Foto: The Telegram NNC Portal


YERUSALEM – Mufti Besar Yerusalem Al-Quds Syaikh Muhammad Ahmad Hussein mengecam keras undang-undang kontroversial rezim Israel yang melarang penggunaan speaker untuk azan. Ia juga menegaskan bahwa Israel tidak memiliki hak untuk menghalangi praktik keagamaan umat Islam.

Syaikh Muhammad Ahmad Hussein, yang juga seorang pengkhotbah di Masjid al-Aqsha, mengatakan panggilan azan menggunakan pengeras suara akan terus dilakukan di Yerusalem Timur al-Quds. Dan dia juga menekankan bahwa Palestina tidak akan pernah mengakui RUU yang menyasar keyakinan agama dan ritual umat Islam.

Ahmad Hussein mengatakan rezim Israel mengizinkan parlemen Knesset meloloskan peraturan apapun tanpa pertimbangan yang tepat. Ia menambahkan bahwa RUU itu berpengaruh pada kebebasan beragama di Palestina.

Sebelumnya pada hari Rabu, RUU untuk melarang azan menggunakan pengeras suara di masjid-masjid di Yerusalem Timur al-Quds dan di wilayah tanah Palestina lainnya, mendapat persetujuan di parlemen Israel. Larangan itu akan berlaku dari pukul 11 malam hingga pukul 7 pagi.

Selama sesi voting, anggota parlemen Arab Israel MK Ahmad Tibi, yang juga pemimpin Gerakan Arab untuk Perubahan (Ta’al), merobek proposal RUU tersebut.

“Islam lebih kuat daripada kalian semua,” teriaknya di podium Knesset seperti disitat dari Press. 

Anggota Kneset yang lain, Ayman Odeh juga menyebut hal itu sebagai serangan terhadap warga Arab Israel.

“Ini merupakan serangan terhadap masyarakat Arab, terhadap kehadiran orang Arab di Israel, terhadap bahasa Arab dan terhadap keberadaan kami di kawasan ini,” tegas Odeh. [fq/islampos]

https://www.islampos.com/

***

Parlemen Israel Sahkan UU Larangan Adzan Masjid

Anggota parlemen keturunan Arab Israel, MP Ayman Odeh, merobek salinan rancangan undang-undang selama perdebatan sengit di parlemen Israel atau disebut Knesset. (reuters/bbc.com/indonesia)

TEL AVIV. NETRALNEWS.COM – Sidang parlemen di Israel diwarnai keributan saat sejumlah anggota memberikan persetujuan awal soal rancangan undang-undang (RUU) yang melarang penggunaan pengeras suara oleh institusi keagamaan, pada Rabu (8/3/2017).

Beberapa anggota parlemen keturunan Arab merobek salinan rancangan undang-undang yang disebut ‘RUU Muazin’ selama perdebatan dalam sidang lantaran RUU itu praktis akan mempengaruhi kumandang adzan bagi umat Muslim.

RUU itu akan dibahas lebih lanjut sebelum diputuskan untuk yang terakhir kali di parlemen beberapa waktu mendatang.

Jika diberlakukan, aturan itu akan melarang penggunaan pengeras suara untuk adzan di masjid pada pukul 23.00 malam hingga pukul 07.00 pagi.

Sedangkan, aturan lainnya akan melarang penggunaan pengeras suara yang menganggap “suaranya terlalu keras dan tidak masuk akal serta cenderung mengganggu” setiap saat di sepanjang hari.

Dua versi RUU itu disetujui oleh kabinet Perdana Menteri Benjamin Netanyahu pada bulan November.

Netanyahu mengatakan pada waktu itu bahwa ia menerima banyak keluhan dari semua lapisan masyarakat Israel “tentang kebisingan dan penderitaan yang disebabkan oleh suara berlebih dari pengeras suara yang ada di rumah-rumah ibadah.”

Sekitar 80% dari orang-orang Arab di Israel adalah Muslim.

Salah satu yang mendukung RUU ini, Motti Yogev dari Partai Jewish Home, mengatakan bahwa RUU itu “bagian penting dari legislasi sosial yang memungkinkan orang Arab dan Yahudi untuk bersantai selama jam istirahat”.

“Tidak ada maksud untuk menyakiti orang-orang dari berbagai keyakinan,” tambahnya.

Para pengkritik menilai bahwa RUU ini merupakan serangan terhadap kebebasan beragama.

“Suara muazin tidak pernah menyebabkan kebisingan lingkungan. Ini adalah soal ritual agama Islam penting, dan kami tidak pernah campur tangan dalam setiap upacara keagamaan terkait dengan Yahudi di parlemen ini. Anda telah melakukan tindakan rasis,” kata Ahmed Tibi dari partai yang didominasi warga keturunan Arab dalam perdebatan.

“Intervensi Anda sangat menyerang Muslim,” tambahnya.

 Warga Arab yang berada di Israel, yang juga dikenal sebagai Arab Israel, merupakan keturunan dari 160.000 warga Palestina yang tetap tinggal setelah pemerintahan Israel dibentuk pada tahun 1948.

Jumlahnya mencapai 20% dari penduduk Israel Sekitar 80% kaum Israel Arab adalah Muslim, sisanya terbagi antara Kristen dan Druze.

Editor : Marcel Rombe Baan

Sumber : bbc.com/Indonesia/ netralnews.com

(nahimunkar.com)