Aliran sesat MA (Millata Abraham) mengubah lafadz  syahadat menjadi: “Asyhadu an laa ilaaha illallah wa asyhadu anna al Masih al Maw’ud Ahmad Mushadeq Rasulullah.”

MPU (Majelis Permusyawaratan Ulama) Kota Banda Aceh telah membuat ketetapan, bahwa aliran yang menamakan dirinya MA (Millata Abraham) tergolong aliran pengrusakan aqidah umat Islam, bentuk pemurtadan dan penistaan/penodaan terhadap agama Islam.

“Pengikutnya adalah murtad,” kata Drs H Ramly M Yusuf MA, Wakil Ketua MPU Kota Banda Aceh.
Inilah berita selengkapnya dari hidayatullah.com.

MPU: Millata Abraham Ingkari Hadits

Walapupun sudah ratusan pengikutnya di Banda Aceh, banyak masyarakat tak mengetahui identitas pengikut aliran sesat Millata Abraham (MA), yang muncul sejak tahun lalu di Aceh.

Dari penelitian dan kajian MPU (Majelis Permusyawaratan Ulama) Kota Banda Aceh, MA tidak mengakui atau mengingkari hadist. Hadits tidak diakui sebagai sumber kebenaran, sebab menurut mereka hadits terpecah-pecah kepada hadits shahih, hasan, dhaif dan hadits palsu.

MA hanya mengakui satu kebenaran yaitu al-Quran, dan al-Quran ditafsirkan menurut keinginan atau hawa nafsu mereka, tidak menggunakan kaidah-kaidan ilmu tafsir, seperti kata ismi pada bismillah ditafsirkan dengan paham, aliran atau ideologi.

“Mereka juga mengingkari shalat lima waktu,” kata Drs H Ramly M Yusuf MA, Wakil Ketua MPU Kota Banda Aceh.

“Millata Abraham hanya mengakui shalat malam dan itupun dilaksanakan dengan posisi duduk dengan menghadap lilin yang telah dinyalakan, dengan lampu yang telah dimatikan,” katanya. MA tak mempercayai Nabi Muhammad Saw sebagai nabi dan rasul terakhir dan meyakini masih ada rasul setelah Muhammad Saw.

Lebih parah lagi, menurut MPU, aliran sesat itu mengubah lafadz  syahadat menjadi: “Asyhadu an laa ilaaha illallah wa asyhadu anna al Masih al Maw’ud Ahmad Mushadeq Rasulullah.”

Menurut Ramli, penyebaran MA dengan tim missionarisnya Mukmin Muballigh selama ini mengutamakan kalangan pelajar dan mahasiswa.