga di depan mahasiswa pascasarjana perguruan tinggi Islam di Jakarta, dia berkomentar; apakah ketika shalat, kita boleh mengakhirinya dengan salam : selamat pagi (tengok kanan), selamat pagi (tengok kiri)?

Untuk mengetahui lebih lengkapnya kasus mau mengganti lafal Assalamu’alaikum jadi selamat pagi itu silahkan baca artikel nahimunkar.com berjudul  Intelektual Tapi Dusta dan Mencaci, October 19, 2008

Terhadap sosok ini, teman-temannya dan media massa memposisikannya sebagai tokoh demokratis. Bahkan ia dan teman-temannya sempat punya forum yang berjudul demokrasi. Kenyataannya, ketika menduduki kursi tertinggi eksekutif, perilakunya sama sekali tidak demokratis. Pecat sana-sini. Marah sana-sini. Konflik sana-sini. Akhirnya orang yang kadang dianggap sebagai wali yang juga dinobatkan sebagai salah satu “guru bangsa” ini, didongkel dari kursi jabatannya karena korupsi. Padahal, korupsi adalah musuh demokrasi. Itu barangkali salah satu bukti bahwa demokrasi itu sendiri sama sekali tidak dapat mendandani manusia.

Belakangan, keributan-keributan pun dia ciptakan di mana dia berada. Sampai-sampai seorang senior di Majalah Gatra berseloroh: Apa bedanya Nabi Muhammad dengan si dia?

Dijawab sendiri: Bedanya, kalau Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam itu musuh-musuhnya berubah jadi sahabat-sahabatnya. Tetapi si dia, sahabat-sahabatnya berubah jadi musuh-musuhnya.

Lhah?

Perlu diingat, dua sosok tersebut menjadi terkenal di antaranya adalah karena digede-gedekan oleh Kompas. Wartawan senior Rosihan Anwar pernah menulis tentang betapa intensipnya Kompas dalam memberitakan tentang apa saja mengenai sosok itu. Kita pun dapat menyaksikan, sampai kemudian Kompas menjuluki sosok-sosok itu sebagai guru bangsa. Jadi dalam hal ini, Kompas telah bertutur kata manis seperti dalam pembukaan tulisan ini yakni mengingatkan, “Jangan terpukau dengan gaya capres yang more style than substance alias penjual citra.” Tetapi perilaku Kompas sendiri sejatinya justru berbalikan dengan nasihat bagusnya itu. Karena selama ini Kompas telah mengerahkan segala daya upayanya untuk mempromot dua tokoh tersebut sampai menjulukinya sebagai guru bangsa. Padahal buktinya adalah tokoh palsu belaka plus merusak Islam.  Dengan kejadian yang ironis ini Ummat Islam perlu belajar pula, karena orang mukmin mestinya tidak terperosok ke lubang yang sama untuk kedua kalinya.

 

Grand Master dan kecenderungan porno

Sosok di atas punya seorang teman, penjaja pluralisme juga, tetapi bukan ndompleng “jasa baik” media massa orang lain, karena dia sendiri justru boss dari aneka media massa dan wadah-wadah lainnya. Bahkan dipercaya oleh pendana pluralisme tingkat internasional. Hingga seorang pelajar Indonesia di Malaysia, Adnin Armas, mengaku beberapa tahun lalu, kirim surat ke The Asia Foundation di pusatnya, Amerika. Tahu-tahu dijawab, kalau anda dari Indonesia maka harap menghubungi GM.

GM itu dari segi penampilan, kelihatannya baik hati sekali, sampai-sampai anak-anak sepilis punya tempat bernaung di Utan Kayu Jakarta Timur. Ia menebarkan citra dirinya sebagai humanis yang pluralis, sekaligus liberalis. Ia juga menebarkan citra seolah-olah membela kelangsungan Islam dengan jalan memerangi berbagai “stigma negatif” yang menurutnya melekati umat Islam di Indonesia, seperti tidak toleran, tekstual, jumud, senang kekerasan, dan sebagainya. Tetapi khabarnya sang pembela ini shalat saja tidak, perilaku seksualnya sangat exploratif yang bertentangan dengan Islam. Kok repot-repot banget mau memperbaiki pemahaman keagamaan orang lain, lha wong pemahaman dan prakteknya sendiri keliru.

Di komunitasnya, ia adalah seorang Grand Master (GM) yang dihormati, dituakan, dan menjadi inspirasi bagi organisme yang lebih muda usianya. Dapatlah ia kita sebut sebagai The Inspiring GM. Setiap ada kesempatan mengkritisi Islam, sang Grand Master ini langsung tampil melalui tulisannya. Dengan dalih mendukung kebebasan berfikir, pembelaan terhadap pemikiran-pemikiran yang mengkritisi Islam namun terbukti ngawur itu, selalu dijadikan tema perjuangannya.  Sampai-sampai Salman Rushdie penulis novel The Satanic Verses (Ayat-ayat Setan) yang menghina Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam pun oleh GM dibela lewat Majalah Tempo waktu itu. Hingga Ridwan Saidi – teman Nurcholish Madjid namun tidak ikut-ikutan jadi orang sepilis– dengan nama samaran Abu Jihan menulis berkali-kali di Majalah Panji Masyarakat membalas tulisan GM, salah satunya Abu Jihan menulis dengan judul Gunter Mahoun. Suatu pukulan berat bagi GM, barangkali, karena Mahoun adalah julukan yang tidak baik sama sekali.

Dapatkah kita mempercayai sosok ini dan temannya tadi? Ya nggak lah. Wong, terhadap agamanya saja ia berani menghina, terhadap Allah saja ia tidak takut, terhadap istrinya saja ia berani berkhianat. Apalagi terhadap kita rakyat kebanyakan? Mungkin mereka berpendirian, kalau dengan style saja sudah bisa memperoleh fame and fortune, buat apa lagi harus repot-repot  masuk ke substance segala? Forget it!

Organisme penjaja citra ini ada yang cenderung pada hal-hal yang bertendensi porno. Bahkan di antara mereka, foto telanjang yang disiasati dengan teknik-teknik fotografi tertentu, dikategorikan sebagai karya seni yang sama sekali berbeda dengan pornografi.

Foto atau lukisan telanjang adalah ekspresi berkesenian, menurut mereka. Sebuah ekspresi berkesenian tidak boleh dihambat oleh pendapat yang sok moralis sebagaimana dikeluarkan oleh sekelompok orang termasuk MUI (Majelis Ulama Indonesia). Begitu pendirian mereka. Mungkin pendiriannya itu akan berbeda, bila yang disuruh telanjang kemudian difoto adalah ibunya, saudara perempuannya, isterinya, atau pun anak perempuannya.

Kalau ikut-ikutan cara pandang orang-orang yang sok berkedok seni itu, maka anggota masyarakat yang tidak berminat di bidang fotografi atau lukis-melukis, mereka juga mempunyai hak untuk mengekspresikan rasa berkeseniannya. Misalnya dengan menjadikan air seni sebagai media berkesenian. Dapat dibuat-buat dalih, misalnya: Air seni adalah karunia Tuhan sehinga tidak boleh diposisikan lebih rendah dengan karunia tuhan lainnya, misalnya sex appeal.

Bila sex appeal bisa ditampilkan sebagai karya seni, air seni juga bisa! Maka bila ada yang sedang mengekspresikan rasa berkeseniannya dengan menumpahkan air seninya di berbagai tempat –kalau mengikuti alur pikiran orang seperti tersebut– itu adalah bagian dari kebebasan berkekspresi, bagian dari HAM (hak asasi manusia). Akibatnya, jangan heran bila Indonesia bau pesing di mana-mana. Dan kenyataannya, Jembatan Ampera di Palembang (Sumatera Selatan), tidak bisa diangkat dan diturunkan seperti sediakala, karena di bawah jembatan Ampera banyak yang mengekspresikan rasa berkeseniannya dengan air seni. Padahal secara empiris tentang bahaya air seni, dapat dibayangkan. PC (computer) saya rusak gara-gara dikencingi tikus. Padahal cuma tikus. Bagaimana kalau yang kencing organisme berupa manusia?

Maaf, pembicaraan ini tampak sedikit kasar. Tetapi sejatinya hanyala musyakalah (menimpali dengan gaya bahasa yang sepadan dengan yang dihadapi) menurut istilah balaghah dalam Bahasa Arab. Pertanyaan perlu diajukan kepada mereka. Sekarang, bagaimana kalau rasa berkeseniannya itu diekspresikan dengan faeces alias tinja? Faeces diproduksi dari sebuah aktivitas bernama BAB (buang air besar). Kalau seseorang merasa bebas mempertontonkan tubuhnya, sex papeal-nya, dengan alasan, “tubuh ini khan tubuh saya sendiri, kenapa harus diatur-atur oleh pemerintah dan DPR?” Maka kalau ada orang lain yang mengajukan alasan serupa, “faeces ini khan faeces saya sendiri, BAB yang saya lakukan juga tidak melibatkan orang lain, tapi saya lakukan sendiri. Kenapa harus diatur-atur dengan RUU tentang BAB segala?”

Bila alur berfikir mereka itu dituruti, maka jadilah Indonesia sebagai kawasan yang bau pesing dan tinja. Lantas kalau ada tamu asing yang bertanya, “mengapa Indonesia bau pesing dan bau tinja?” Jawab saja, “ini merupakan aroma yang dilahirkan dari subkultur yang luhur warisan nenek moyang kami. Dan itu sudah kami perjuangkan untuk tidak boleh diganggu gugat.”

Betapa memalukannya, orang-orang yang memperjuangkan selera rendahnya seperti itu.

Kalau yang berpolitik praktis ada yang menilainya sebagai orang-orang yang berpenampilan More Style Than Substance, maka dari kalangan yang cenderung porno tampaknya agak berbeda. Hal-hal yang buruk-buruk dan yang memalukan tidak boleh dinilai sebagai keburukan dan porno, bahkan tak boleh diatur apalagi dicegah agar tidak tersebar. Ini artinya, mereka mengaku menjunjung hak dan martabat manusia, padahal sejatinya adalah merendahkan martabat manusia bahkan merusaknya.

Terhadap orang-orang semacam itu Allah Ta’ala telah mensifatinya sebagai para perusak (mufsidun):

وَإِذأَ قِيْلَ لَهُمْ لاَ تُفْسِدُوْا فيِ اْلأَرْضِ قاَلُوْا إِنمَّاَ نَحْنُ مُصْلِحُوْنَ أَلآ إِنَّهُمْ هُمُ اْلمُفْسِدُوْنَ وَلَكِنْ لاَ يَشْعُرُوْنَ

11.  Dan bila dikatakan kepada mereka:”Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi”. mereka menjawab: “Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan.”

12.  Ingatlah, Sesungguhnya mereka Itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar. (QS Al-Baqarah: 11, 12). (haji/tede)