MUI Diharap Keluarkan Putusan Soal Vaksin Meningitis

Antara – Sabtu, 15 Mei

Jakarta (ANTARA) – Majelis Pertimbangan Kesehatan dan Syarak pada Kementerian Kesehatan berharap Majelis Ulama Indonesia segera mengeluarkan keputusan mengenai penggunaan vaksin meningitis yang pembuatannya melibatkan unsur babi (porcine) bagi peserta umrah dan haji.

“Harapannya MUI segera mengeluarkan putusan supaya kami tidak terlambat menyediakan vaksin untuk jamaah,” kata Ketua MPKS Achmad Sanusi Tambunan di Jakarta, Jumat.

Sekretaris Jenderal Kementerian Kesehatan Ratna Rosita Hendardji mengatakan pemerintah harus menyediakan vaksin meningitis untuk memenuhi kebutuhan sekitar 210 ribu orang yang hendak menunaikan ibadah haji ke Arab Saudi pada 2010.

Pemerintah memfasilitasi calon haji dan umrah yang harus melakukan vaksinasi meningitis karena melalui Nota Diplomatik Dubes Arab Saudi di Jakarta No. 211/94/71/577 tanggal 1 Juni 2006 pemerintah Arab Saudi mewajibkan setiap calon haji, tenaga kerja dan umrah mendapat imunisasi meningitis sebagai syarat untuk mendapatkan visa.

Vaksinasi meningitis diperlukan untuk melindungi jamaah dari ancaman penyakit meningitis yang endemis di Arab Saudi dan menghindari penularan penyakit itu dari haji lain dari kawasan Sabuk meningitis di Afrika.

Sampai sekarang pemerintah masih menunggu keputusan MUI untuk memulai pengadaan karena lembaga tersebut sebelumnya memfatwakan keharaman vaksin meningitis yang selama ini digunakan calon haji karena proses pembuatannya melibatkan unsur babi.

Menurut MUI, produk vaksin disebut halal jika dibuat dari bahan yang halal dengan fasilitas produksi yang bebas dari kontaminasi silang bahan haram/najis.

Namun dalam fatwanya MUI juga menyebutkan bahwa jika sampai pada waktu pengadaan vaksin meningitis tiba pemerintah belum bisa mendapatkan vaksin yang bebas dari unsur babi, MUI akan membuat fatwa baru atau menganjurkan pemerintah mengacu pada fatwa yang sebelumnya sudah dikeluarkan terkait vaksin meningitis ini, yakni bahwa vaksin meningitis yang ada boleh digunakan dengan alasan kedaruratan.

Vaksin yang selama ini digunakan untuk haji dan umrah Indonesia, menurut Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan Tjandra Yoga Aditama, juga digunakan oleh negara-negara berpenduduk Muslim yang lain termasuk Malaysia.

Meski prosesnya melibatkan bahan dari unsur babi namun produk akhir dari vaksin meningitis tersebut tidak mengandung unsur babi karena sudah melalui proses pembilasan.

Kunjungan LPPOM MUI

Sebelumnya menurut Ketua MUI Amidhan, auditor Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan dan Kosmetika (LPPOM) MUI sudah mengunjungi tempat pembuatan vaksin meningitis yang selama ini digunakan untuk calon haji dari Indonesia dan negara-negara Muslim lain di Brussel, Belgia, untuk mengetahui kehalalannya.

Namun MUI belum mendapat laporan akhir dari kunjungan tersebut.

Bersama dengan pejabat Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dan auditor LPPOM MUI, Amidhan juga pernah mengunjungi produsen vaksin meningitis di Guangzhou, China, yang membuat vaksin dengan darah kambing.

“Darah kambing juga haram tapi katanya sudah dicuci berkali-kali dan produk akhirnya tidak lagi mengandung darah kambing. Tapi masalahnya ada unsur lain di dalam vaksin yang diduga haram, bahannya dibeli dari pabrik lain yang tidak mau membuka informasi tentang itu,” katanya.

PT Biofarma yang sebelumnya diminta pemerintah membuat vaksin meningitis halal pun masih berusaha mengembangkan vaksin meningitis yang materi dan prosesnya sama sekali tidak bersentuhan dengan unsur yang diharamkan.

http://id.news.yahoo.com/antr/20100515/tpl-mui-diharap-keluarkan-putusan-soal-v-cc08abe.html